Saudara-saudaraku yang mulia, diberkahi, setia, jujur, ruhku, jiwaku!
Lampiran Kastamonu · hlm. 24
Sebab aku tidak menjawab lewat jalur Isparta atas surat terakhir kalian yang sangat menggembirakanku adalah karena hubunganku dengan pusat Isparta sangat diperhatikan di sini. Lagi pula, lewat jalur yang lain, sampai surat itu tiba pada kalian, berbagai pusat Risalet-ün Nur bisa mengambil manfaat darinya.
Saudaraku Hüsrev! Dalam suratku yang terakhir aku berkata: ibu-ibu para Hüsrev menjadi sebab, sehingga sejak lebih dari setahun yang lalu ayah dan ibu semua murid telah masuk ke dalam doa. Jangan sampai kalian salah mengira. Seperti ibumu, aku punya banyak saudari akhirat (âhiret hemşiresi) di sana yang sudah sepuluh tahun berada dalam lingkaran murid-murid khusus Risalet-ün Nur. Maksudnya, merekalah yang menjadi sebab masuknya orang-orang lain yang baru ke dalam doa.
Aku sampaikan kepada kalian satu-dua peristiwa dari banyak rembesan (tereşşuhat) keramat Risalet-ün Nur yang tampak di kawasan ini:
Yang Pertama: Seorang murid tua yang sungguh-sungguh bernama Hatib Mehmed (rahmatullahi 'alaih) sedang menulis İhtiyarlar Risalesi (Risalah Para Lansia). Tepat di akhir-akhir Harapan Kesebelas (Onbirinci Rica), dan persis bertepatan dengan waktu wafatnya almarhum Abdurrahman, penanya menulis "Lâ ilahe illâ hû" dan lisannya pun mengucapkan "Lâ ilahe illallah" — lalu ia memeteraikan lembar kehidupannya dengan cap husnul khatimah (akhir yang baik), dan dengan wafatnya itu ia menandatangani kabar gembira Qur'ani yang isyari bahwa para murid Risalet-ün Nur akan masuk ke kubur dengan membawa iman. (Rahmatullahi 'alaihi rahmatan wasi'ah.)
Yang Kedua: Dalam pengoreksian Fihrist (Daftar Isi) susunan kalian, sebuah halaman yang ditinggalkan kurang oleh seorang penyalin (müstensih), kukatakan kepada Tahsin: "Tulislah!" Ia pun mulai menulis. Sebagai bukti diterimanya jilid kedua Fihrist yang kalian tulis sekaligus dari tinta yang sehitam-hitamnya dengan pena yang bersih, tinta hitam itu tiba-tiba berubah menjadi sebuah warna merah yang indah. Sewaktu kami menatap dengan keheranan pada peristiwa aneh ini sampai kira-kira setengah halaman, tinta itu kembali menjadi sehitam-hitamnya. Setengah halaman yang lain ditulis benar-benar hitam, dengan pena yang sama, tempat tinta (hokka) yang sama. Suatu masa di Barla, di pondok di tengah kebun-kebun, kami menyaksikan peristiwa yang sama dalam bentuk yang lain — dengan kesaksian Şamlı, Mes'ud, dan Süleyman. Begini:
Karena tidak menyukainya, sebagian tinta hitam itu kutumpahkan; tiba-tiba sisanya berubah menjadi sebuah warna merah indah yang sangat kusukai. Itu membangkitkan semangat para penulis Risalet-ün Nur. Ia memperlihatkan ke mata kami satu ujung dan satu rembesan dari rangkaian keramat (silsile-i keramet).