Risale-i NurLampiran Kastamonu

بِاسْمِه۪ سُبْحَانَهُ وَاِنْ مِنْ شَيْءٍ اِلاَّ يُسَبِّحُ بِحَمْدِه۪

Lampiran Kastamonu · hlm. 171

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللّٰهِ وَ بَرَكَاتُهُ

Saudara-saudaraku yang mulia dan setia! Kami mengucapkan selamat atas Ramadan Mulia kalian. Semoga Cenab-ı Erhamürrâhimîn, demi kehormatan Ramadan Mulia ini, menolong umat Rasul yang Mulia صلى الله عليه وسلم — yaitu Rahmat bagi Seluruh Alam — dengan rahmat-Nya! Âmîn. Semoga Ia menjaga dari bencana dan kesesatan yang merupakan jejak murka Ilahi! Âmîn. Dan semoga Ia menjadikan murid-murid Risale-i Nur berhasil dalam menyebarkan cahaya-cahaya Qur'aniah! Âmîn. Kami menanti dengan rindu kedatangan Hizb-ül A'zam-ı Kur'anî.

Kedua: dalam surat Hâfız Ali, ia mengabarkan gembira kedatangan sang pahlawan Süleyman Rüşdü. Kami pun berkata kepadanya "Selamat datang dengan ribuan kebahagiaan," dan dari tiga sisi mengucapkan selamat kepadanya dan kepada anak-anak tak berdosanya. Dan surat panjang Hasan Âtıf kepada saudara kami Bedevi — yang ia beri nama Demirci Mehmed — punya pengaruh penting dari sisi keikhlasan terhadap saudara-saudara kami di sini. Upayanya menanamkan rahasia dan prinsip Risalah Ikhlas (İhlas Risalesi) sangat menggembirakan kami. Semoga Cenab-ı Hak memperbanyak saudara-saudara ikhlas sepertinya. Dan dalam surat Âtıf itu, ketautan gemilang satu-dua orang tua tinggi yang berharga di antara para pahlawan Madrasah Nuriah kepada Risale-i Nur, membuat kami menangis dengan air mata kegembiraan.

Kali ini, sebagai pelengkap surat peringatan untuk para pemuda yang dikirim kepada kalian sebelumnya, kami mengirim sebuah frasa bernama surat peringatan (ihtarname) untuk para pemuda yang berada dalam keadaan berbahaya di kawasan ini. Supaya ia membuktikan sekali lagi betapa berharganya kelurusan, kesucian, dan keterikatan pada sunnah mulia yang ditempuh murid-murid muda Risale-i Nur dari sisi kepemudaan, dan bahwa kepemudaan yang hakiki dan menyenangkan adalah kepemudaan orang-orang berbahagia semacam itu, lalu menunjukkan siapa pemuda Turki yang hakiki. Kepada seluruh saudara dan saudari kami kami beri salam dan doa. Dan kami memohon doa mulia mereka pada Ramadan Mulia ini dan pada hari-hari serta malam-malam mulia yang memberi keuntungan seribu lawan satu. اَلْبَاقِى هُوَ الْبَاقِى Saudara kalian, Said Nursî

Sebuah peringatan, pelajaran, dan surat peringatan bagi beberapa pemuda yang malang (Pelengkap surat peringatan untuk para pemuda yang dikirim kepada kalian sebelumnya)

Suatu hari beberapa pemuda gemilang datang ke sisiku. Mereka ingin mendapat sebuah peringatan yang berpengaruh untuk menghindari bahaya yang datang dari sisi kehidupan, kepemudaan, dan hasrat. Aku pun berkata kepada mereka seperti yang dahulu kukatakan kepada para pemuda yang meminta pertolongan dari Risale-i Nur: kepemudaan pada kalian pasti akan pergi. Kalau kalian tak tinggal dalam lingkaran yang halal, kepemudaan itu akan hilang lalu mendatangkan ke kepala kalian — di dunia, di kubur, dan di akhirat — bencana dan derita yang jauh lebih banyak daripada kenikmatannya. Kalau dengan pendidikan Islam kalian belanjakan kepemudaan itu sebagai syukur atas nikmat kepemudaan — dalam kesucian, kehormatan, dan ketaatan — kepemudaan itu secara maknawi akan baka dan menjadi sebab meraih sebuah kepemudaan abadi.

Adapun kehidupan: kalau iman tak ada, atau dengan kemaksiatan iman itu tak berpengaruh; maka kehidupan, beserta sebuah kenikmatan lahiriah dan singkat, memberi derita, kesedihan, dan kepedihan ribuan derajat lebih banyak daripada kenikmatan itu. Sebab, karena pada manusia ada akal dan pikiran, berbeda dengan hewan, ia secara fitrah peduli terhadap masa lampau dan masa depan beserta masa kini. Dari masa-masa itu pun ia bisa mengambil derita sekaligus kenikmatan. Adapun hewan, karena tak punya pikiran, kenikmatan kininya tak dirusak oleh kesedihan yang datang dari masa lampau atau ketakutan dan kegelisahan yang datang dari masa depan. Adapun manusia, kalau ia jatuh ke kesesatan dan kelalaian, kesedihan yang datang dari masa lampau dan kegelisahan yang datang dari masa depan sungguh memahitkan dan merusak kenikmatan parsial kininya. Khususnya kalau ia tak halal, ia berkedudukan sebagai madu beracun seutuhnya. Berarti, ia jatuh seratus derajat lebih rendah daripada hewan dari sisi kenikmatan hidup. Bahkan, kehidupan ahli kesesatan dan kelalaian — bahkan wujudnya, bahkan alamnya — adalah hari ia berada. Seluruh masa lampau dan alam-alam, dari sisi kesesatannya, tiada, telah mati. Dengan kepedulian akal, ia memberi padanya gelap-gulita. Adapun masa-masa depan, dari sisi ketakberimanannya, pun tiada. Dan perpisahan-perpisahan abadi yang lahir dari ketiadaan, terus-menerus memberi kegelapan kepada hidupnya lewat jalan pikiran. Kalau iman menjadi nyawa bagi kehidupan; saat itu masa lampau dan masa depan terterangi oleh cahaya iman dan memperoleh wujud. Seperti masa kini, ia memberi ke ruh dan hati kenikmatan tinggi dan maknawi serta cahaya-cahaya wujud, dari sisi iman. Penjelasan hakikat ini ada di Harapan Ketujuh (Yedinci Rica) Risalah Para Orang Tua (İhtiyar Risalesi). Kalian harus melihatnya.

Nah, kehidupan begitu adanya. Kalau kalian ingin kelezatan dan kenikmatan hidup, hidupkanlah hidup kalian dengan iman, hiasilah dengan fardhu-fardhu, dan jagalah dengan menjauhi dosa. Adapun hakikat maut yang dahsyat yang ditunjukkan kematian setiap hari, di setiap tempat, di setiap waktu, kuterangkan kepada kalian — seperti kukatakan kepada para pemuda lain — dengan sebuah perumpamaan. Misalnya: di sini, di depan mata kita, sebuah tiang gantungan telah ditegakkan. Di sampingnya ada sebuah lotre — tapi sebuah kantor yang memberi tiket-tiket berhadiah sangat besar. Kami sepuluh orang di sini, bagaimanapun, mau tak mau, tak ada jalan lain sama sekali, akan diundang ke sana, mereka akan memanggil kami. Dan karena saat pemanggilan tersembunyi, sambil setiap saat menanti mereka berkata "Datang, ambil surat eksekusimu, naik ke tiang gantungan!" atau "Datang, kamu mendapat sebuah tiket berhadiah yang memenangkan jutaan emas, datang, ambillah!" — tiba-tiba dua orang datang ke pintu. Yang satu seorang perempuan cantik dan menipu, setengah telanjang, membawa halwa yang lahirnya sangat manis tapi beracun, ingin menyuapkannya. Yang lain, seorang lelaki sungguh-sungguh yang tak menipu dan tak tertipu, masuk dari belakang perempuan itu. Ia berkata: "Aku membawa sebuah jimat, sebuah pelajaran untuk kalian. Kalau kalian membacanya, kalau kalian tak memakan halwa itu, kalian selamat dari tiang gantungan itu. Dengan jimat ini kalian mengambil tiket berhadiah tak ada bandingannya itu. Nah, lihatlah, tiang gantungan ini pun memang kalian lihat dengan mata kalian bahwa mereka yang memakan madu masuk ke sana, dan sampai masuk ke sana pun mereka menanggung sakit perut dahsyat dari racun halwa itu; dan mereka yang mengambil tiket berhadiah besar itu memang tak terlihat, dan lahirnya mereka pun naik ke tiang gantungan itu. Tapi bahwa mereka tak digantung — justru menjadikannya tangga untuk masuk dengan mudah dari sana ke kantor hadiah — jutaan, miliaran saksi ada, mengabarkannya. Nah, lihatlah dari jendela-jendela. Para pejabat terbesar dan tokoh-tokoh besar yang berkaitan dengan urusan ini mengumumkan dengan suara keras, mengabarkan bahwa: sebagaimana kalian melihat dengan mata-kepala (ainul yakin) mereka yang pergi ke tiang gantungan itu, ketahuilah dengan pasti — seakan melihat, seterang siang — tanpa keraguan sedikit pun, bahwa para pemegang jimat mengambil tiket berhadiah ini." Demikian ia berkata.

Nah, seperti perumpamaan ini, kenikmatan-kenikmatan bejat kepemudaan dalam lingkaran haram yang berkedudukan sebagai madu beracun, karena ia menghilangkan iman — yang merupakan tiket dan dokumen perbendaharaan abadi dan kebahagiaan kekal — maka ia jatuh ke dalam musibah maut yang berkedudukan sebagai tiang gantungan dan kubur yang merupakan pintu kegelapan abadi, persis seperti yang tampak secara lahir; dan karena ajal tersembunyi, tanpa membedakan muda atau tua, setiap saat algojo ajal bisa datang untuk memenggal kepala. Kalau ia meninggalkan hasrat tak halal yang berkedudukan sebagai madu beracun itu, lalu dengan meraih iman dan fardhu yang merupakan jimat Qur'ani, ia akan mengambil tiket perbendaharaan kebahagiaan abadi yang keluar dari lotre takdir manusia yang luar biasa itu — seratus dua puluh empat ribu Nabi 'alaihimussalam beserta ahli kewalian, ahli hakikat, dan ahli tahkik yang tak terbilang, secara sepakat mengabarkannya dan menunjukkan jejaknya.

Ringkasnya: kepemudaan akan pergi. Kalau ia pergi dalam kebejatan, ia memberi hasil ribuan bencana dan derita — di dunia dan di akhirat. Dan kalau kalian ingin memahami bahwa pemuda semacam itu kebanyakan akan jatuh — dengan penyalahgunaan, dengan pemborosan, dengan penyakit penuh waham yang datang — ke rumah sakit, atau dengan keliaran ke penjara, atau ke tempat-tempat kebejatan, atau dengan kesempitan dari derita maknawi ke kedai-kedai minuman; tanyakanlah kepada rumah sakit, penjara, dan kuburan. Tentu, sebagaimana dari lisan keadaan rumah sakit kebanyakan kalian dengar jawaban "rintihan", "aduh-aduh" dari penyakit yang datang karena pemborosan dan penyalahgunaan dengan dorongan kepemudaan; begitu pula dari penjara, kebanyakan kalian akan mendengar penyesalan para pemuda celaka yang memakan tamparan dari tindakan dalam lingkaran haram dengan dorongan kepemudaan. Dan di kuburan, dan di alam barzakh yang pintunya terus membuka dan menutup bagi mereka yang masuk ke sana — dengan penyaksian ahli kasyaf kubur dan pembenaran serta kesaksian seluruh ahli hakikat — kalian akan tahu bahwa kebanyakan azab adalah hasil penyalahgunaan kepemudaan. Lagi pula, tanyakanlah kepada para orang tua dan orang sakit yang membentuk mayoritas jenis manusia. Tentu, dengan mayoritas mutlak, dengan penyesalan dan kerinduan mereka akan berkata: "Aduh, kepemudaan kami kami sia-siakan sia-sia, bahkan secara merugikan. Awas, jangan berbuat seperti kami." Sebab, orang yang demi kenikmatan tak halal kepemudaan lima-sepuluh tahun menanggung — bertahun-tahun di dunia derita dan duka, di barzakh azab dan kerugian, di akhirat bencana neraka dan saqar — padahal ia dalam keadaan paling patut dikasihani, dengan rahasia اَلرَّاض۪ى بِالضَّرَرِ لاَ يُنْظَرُ لَهُ tak berhak sedikit pun dikasihani. Sebab orang yang masuk ke kerugian dengan ridhanya tak dikasihani dan tak layak. Semoga Cenab-ı Hak menyelamatkan dan menjaga kami dan kalian dari fitnah zaman yang memikat ini, âmîn...

Saudara-saudaraku, para murid Risale-i Nur! Sehubungan dengan sebuah keberatan dari seorang tua — yang tak terlintas, yang memberi kerugian kepada bagian lemah murid-murid Risale-i Nur — aku terpaksa menerangkan sebuah hakikat yang akan memutus dasar keberatan-keberatan semacam itu. Seperti yang kukatakan kepada seseorang sebelumnya, kuulangi ini: sungguh sebuah hal yang mengherankan sekaligus menyedihkan bahwa: ahli hakikat menyia-nyiakan kekuatan luar biasa dalam persatuan dan dengan kehilangan itu mereka terkalahkan; sedangkan ahli nifak dan kesesatan — padahal berlawanan dengan watak mereka — bersatu demi memperoleh kekuatan penting dalam persatuan. Padahal sepuluh persen, mereka mengalahkan sembilan puluh persen ahli hakikat. Dan yang paling mengherankan adalah ini: orang-orang yang paling kami harapkan bantuan dan dorongannya, dan yang dari sisi Islam, jalan, dan tugas keagamaan berkewajiban menolong kami — alih-alih menolong, justru karena salah paham, dengan cara yang akan melemahkan khidmah Risale-i Nur, mereka mengajukan keberatan dengan bersandar pada pentingnya kedudukan sosial mereka. Mereka mengajukan keberatan terhadap sebuah penjelasan tentang sebuah hakikat. Aku tak tahu masalah mana, tentang ayat mana. Kalaupun ada, paling-paling tentang sebuah masalah dari İşarat-ı Kur'aniye dalam risalah bernama Birinci Şua yang termasuk bagian sangat rahasia.

Saudara kalian yang tak berdaya ini menerangkan kepada tokoh sahabat lama itu, kepada ahli ketelitian, dan kepada kalian bahwa: dengan limpahan Al-Qur'an Yang Penjelasannya Mukjizat, Said Baru menyebut bukti-bukti tentang hakikat-hakikat iman sedemikian rupa secara logika dan hakikat, sehingga bukan hanya ulama Muslim, melainkan filsuf Eropa yang paling bandel pun terpaksa pasrah, dan terus demikian. Adapun bahwa Al-Qur'an Yang Penjelasannya Mukjizat — seperti jenis pemberitaan Hazret-i Ali radhiyallahu 'anhu dan Gavs-ı A'zam quddisa sirruhu secara isyarat dan remiz tentang nilai dan kepentingan Risale-i Nur — pun di zaman ini menarik perhatian kepada Risale-i Nur yang merupakan mukjizat maknawinya, lewat remiz dan isyarat dari lapisan makna isyari, adalah tuntutan kemukjizatannya dan tuntutan kefasihan mukjizat lisan gaib itu. Ya, di penjara Eskişehir, pada saat yang dahsyat dan saat kami sangat membutuhkan sebuah penghiburan suci, dengan sebuah peringatan maknawi dikatakan: "Engkau membawa saksi dari para wali lama tentang keterterimaan Risale-i Nur. Padahal dengan rahasia وَلاَ رَطْبٍ وَلاَ يَابِسٍ اِلاَّ ف۪ى كِتَابٍ مُب۪ينٍ, yang paling berhak bicara dalam masalah ini adalah Al-Qur'an. Apakah Al-Qur'an menerima Risale-i Nur? Dengan pandangan apa ia menengoknya?" Aku berada di hadapan pertanyaan menakjubkan itu. Aku pun meminta pertolongan dari Al-Qur'an. Tiba-tiba, dalam satu jam, kurasakan bahwa Risale-i Nur adalah sebuah individu yang termasuk dalam keumuman makna isyari pada lapisan makna isyari — yang merupakan jenis perincian dari makna jelas tiga puluh tiga ayat — dan bahwa ada sebuah pertanda kuat untuk masuknya dan untuk pembedaannya. Sebagiannya kulihat dengan sedikit penjelasan, sebagiannya secara ringkas. Dalam keyakinanku tak tinggal keraguan, prasangka, atau waswas apa pun. Aku pun, dengan niat menjaga iman ahli iman dengan Risale-i Nur, menulis keyakinan pastiku itu, dan kuberikan kepada saudara-saudara khususku dengan syarat dirahasiakan.

Dan dalam risalah itu kami tak berkata: makna jelas ayat ini begini — supaya para hoca berkata ف۪يهِ نَظَرٌ. Lagi pula kami tak berkata bahwa keumuman makna isyari begini. Justru kami berkata: di bawah makna jelas ada beberapa lapisan. Salah satu lapisannya adalah makna isyari dan remzi, dan makna isyari itu pun sebuah keumuman. Pada tiap abad punya rincian-rinciannya. Risale-i Nur pun, di abad ini, adalah sebuah individu dari keumuman lapisan makna isyari itu; dan bahwa individu itu secara sengaja menjadi sebuah pusat perhatian dan akan menjalankan sebuah tugas penting — padahal sejak dahulu di kalangan ulama dengan sebuah prinsip cifri dan matematis yang berlaku ditunjukkan pertanda, bahkan hujah — ia bukan melukai ayat atau kejelasan Al-Qur'an, justru berkhidmah kepada kemukjizatan dan kefasihannya. Terhadap jenis isyarat gaib semacam ini tak diajukan keberatan. Orang yang tak bisa mengingkari istihrac-istihrac tak terhitung dari isyarat-isyarat Qur'aniah yang tak terhingga oleh ahli hakikat, tak boleh dan tak bisa mengingkari ini pula.

Adapun tokoh yang menganggap aneh dan jauh lalu mengajukan keberatan atas munculnya karya sepenting ini di tangan orang tak penting sepertiku — kalau ia memikirkan bahwa menciptakan pohon cemara sebesar gunung dari biji cemara sebesar biji gandum adalah dalil keagungan dan kekuasaan Ilahi, tentu ia akan terpaksa berkata: munculnya sebuah karya semacam ini pada saat kelemahan mutlak dan kefakiran mutlak serta kebutuhan mendesak semacam ini, adalah dalil luasnya rahmat Ilahi. Aku menjamin kalian dan para penentang dengan kehormatan dan martabat Risale-i Nur: isyarat-isyarat ini dan kabar-kabar serta remiz para wali, selalu menggiringku kepada syukur, puji, dan istighfar atas cela-celaku. Bahwa ia tak pernah, tak sedetik pun, memberi nafsu amarahku sebuah keakuan atau kebenaran-diri yang menjadi sumber kebanggaan dan keangkuhan — kubuktikan dengan rembesan dua puluh tahun hidupku yang ada di depan mata.

Ya, beserta hakikat ini, manusia tak lepas dari cela, kelupaan, dan kekeliruan. Banyak celaku yang tak kuketahui. Barangkali pikiranku pun bercampur, dan ada kesalahan-kesalahan di risalah-risalah. Tapi sebagaimana ia tak menengok pengrusakan kejelasan ayat oleh takwil-takwil rusak ahli kesesatan secara penuh penyelewengan di bawah huruf baru dan dengan huruf kurang — di balik tabir menggantikan terjemahan manusia di tempat huruf-huruf suci Al-Qur'an; begitu pula, keberatan yang sampai derajat melemahkan khidmah iman seorang yang malang dan terzalimi karena ia menerangkan sebuah nuktah kemukjizatan demi menguatkan iman saudara-saudaranya — bukan hanya tokoh-tokoh semacam itu, melainkan siapa pun yang punya seberat zarah keadilan, tak akan mengajukannya.

Bagi pribadiku sebuah hal yang mengherankan bahwa: tokoh yang mengajukan keberatan itu, padahal ia seorang murid Şeyh Fehim quddisa sirruhu — üstadku yang terpenting dalam silsilah ilmu — dan seorang murid İmam-ı Rabbanî radhiyallahu 'anhu yang paling kuterikat kepadanya; padahal mestinya — lebih dari siapa pun, tanpa menengok cela, kehidupan lamaku yang bercampur, dan keliaranku — ia berlari menolongku dengan segenap kekuatannya; sayang sekali, kami dengan sangat sedih mendengar bahwa sebuah keberatan yang merembes darinya berkedudukan sebagai kelesuan bagi beberapa kawan lemah kami dan sebuah sandaran bagi ahli kesesatan. Kami menanti tokoh tua itu segera berupaya memperbaiki untuk menghapus salah-paham ini; dan menolong, baik dengan doanya maupun dengan nasihatnya yang berpengaruh.

Ini pun kuterangkan sebagai tambahan: di zaman ini, jalan dan mazhab yang sangat kuat dan penuh hakikat yang punya jutaan penuh pengorbanan, lahirnya jatuh ke kekalahan menghadapi serbuan kesesatan dahsyat ini; sedangkan seorang seperti aku yang setengah ummi, tak punya siapa-siapa, terus-menerus di bawah pengintaian, di hadapan pos polisi, dan dalam keadaan propaganda dahsyat dari berbagai sisi terhadapku serta upaya membuat semua orang membenciku — tentu ia bukan pemilik Risale-i Nur yang bertahan lebih maju dan lebih kuat daripada mazhab-mazhab yang punya jutaan anggota dan menahan kesesatan secara menang. Karya itu tak bisa menjadi kepiawaiannya dan ia tak bisa berbangga dengannya. Justru, secara langsung, ia sebuah mukjizat maknawi Al-Qur'an Yang Mahabijaksana di zaman ini yang dianugerahkan dari pihak rahmat Ilahi. Orang itu, beserta ribuan kawannya, mengulurkan tangan ke hadiah Qur'aniah itu. Bagaimanapun, tugas penerjemah pertama jatuh kepadanya. Dalil bahwa ia bukan karya pikiran, ilmu, dan kecerdasannya: ada bagian-bagian Risale-i Nur yang sebagiannya ditulis dalam enam jam, sebagian dua jam, sebagian satu jam, sebagian sepuluh menit. Aku menjamin dengan sumpah bahwa — dengan syarat daya hafal Said Lama menyertaiku — pekerjaan sepuluh menit itu tak bisa kukerjakan dalam sepuluh jam dengan pikiranku. Risalah satu jam itu tak bisa kukerjakan dalam dua hari dengan bakat dan benakku; dan Kalimat Ketiga Puluh (Otuzuncu Söz) yang enam jam itu, baik aku maupun filsuf religius paling cermat tak bisa melakukan penyelidikan itu dalam enam hari; dan demikian seterusnya... Berarti, padahal kami bangkrut, kami menjadi penjaja dan pelayan sebuah toko permata yang sangat kaya. Semoga Cenab-ı Hak, dengan keutamaan dan kemurahan-Nya, dalam khidmah suci ini menjadikan kami dan seluruh murid Risale-i Nur selalu berhasil secara ikhlas dan murni, âmîn. Said Nursî

Dari Lemaat — Penjelasan tiga jalan yang diisyaratkan di akhir Surah Al-Fatihah

Wahai saudara yang penuh harapan! Ambillah khayalmu, mari bersamaku. Nah, kita di sebuah daratan, kita memandang sekeliling; tak seorang pun melihat kita. Di atas gunung-gunung tinggi yang berkedudukan sebagai tiang-tiang tenda, sebuah lapisan awan gelap terlempar, dan ia pun menutupi wajah daratan kita. Ia menjadi sebuah atap yang membeku, tapi sisi bawahnya terbuka; sisi itu melihat matahari. Nah, kita di bawah awan, kegelapan menyempitkan kita. Kesempitan pun mencekik, ketiadaan udara membunuh. Kini bagi kita ada tiga jalan: sebuah alam bercahaya, pernah kusaksikan dahulu daratan majazi ini. Ya, sekali pun pernah aku ke sini, dalam ketiganya aku pergi dengan jalan berbeda-beda.

Inilah jalan pertama: kebanyakan pergi dari sini; ia adalah keliling dunia, ia menyeret kita ke pengembaraan. Nah, kita pun di jalan, begini kita berjalan kaki. Lihatlah lautan-lautan pasir padang sahara ini, bagaimana ia menyemburkan amarah, mengancam kita! Lihatlah ombak-ombak segunung lautan itu! Ia pun marah kepada kita. Nah, Elhamdülillah, kita keluar ke sisi yang lain; kita melihat wajah matahari. Tapi kesusahan yang kami tanggung, hanya kami yang tahu. Aduh, kita kembali lagi ke sini, ke daratan kebiadaban ini, atap awan gelap itu. Yang kita perlu: yang membuat mata di hati bercahaya — sebuah alam bercahaya. Kalau engkau punya keberanian luar biasa; kita masuk bersama, jalan penuh bahaya ini.

Jalan kedua kita: kita lubangi tabiat bumi, kita lewat ke sisi sana. Atau lewat sebuah terowongan alami, gemetar kita pergi. Suatu ketika di jalan ini aku mengembara lalu lewat, tanpa congkak dan penuh munajat. Tapi saat itu di tanganku ada sebuah zat yang akan melelehkan dan merobek tanah tabiat. Jalan ketiga, dalil mukjizat itu — Al-Qur'an memberikannya padaku. Saudaraku, jangan tinggalkan belakangku, jangan sekali-kali takut! Lihat, di sana gua-gua bagaikan terowongan, aliran-aliran bawah tanah menanti kita berdua. Mereka akan melewatkan kita. Tabiat dan bongkahan es dahsyat itu pun, jangan sekali-kali menakutkanmu. Sebab di balik wajah masam ini, wajah tersenyum Pemiliknya yang penuh kasih. Dengan cahaya zat Qur'ani yang bagai radium, kusedari. Nah, selamat bagi matamu! Kita keluar ke alam bercahaya, lihatlah daratan penuh keanggunan ini, ruang yang halus dan manis ini.

Hai, angkat kepalamu! Lihat, ia menjulurkan kepala ke langit, merobek awan, meninggalkannya di bawah. Ia mengundang kita. Pohon Tûbâ itu, ternyata Al-Qur'an. Cabang-cabangnya menjulur ke segala penjuru. Ke dahan yang menjuntai ini kita pun harus berpegang, supaya ia mengambil kita ke sana. Pohon samawi itu; sebuah lambangnya di bumi menjadi syariat yang penuh cahaya. Berarti tanpa menanggung susah, dengan jalan itu kita keluar ke alam cahaya, tanpa kesusahan menyempitkan kita. Selama kita keliru; kita kembali ke tempat lama, kita temukan jalan yang lurus. Lihat, jalan ketiga kita: sang elang agung yang berdiri di atas gunung-gunung itu. Dan ia membacakan sebuah azan ke seluruh dunia. Lihat sang muazin teragung, Muhammad-ul Hasyimi صلى الله عليه وسلم mengundang manusia ke alam cahaya yang paling terang. Ia mewajibkan munajat dan salat. Ia pun merobek awan, lihat gunung-gunung Hudâ ini. Ia menjulurkan kepala ke langit, lihat gunung-gunung syariat ini. Betapa indah ia menghiasi wajah dan mata daratan kita.

Nah, kita harus keluar dari sini dengan pesawat himmah. Cahaya dan angin sepoi di sana, cahaya dan keindahan di sana. Nah, di sinilah Uhud Tauhid, gunung mulia itu. Nah, di sanalah Cudi Islam, gunung keselamatan itu. Nah, Cebel-ül Kamer yaitu Al-Qur'an Yang Paling Bercahaya, air bening Nil mengalir dari sumber megah itu. Minumlah air yang lezat itu!

فَتَبَارَكَ اللّٰهُ اَحْسَنُ الْخَالِق۪ينَ ❊ وَ اٰخِرُ دَعْوٰينَا اَنِ الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَم۪ينَ

Wahai sahabat! Kini keluarkan khayal dari kepala, masukkan akal ke benak! Dua jalan pertama itu jalan orang yang dimurkai (mağdub) dan tersesat (dâllîn); bahayanya sangat banyak, ia musim dingin selalu, tulisan musim gugur. Seperseratus yang selamat; seperti Plato, Sokrates. Jalan ketiga; ia mudah, dan dekat lagi lurus. Lemah dan kuat sama. Setiap orang pergi dari jalan itu. Yang paling nyaman ini: menjadi syahid atau gazi. Nah, kita masuk ke kesimpulan. Ya, kejeniusan fenni (sains): dua jalan pertama menjadi jalan dan mazhabnya. Tapi hidayah Qur'ani: jalan ketiga adalah jalan lurusnya, ia menyampaikan kita.

اَللّٰهُمَّ اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَق۪يمَ صِرَاطَ الَّذ۪ينَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَ لاَ الضَّٓالّ۪ينَ اٰم۪ينَ

Seluruh derita hakiki ada dalam kesesatan, seluruh kenikmatan ada dalam iman.

Sebuah hakikat agung yang mengenakan busana khayal

Wahai kawan seperjalanan yang waspada! Jalan bercahaya jalan lurus itu, dan jalan gelap orang yang dimurkai dan tersesat itu — kalau engkau ingin melihat perbedaan sempurnanya, wahai yang mulia, mari ambil wahammu, naiki khayal, kini bersamamu kita pergi ke kegelapan ketiadaan. Kuburan teragung itu, kota penuh mayat itu, kita ziarahi. Seorang Qadîr Azali, dengan tangan kekuasaan-Nya menarik kita dari benua gelap ini, menaikkan kita ke wujud ini, mengirim kita ke dunia ini; kota tanpa kelezatan ini. Nah, kini kita datang ke alam wujud ini, padang menakutkan itu. Mata kita pun terbuka, kita memandang ke enam arah; mula-mula dengan penuh harap kita memandang ke depan. Tapi bencana dan derita menyerbu di hadapan kita seperti musuh. Dari situ kami takut, kami menghindar. Ke kanan-kiri, ke unsur-unsur tabiat kita memandang, dari situ kami menanti pertolongan. Tapi kami melihat hati mereka keras, tanpa rahmat. Mereka mengasah gigi, memandang penuh amarah; tak mendengar congkak, tak mendengar munajat!

Seperti orang-orang terdesak, dengan putus asa kami angkat pandangan ke atas. Dan dengan memohon pertolongan kami memandang benda-benda langit; kami melihatnya sangat dahsyat penuh ancaman. Seakan masing-masing menjadi peluru bom, keluar dari sarang, dan di sekeliling ruang melintas sangat cepat; entah bagaimana mereka tak saling bersentuhan. Kalau salah satunya tak sengaja menyimpang dari jalannya, el'iyazü billah (kita berlindung kepada Allah), alam syahadat ini pun nyalinya akan pecah. Ia bergantung pada kebetulan; dari sini pun tak datang kebaikan. Dengan putus asa kami palingkan pandangan dari arah itu, kami jatuh ke keheranan pedih. Kepala kami pun tertunduk, kami sembunyi di dada kami, kami memandang nafsu kami. Kami menelaahnya. Nah, kami dengar: dari nafsu kami yang malang datang teriakan ribuan kebutuhan. Keluar rintihan ribuan kefakiran. Sambil menanti hiburan, kami justru ketakutan. Dari situ pun tak datang kebaikan. Dengan penuh perlindungan kami masuk ke nurani kami; kami memandang ke dalamnya, kami menanti sebuah jalan keluar. Aduh! Kami pun tak menemukan; kami yang harus memberi pertolongan. Sebab di dalamnya tampak ribuan harapan, hasrat bergejolak, perasaan penuh gelora, terjulur ke alam. Dari masing-masing kami gemetar, kami tak bisa menolong sedikit pun. Harapan-harapan itu terhimpit dalam wujud-ketiadaan; satu sisinya terjulur ke azali, satu sisinya ke abadi. Mereka punya keluasan sedemikian; andai ia menelan dunia, nurani itu pun tak akan kenyang.

Nah, di jalan pedih ini, ke mana pun kami menundukkan kepala, di situ kami temukan sebuah bencana. Sebab jalan orang yang dimurkai dan tersesat begitu adanya. Kebetulan dan kesesatan, di jalan itu memandang. Pandangan itu kami pasang, kami jatuh ke keadaan begini. Kini pun keadaan kami: bahwa permulaan dan akhir, Sang Pencipta dan Kebangkitan, kami lupakan sejenak. Ia lebih buruk dari Neraka, lebih membakar darinya, ia menghancurkan ruh kami. Sebab dari enam arah yang kami tundukkan kepala kepadanya, kami ambil keadaan sedemikian. Keadaan itu tersusun dari ketakutan dan kedahsyatan, dari kelemahan dan gemetar, dari kekacauan dan keliaran, dari keyatiman dan keputusasaan — sebuah pembakar nurani.

Kini, menghadapi tiap arah kami ambil sebuah front, kami berupaya menolaknya. Mula-mula, kami merujuk kepada kekuasaan kami, aduh kami lihat ia lemah dan tak berdaya. Kedua: kami menghadap kepada diamnya kebutuhan-kebutuhan dalam nafsu. Aduh kami lihat ia tanpa henti berteriak. Ketiga: dengan memohon pertolongan, kami berteriak memanggil seorang penyelamat; tak seorang pun mendengar, tak seorang pun menjawab. Kami pun menyangka: tiap sesuatu musuh kami, tiap sesuatu asing bagi kami. Tak satu pun memberi penghiburan ke hati kami; tak memberi keamanan, tak memberi kenikmatan hakiki. Keempat: makin kami memandang benda-benda langit, mereka memberi ke pandangan sebuah ketakutan dan kedahsyatan. Dan datang sebuah keliaran yang menyiksa nurani: pembakar akal, penganyam waham!

Nah, wahai saudaraku! Jalan kesesatan ini, hakikatnya begini. Kegelapan dalam kekufuran, di jalan ini kami lihat penuh. Kini pun mari saudaraku, kita kembali ke ketiadaan itu. Kita datang sekali lagi. Kali ini jalan kita adalah jalan lurus (sırat-ı müstakim), yaitu jalan iman. Dalil dan imam kita, pertolongan dan Al-Qur'an, sang elang yang terbang melintasi zaman. Nah, rahmat dan pertolongan Sultan Azali, tatkala menghendaki kami, kekuasaan mengeluarkan kami, dengan kelembutan menaikkan kami ke hukum kehendak (kanun-u meşiet): penata di atas tingkatan. Kini ia membawa kami, dengan kasih mengenakan kepada kami busana wujud ini, menganugerahkan kepada kami pangkat amanah. Lambangnya munajat dan salat. Tingkatan dan keadaan ini, di jalan panjang kami, masing-masing sebuah persinggahan anggun. Demi kemudahan di jalan kami, dari takdir telah diberikan sebuah surat perintah, di lembar dahi kami. Ke mana pun kami datang, ke kelompok mana pun kami bertamu, kami melihat penyambutan penuh persaudaraan. Dari harta kami, kami beri; dari harta mereka, kami ambil. Cinta perniagaan; mereka memberi makan kami, menghiasi kami dengan hadiah, dan mengantar kami pula. Datang dan datang, nah kami sampai, kami di pintu dunia, kami dengar suara.

Lihat, kami masuk ke daratan ini; kami pijakkan kaki ke alam syahadat: kota cermin Yang Maha Pengasih, rumah keramaian manusia. Kami tak tahu apa-apa, dalil dan imam kami adalah Kehendak Yang Maha Pengasih. Wakil-dalil kami, mata kami yang manis. Kami buka mata kami, kami lepaskan ke dalam dunia. Adakah terlintas di benakmu kedatangan kami yang pertama? Kami dahulu asing, yatim; musuh kami banyak, kami tak mengenal pelindung kami. Kini dengan cahaya iman, menghadapi musuh-musuh itu, sebuah rukun kokoh kami: titik sandaran kami, sekaligus pelindung kami, menolak musuh-musuh. Yaitu iman kepada Allah (iman-ı billah) yang merupakan cahaya ruh kami, cahaya hidup kami, sekaligus ruh dari ruh kami. Nah, hati kami tenang, tak peduli kepada musuh, bahkan tak mengenal musuh. Di jalan kami yang pertama, tatkala kami masuk ke nurani; kami dengar darinya teriakan dan rintihan serta suara ribuan. Dari situ kami jatuh ke bencana. Sebab harapan, hasrat, bakat, dan perasaan; selalu menginginkan keabadian. Kami tak tahu jalannya, dan dari kami ketidaktahuan jalan itu, padanya rintihan dan munajat. Tapi Elhamdülillah, kini dalam kedatangan kami, kami temukan titik pertolongan (nokta-i istimdad), yang selalu memberi hidup, bakat itu, kepada harapan-harapan; sampai abadi-keabadian ia menerbangkan mereka. Ia menunjukkan jalan kepada mereka, dari titik itu, bakat. Sekaligus ia memohon pertolongan, sekaligus meminum air kehidupan, sekaligus berlari kepada kesempurnaannya, titik pertolongan itu, isyarat dan keanggunan yang membangkitkan semangat itu.

Kutub kedua iman, yaitu: pembenaran Kebangkitan (Tasdik-i Haşir). Kebahagiaan abadi; mutiara kerangnya iman, buktinya Al-Qur'an. Nurani, sebuah rahasia insani. Kini angkat kepalamu, pandanglah alam ini sekali, bercakaplah dengannya. Di jalan kami yang pertama ia tampak sangat dahsyat. Kini pun ia tersenyum, tertawa ke segala penjuru, munajat dan suara penuh keanggunan. Tak kau lihatkah mata kami bagai lebah, terbang ke segala penjuru? Alam adalah taman, di tiap penjuru bunga-bunga, tiap bunga memberinya sebuah air lezat. Sekaligus ia memberi keakraban, penghiburan, kecintaan. Ia pun mengambil dan membawa, membuat madu syahadat. Mengalirkan sebuah madu dalam madu, sang elang penuh rahasia itu.

Tatkala pandangan kami singgah ke gerak benda-benda, ke bintang-bintang atau matahari-matahari, mereka memberi ke tangan hikmah Sang Pencipta. Sekaligus ragi pelajaran, sekaligus kilauan rahmat ia ambil, lalu terbang. Seakan matahari ini bercakap dengan kita: ia berkata: "Wahai saudara-saudara kami! Jangan menyempit dengan keliaran, ahlan wa sahlan marhaba, selamat datang. Persinggahan ini milik kalian; aku sebuah pelita anggun. Aku pun seperti kalian; tapi murni tanpa kemaksiatan, seorang pelayan yang taat. Zat Yang Esa lagi Tempat Bergantung itu, dengan rahmat murni-Nya menjadikan aku tunduk penuh cahaya demi khidmah kalian. Dariku panas dan cahaya; dari kalian salat dan munajat."

Hai, pandanglah Rembulan! Bintang-bintang dan lautan, masing-masing dengan lisan khasnya: "Ahlan wa sahlan marhaba!" kata mereka. "Selamat datang, tak kenalkah kalian kepada kami?" Dengan rahasia tolong-menolong pandanglah, dengan remiz keteraturan dengarlah. Masing-masing berkata: "Kami pun para pelayan, masing-masing cermin rahmat Zülcelal; jangan sekali-kali bersedih, jangan menyempit dari kami." Pekik gempa, teriak peristiwa, jangan sekali-kali menakutkan kalian, jangan memberi waswas. Sebab di dalamnya ada sebuah senandung zikir, sebuah dengung tasbih, gemuruh munajat. Zat Zülcelal yang mengirim kalian kepada kami, memegang tali kekang semua ini di tangan-Nya. Mata iman membaca di wajah mereka ayat rahmat, masing-masing sebuah suara.

Wahai mukmin yang hatinya waspada! Kini mata kami sejenak beristirahat, sebagai gantinya kami serahkan telinga kami yang peka ke tangan iman yang diberkahi, kami kirim ke dunia. Biarlah ia mendengar sebuah nada lezat. Di jalan kami yang pertama, suara-suara yang disangka sebuah perkabungan umum dan jerit kematian, kini di jalan kami masing-masing sebuah belaian dan salat, masing-masing sebuah suara munajat, masing-masing permulaan sebuah tasbih. Dengarlah dengungan di udara, cicit pada burung, gemericik pada hujan, gemuruh pada lautan, deru pada guruh, ketuk pada batu — masing-masing belaian penuh makna. Senandung udara, pekik guruh, lagu ombak, masing-masing sebuah zikir keagungan. Senandung hujan, kicau burung, masing-masing tasbih rahmat, sebuah majaz bagi hakikat. Suara-suara pada benda, masing-masing suara wujud: "Aku pun ada," kata mereka. Alam yang sunyi itu, tiba-tiba mulai berkata: "Jangan sangka kami benda mati, wahai manusia yang banyak bicara!" Ia menyuruh burung-burung berkata, entah sebuah kelezatan nikmat, entah turunnya sebuah rahmat. Dengan suara berbeda-beda, dengan permulaan kecil mereka, mereka menyorak rahmat, nikmat turun di atasnya, dengan syukur mereka terbang. Secara remiz mereka berkata: "Wahai saudara-saudara alam! Betapa indah keadaan kami: kami dipelihara dengan kasih, kami senang dengan keadaan kami. Dengan paruh-paruh runcing mereka menyemburkan ke angkasa masing-masing sebuah suara penuh keanggunan."

Seakan seluruh alam adalah sebuah musik agung, cahaya iman mendengar zikir dan tasbihnya. Sebab hikmah menolak wujud kebetulan, keteraturan mengusir persekutuan penganyam-waham. Wahai kawan seperjalanan! Kini kita keluar dari alam misalî ini, kita turun dari waham khayalî, kita berdiri di medan akal, kita timbang, kita rapikan jalan-jalan. Jalan pedih kami yang pertama, jalan orang yang dimurkai dan tersesat, jalan itu memberi ke nurani — sampai tempatnya yang paling dalam — sebuah perasaan pedih sekaligus sebuah derita keras. Kesadaran menunjukkannya. Kami telah berlawanan dengan kesadaran. Dan untuk selamat pun kami terdesak dan membutuhkan; entah ia ditenangkan, entah tak terasakan; kalau tidak, kami tak bisa bertahan, teriakan dan rintihan tak tertahankan. Adapun Hudâ adalah obat; hawa nafsu adalah pembatalan rasa. Ini pun ingin hiburan, ini pun ingin pelalaian, ini pun ingin kesibukan, ini pun ingin hiburan. Hasrat-hasrat sihir. Supaya ia menipu nurani, ruh ditidurkan, supaya derita tak terasa. Kalau tidak, derita pedih itu membakar nurani; rintihan tak tertahankan; derita putus asa tak terpikul. Berarti, makin jauh ia jatuh dari jalan lurus, sekadar itu keadaan ini berpengaruh, membuat nurani menjerit. Di dalam ti

ap kenikmatan ada deritanya, sebuah jejak. Berarti gemerlap peradaban yang tersusun dari hasrat, hawa nafsu, hiburan, dan kebejatan; ia sebuah salep dusta bagi kesempitan dahsyat yang datang dari kesesatan ini, racun pembius.

Wahai sahabatku yang mulia! Di jalan kami yang kedua, di jalan bercahaya itu, kami merasakan sebuah keadaan; dengan keadaan itu hidup menjadi tambang kenikmatan. Derita-derita menjadi kenikmatan-kenikmatan. Dengannya kami pahami bahwa: pada derajat berbeda-beda, sesuai kadar kekuatan iman, ia memberi ke ruh sebuah keadaan. Jasad lezat dengan ruh, ruh lezat dengan nurani. Sebuah kebahagiaan segera tercakup dalam nurani; sebuah firdaus maknawi tersembunyi di hati. Adapun berpikir adalah menggali; adapun kesadaran adalah lambang rahasia. Kini, makin hati dibangunkan, nurani digerakkan, ruh diberi perasaan; kenikmatan kian banyak, dan apinya pun berbalik menjadi cahaya, musim dinginnya menjadi musim panas. Di nurani pintu-pintu firdaus terbuka, dunia menjadi sebuah surga. Di dalamnya ruh-ruh kami terbang dan menari, menjadi elang dan anggun, mengepakkan salat dan munajat.

Wahai kawan seperjalananku yang mulia! Kini, kupasrahkan kepada Allah. Mari, bersama kita berdoa sekali, lalu untuk bertemu lagi kita berpisah.

اَللّٰهُمَّ اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَق۪يمَ اٰم۪ينَ

Menjelaskan kemukjizatan Al-Qur'an secara ijaz (ringkas-padat)

Suatu ketika dalam mimpi kulihat: aku berada di bawah Gunung Ağrı. Tiba-tiba gunung itu meledak, menghamburkan batu-batu sebesar gunung ke seantero alam, mengguncang dunia. Mendadak seorang lelaki muncul di sisiku. Ia berkata: jelaskanlah secara ijaz, ringkaskanlah secara global, ragam-ragam kemukjizatan Al-Qur'an yang engkau ketahui! Masih dalam mimpi aku memikirkan takwilnya. Aku berkata: ledakan di sini, sebuah perumpamaan bagi sebuah revolusi (inkılab) pada manusia. Dan dalam revolusi itu, tentu hidayah Furqani akan naik di segala penjuru sekaligus berkuasa. Penjelasan kemukjizatannya, zamannya pun akan tiba!

Sebagai jawaban kepada sang penanya aku berkata: kemukjizatan Qur'ani bersinar dari tujuh sumber menyeluruh (menabi-i külliye), sekaligus tersusun dari tujuh unsur.

Sumber Pertama: kefasihan lisan dari kefasihan lafal; kilatan penjelasan yang lahir sekaligus dari kilatan susunan (nazm), kebalagahan makna, keorisinalan konsep-konsep, ketinggian kandungan-kandungan, dan keunikan gaya-gaya (üslûb). Dengannya berpadu, dalam tabiat kemukjizatannya, sebuah ukiran penjelasan yang menakjubkan, sebuah seni lisan yang ajaib. Pengulangannya tak pernah membosankan manusia.

Unsur Kedua: dasar-dasar yang gaib dalam urusan kosmik, dari hakikat-hakikat Ilahi, dari rahasia-rahasia yang gaib, dari kegaiban samawi. Dari urusan-urusan gaib yang hilang di masa lampau, dari keadaan-keadaan yang tetap tersembunyi di masa depan, sebuah perbendaharaan ilmu hal-hal gaib (ilm-ül guyub) yang sekaligus terkandung di dalamnya. Lisan alam gaib (âlem-ül guyub), rukun-rukunnya bercakap dengan alam syahadat, penjelasannya lewat remiz, sasarannya jenis manusia, sebuah kilatan bercahaya kemukjizatan...

Sumber Ketiga: ada sebuah kemenyeluruhan (câmiiyet) luar biasa dari lima sisi: pada lafalnya, pada maknanya, pada hukum-hukumnya, pada ilmunya, dan pada timbangan maksud-maksudnya. Lafalnya mengandung kemungkinan-kemungkinan yang sangat luas; serta banyak wajah makna, yang masing-masing dipandang baik dalam pandangan balagah, sahih menurut kaidah Arab, dan rahasia tasyri' memandangnya layak. Pada maknanya: aliran-aliran para wali (meşarib-i evliya), kenikmatan-kenikmatan para arif, mazhab-mazhab para salik, jalan-jalan para mutakallim, metode-metode para hukama — penjelasan mukjizat itu sekaligus meliputi dan mengandungnya. Pada penunjukannya ada keluasan, pada maknanya ada kelapangan. Kalau engkau memandang lewat jendela ini, kau lihat betapa luas medannya! Cakupan pada hukum-hukum: syariat luar biasa ini diistinbat darinya. Cara penjelasannya sekaligus mengandung: seluruh prinsip kebahagiaan dua negeri, seluruh sebab keamanan, seluruh ikatan kehidupan sosial, sarana-sarana pendidikan, dan hakikat-hakikat keadaan. Pencakupan dalam ilmunya: baik ilmu-ilmu kosmik maupun ilmu-ilmu Ilahi, padanya ada martabat-martabat penunjukan, isyarat-isyarat lewat remiz; di benteng-benteng surahnya ia menghimpun taman-taman surga. Pada maksud dan tujuan: keseimbangan, keajegan, kesesuaian dengan prinsip-prinsip fitrah, kesatuan; ia sepenuhnya menjaga dan memelihara timbangan. Nah, dalam keluasan lafal, dalam keluasan makna, dalam cakupan hukum, dalam pencakupan ilmu, dalam keseimbangan tujuan — sebuah kemenyeluruhan yang penuh kemuliaan.

Unsur Keempat: kepada derajat pemahaman tiap abad, kepada pangkat sastranya, serta kepada tiap lapisan di tiap abad — sesuai kadar bakat dan tingkat kemampuan — ia memberi sebuah limpahan bercahaya. Pintunya terbuka bagi tiap abad, bagi tiap lapisan di tiap abad. Seakan pada tiap saat, di tiap tempat, Kalam Yang Maha Pengasih itu turun segar. Makin menua zaman, Al-Qur'an justru makin muda. Remiznya pun kian jelas; seruan Ilahi itu pun merobek tabir tabiat dan sebab-sebab. Cahaya Tauhid memancar dari tiap ayat pada tiap saat. Ia mengangkat tabir syahadat di atas yang gaib. Ketinggian seruannya mengundang perhatian, pandangan manusia itu. Sebab ia lisan gaib; dialah yang langsung bercakap dengan alam syahadat. Dari unsur ini muncul ini: kesegarannya yang luar biasa, sebuah liputan samudra! Demi mengakrabkan benak, ada penurunan-penurunan Ilahi (tenezzülât) terhadap akal manusia. Keberagaman dalam gaya Al-Qur'an itu adalah keramahannya, yang dicintai jin dan manusia.

Sumber Kelima: dalam penuturan dan kisah-kisahnya, dalam pemberitaan yang benar — dengan menuturkan poin-poin pokok seperti seorang saksi yang hadir, lewat sebuah gaya yang indah dan sarat makna — ia membangunkan manusia dengannya. Yang dituturkannya: kabar-kabar orang dahulu, keadaan orang kemudian, rahasia neraka dan surga. Kisah-kisahnya tentang hakikat-hakikat gaib, rahasia-rahasia syahadat, rahasia-rahasia Ilahi, dan ikatan-ikatan kosmik adalah kisah yang nyata-jelas, yang tak ditolak oleh kenyataan, tak didustakan oleh logika. Kalaupun logika tak menerima, ia bahkan tak bisa menolaknya. Adapun kitab-kitab samawi yang menjadi incaran dunia: pada poin-poin yang disepakati ia menuturkan secara membenarkan, pada tempat-tempat yang diperselisihkan ia membahas secara mengoreksi. Munculnya urusan-urusan riwayat semacam ini dari seorang "Ummi", sebuah keajaiban zaman...

Unsur Keenam: ia mengandung dan mendirikan Agama Islam. Akan semisal Islam, tak masa lampau yang mampu, tak masa depan yang mampu; kalau engkau telusuri zaman dan tempat! Bumi kita, dalam orbit tahunan dan hariannya, benang samawi inilah yang memegangnya dan memutarnya. Ia menekan bola bumi dengan berat, sekaligus mengendarainya. Ia tak membiarkan pembangkangan.

Sumber Ketujuh: enam cahaya yang keluar dari enam sumber itu, sekaligus berpadu. Darinya muncul sebuah keindahan, dari ini datang sebuah firasat (hads), sebuah perantara bercahaya. Yang keluar dari ini adalah sebuah kenikmatan; kenikmatan kemukjizatan (zevk-i i'caz) dikenali, tapi lisan kita tak sanggup mengungkapkannya. Pikiran pun tak mampu; bintang-bintang langit itu terlihat tapi tak tergenggam. Selama tiga belas abad ada kecenderungan menantang (meyl-üt tahaddi) pada musuh-musuh Al-Qur'an, dan bangkit semangat meniru pada para pencinta Al-Qur'an. Nah, sebuah bukti kemukjizatan... Dengan dua kecenderungan kuat itu, di medan telah ditulis jutaan kitab Arab, yang datang ke perpustakaan wujud. Kalau Al-Qur'an ditimbang bersama mereka pada sebuah timbangan, jangankan sang cendekia tak tertandingi, bahkan orang paling awam pun, dengan mata dan telinga akan berkata: yang ini buatan manusia, yang itu samawi! Dan ia akan memutuskan: yang ini tak menyerupai mereka, tak mungkin sederajat dengan mereka. Kalau begitu, ia entah di bawah semua; padahal hal ini, kebatilannya telah jelas dengan sendirinya. Kalau begitu, ia di atas semua. Kandungan-kandungannya selama sekian zaman, dengan pintu terbuka, diwakafkan bagi manusia; ia mengundang ruh dan benak kepada dirinya! Manusia mengelolanya dan menjadikannya miliknya. Dengan kandungan-kandungannya pun, ia tak bisa menentang Al-Qur'an, tak pernah bisa menentang; masa ujiannya telah lewat.

Ia tak menyerupai kitab-kitab lain, tak bisa diqiyaskan kepada mereka; sebab penurunannya dalam dua puluh tahun secara berangsur (müneccemen) sesuai kebutuhan; terpisah-pisah dan terputus-putus, sebuah hikmah Rabbani. Sebab-sebab turunnya beragam dan berbeda-beda. Dalam satu hal, pertanyaan-pertanyaan berulang dan bervariasi. Peristiwa-peristiwa hukumnya banyak dan berubah-ubah. Beragam dan terpisah-pisah waktu turunnya. Keadaan penerimaannya beraneka dan berlainan. Golongan-golongan yang diseru beragam dan berjauhan. Tujuan-tujuan bimbingannya berjenjang dan bervariasi. Bangunannya bersandar pada dasar-dasar ini, juga penjelasannya, jawabannya, dan seruannya. Beserta itu pun, kefasihan dan keselamatan, keserasian dan ketautan, telah menunjukkan kesempurnaannya; nah, saksinya: ilmu Bayan dan ilmu Ma'ani. Pada Al-Qur'an ada sebuah ciri khas; tak ada pada perkataan lain. Kalau engkau mendengar sebuah perkataan, kau lihat pemilik asli perkataan itu di belakangnya, atau kau temukan di dalamnya. Gaya (üslûb): cermin pribadi.

Wahai penanya dalam mimpi (sâil-i misalî)! Engkau meminta ijaz, dan aku pun mengisyaratkan. Kalau engkau ingin perincian, itu di luar batasku! Lalat tak bisa menjelajahi langit. Sebab, dari empat puluh ragam kemukjizatannya, hanya satu saja — yaitu kilatan susunannya (cezalet-i nazm) — penjelasannya tak muat dalam İşarat-ül İ'caz. Seratus halaman tafsirku pun tak cukup untuknya. Ilham-ilham rohani sepertimu berlimpah. Aku justru meminta darimu penjelasan yang terperinci!

Tak akan menggapainya — tangan sastra Barat yang penuh hasrat, pemuja hawa nafsu, dan menjeniuskan diri — sepanjang masa, dengan kebiasaan adabnya, (tak akan menggapai) Al-Qur'an yang penuh cahaya, penyembuh, dan pembawa hidayah. Sebuah keadaan yang menyenangkan kenikmatan luhur (zevk-i maâlî) manusia-manusia sempurna, tak terasa menyenangkan bagi pemilik hasrat kekanak-kanakan dan tabiat bejat; ia tak menghibur mereka. Berdasarkan hikmah ini, orang yang sepenuhnya terbesarkan dalam kenikmatan rendah, bejat, nafsani, dan syahwati, tak mengenal kenikmatan rohani (zevk-i ruhî). Sastra masa kini yang merembes dari Eropa ini, dengan pandangan ala novel, tak bisa melihat kelembutan-kelembutan keluhuran dan keistimewaan-keistimewaan keagungan yang ada dalam Al-Qur'an, dan tak bisa mengecapnya. Batu uji yang ada padanya tak bisa ditera kepadanya.

Dalam sastra ada tiga medan jelajah; ia berputar di dalamnya, tak bisa keluar darinya: entah cinta dan keindahan, entah kepahlawanan dan keberanian, entah penggambaran hakikat. Nah, sastra liar itu, pada poin kepahlawanan, tak menjunjung kebenaran. Justru, dengan menyorak kekejaman manusia zalim, ia menanamkan rasa pemujaan kekuatan. Pada poin keindahan dan cinta, ia tak mengenal cinta hakiki. Ia menyuntikkan ke nafsu sebuah kenikmatan yang membangkitkan syahwat. Dalam hal penggambaran hakikat, ia tak memandang alam sebagai seni Ilahi (san'at-ı İlahî); tak bisa melihatnya sebagai celupan Yang Maha Pengasih (sıbga-i Rahmanî). Justru ia memegangnya dari sisi tabiat dan menggambarkannya; dan tak bisa keluar darinya pula. Karena itu, yang ditanamkannya menjadi cinta tabiat. Ia menanamkan pula rasa pemujaan materi ke hati; orang tak bisa dengan mudah melepaskan diri darinya. Dan terhadap penderitaan ruh yang datang darinya, yang lahir dari kesesatan, sastra yang menjadi tak beradab itu hanyalah penenang sekaligus pembius; ia tak memberi manfaat hakiki. Ia hanya menemukan satu obat; yaitu novel-novelnya. Sesuatu yang hidup-mati seperti kitab, mayat-mayat bergerak seperti sinema! Mayat tak bisa memberi hidup. Dan seperti teater yang bagai reinkarnasi, seperti hantu-hantu dari kuburan luas bernama masa lampau — dengan tiga ragam novel ini, ia sama sekali tak malu. Ia meletakkan sebuah lidah pendusta ke mulut manusia, memasang sebuah mata fasik ke wajah manusia, mengenakan ke dunia gaun seorang pelacur; ia tak mengenal keindahan murni (hüsn-ü mücerred). Kalau ia menunjukkan matahari, ia mengingatkan pembaca pada seorang aktris cantik berambut pirang. Secara lahir ia berkata: "Kebejatan itu buruk, tak pantas bagi manusia." Ia menunjukkan akibat yang merugikan. Padahal ia membuat penggambaran kebejatan secara sedemikian menggoda sehingga air liur menetes, akal tak bisa tetap berkuasa. Ia membangkitkan selera, menggugah hasrat, dan perasaan tak lagi mau mendengar kata.

Adapun sastra dalam Al-Qur'an tak mencampurkan hawa nafsu. Ia memberi rasa menjunjung kebenaran, cinta keindahan murni, kenikmatan memuja keindahan, dan semangat memuja hakikat; dan ia tak menipu. Ia tak memandang alam dari sisi tabiat, justru membahasnya dari sisi sebuah seni Ilahi, sebuah celupan Yang Maha Pengasih, dan tak membingungkan akal. Ia menanamkan cahaya makrifat Sang Pencipta. Ia menunjukkan ayat-Nya pada segala sesuatu. Keduanya pun memberi sebuah kesedihan yang lembut, tapi tak serupa satu sama lain. Sastra ala Eropa memberi sebuah kesedihan muram yang lahir dari kehilangan para kekasih (fakd-ül ahbab) dan dari ketiadaan pelindung; ia tak bisa memberi kesedihan yang luhur. Sebab ia sebuah rasa kesedihan muram yang diilhamkan dari tabiat yang tuli dan dari sebuah kekuatan buta. Ia mengenal alam sebagai sebuah belantara liar, tak menunjukkan jenis lain, dalam bentuk itu ia menunjukkannya. Dan ia memegang orang yang bersedih, lalu meletakkannya — tanpa pelindung — di antara makhluk-makhluk liar; tak meninggalkan harapan apa pun. Dengan rasa kegelisahan yang diberikannya pada diri, kian lama ia pergi sampai ke ateisme (ilhad), membuka jalan sampai ke pengingkaran total (ta'til); kembalinya menjadi sulit, bahkan barangkali ia tak bisa kembali lagi.

Adapun sastra Al-Qur'an: ia memberi sebuah kesedihan yang penuh kerinduan (âşıkane), bukan kesedihan keyatiman. Ia datang dari perpisahan dengan para kekasih (firak-ul ahbab), bukan dari kehilangan para kekasih. Pandangannya terhadap alam: alih-alih tabiat buta, sebuah seni Ilahi yang berkesadaran dan penuh rahmat menjadi bahan bahasannya; ia tak membahas tabiat sebagai pencipta. Alih-alih kekuatan buta; sebuah kekuasaan Ilahi yang penuh pertolongan dan hikmah menjadi bahan penjelasannya. Karena itu, alam tak mengenakan rupa belantara liar. Justru, dalam pandangan orang bersedih yang diseru, ia menjadi sebuah perkumpulan para kekasih (cem'iyet-i ahbab). Di segala penjuru ada saling menyahut, di tiap sisi ada saling mencintai; itu tak memberinya kesempitan. Di tiap sudut ada keakraban; ia meletakkan orang bersedih di dalam perkumpulan itu. Ia memberi sebuah kesedihan penuh rindu, sebuah rasa luhur; ia tak memberi kesedihan yang muram. Keduanya pun memberi sebuah semangat: dengan semangat yang diberikan sastra liar itu, nafsu jatuh ke kegelisahan, hasrat menjadi terbentang; ia tak bisa memberi kelapangan ke ruh. Adapun semangat Al-Qur'an: ruh jatuh ke gairah, ia memberi semangat keluhuran (şevk-i maâlî). Nah, berdasarkan rahasia ini, syariat Ahmadi صلى الله عليه وسلم tak menghendaki hiburan sia-sia (lehviyat). Ia mengharamkan sebagian alat hiburan, dan sebagian memberi izin sebagai halal... Berarti, alat yang memberi kesedihan Qur'ani atau semangat Qur'ani, tak merugikan. Kalau ia memberi kesedihan keyatiman atau semangat nafsani, alat itu haram. Ia berubah-ubah menurut orangnya; tiap orang tak serupa satu sama lain.

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِ

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَم۪ينَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلٰى سَيِّدِ الْمُرْسَل۪ينَ وَ عَلٰٓى اٰلِه۪ وَ صَحْبِه۪ اَجْمَع۪ينَ

Dua bukti agung Tauhid dan sebuah nuktah kemukjizatan Surah Al-Ikhlas

Alam ini seluruhnya adalah sebuah bukti agung. Lisan gaib bersama syahadat bertasbih dan mengesakan. Ya, dengan Tauhid Yang Maha Pengasih, dengan suara besar ia berzikir: Lâ ilahe illâ Hû

Seluruh atom dan selnya, seluruh rukun dan anggotanya, masing-masing sebuah lisan yang berzikir; bersama suara besar itu ia berkata: Lâ ilahe illâ Hû

Pada lidah-lidah itu ada keberagaman, pada suara-suara itu ada tingkatan. Tapi pada satu titik berkumpul, zikirnya, suaranya: Lâ ilahe illâ Hû

Ini sebuah manusia teragung (insan-ı ekber), dengan suara besar ia berzikir; seluruh bagiannya, atomnya, dengan suara-suara kecilnya, bersama suara megah itu berkata: Lâ ilahe illâ Hû

Dalam halqah zikir alam ini, ia membaca asyr, Al-Qur'an ini menjadi tempat terbit cahaya. Seluruh yang berruh memikirkannya: Lâ ilahe illâ Hû

Furqan Yang Mahaagung ini, sebuah bukti yang menuturkan Tauhid itu, seluruh ayatnya lisan yang benar. Pancaran-pancaran kilatan iman. Bersama ia berkata: Lâ ilahe illâ Hû

Kalau engkau tempelkan telinga ke dada Furqan ini, dari dalam sampai ke dalam, dengan jelas kau dengar sebuah suara samawi berkata: Lâ ilahe illâ Hû

Suara itu sangat luhur, sangat sungguh-sungguh, hakiki, sangat tulus, sekaligus sangat ramah, meyakinkan, dan dilengkapi bukti. Berulang ia berkata: Lâ ilahe illâ Hû

Pada bukti bercahaya ini, enam sisinya tembus pandang; di atasnya terukir cap kemukjizatan yang berhias bunga, di dalamnya cahaya hidayah yang berkilau berkata: Lâ ilahe illâ Hû

Ya, di bawahnya tertenun logika dan bukti yang lembut, di kanannya ia menanyai akal; di setiap sisi terbentang, benak-benak berkata "Sadakte (engkau benar)": Lâ ilahe illâ Hû

Di sisi kirinya, ia mempersaksikan nurani. Di depannya keindahan kebaikan, di sasarannya kebahagiaan. Kuncinya pada tiap saat: Lâ ilahe illâ Hû

Di belakangnya yang menjadi depan, sandarannya samawi, yaitu wahyu murni Rabbani. Enam sisi ini bercahaya; pada menara-menaranya bertajalli: Lâ ilahe illâ Hû

Ya, waswas si pencuri, keraguan penuh waham yang meninggalkan, mana mungkin si pembelot itu bisa masuk ke istana berkilau ini. Sekaligus ia terbit-cahaya; benteng surah-surahnya menjulang, tiap kata sebuah malaikat yang berucap: Lâ ilahe illâ Hû

Al-Qur'an Yang Mahaagung itu, betapa ia sebuah samudra Tauhid. Satu tetes saja, sebagai misal satu Surah Al-Ikhlas saja.. tapi satu remiz singkat saja, dari remiz-remiznya yang tak terhingga. Ia menolak seluruh ragam syirik, sekaligus membuktikan tujuh ragam Tauhid; tiga negatif, tiga positif, dalam enam kalimat ini sekaligus: