بِاسْمِه۪ سُبْحَانَهُ
Lampiran Kastamonu · hlm. 201
Saudara-saudaraku! Dengan sebuah peringatan maknawi, aku melihat bahwa sebuah isyarat dari satu ayat Al-Qur'an menunjukkan — secara tevafuk — sebuah kilatan kemukjizatan dari jenis pemberitaan gaib. اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَاْكُلَ لَحْمَ اَخ۪يهِ مَيْتًا Makam cifir ayat mulia ini — kalau tasydid dan tanwin tak dihitung — adalah seribu tiga ratus lima puluh satu (1351); karena asal مَيْتًا adalah مَيِّتًا, ia menjadi seribu tiga ratus enam puluh satu (1361); pada tarikh ini, ia memasukkan sebuah ghibah dahsyat dari urusan-urusan besar ke dalam keumuman makna isyari ayat ini. Sebuah ghibah aneh dari urusan besar semacam ini terjadi pada tarikh yang sama, di tahun yang sama. Begini:
Seorang lelaki yang — karena selama delapan belas tahun tak meletakkan topi di kepalanya demi menjaga Sunnah Mulia, sehingga selama delapan belas tahun dilarang berbaur dalam kedudukan seperti penjara tunggal (haps-i münferid) dan dipaksa menjalani hidupnya hanya dalam satu kamar; dan karena di tempat ibadah khususnya ia mengumandangkan azan Muhammadi lalu mengucap "Allahü Ekber" serta menunjukkan hakikat "Lâ ilahe illallah" seterang matahari — ditahan bersama seratus kawannya dan dihukum; karena ia — dengan keyakinan pasti bahwa ia datang dari pertolongan Ilahi, bersandar pada ratusan pertanda dan karinah — menerangkan sebuah kabar gembira dari isyarat Qur'aniah dengan niat menghibur, baik bagi diri maupun bagi kawan-kawan korban musibahnya — maka mengumumkannya dengan ghibah dan ungkapan kasar, serta membuat murid-murid tak berdosa yang menyelamatkan iman mereka dengan pelajarannya menjadi benci kepadanya dan memberi keraguan; seakan-akan di sekeliling tak ada satu pun yang patut diingkari, dan seakan ia tak melihat satu pun kemungkaran dan kejahatan; lalu hanya sebuah kesalahan ilusi orang malang itu — yang selama delapan tahun tersembunyi dari pandangan delapan puluh peneliti cermat — dengan sangkaan bahwa ia melihat sebuah kekeliruan ijtihadi menurut pandangan dangkal dan keras kepalanya, mencelanya dengan ungkapan-ungkapan kasar; tentu, ini sebuah peristiwa besar yang bisa menjadi sumber bagi isyarat sengaja Al-Qur'an Yang Penjelasannya Mukjizat, di abad ini, di negeri ini.
Menurutku, sebagaimana tiap surah Al-Qur'an, dan kadang sebuah ayat, dan kadang sebuah kata, menjadi sebuah mukjizat; begitu pula sebuah isyarat dari ayat ini adalah sebuah kilatan kemukjizatan dari jenis pemberitaan gaib. Ada tiga pertanda bahwa isyarat ayat ini, di abad ini, menengok ghibah terhadap murid-murid Risale-i Nur:
Pertama: dalam Risalah İşarat-ı Kur'aniye yaitu Birinci Şua, ayat kelima اَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَاَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْش۪ى بِه۪ فِى النَّاسِ — yang juga mengisyaratkan Risale-i Nur dan penerjemahnya — bahwa kata suci مَيْتًا, dengan pertanda-pertanda sangat kuat, dengan hitungan cifir dan ebced serta tiga sisi maknanya, bertevafuk dengan Said-ün Nursî.
Pertanda kedua: makam cifir dan matematis ayat اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ dan seterusnya... adalah seribu tiga ratus enam puluh satu (1361); pada tarikh yang sama, peristiwa aneh itu terjadi.
Pertanda ketiga: ...... Di luar kehendakku, ayat اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَاْكُلَ لَحْمَ اَخ۪يهِ مَيْتًا — yang mencela celaan dari lima sisi dan secara mukjizat melarang ghibah dari enam sisi — menampakkan dan menjelmakan diri di hadapanku. Secara maknawi ia berkata: "Pandanglah aku!" Aku pun memandang, tiba-tiba dalam tasbih kulihat: ia menunjukkan tarikh dari 1351 sampai 1361. Aku memandang keadaan kami; di balik tabir, dari 51 sampai 61, di ufuk-ufuk İstanbul yang darinya Risale-i Nur menanti pertolongan, ada sejenis serangan di balik tabir, lalu pada 61 ia meledak sekaligus.
Analisis: ت خ seribu. م م ى ى seratus. ل ل ك ك seratus. ن ى م ketiga seratus. ح ح ح ب د tiga puluh. ى keempat sepuluh. Lima alif, beserta satu هـ sepuluh. Karena tanwin di akhir dalam waqaf adalah alif, jumlahnya seribu tiga ratus lima puluh satu (1351). Karena asal مَيْتًا adalah ya bertasydid, ia menjadi seribu tiga ratus enam puluh satu (1361).
(Hâsiye: Karena ayat ini melarang kami keras dari ghibah, kami harus melupakan mereka yang mengghibah kami, dan tak menjadikannya bahan ghibah. İnsya Allah, ia tak akan terulang lagi.)