Saudara-saudaraku yang mulia, setia, diberkahi, dan pahlawan!
Lampiran Kastamonu · hlm. 104
Pertama: dengan prinsip dasar "berserikat dalam amal" di Ramadan yang diberkahi ini, kami memohon kepada Cenab-ı Erhamürrâhimîn — sebanyak lidah-lidah itu — agar doa-doa yang dipanjatkan dan akan dipanjatkan tiap saudara khusus kami — yang berkedudukan sebagai seorang malaikat berlidah empat puluh ribu, dengan empat puluh ribu lidah, yakni dengan lidah-lidah maknawi sebanyak jumlah para saudara — diterima di sisi rahmat Ilahi. Kami mengucapkan selamat atas Ramadan kalian yang bersifat demikian.
Kedua: padahal layak memberi jawaban sepanjang sebuah kitab atas surat-surat kalian kali ini yang banyak, berpengaruh, menggembirakan, dan penuh kabar gembira, namun janganlah kalian tersinggung oleh jawaban singkatku karena waktu yang tak mengizinkan. Yang paling utama, dalam surat Ahmed — seorang murid penting Desa Sava, ranjang para pahlawan — aku melihat sebuah masalah yang membuatku menangis dengan air mata kegembiraan. Ratusan ribu syukur kepada Cenab-ı Hak, para ibu dan kaum perempuan yang diberkahi di desa itu telah memahami sepenuhnya nilai Risale-i Nur. Pengorbanan yang ditunjukkan para perempuan yang diberkahi itu — saudari-saudari akhiratku yang berharga dan ikhlas — bagi penyebaran Risale-i Nur, membuatku dan membuat kami menangis dari kesempurnaan kegembiraan. Memang, karena salah satu dasar terpenting dalam jalan Risale-i Nur adalah kasih sayang (şefkat), dan karena tambang-tambang kasih sayang adalah kaum perempuan, sudah lama aku menanti agar hakikat Risale-i Nur dipahami di alam kaum perempuan. Lillahilhamd, di kawasan ini pun, belakangan kaum perempuan di sini bekerja sepenuhnya dengan kerinduan dan keaktifan yang lebih daripada kaum lelaki; mereka menunjukkan bahwa mereka adalah saudari para Mübarek dari Sav. Dua kemunculan ini di zaman ini adalah sebuah pertanda baik (fâl-i hayır) bahwa: di tambang-tambang kasih sayang itu, Risale-i Nur akan bersinar dan melakukan fütuhat. Lagi pula, para gembala pemberani Desa Sav yang membawa Risale-i Nur di kantong mereka untuk menulisnya, seperti pengorbanan kaum perempuan di sana, akan menjadi sebuah sumber dorongan yang sangat berpengaruh di kawasan ini. Kami berhasrat mengetahui nama-nama khusus para perempuan dan para gembala itu. Supaya dengan nama-nama khusus mereka, mereka masuk ke dalam lingkaran murid-murid khusus.
Mimpi penuh hakikat Kâtib Osman sungguh memberi isyarat kepada sebuah hakikat yang besar; ia sangat diberkahi dan penuh kabar gembira. Dalam mimpi Rüşdü, sebagaimana Hazret-i Sıddık (radhiyallahu 'anhu) — atas perintah Nabi kita صلى الله عليه وسلم — menampakkan Kalimat Kedua Puluh Sembilan (Yirmidokuzuncu Söz) dalam khutbahnya di mimbar; begitu pula bidadari yang turun dari langit itu membaca lâhika sebagai khutbah — itu adalah sebuah isyarat yang indah bagi diterimanya Risale-i Nur.
Saudara-saudaraku yang mulia dan setia! Aku menerangkan dua peristiwa yang halus, sarat makna, dan penuh kabar gembira (beşaret):
Yang Pertama: sebuah peringatan penuh kabar gembira dari sebuah lintasan pikiran yang putus asa:
Beberapa hari ini terlintas di benakku: apa pun yang disentuh oleh orang yang masuk ke kehidupan sosial, kebanyakan ia terpapar dosa-dosa. Dari segala penjuru, dosa-dosa secara bebas melilit manusia. Bagaimana ibadah dan takwa pribadi seseorang bisa menghadapi dosa sebanyak ini? — begitu aku berpikir dengan putus asa. Aku teringat keadaan murid-murid Risale-i Nur dalam kehidupan sosial. Aku memikirkan isyarat Qur'ani yang kuat serta kabar gembira 'Alawi (beşaret-i Aleviye) dan kabar gembira dari Gavs (Gavsiye) tentang keselamatan murid-murid Risale-i Nur dan bahwa mereka adalah ahli kebahagiaan. Dalam hati aku berkata: "Bagaimana masing-masing, dengan satu lidah, bisa menghadapi, mengalahkan, dan menemukan keselamatan dari dosa-dosa yang datang dari seribu tempat?" — aku tetap heran. Sebagai jawaban atas keheranan ini, diingatkan bahwa:
Dengan hukum "berserikat dalam amal-amal akhirat" (iştirak-i a'mal-i uhreviye) yang merupakan prinsip dasar di antara murid-murid Risale-i Nur yang hakiki dan setia, serta dengan rahasia kesetiakawanan (tesanüd) yang tulus dan ikhlas, tiap-tiap murid yang ikhlas dan hakiki — bukan dengan satu lidah, melainkan dengan lidah-lidah sebanyak jumlah saudaranya — beribadah dan beristighfar, lalu menghadapi dosa-dosa yang menyerang dari seribu sisi dengan ribuan lidah. Seperti sebagian malaikat yang berzikir dengan empat puluh ribu lidah; seorang murid yang ikhlas, hakiki, dan bertakwa pun beribadah dengan lidah empat puluh ribu saudaranya, menjadi berhak atas keselamatan, dan insya Allah menjadi ahli kebahagiaan. Sesuai dengan derajat kesetiaan, khidmah, takwa, dan menjauhi dosa-dosa besar (içtinab-ı kebair) di lingkaran Risale-i Nur, ia memiliki ubudiah yang tinggi dan menyeluruh itu. Tentu, demi tak melewatkan perolehan besar ini, perlu bekerja keras dalam takwa, keikhlasan, dan kesetiaan.
Yang Kedua: di masa lampau, ketika aku berusia empat belas tahun, ada penghalang-penghalang bagi keadaan dipakaikan sorban oleh seorang üstad — yang merupakan tanda meraih ijazah — dan dikenakannya sebuah jubah kepadaku. Karena usiaku yang masih kecil, tak pantas mengenakan busana yang khusus bagi para hoja besar di negeri kami...
Kedua: pada masa itu, karena para alim besar terhadapku tak mengambil posisi keustadan, melainkan masuk ke derajat persaingan atau kepasrahan, maka tak ada yang cukup percaya diri untuk mengenakan jubah kepadaku dan mengambil posisi keustadan terhadapku. Dan karena wafatnya empat-lima tokoh dari kalangan wali agung, datanglah keyakinan kepadaku dengan beberapa tanda bahwa hakku — yang selama lima puluh enam tahun tertunda — untuk mengenakan jubah yang merupakan tanda lahir ijazah, mencium tangan seorang üstad, dan menerima keustadannya, beberapa hari ini dipenuhi: Hazret-i Mevlâna Zülcenaheyn Hâlid Ziyaeddin, dari jarak seratus tahun, mengirimkan jubahnya sendiri — beserta sebuah sorban yang dililitkan pada jubah itu — untuk dikenakan kepadaku dengan cara yang sangat aneh. Aku pun mengenakan jubah yang diberkahi dan berusia seratus tahun itu. Ratusan ribu syukur kepada Cenab-ı Hak.
(Hâsiye: Amanah yang diberkahi ini kuterima lewat tangan seorang perempuan terhormat bernama Âsiye, dari murid-murid Risale-i Nur dan saudari-saudari akhirat kami.)
Saudara-saudaraku yang mulia dan setia! Pada judul yang ditulis di awal Hizb-ül Ekber-il Kur'anî yang kami kirimkan kepada kalian, sebuah kalimat tertinggal kurang. Begini:
Sebagai ganti "Siapa yang ingin membaca sebuah wirid yang mukjizat, bacalah ini", akan ditulis: "Siapa yang ingin membaca sebuah wirid yang mukjizat, yang tiap hurufnya memberi pahala dan buah sebanyak sepuluh, seratus, lima ratus, seribu, dan ribuan, bacalah wirid langit ini."
Kedua: pada lintasan pikiran penuh kabar gembira sebelumnya, ke frasa "Tiap murid yang ikhlas, hakiki, dan bertakwa, beribadah dan beristighfar dengan lidah-lidah sebanyak jumlah saudaranya", hendaknya — dengan sebuah peringatan pula — ditambahkan kalimat berikut ini. Kalimat itu adalah:
"Sesuai dengan derajat kesetiaan, khidmah, takwa, dan menjauhi dosa-dosa besar di lingkaran Risale-i Nur, ia memiliki ubudiah yang tinggi dan menyeluruh itu. Tentu, demi tak melewatkan perolehan besar ini, perlu bekerja keras dalam takwa, keikhlasan, dan kesetiaan."
Ketiga: dengan segenap jiwa raga kami, kami mengucapkan selamat dan turut merayakan Malam Lailatul Qadar kalian dan hari raya kalian yang akan datang.
Saudara-saudaraku yang mulia, setia, dan diberkahi — sumber hiburanku di dunia, teman-teman seperjalananku yang bercahaya di jalan barzah, dan — insya Allah — para pemberi syafaatku di mahsyar! Dengan segenap jiwa ragaku, aku mengucapkan selamat dan turut merayakan Malam Lailatul Qadar kalian dan hari raya kalian.
Kedua: aku mengabarkan kepada kalian kesembuhanku dari sebuah penyakit yang dahsyat — dengan cara yang tak pernah kulihat sebelumnya, di luar dugaan — sebagai hasil doa kesembuhan para murid ikhlas Risale-i Nur, secara tiba-tiba dengan sebuah keramat luar biasa seperti mukjizat. Catatan berikut ini dari Emin dan Feyzi yang menyaksikan kejadian ini, tentang penyakit yang luar biasa itu, kukirimkan kepada kalian untuk diambil ibrah. Salam dan doa satu per satu untuk seluruh saudara kami. Aku juga mengkhawatirkan Hüsrev. اَلْبَاقِى هُوَ الْبَاقِى
Saudara kalian, Said Nursî
Kepada saudara-saudara kami yang mulia di Isparta! Kami ingin menyampaikan apa yang kami saksikan tentang penyakit Üstad kami, dan mengabarkan gembira kepada kalian tentang pulihnya kesehatan (kesb-i âfiyet) Üstad kami.
Pada Ramadan yang mulia, selama lima hari puasa wisal (savm-ı visal, puasa bersambung tanpa berbuka), sebagai makanan: tiga sendok muhallebi tanpa roti, dan lima-enam sendok yoghurt dingin. Pada malam ketiga, setengah sendok muhallebi; dan pada malam keempat saat berbuka, lima sendok bihun (şehriye) berkuah; saat sahur, tiga-empat sendok lagi dari bihun dan yoghurt itu — dengan syarat air tak dihitung: bihun lima dirhem*, yoghurt bila ditiriskan sepuluh dirhem, muhallebi tanpa air enam-tujuh dirhem; pada malam kelima, lima-enam sendok bihun yang sangat ringan, hampir tanpa butiran, dan saat sahur enam-tujuh sendok bubur beras; dengan total makanan tiga puluh dirhem (96 gr) menjalankan puasa wisal lima hari, dan menunaikan tugas-tugas lain — meski tarawih berkurang — kami melihat sebuah keramat dari keajaiban-keajaiban inayah yang meliputi para murid Risale-i Nur.
Kami berdua — yakni Emin dan Feyzi — yang tak pernah melihat hal itu dari Üstad kami, karena tak bisa berhati-hati secermat para Süleyman dari Barla dan Isparta agar tak memancing kemarahan penyakitnya (Hâsiye: Penyakit itu begitu hebat sehingga dalam empat malam hampir hanya datang sekitar satu jam tidur.), kami melihat kemarahannya yang hebat. Pada penyakit ini pun ada jejak rahmat (eser-i rahmet): pada malam-malam yang sangat penting di sepuluh hari terakhir (aşr-ı âhir) — yang sama sekali tak terbayang — sebagai ganti tugas Üstad kami yang tak bisa ia tunaikan dengan penuh, di kawasan ini tiap murid, selain pekerjaannya sendiri, mulai bekerja persis seperti Üstad: satu jam atas nama Üstadnya, ikut serta dalam mujahadah maknawi murid-murid Risale-i Nur, menjadikan mereka sebagai sasaran, dan masuk ke buku amal mereka. Berarti, sebagai ganti beberapa jam pekerjaan Üstad, mereka mulai menjalankan tugas yang sama selama banyak jam menggantikan Üstad. Bahkan Üstad kami berkata: "Beserta ketakberartianku, pekerjaanku yang penuh kekurangan — yang berkedudukan sebagai sebuah sumber dan pendorong bagi amal-amal akhirat saudara-saudara kami di kawasan Isparta — tak mencukupi; dengan rahmat-Nya, Cenab-ı Hak menganugerahkan tindakan ini — lewat sarana penyakit ini — yang akan menjadi sebuah şahs-ı manevî (sosok maknawi) dan sebuah sumber yang kuat, lalu menaikkannya dari yang parsial ke yang menyeluruh."
Termasuk keindahan (letaif) penyakit ini pula: suara Üstad kami sama sekali tak keluar, ia tak bisa bicara. Tanpa terduga sama sekali, pada sebuah waktu berbuka seorang dokter datang dan memegang tangannya. Üstad kami berkata: "Aku tak memeriksakan penyakitku, aku tak membutuhkan para tabib. Tabib (sejati) adalah Cenab-ı Hak." Tiba-tiba ia hidup kembali, suaranya mulai keluar. Seakan-akan ia sendiri mengambil wujud seorang dokter. Sedangkan sang dokter masuk ke keadaan seorang pasien. Ia membacakan sepucuk surat penting kepada dokter itu, yang menjadi sebuah obat penyembuh bagi penyakit batin dokter itu. Lalu meriam penanda berbuka ditembakkan. Ia berkata kepada dokter: "Berbukalah di sini." Ketika dokter berkata, "Hari ini aku lalai, aku tak bisa berpuasa", kami pun tahu bahwa keadaan Üstad kami yang sangat kami herankan itu diberikan kepadanya karena ia tak menerima posisi menggurui — dari sisi kedokteran — seorang dokter yang telah membatalkan puasanya.
Ya, kami pun membenarkan bahwa doa kesembuhan yang datang dari şahs-ı manevî Risale-i Nur sebanding dengan seratus ribu dokter. Doa-doa kesembuhan yang dipanjatkan para murid Risale-i Nur, khususnya anak-anak yang tak berdosa, pada Malam Lailatul Qadar untuk penyakit ini, menunjukkan pengaruhnya sedemikian luar biasa sehingga kepada Üstad kami tiba-tiba diberikan sebuah keadaan yang lebih maju daripada keadaan sehat. Ia mulai bekerja dengan cara yang layak bagi Malam Lailatul Qadar. Doa kesembuhan (dua-yı şifa) yang datang dari murid-murid Risale-i Nur ini, kami lihat dengan mata kepala sendiri bahwa ia adalah sebuah keramat seperti sebuah mukjizat yang luar biasa.
Salam dan hormat satu per satu untuk saudara-saudara kami yang berada di sana, dan kami meminta doa mereka.
Dari para murid Risale-i Nur di sini, Saudara kalian, Emin, Mehmed Feyzi