Risale-i NurLampiran Kastamonu

Saudara-saudaraku yang mulia dan setia, serta kawan-kawanku yang penuh pengorbanan dan tulus!

Lampiran Kastamonu · hlm. 94

Pertama: kami mengucapkan selamat kepada kalian atas tiga bulan (Rajab-Sya'ban-Ramadan) yang diberkahi ini beserta malam-malam berharga yang diberkahi di dalamnya. Semoga Cenab-ı Hak memberi kalian pahala — pada tiap malam, bagi kalian — senilai Malam Raghaib (Leyle-i Regaib) dan Malam Lailatul Qadar, âmîn.

Kedua: sebagai imbalan tiap huruf hadiah bercahaya kalian kali ini, semoga Cenab-ı Erhamürrâhimîn menuliskan seribu kebaikan di buku amal kalian, dan memberi seribu rahmat kepada ruh Âsım, âmîn.

Ketiga: pena Hüsrevî — yang merupakan sebuah kunci penuh keramat dan keemasan bagi perbendaharaan Al-Qur'an Yang Penjelasannya Mukjizat (Kur'an-ı Mu'ciz-ül Beyan) dan Risale-i Nur — sungguh menampakkan keindahan tersembunyi Mu'cizat-ı Ahmediye صلى الله عليه وسلم ke setiap mata secara sangat cemerlang dan indah. Semoga Cenab-ı Hak memberi taufik dan melanggengkan pena ini dalam khidmah ini, âmîn.

Mu'cizat-ı Kur'aniye karya Küçük Ali, dalam sistem (gaya) Büyük Ali, salah satu pahlawan besar Mübarekler Heyeti, mengambil tempat dalam bentuk sebuah berlian baka yang persis bersesuaian dengan Mu'cizat-ı Ahmediye. Semoga Erhamürrâhimîn menganugerahkan sepuluh pahala kepada penulisnya sebagai imbalan tiap huruf, âmîn.

Mehmed Tahirî — pengganti terbaik (hayr-ul halef) Küçük Lütfü dan pahlawan Atabey — hadiah-hadiahnya yang bercahaya dan indah untuk kawasan ini sangat berharga. Semoga Rahmanürrahîm, dari perbendaharaan rahmat-Nya, merahmati dia dan ayahnya sebagai imbalan tiap huruf dan tiap kata, âmîn.

Pena kuat Hasan Ulvî dari Aydın, insya Allah akan menyempurnakan tugas nuriah yang ditinggalkan kurang oleh almarhum Âsım, dan dengan pena yang indah itu akan menggembirakan ruh Âsım dan Lütfü. Hadiah kecilnya, dengan mengisyaratkan khidmah-khidmahnya yang berharga di masa depan, mengambil sebuah tempat yang besar. Semoga Allah ridha kepadanya, âmîn.

Aku ingin menulis jawaban dengan surat tersendiri untuk surat saudara kami Re'fet Bey — yang termasuk rukun penting Risale-i Nur, yang dengan pertanyaan-pertanyaannya menempati sebuah tempat penting di antara risalah-risalah, dan yang hidup secara maknawi bersamanya — dan untuk surat Hüsrev, yang menumbuhkan taman Mawar Muhammadi صلى الله عليه وسلم Pabrik Gül; tapi untuk saat ini waktu tak mengizinkan.

Saudara-saudaraku yang mulia dan setia! Aku begitu gembira oleh surat-surat kalian sampai tak bisa kugambarkan. Khususnya dalam dua surat Hüsrev yang sangat berharga, penyebaran Risale-i Nur yang sangat luar biasa di desa Hacı Hâfız — kedua surat itu kami simpan seperti sebuah naskah dan sebuah hujah yang pasti (hüccet-i katıa), lalu ditunjukkan sebagai sebuah cambuk dorongan (tâziyane-i teşvik) kepada para murid di kawasan ini. Sebagaimana Risale-i Nur adalah sebuah mukjizat maknawi Al-Qur'an, begitu pula pena Hüsrev — setiap hari di sini kami membenarkan bahwa ia adalah sebuah keramat Risale-i Nur yang sangat kuat. Kami ingin menulis surat panjang sebagai jawaban atas surat Hüsrev, tapi tak berhasil mewujudkan keinginan kami.

Surat Küçük Ali, salah satu pahlawan Mübarekler, juga memberiku harapan besar. Bahwa seorang putra yang diberkahi bernama Hâfız Ahmed — putra Mustafa Hulusi, kakak yang berharga dan diberkahi yang sungguh merupakan pengganti penuh almarhum Abdurrahman — berkhidmah kepada Risale-i Nur dalam sistem (gaya) ayah dan paman-pamannya, membuatku senang sebesar lahirnya kembali Abdurrahman ke dunia. Di Aras Atabey, khidmah Tahir dan Abdullah Çavuş kepada Risale-i Nur — para pahlawan Aras yang tak membiarkan kosong tempat dua murid berharga seperti Lütfü dan Zekâi dulu — sepenuhnya menghilangkan kekhawatiranku tentang Aras. Penyakit Hüseyin putra İsmail membuatku sedih. Insya Allah ia akan menjadi seorang Lütfü sepenuhnya, dan akan banyak berkhidmah. Surat-surat kalian yang datang ke sini, sebagiannya dengan penataan disisipkan ke Lâhika. Kali ini kami mengirimkan kepada kalian sebuah catatan yang tiba-tiba diingatkan ke hati tentang hakikat ringkas dalam penggalian gaib (istihrac-ı gaybî) pada Sırr-ı İnna A'tayna yang rahasia, beserta sebuah haşiye untuk Risalah Tesettür (Tesettür Risalesi). Tiga bulan ini memberikan sebuah umur delapan puluh sekian tahun. Tentu para mujahid seperti kalian akan berupaya meraihnya. Semoga Cenab-ı Hak menjadikan tiap malamnya, bagi kalian, seberharga Malam Mi'raj (Leyle-i Mi'rac), Malam Bara'ah (Leyle-i Berat), dan Malam Lailatul Qadar, âmîn.

(Penting, tapi agak rahasia (mahrem).)

Saudara-saudaraku yang mulia! Penggalianku dengan cifir pada Sırr-ı İnna A'tayna yang rahasia — persis seperti kabar-kabar gembira gaib dalam Risalah Münazarat, "Sebuah nur akan muncul dan kita akan melihatnya" — pada penerapan sebuah hakikat ilhami dan benar dengan pikiranku, ada sebuah kekurangan. Kekurangan itu membuatku terus berpikir. Sedangkan kabar gembira nuriah dalam risalah-risalah seperti Münazarat dan Sünuhat, Risale-i Nur menyelesaikannya dengan sempurna. Sebagaimana ia menghilangkan kekurangan itu dengan sebuah lingkaran nuriah yang tinggi alih-alih lingkaran politik yang luas, begitu pula pada rahasia Sırr-ı İnna A'tayna: padahal penggalian cifir — yang maknanya "Dua belas-tiga belas tahun kemudian, di atas kepala orang-orang yang memukul Islam akan terjadi sebuah ledakan dahsyat yang takkan terlupakan sampai kiamat" — berada dalam sebuah lingkaran yang sangat luas; namun karena aku menerapkannya — berlawanan dengan rahasia kabar gembira nur — pada sebuah lingkaran yang sempit dan pada sebuah pemerintahan tertentu, pikiranku tak bisa meliputi lingkaran luas itu sehingga mengubah rupa hakikat itu. Padahal pada tarikh yang sama yang ditunjukkan penggalian itu, pendiri dan kepala rejim itu pergi dari dunia, menerima pukulannya. Dan pada tahun yang sama: orang yang pergi itu — yang merupakan simpul dan kancing sebuah arus dahsyat yang tak dikenal di balik tabir, yang menundukkan sebagian besar bola bumi dan bagian terbesar jenis manusia di bawah istibdadnya, dan secara maknawi merupakan salah satu kepala dari ribuan kepalanya serta yang paling dahsyat — pada saat ia menerima tamparan, bahkan sebelum genap setahun, seluruh kepala dan pendukung arus dahsyat itu mulai terkena tamparan-tamparan langit yang dahsyat dan musibah-musibah berbadai yang hebat; mereka akan menderita azabnya sampai kiamat, dan sedang menderitanya. Dan hukuman atas kejahatan-kejahatan yang mereka lakukan terhadap agama-agama samawi dan terhadap Islam, mereka lihat dan sedang mereka lihat dalam sebuah lingkaran yang sangat luas. Karena mereka mengotori dunia dengan kekotoran peradaban tanpa mim*, maka pada tarikh yang sama yang ditunjukkan penggalian itu, ke atas kepala peradaban tanpa mim itu pun turun sebuah tamparan langit yang sedemikian rupa sehingga menurunkannya ke tingkat lebih rendah daripada kebuasan yang paling gelap.

Singkatnya: pada Sırr-ı İnna A'tayna, sebuah lingkaran yang sangat luas diterapkan pada sebuah lingkaran yang sempit. Sedangkan pada kabar gembira nur, sebuah lingkaran yang sempit dan maknawi namun tinggi digambarkan dalam bentuk sebuah lingkaran yang luas dan material. Seratus ribu syukur kepada Cenab-ı Hak yang memperbaiki dua kekuranganku ini dengan sebuah peringatan maknawi yang kuat. Dia menjadikanku mazhar bagi rahasia يُبَدِّلُ اللّٰهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ. Elhamdülillahi biadedi zerrat-il kâinat.

Saudara-saudaraku yang mulia! Jangan sekali-kali kalian membongkar rahasia tersembunyi itu lewat catatan ini, dan jangan pula kalian meneliti risalah itu. Hanya kalau kalian memandang catatan ini tak berbahaya, kalian boleh menunjukkannya kepada kalangan khusus.

Saudara-saudaraku yang mulia dan setia! Sebelum surat-surat kalian kali ini datang, dengan sebuah peringatan ia telah membuat jawabannya sendiri dituliskan secara penuh keramat. Berarti, kesetiaan luar biasa para penulis surat itu telah naik ke derajat keramat. Saudara-saudaraku, dalam surat-surat kalian ada pemikiran dan penghargaan yang sangat tinggi; andai seperseribunya pun menjadi milikku, aku akan bersyukur tak terhingga. Barangkali yang terasa adalah pengaruh dan komando seorang tokoh pemilik kedudukan yang sangat tinggi yang tak kami ketahui, di dalam sosok maknawi Risale-i Nur dan murid-muridnya yang sangat banyak. Itu (keliru) dibayangkan ada pada seorang malang yang seribu derajat jauh sepertiku. Kepentingan berlebih yang kalian berikan kepadaku tanpa hak, insya Allah tak akan merugikan kalian; tapi ada kemungkinan ia merugikan kelancaran yang baik Risale-i Nur. Kalian merasakan sebuah hakikat, dan kesetiaan serta keikhlasan kalian yang luar biasa, insya Allah, melihat kebenaran; tapi pada bentuk lahir kadang orang tertipu. Kita ditugasi dengan khidmah. Hasil-hasilnya dan keberhasilan adalah milik Cenab-ı Hak.

(Penting) Ini adalah sebuah dialog yang diingatkan untuk meluruskan (ta'dil) prasangka baik dan sikap berlebihan sebagian saudaraku dari murid-murid Risale-i Nur yang jauh di atas batas (kelayakan) ku.

Aku mengisahkan sebuah dialogku dengan kakakku Molla Abdullah (rahmatullahi 'alaih), empat puluh-lima puluh tahun yang lalu:

Almarhum kakakku itu adalah murid khusus Hazret-i Ziyaeddin (quddisa sirruhu), salah seorang wali agung. Karena menurut ahli tarekat, memandang baik bila seseorang mencintai dan berprasangka baik secara berlebihan terhadap mursyidnya, maka almarhum kakakku berkata: "Hazret-i Ziyaeddin mengetahui seluruh ilmu. Di alam semesta, seperti quthub agung (kutb-u a'zam), ia mengetahui segala sesuatu." Ia menerangkan banyak kedudukan luar biasanya untuk mengikatku dengannya.

Aku pun berkata kepada kakakku itu:

"Engkau melebih-lebihkan. Kalau aku bertemu dengannya, aku bisa mematahkan hujahnya (ilzam) dalam banyak masalah. Lagi pula, engkau tak mencintainya secara hakiki sebesar aku. Sebab, engkau mencintai seorang Ziyaeddin yang engkau khayalkan dalam rupa seorang quthub agung yang mengetahui segala ilmu di alam semesta; yakni engkau terikat dan mencintai lewat gelar itu. Seandainya tabir gaib tersingkap dan hakikatnya terlihat, kecintaanmu mungkin lenyap, atau turun ke seperempatnya. Tapi aku mencintai dan menghargai tokoh yang diberkahi itu dengan sangat sungguh-sungguh seperti engkau. Sebab, dalam lingkup Sunnah yang mulia, di jalan hakikat, ia adalah seorang pembimbing yang ikhlas, berpengaruh, dan penting bagi ahli iman. Apa pun kedudukan pribadinya, demi khidmah ini aku korbankan ruhku untuknya. Seandainya tabir tersingkap dan kedudukan hakikinya terlihat, jangankan menarik diri, mundur, atau berkurang dalam kecintaan; sebaliknya aku akan terikat dengan penghormatan dan penghargaan yang lebih besar. Berarti, aku mencintai Ziyaeddin yang hakiki, sedangkan engkau mencintai Ziyaeddin yang khayali."

(Hâsiye: Sebab, engkau menjual kecintaanmu kepadanya dengan sangat mahal. Engkau membayangkan sebuah imbalan seratus kali lipat dari harga yang engkau berikan. Padahal, untuk harga kedudukan hakikinya, kecintaan yang terbesar pun murah.)

Karena kakakku itu seorang alim yang adil dan cermat, ia menerima dan menghargai sudut pandangku.

Wahai murid-murid berharga Risale-i Nur dan saudara-saudaraku yang lebih beruntung dan penuh pengorbanan daripadaku! Dari sisi pribadiku, prasangka baik kalian yang berlebih barangkali tak merugikan kalian. Tapi tokoh-tokoh yang melihat hakikat (hakikatbîn) seperti kalian mesti memandang kepada tugas dan khidmah, dan memandang dari titik itu. Seandainya tabir tersingkap, hakikat diriku yang berlumur kekurangan dari ujung ke ujung akan menjadi sarana untuk lari dariku. Agar kalian tak lari dari persaudaraanku dan tak menyesal, janganlah kalian mengikatkan keterikatan kalian pada kedudukan-kedudukan yang kalian bayangkan jauh di atas batasku terhadap pribadiku. Aku, dibandingkan kalian, adalah saudara kalian; kemursyidan bukanlah batas (hakku) ku. Aku pun bukan Üstad, melainkan kawan belajar. Aku membutuhkan doa dan himmah kalian yang penuh kasih terhadap kekuranganku. Bukan kalian yang berhak menanti himmah dariku, melainkan aku yang berhak atas himmah kalian untukku. Dengan anugerah dan kemurahan Cenab-ı Hak, kita telah berserikat — dengan kaidah pembagian kerja (taksim-ül mesaî) — dalam sebuah khidmah yang sangat suci, sangat penting, sangat berharga, dan bermanfaat bagi setiap ahli iman. Kepentingan, nilai, keustadan, dan bimbingan luar biasa dari sebuah şahs-ı manevî yang lahir dari kesetiakawanan (tesanüd) kita sudah cukup bagi kita.

Lagi pula, selama di zaman ini khidmah keimanan adalah tugas terpenting di atas segala sesuatu; selama kuantitas, dibandingkan kualitas, kepentingannya kecil; selama alam-alam politik yang sementara dan berubah-ubah, dibandingkan khidmah-khidmah keimanan yang abadi, kekal, dan tetap, tak penting — ia tak bisa menjadi tolok ukur dan tak bisa menjadi sandaran. Kita mesti merasa cukup dengan kedudukan-kedudukan yang penuh feyiz dalam lingkup ajaran Risale-i Nur dan pada titik khidmah yang ia anugerahkan kepada kita. Alih-alih memberi prasangka baik yang luar biasa berlebihan dan kedudukan tinggi secara melampaui batas, yang diperlukan adalah kesetiaan dan keteguhan yang luar biasa serta keterikatan dan keikhlasan yang melampaui batas. Pada hal itulah kita mesti maju.

اَلْبَاقِى هُوَ الْبَاقِى

Saudara kalian,

Said Nursî

* peradaban tanpa mim (mimsiz medeniyet): permainan kata Üstad — kata "medeniyet" (peradaban), bila huruf mim-nya dibuang, menjadi "deniyet" (kehinaan/kerendahan).

Saudara-saudaraku yang mulia dan setia! Dua hadiah suci Hüsrev, sang pahlawan Risale-i Nur, kali ini — dan pemberiannya kepada kami dan kepada lingkungan ini pada tiga bulan (Rajab-Sya'ban-Ramadan) ini, secara penuh keramat, dengan cara yang menampakkan ke mata pula kemukjizatan maknawi dua hadiah langit itu — adalah sebuah khidmah yang mukjizat dari sudut pandang Risale-i Nur. Insya Allah pena Pabrik Gül itu akan mengubah tempat-tempat ini pun menjadi sebuah taman mawar (gülistan). Semoga Cenab-ı Hak memberi pemilik pena itu, sebagai imbalan tiap huruf Al-Qur'an yang ia tulis, tiga puluh ribu pahala, rahmat, dan kebaikan seperti pada Malam Lailatul Qadar, âmîn, âmîn, âmîn.

Saudara-saudaraku yang mulia! Sebagai sebuah pelengkap dari jawaban yang kuberikan sebelumnya terhadap prasangka baik kalian — yang merembes dari kesetiaan kalian dan jauh di atas batas (kelayakan) ku — kami telah menulis catatan berikut ini dua hari yang lalu. Hikmah jawabanku — yang sampai derajat tertentu menyanggah (cerhetmek) prasangka baik kalian, terhadap surat kalian sepekan lalu yang merembes dari kesetiaan dan ketinggian himmah (ulüvv-ü himmet) kalian — adalah ini:

Di zaman ini ada arus-arus berkuasa yang luar biasa, yang — karena mengambil segala sesuatu atas namanya sendiri — aku menduga: andai pun tokoh hakiki yang ditunggu itu datang di zaman ini, demi tak membiarkan gerak-geriknya terenggut oleh arus-arus itu, ia akan melepaskan diri dari kedudukan di alam politik dan mengubah sasarannya. Lagi pula, ada tiga masalah: satu kehidupan, satu syariat, satu iman. Dari sisi hakikat, yang terpenting dan teragung adalah masalah iman. Tapi karena dalam pandangan umum masa kini dan dalam tuntutan keadaan dunia, masalah yang paling penting tampak adalah kehidupan dan syariat, maka — andai tokoh itu ada sekarang pun — karena mengubah keadaan ketiga masalah itu sekaligus di seluruh permukaan bumi tak sesuai dengan sunnatullah (âdetullah) yang berlaku pada jenis manusia, ia bagaimanapun akan menjadikan masalah teragung sebagai dasar, dan tak akan menjadikan masalah-masalah lain sebagai dasar. Supaya khidmah iman tak merusak kemurniannya dalam pandangan umum, dan supaya tertetapkan dalam akal kaum awam yang mudah diperdaya bahwa khidmah itu tak menjadi alat bagi maksud-maksud lain. Lagi pula, sejak dua puluh tahun di bawah kezaliman terberat yang merusak, akhlak begitu rusak dan keteguhan serta kesetiaan begitu hilang, sehingga barangkali dari dua puluh orang, satu pun tak bisa dipercaya. Terhadap keadaan-keadaan aneh ini, diperlukan keteguhan, ketabahan, kesetiaan, dan semangat keislaman (hamiyet-i İslâmiye) yang sangat luar biasa; kalau tidak, ia akan mandul dan merugikan. Berarti, khidmah yang paling ikhlas, paling selamat, paling penting, dan paling berhasil adalah khidmah suci di dalam lingkaran-lingkaran murid Risale-i Nur. Sudahlah, apa pun itu... Masalah ini untuk saat ini cukup sekian.

Salam satu per satu untuk seluruh saudara kami, dan kami berdoa untuk mereka di hari-hari yang diberkahi ini. Dan kami meminta doa-doa mereka yang diterima, di hari-hari dan malam-malam diberkahi yang akan datang. Sungguh, hadiah Lemaat dari Tahirî pun kami pandang sangat berharga. Insya Allah ia akan menghasilkan banyak pahala baginya di kawasan ini; ia seorang Lütfü sepenuhnya. Semoga Allah memberinya taufik.