Risale-i NurLampiran Kastamonu

Saudara-saudaraku yang mulia dan setia! Di hati ada sebuah kebutuhan untuk menerangkan tiga poin kepada kalian:

Lampiran Kastamonu · hlm. 203

Pertama: sebuah kaidah dasar dalam Risale-i Nur: "Karena dalam sebuah peristiwa ada campur tangan tangan manusia sekaligus takdir; manusia memandang sebab lahir lalu kadang menghukum tak adil dan berbuat zalim. Takdir, karena memandang sebab tersembunyi musibah itu, berbuat adil." Lagi pula, dengan pengalaman telah pasti bahwa dalam peristiwa-peristiwa yang menimpa Risale-i Nur sampai sekarang, ada sebuah tangan pertolongan (dest-i inayet), sebuah sisi rahmat. Dari dua sisi ini, sebuah pertanyaan muncul dari hati: "Apa gerangan sisi keadilan dan rahmat dalam peristiwa İstanbul yang baru tentang Nur ini?" Sebuah jawaban terlintas: ia menggiring ahli ilmu dan ahli ketelitian untuk memandang dan meneliti Risale-i Nur dengan sungguh-sungguh. Tentu, seorang alim yang meneliti Risale-i Nur, kalau punya keadilan, akan menjadi pendukung. Dan Risale-i Nur akan tampil di lingkaran ulama dan di ufuk-ufuk İstanbul. Nah, itulah sisi rahmat dan pertolongan!

Adapun sisi keadilan takdir Ilahi begini: karena mereka memberikan sebagian penting dari khidmah iman luar biasa — yang tampil lewat hakikat Risale-i Nur dan sosok maknawi murid-muridnya — kepada penerjemahnya yang malang, dan karena mereka memandang khidmah tentang politik Islam dan kehidupan sosial umat — yang di mata ahli dunia, ahli politik, dan awam berderajat pertama, tapi di mata hakikat, dibandingkan iman, hanya berada di derajat kesepuluh — lebih unggul daripada kerja hakikat-hakikat iman yang merupakan masalah, tugas, dan khidmah terbesar di alam; ada kemungkinan sangat kuat bahwa prasangka baik kawan-kawan yang berlebih terhadap penerjemah itu — dari sisi memberi ahli politik sebuah pikiran politik Islam yang revolusioner — akan membuat orang mengambil front terhadap Risale-i Nur dari sisi kehidupan sosial dan menghalangi fütuhatnya. Dalam hal ini, kesalahan sekaligus kerugiannya besar. Takdir Ilahi — untuk mengoreksi kekeliruan ini, menghapus kemungkinan itu, dan meredam harapan orang-orang yang memendam harapan semacam itu — memunculkan seorang penentang dari kalangan ulama, sadat (keturunan Nabi), masyayikh, sahabat, dan sekampung — yang justru paling akan berlari menolong dan bergabung dari sisi-sisi semacam itu; ia meredam keberlebihan itu lalu berbuat adil. Dengan berkata "Khidmah iman, yang merupakan masalah terbesar alam, cukup bagi kalian", Ia secara penuh kasih menghukum kami pada peristiwa itu. Lalu, segala puji bagi Allah, Ia membungkam penentang itu; Ia memadamkan api itu. Tapi kaum munafik berupaya agar ia tak padam.