PEMBAHASAN PERTAMA
Kelimat · hlm. 405
Takdir dan ikhtiar parsial termasuk bagian suatu iman yang bersifat keadaan lagi nurani, yang memperlihatkan batas akhir keislaman dan iman. Keduanya bukanlah masalah ilmiah lagi teoretis. Yakni, seorang mukmin, dengan senantiasa menyerahkan segala sesuatu — bahkan perbuatan dan nafsunya — kepada Allah, agar pada akhirnya tidak lepas dari taklif dan tanggung jawab, maka "ikhtiar parsial" muncul di hadapannya. Ia berkata kepadanya: "Engkau bertanggung jawab lagi mukalaf." Kemudian, agar ia tidak menyombongkan diri dengan kebaikan dan kesempurnaan yang keluar darinya, "Takdir" datang menghadapinya. Ia berkata: "Ketahuilah batasmu; bukan engkau yang melakukannya."
Ya, takdir dan ikhtiar parsial — pada martabat akhir iman dan Islam — masuk ke dalam masalah imani agar takdir membebaskan nafsu dari kesombongan, dan ikhtiar parsial membebaskan dari ketiadaan tanggung jawab. Bukan agar nafsu-nafsu ammarah yang keras kepala berpegang pada takdir untuk membebaskan diri dari tanggung jawab keburukan yang mereka kerjakan, dan membanggakan serta menyombongkan kebaikan yang dianugerahkan kepada mereka dengan bersandar pada ikhtiar parsial; itu bukanlah masalah ilmiah — melainkan menjadi sebab suatu tindakan yang sepenuhnya berlawanan dengan rahasia takdir dan hikmah ikhtiar parsial.
Ya, di kalangan awam yang belum maju secara maknawi, takdir memiliki tempat penggunaan. Akan tetapi itu pun dalam hal-hal yang lampau dan musibah, yang menjadi obat bagi keputusasaan dan kesedihan. Bukan dalam hal maksiat dan masa depan, yang menjadi sebab kefasikan dan kemalasan.
Berarti masalah takdir masuk ke dalam iman bukan untuk membebaskan dari taklif dan tanggung jawab, melainkan untuk membebaskan dari kebanggaan dan kesombongan. Ikhtiar parsial masuk ke dalam akidah agar menjadi tempat rujukan keburukan. Bukan agar menjadi sumber kebaikan lalu berlagak seperti Firaun.
Ya, sebagaimana firman Al-Qur'an, manusia sepenuhnya bertanggung jawab atas keburukannya. Sebab yang menginginkan keburukan adalah dia. Karena keburukan termasuk jenis penghancuran, manusia dengan satu keburukan dapat melakukan banyak penghancuran. Ia memperoleh kelayakan atas suatu hukuman yang dahsyat. Laksana membakar sebuah rumah dengan sebatang korek api. Akan tetapi ia tak berhak membanggakan kebaikan. Padanya, haknya sangat kecil. Sebab yang menginginkan dan menghendaki kebaikan adalah rahmat Ilahi, dan yang menciptakannya adalah kudrat Rabbani. Pertanyaan dan jawaban, penyeru dan sebab, keduanya dari Al-Haq. Manusia hanya memilikinya dengan doa, iman, kesadaran, dan rida. Akan tetapi yang menginginkan keburukan adalah nafsu insani (entah dengan bakat, entah dengan ikhtiar). Sebagaimana sebagian benda mengambil kehitaman dan kebusukan dari cahaya matahari yang putih lagi indah — kehitaman itu milik bakatnya. Akan tetapi yang menciptakan keburukan itu dengan suatu undang-undang Ilahi yang mengandung banyak maslahat, tetaplah Al-Haq. Berarti pengadaan sebab dan permintaan berasal dari nafsu, maka nafsu-lah yang memikul tanggung jawab. Adapun penciptaan yang menjadi hak Allah adalah indah dan baik, karena memiliki hasil serta buah yang lebih indah lagi. Maka dari rahasia inilah: mengusahakan keburukan adalah buruk; menciptakan keburukan bukanlah buruk. Sebagaimana orang malas yang menderita kerugian dari hujan yang mengandung banyak maslahat tak dapat berkata: "Hujan bukanlah rahmat." Ya, dalam penciptaan dan pengadaan, bersama suatu keburukan parsial terdapat kebaikan yang banyak. Meninggalkan kebaikan yang banyak demi suatu keburukan parsial adalah keburukan yang banyak. Karena itu keburukan parsial itu berkedudukan sebagai kebaikan. Pada penciptaan Ilahi tak ada keburukan dan kejelekan. Melainkan ia milik usaha dan bakat hamba.
Dan sebagaimana takdir Ilahi suci dari keburukan serta kejelekan dari segi hasil dan buah, demikian pula ia mahasuci dari kezaliman dan keburukan dari segi illat dan sebab. Sebab takdir memandang illat-illat yang hakiki, ia berbuat adil. Manusia membangun putusannya atas illat lahiriah yang mereka lihat; maka dalam keadilan takdir yang sama, mereka jatuh ke dalam kezaliman. Misalnya: seorang hakim menghukum dan memenjarakanmu karena pencurian. Padahal engkau bukan pencuri. Akan tetapi engkau memiliki suatu pembunuhan tersembunyi yang tak diketahui siapa pun. Maka takdir Ilahi pun menghukummu dengan penjara itu. Namun takdir menghukum dan berbuat adil karena pembunuhan tersembunyi itu. Adapun hakim berbuat zalim, karena menghukummu atas pencurian yang engkau tak bersalah. Maka sebagaimana pada satu hal yang sama, dari dua sisi, tampak keadilan takdir serta penciptaan Ilahi dan kezaliman usaha manusia, kiaskanlah hal-hal lain kepada ini. Berarti takdir dan penciptaan Ilahi — dari segi permulaan dan akhir, asal dan cabang, illat dan hasil — suci dari keburukan, kejelekan, dan kezaliman.
Jika dikatakan
"Oleh karena ikhtiar parsial tak memiliki kemampuan mengadakan, dan di tangan manusia tak ada apa pun selain usaha (kasb) yang berkedudukan sebagai perkara i'tibari, bagaimana bisa dalam Al-Qur'an yang penjelasannya penuh mukjizat, manusia diberi kedudukan sebagai pemberontak dan musuh terhadap Pencipta langit dan bumi? Pencipta bumi dan langit mengeluh keras terhadapnya. Ia mengerahkan diri-Nya dan malaikat-Nya untuk menolong hamba mukmin menghadapi manusia pemberontak itu. Ia memberinya suatu perhatian yang agung."
Jawaban
Sebab kekufuran, pembangkangan, dan keburukan adalah penghancuran, ketiadaan. Padahal penghancuran yang besar dan ketiadaan yang tak terhingga dapat tergantung pada satu perkara i'tibari lagi 'adami (ketiadaan). Sebagaimana juru kemudi sebuah kapal besar, dengan tidak menunaikan tugasnya, membuat kapal tenggelam dan membatalkan hasil kerja seluruh awak. Seluruh penghancuran itu tergantung pada satu ketiadaan. Demikian pula: karena kekufuran dan maksiat termasuk jenis ketiadaan dan penghancuran, ikhtiar parsial dengan suatu perkara i'tibari dapat menggerakkannya dan menyebabkan akibat yang dahsyat. Sebab kekufuran, meskipun satu keburukan, karena ia menghina seluruh alam semesta dengan ketakbernilaian dan kesia-siaan, mendustakan seluruh makhluk yang memperlihatkan dalil ketauhidan, dan merendahkan seluruh manifestasi asma — maka atas nama seluruh alam semesta, makhluk, dan asma Ilahi, Allah mengeluh keras terhadap orang kafir dan mengancamnya dengan dahsyat; itu adalah hikmah semata. Dan memberi azab abadi adalah keadilan semata. Oleh karena manusia menuju sisi penghancuran dengan kekufuran dan pembangkangan, ia melakukan banyak pekerjaan dengan sedikit khidmah. Karena itu ahli iman membutuhkan inayah Allah yang agung dalam menghadapi mereka. Sebab sebagaimana sepuluh orang kuat yang mengemban penjagaan dan perbaikan sebuah rumah terpaksa merujuk dan memohon kepada wali — bahkan raja — dari seorang anak nakal yang berusaha membakar rumah itu; demikian pula kaum mukmin membutuhkan banyak inayah Allah untuk bertahan menghadapi ahli pembangkangan yang tak beradab demikian.
Kesimpulan
Jika orang yang membahas takdir dan ikhtiar parsial adalah ahli hudur dan pemilik iman yang sempurna, ia menyerahkan alam semesta dan nafsunya kepada Allah, dan mengetahui semuanya dalam tasarruf-Nya. Pada saat itu ia berhak membahas takdir dan ikhtiar parsial. Sebab oleh karena ia mengetahui nafsu dan segala sesuatu dari Allah, maka ia memikul tanggung jawab dengan bersandar pada ikhtiar parsial. Ia menerima kedudukannya sebagai rujukan keburukan, lalu menyucikan Rabbnya. Ia tetap dalam lingkaran ubudiyah, mengemban taklif Ilahi. Dan agar tidak menyombongkan diri dengan kesempurnaan serta kebaikan yang keluar darinya, ia memandang takdir, dan bersyukur sebagai ganti kebanggaan. Dalam musibah yang menimpanya, ia melihat takdir, lalu bersabar. Adapun jika orang yang membahas takdir dan ikhtiar parsial adalah ahli kelalaian, maka ia tak berhak membahasnya. Sebab nafsu ammarahnya, dengan dorongan kelalaian atau kesesatan, menyerahkan alam semesta kepada sebab-sebab, membagikan milik Allah kepada mereka, dan menjadikan dirinya milik dirinya sendiri. Ia menyandarkan perbuatannya kepada dirinya dan sebab-sebab. Ia melimpahkan tanggung jawab dan cacatnya kepada takdir. Pada saat itu, pembahasan ikhtiar parsial (yang pada akhirnya diserahkan kepada Allah) dan pembahasan takdir (yang pada akhirnya menjadi pusat pandangan) menjadi tak bermakna. Ia hanyalah suatu tipu daya nafsu yang berlawanan dengan hikmahnya dan untuk membebaskan diri dari tanggung jawab.