Risale-i NurLampiran Kastamonu

Poin Kedua

Lampiran Kastamonu · hlm. 204

kelangkaan dan kemahalan, kelaparan dan kesempitan yang lahir dari penimbunan (ihtikâr) dahsyat ini, melukai keras urat kehidupan. Luka ini menjadi sarana untuk sampai taraf tertentu membungkam perasaan keagamaan yang luhur, lalu menolong ahli kesesatan. Setiap orang mulai memikirkan perutnya. Hati, alih-alih hakikat, memikirkan roti, lalu berlari menolong kehidupan dan bertahan hidup, dan meninggalkan tugas hakikinya di derajat kedua. Menghadapinya, murid-murid Risale-i Nur bisa memandangnya dengan pandangan sebuah Ramadan panjang, lalu mengubahnya menjadi penebus dosa (keffaret-üz zünub) dan sebuah riadhah syar'i. Musibah yang menimpa orang-orang celaka yang merusak kehormatan Ramadan dengan terang-terangan membatalkan puasa, melukai pula orang-orang tak berdosa. Tapi murid-murid Risale-i Nur dan orang-orang tak berdosa, mengubah musibah itu menjadi keuntungan mereka, mengalihkannya menjadi sebuah riadhah yang baik. Mereka menghadapinya dengan qana'ah dan hemat.