Kelimat Ketujuh Belas
Kelimat · hlm. 204
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِ
اِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى اْلاَرْضِ ز۪ينَةً لَهَا لِنَبْلُوَهُمْ اَيُّهُمْ اَحْسَنُ عَمَلاً ❊ وَاِنَّا لَجَاعِلُونَ مَا عَلَيْهَا صَع۪يدًا جُرُزًا ❊ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَٓا اِلاَّ لَعِبٌ وَلَهْوٌ
(Kalimat ini terdiri dari dua maqam yang luhur dan satu lampiran yang cemerlang.)
Sang Khâliq Rahîm, Sang Razzâq Karîm, dan Sang Shâni' Hakîm menjadikan dunia ini, bagi alam arwah dan para makhluk ruhani, dalam rupa sebuah hari raya, sebuah pesta cahaya yang semarak; Dia menghiasinya dengan ukiran-ukiran menakjubkan dari seluruh asma-Nya; lalu kepada setiap ruh — kecil maupun besar, yang tinggi maupun yang rendah — Dia kenakan sebuah jasad yang sesuai dengannya, yang cocok untuk mengambil manfaat dari keindahan-keindahan dan karunia-karunia yang tak terhitung dan beraneka ragam di hari raya itu, serta diperlengkapi dengan indra-indra; Dia beri ia sebuah wujud jasmani, dan sekali saja Dia kirim ia ke tempat penyaksian itu. Kemudian hari raya yang amat luas dari segi zaman dan tempat itu Dia bagi atas abad-abad, tahun-tahun, musim-musim, bahkan hari-hari dan bentangan-bentangan bumi; setiap abad, setiap tahun, setiap musim, bahkan dari satu segi setiap hari dan setiap bentangan bumi Dia jadikan sebuah hari raya yang luhur, dalam bentuk sebuah pawai, bagi tiap-tiap kelompok makhluk-Nya yang beruh dan bagi ciptaan-ciptaan-Nya dari kalangan tumbuhan. Dan terutama muka bumi, khususnya pada musim semi dan musim panas, merupakan hari raya demi hari raya yang begitu semarak dan silih berganti bagi kelompok-kelompok ciptaan yang kecil-kecil, sehingga tampaklah suatu daya pikat yang menarik para makhluk ruhani, para malaikat, dan para penghuni langit di lapisan-lapisan yang tinggi untuk turun menyaksikannya; dan bagi ahli tafakkur ia menjadi tempat penelaahan yang begitu manis sehingga akal tak sanggup melukiskannya. Akan tetapi, berhadapan dengan tajali-tajali Ism Ar-Rahmân dan Al-Muhyî pada jamuan Ilahi dan hari raya Rabbani ini, Ism Al-Qahhâr dan Al-Mumît tampil di hadapan mereka dengan perpisahan dan kematian. Hal ini secara lahiriah tampak tidak sesuai dengan keluasan cakupan rahmat-Nya:
وَسِعَتْ رَحْمَت۪ى كُلَّ شَيْءٍ
Namun pada hakikatnya terdapat beberapa segi kesesuaian. Salah satu seginya ialah:
Sang Shâni' Karîm, Sang Fâthir Rahîm, setelah giliran pawai setiap kelompok usai dan hasil-hasil yang dimaksudkan dari pawai itu telah diperoleh, pada umumnya dengan cara yang penuh kasih membuat mereka jemu dan enggan terhadap dunia; Dia anugerahkan kecenderungan kepada istirahat dan kerinduan untuk berpindah ke alam yang lain; dan tatkala mereka dibebastugaskan dari tugas kehidupan, Dia bangkitkan dalam ruh-ruh mereka suatu kecondongan penuh rindu kepada tanah air asal mereka. Lagi pula tidaklah jauh dari rahmat Ar-Rahmân yang tiada berhingga itu bahwa — sebagaimana Dia menganugerahkan pangkat syahid kepada seorang prajurit yang gugur di jalan tugas, dalam pekerjaan jihad, dan memberi ganjaran kepada seekor domba yang disembelih sebagai kurban dengan menganugerahinya di akhirat sebuah wujud jasmani yang kekal serta martabat menjadi tunggangan bagaikan buraq bagi pemiliknya di atas Shirâth — demikian pula bagi makhluk-makhluk beruh dan hewan-hewan lainnya, yang binasa dalam tugas fitri Rabbani yang khusus bagi mereka dan dalam ketaatan kepada perintah-perintah Subhani serta menanggung kepayahan yang berat, tersedia semacam ganjaran ruhani dan sejenis upah maknawi menurut kadar istidad mereka dari khazanah rahmat-Nya yang tak pernah habis itu; sehingga mereka tidak terlalu bersedih karena pergi dari dunia, bahkan merasa senang.
لاَ يَعْلَمُ الْغَيْبَ اِلاَّ اللّٰهُ
Akan tetapi manusia — makhluk beruh yang paling mulia dan yang paling banyak mengambil manfaat dari hari raya-hari raya ini dari segi kuantitas maupun kualitas — meskipun sangat tergila-gila dan terpaut pada dunia, kepadanya Dia berikan, sebagai jejak rahmat, suatu keadaan yang membangkitkan kerinduan: rasa jemu terhadap dunia dan hasrat untuk berpindah ke alam yang kekal. Manusia yang kemanusiaannya tidak tenggelam dalam kesesatan akan mengambil manfaat dari keadaan itu; ia pergi dengan hati yang tenang. Sekarang, sebagai contoh, akan kami jelaskan lima dari segi-segi yang melahirkan keadaan itu.
Pertama: Melalui musim ketuaan, Dia memperlihatkan cap kefanaan dan kesirnaan beserta makna pahitnya di atas segala hal duniawi yang indah dan memikat, sehingga manusia itu digentarkan dari dunia dan dibuat mencari, sebagai ganti yang fana itu, sesuatu yang dicari yang kekal.
Kedua: Karena sembilan puluh sembilan persen dari semua kekasih yang telah dijalin manusia dengan ikatan kasih telah pergi dari dunia dan menetap di alam yang lain, maka dengan dorongan cinta yang tulus itu Dia anugerahkan kerinduan kepada tempat yang dituju para kekasih itu, sehingga manusia menyambut maut dan ajal dengan sukacita.
Ketiga: Dengan beberapa hal Dia membuat manusia merasakan kelemahan dan ketidakberdayaannya yang tiada berhingga, memahamkan betapa beratnya beban kehidupan dan tuntutan-tuntutan hidup, lalu memberikan keinginan yang sungguh-sungguh kepada istirahat dan kerinduan yang tulus untuk pergi ke negeri yang lain.
Keempat: Kepada manusia mukmin Dia perlihatkan dengan cahaya iman bahwa maut bukanlah kemusnahan, melainkan perpindahan tempat; bahwa kubur bukanlah mulut sumur yang gelap gulita, melainkan pintu alam-alam yang bercahaya; dan bahwa dunia, dengan segala kemegahannya, dibanding akhirat hanyalah laksana sebuah penjara. Maka sudah tentu, keluar dari penjara dunia menuju taman-taman surga, berpindah dari hiruk-pikuk kehidupan jasmani yang menyesakkan menuju alam ketenangan dan medan terbangnya ruh-ruh, serta melepaskan diri dari kebisingan makhluk untuk pergi ke hadirat Ar-Rahmân, adalah perjalanan yang didambakan dengan seribu nyawa — bahkan suatu kebahagiaan.
Kelima: Dengan memberitahukan hakikat dunia kepada manusia yang mendengarkan Al-Qur'an — melalui ilmu hakikat dan cahaya hakikat yang ada di dalam Al-Qur'an — Dia menjelaskan bahwa cinta dan keterikatan kepada dunia sungguh tak bermakna. Yakni, Al-Qur'an berkata dan membuktikan kepada manusia:
"Dunia adalah sebuah kitab Shamadânî. Huruf-huruf dan kalimat-kalimatnya tidak menunjuk kepada diri mereka sendiri, melainkan kepada Dzât, sifat, dan asma Pihak yang lain. Karena itu, ketahuilah maknanya dan ambillah; tinggalkanlah ukiran-ukirannya, lalu pergilah.
Ia juga sebuah ladang: tanamlah dan ambillah hasilnya, peliharalah; buanglah sampah-sampahnya, jangan pedulikan.
Ia juga kumpulan cermin-cermin yang terus-menerus datang silih berganti. Karena itu, kenalilah Dia yang bertajali di dalamnya, lihatlah cahaya-cahaya-Nya, pahamilah tajali-tajali asma yang tampak padanya, dan cintailah Pemilik asma itu; putuskanlah keterikatanmu dari kepingan-kepingan kaca yang ditakdirkan akan sirna dan pecah itu.
Ia juga tempat perniagaan yang berpindah-pindah. Karena itu, lakukanlah jual-belimu lalu kembalilah; dan janganlah berlari sia-sia di belakang kafilah-kafilah yang lari darimu dan tidak menoleh kepadamu — jangan lelahkan dirimu.
Ia juga tempat tamasya yang sementara. Karena itu, pandanglah dengan pandangan ibrah; janganlah menatap wajah lahirnya yang buruk, melainkan perhatikanlah wajah tersembunyinya yang indah, yang menghadap kepada Sang Jamîl Bâqî; lakukanlah tamasya yang menyenangkan dan bermanfaat, lalu kembalilah. Dan dengan tertutupnya tirai-tirai yang memperlihatkan pemandangan-pemandangan indah dan menampakkan keindahan-keindahan itu, janganlah menangis seperti anak kecil yang tak berakal, dan jangan pula gelisah.
Ia juga sebuah penginapan. Karena itu, makanlah dan minumlah dalam lingkup izin Sang Penjamu Karîm yang membangunnya, dan bersyukurlah. Bekerjalah dan bertindaklah dalam lingkup hukum-Nya. Kemudian pergilah keluar tanpa menoleh ke belakang. Janganlah turut campur dengan lancang dan sia-sia. Janganlah menyibukkan diri tanpa makna dengan hal-hal yang berpisah darimu dan yang bukan milikmu, dan janganlah terikat pada urusan-urusannya yang sementara hingga engkau tenggelam."
Dengan hakikat-hakikat nyata seperti inilah Al-Qur'an memperlihatkan rahasia-rahasia pada batin dunia, sehingga perpisahan dari dunia menjadi sangat ringan — bahkan bagi orang-orang yang sadar, perpisahan itu menjadi sesuatu yang dicintai — dan ia menunjukkan bahwa pada segala sesuatu dan pada setiap keadaan-Nya terdapat jejak rahmat-Nya. Demikianlah Al-Qur'an mengisyaratkan lima segi ini, sebagaimana ayat-ayat Al-Qur'an juga mengisyaratkan segi-segi khusus yang lain.
Celakalah orang yang tidak mempunyai bagian sedikit pun dari lima segi ini...
Maqam Kedua dari Kelimat Ketujuh Belas
{(Hâsyiyah): Bagian-bagian dalam maqam kedua ini menyerupai syair, tetapi bukan syair. Ia tidak digubah dengan sengaja sebagai nazham; melainkan, karena kesempurnaan keteraturan hakikat-hakikatnya, ia mengambil rupa nazham sampai kadar tertentu.}
Tinggalkanlah jeritan yang malang itu; datanglah, bertawakallah dalam bala! Sebab ketahuilah: jeritan adalah bala di dalam bala, kesalahan di dalam bala!
Jika engkau telah menemukan Dia yang memberi bala, ketahuilah: bala itu karunia di dalam bala, kejernihan di dalam bala! Tinggalkanlah jeritan, bersyukurlah bagaikan burung-burung bulbul; niscaya mawar-mawar pun tertawa riang karena sukacitanya.
Jika engkau tidak menemukan-Nya, ketahuilah: seluruh dunia adalah kesia-siaan yang penuh derita, penuh kefanaan! Sementara bala sepenuh jagat menimpa kepalamu, mengapa engkau berteriak karena satu bala yang kecil? Datanglah, bertawakallah!
Dengan tawakal, tersenyumlah di hadapan wajah bala, agar ia pun tersenyum. Semakin ia tersenyum, semakin ia mengecil, berubah rupa.
Ketahuilah, wahai engkau yang mementingkan dirimu sendiri! Kebahagiaan di dunia ini terletak pada meninggalkan dunia. Jika engkau memandang Allah, Dia-lah yang mencukupi — sekalipun engkau tinggalkan segala sesuatu, semuanya berpihak kepadamu.
Jika engkau memandang dirimu sendiri, itulah kebinasaan — apa pun yang kaulakukan, segala sesuatu melawanmu. Berarti dalam kedua keadaan itu dunia ini harus ditinggalkan.
Meninggalkannya berarti: memandang bahwa ia milik Allah, dengan izin-Nya, atas nama-Nya. Jika engkau menghendaki perniagaan, ia terletak pada menukar umurmu yang fana ini dengan yang kekal.
Jika engkau menghendaki nafsumu, ia rapuh lagi tanpa dasar. Jika engkau menghendaki dunia luar, di atasnya tertera cap kefanaan.
Berarti tak layak ia dibeli — di pasar ini semuanya barang rapuh. Karena itu lewatlah; barang-barang yang baik tersusun di belakangnya...
Sebuah Buah dari Murbei Hitam
[Di puncak pohon murbei yang penuh berkah itu, Said Lama mengucapkannya dengan lisan Said Baru.]
Lawan bicaraku bukanlah Ziya Paşa, melainkan orang-orang yang tergila-g...ila pada Eropa. Yang berbicara bukanlah nafsuku, melainkan kalbuku atas nama murid Al-Qur'an.
Kelimat-Kelimat yang lalu adalah hakikat; awas, jangan tersesat bingung, jangan berani melampaui batasnya, jangan menyimpang kepada pikiran orang-orang asing — itu kesesatan, jangan dihiraukan; niscaya ia membuatmu menyesal.
Engkau lihat yang paling bercahaya di antara mereka, sang pembawa panji dalam kecerdasan, karena kebingungan itu senantiasa berkata: "Aduhai, kepada siapa dan tentang siapa aku harus mengadu? Aku sendiri pun bingung!"
Al-Qur'an membuatku berkata, maka aku pun berkata, tanpa segan sedikit pun: aku mengadukan dari-Nya kepada-Nya; aku tidak bingung sepertimu.
Dari Al-Haq kepada Al-Haq aku berseru; aku tidak melampaui batas sepertimu. Dari bumi ke langit aku mengajukan perkara; aku tidak lari sepertimu.
Sebab dalam Al-Qur'an segala perkara berjalan dari cahaya menuju cahaya; aku tidak berpaling sepertimu. Dalam Al-Qur'anlah hikmah yang haq; aku buktikan — filsafat yang menentangnya tidak kuhargai sepeser pun.
Dalam Al-Furqânlah hakikat intan berlian; kudekap ia dalam jiwaku, tidak kujual sepertimu. Dari makhluk menuju Al-Haq aku bertamasya; aku tidak menyimpang sepertimu.
Di jalan berduri aku terbang; aku tidak menginjaknya sepertimu. Dari hamparan bumi hingga 'Arsy aku bersyukur; aku tidak mengabaikannya sepertimu.
Kepada maut dan ajal aku memandang sebagai sahabat; aku tidak takut sepertimu. Ke dalam kubur aku masuk sambil tersenyum; aku tidak gentar sepertimu.
Mulut naga, sarang keliaran, kerongkongan ketiadaan — aku tidak memandangnya demikian sepertimu. Ia mempertemukanku dengan para kekasih; aku tidak berkecil hati terhadap kubur, tidak marah sepertimu.
Pintu rahmat, pintu Cahaya, pintu Al-Haq — aku tidak sesak karenanya, tidak mundur.
Sambil mengucap Bismillah aku mengetuknya;{(Hâsyiyah 1): Aku tidak lari sambil berkata "aduhai".} aku tidak menoleh ke belakang, tidak pula diliputi kengerian.
Sambil mengucap Alhamdulillah aku akan menemukan ketenangan dan berbaring; aku tidak menanggung kepayahan, tidak tinggal dalam keliaran.
Sambil mengucap Allahu Akbar aku akan mendengar azan hasyr dan bangkit;{(Hâsyiyah 2): Aku akan mendengar azan Isrâfîl pada fajar kebangkitan dan bangkit sambil mengucap Allahu Akbar. Aku tidak mengundurkan diri dari shalat kubrâ, tidak menghindar dari himpunan akbar.} aku tidak menghindar dari mahsyar akbar, tidak mundur dari masjid teragung.
Berkat kemurahan Allah, cahaya Al-Qur'an, dan limpahan iman, aku tidak bersedih sedikit pun. Tanpa henti aku akan berlari, akan terbang menuju naungan 'Arsy Ar-Rahmân; aku tidak akan bingung sepertimu, insya Allah.
Sebuah munajat yang terlintas dalam kalbu dalam bahasa Persia
هٰذِهِ الْمُنَاجَاةُ تَخَطَّرَتْ فِى الْقَلْبِ هٰكَذَا بِالْبَيَانِ الْفَارِس۪ى
[Yakni: karena munajat ini terlintas dalam kalbu dalam bahasa Persia, ia ditulis dalam bahasa Persia. Sebelumnya ia telah dimuat dalam "Hubab Risalesi" yang pernah dicetak.]
يَارَبْ بَشَشْ جِهَتْ نَظَرْ م۪يكَرْدَمْ دَرْدِ خُودْرَا دَرْمَانْ نَم۪ى د۪يدَمْ
Ya Rabb! Tanpa tawakal, dalam kelalaian, dengan bersandar pada kekuatan dan ikhtiarku, aku mengedarkan pandangan ke enam arah yang disebut jihât sittah untuk mencari obat bagi deritaku. Sayang seribu sayang, aku tidak menemukan obat bagi deritaku. Secara maknawi dikatakan kepadaku: "Tidak cukupkah derita itu sendiri sebagai obat bagimu?"
دَرْرَاسْتْ م۪ى د۪يدَمْ كِه د۪ى رُوزْ مَزَارِ پَدَرِ مَنَسْتْ
Benar; dalam kelalaian aku memandang ke masa lampau di sebelah kananku untuk mengambil hiburan. Tetapi kulihat: hari kemarin tampak dalam rupa kubur ayahku, dan masa lampau dalam rupa sebuah kuburan raksasa nenek moyangku. Alih-alih menghibur, ia memberi rasa sunyi yang meliarkan. (Iman memperlihatkan kuburan raksasa yang meliarkan itu sebagai sebuah majelis bercahaya yang penuh keakraban dan tempat berkumpulnya para kekasih.)
وَ دَرْ چَپْ د۪يدَمْ كِه فَرْدَا قَبْرِ مَنَسْتْ
Kemudian aku memandang ke masa depan di sebelah kiri. Aku tidak menemukan obat. Bahkan hari esok tampak dalam rupa kuburku, dan masa depan dalam rupa sebuah kubur raksasa bagi orang-orang yang seumpamaku dan bagi generasi mendatang; ia tidak memberi keakraban, melainkan rasa sunyi yang meliarkan. (Iman dan ketenteraman iman memperlihatkan kubur raksasa yang mengerikan itu sebagai sebuah undangan Rahmani ke istana-istana kebahagiaan yang tercinta.)
وَ ا۪يمْرُوزْ تَابُوتِ جِسْمِ پُرْ اِضْطِرَابِ مَنَسْتْ
Karena dari sebelah kiri pun tidak tampak kebaikan, aku memandang hari yang sekarang. Kulihat: hari ini seakan-akan sebuah keranda; ia mengusung jenazah tubuhku yang sedang menggeliat dalam gerak sekaratnya. (Iman memperlihatkan keranda itu sebagai sebuah tempat perniagaan dan penginapan yang semarak.)
بَرْ سَرِ عُمْرْ جَنَازَهءِ مَنْ ا۪يسْتَادَه اَسْتْ
Dari arah ini pun aku tidak menemukan penawar. Kemudian aku mengangkat kepala dan memandang ke puncak pohon umurku. Kulihat: satu-satunya buah pohon itu adalah jenazahku, yang berdiri di atas pohon itu sambil memandangku. (Iman memperlihatkan bahwa buah pohon itu bukanlah jenazah, melainkan ruhku — yang beroleh kehidupan abadi dan menjadi calon kebahagiaan abadi — sedang keluar dari sarangnya yang telah usang untuk berjalan-jalan di bintang-bintang.)
دَرْ قَدَمْ آبِ خَاكِ خِلْقَتِ مَنْ وَ خَاكِسْتَرِ عِظَامِ مَنَسْتْ
Dari arah itu pun aku berputus asa, lalu menundukkan kepala ke bawah. Kulihat: di bawah, di bawah telapak kaki, tanah tulang-belulangku telah bercampur dengan tanah awal penciptaanku. Ia bukan memberi obat, malah menambah derita di atas deritaku. (Iman memperlihatkan bahwa tanah itu adalah pintu rahmat dan tirai serambi surga.)
چُونْ دَرْ پَسْ م۪ينِگَرَمْ ب۪ينَمْ ا۪ينْ دُنْيَاءِ ب۪ى بُنْيَادْ ه۪يچْ دَرْ ه۪يچَسْتْ
Dari situ pun aku memalingkan pandangan dan menoleh ke belakangku. Kulihat: sebuah dunia yang fana dan tak berdasar sedang bergulir jatuh di lembah-lembah kehampaan dan dalam kegelapan ketiadaan. Ia bukan menjadi salep bagi deritaku, malah menambahkan racun keliaran dan kengerian. (Iman memperlihatkan bahwa dunia yang bergulir dalam kegelapan itu adalah surat-surat Shamadâniyah dan lembaran-lembaran ukiran Subhâniyah yang telah usai tugasnya, telah menyatakan maknanya, dan telah meninggalkan hasil-hasilnya di alam wujud sebagai penggantinya.)
وَ دَرْ پ۪يشْ اَنْدَازَهءِ نَظَرْ م۪يكُنَمْ دَرِ قَبِرْ كُشَادَه اَسْتْوَ رَاهِ اَبَدْ بَدُورِ دِرَازْ بَد۪يدَارَسْتْ
Karena pada arah itu pun aku tidak melihat kebaikan, kukirimkan pandanganku ke arah depan, ke muka. Kulihat: pintu kubur tampak terbuka di pangkal jalanku; di belakangnya, jalan raya yang menuju keabadian terlihat dari kejauhan. (Karena iman memperlihatkan bahwa pintu kubur itu adalah pintu alam cahaya dan jalan itu pun jalan kebahagiaan abadi, maka ia menjadi obat sekaligus salep bagi derita-deritaku.)
مَرَا جُزْ جُزْءِ اِخْتِيَار۪ى چ۪يز۪ى ن۪يسْتْ دَرْ دَسْتْ
Demikianlah, dari enam arah ini aku menerima bukan keakraban dan hiburan, melainkan kengerian dan keliaran; dan untuk menghadapi semuanya itu, di tanganku tidak ada apa-apa selain sebuah juz' ikhtiyârî (kehendak parsial) yang dapat kujadikan sandaran dan kupergunakan untuk melawan. (Iman memberikan, sebagai ganti juz' ikhtiyârî yang laksana juz' lâ-yatajazzâ — zarah yang tak terbagi — itu, sebuah surat kepercayaan untuk bersandar kepada kudrat yang tiada berhingga; bahkan iman itu sendiri adalah sebuah surat kepercayaan.)
كِه اُو جُزْءْ هَمْ عَاجِزْ هَمْ كُوتَاه و هَمْ كَمْ عَيَارَسْتْ
Padahal senjata manusiawi yang disebut juz' ikhtiyârî itu lemah lagi pendek; kadarnya pun kurang. Ia tidak dapat mencipta; selain kasb, tidak ada apa pun yang mampu dilakukannya. (Iman membuat juz' ikhtiyârî itu dipergunakan atas nama Allah dan menjadikannya cukup untuk menghadapi segala sesuatu; seperti seorang prajurit yang, tatkala mempergunakan kekuatan kecilnya atas perhitungan negara, mampu mengerjakan pekerjaan yang seribu kali melebihi kekuatannya sendiri.)
نَه دَرْ مَاض۪ى مَجَالِ حُلُولْ نَه دَرْ مُسْتَقْبَلْ مَدَارِ نُفُوذْ اَسْتْ
Ia tidak dapat masuk ke masa lampau, tidak pula dapat menembus masa depan. Bagi harapan-harapanku dan derita-deritaku yang berkenaan dengan masa lampau dan masa depan, ia tidak berguna. (Karena iman mengambil kendalinya dari tangan tubuh hewani dan menyerahkannya kepada kalbu dan ruh, maka ia dapat menembus masa lampau dan masuk ke masa depan; sebab lingkaran kehidupan kalbu dan ruh itu luas.)
مَيْدَانِ اُو ا۪ينْ زَمَانِ حَالْ و يَكْ آنِ سَيَّالَسْتْ
Medan jelajah juz' ikhtiyârî itu hanyalah masa kini yang amat pendek ini dan satu detik yang mengalir.
بَا ا۪ينْ هَمَه فَقْرْهَا وَ ضَعْفْهَا قَلَمِ قُدْرَتِ تُو آشِكَارَهنُوِشْتَه اَسْتْ دَرْ فِطْرَتِ مَا مَيْلِ اَبَدْ وَ اَمَلِ سَرْمَدْ
Demikianlah, sementara aku berada dalam keadaan porak-poranda oleh segala kebutuhanku, kelemahanku, kefakiran dan ketidakberdayaanku, beserta kengerian-kengerian dan keliaran-keliaran yang datang dari enam arah — dengan pena kudrat telah tertulis secara nyata pada lembaran fitrahku keinginan-keinginan yang terentang hingga keabadian dan harapan-harapan yang terbentang hingga kekekalan; semuanya telah tercantum dalam mahiyahku.
بَلْكِه هَرْ چِه هَسْتْ ، هَسْتْ
Bahkan apa pun yang ada di dunia, contoh-contohnya ada dalam fitrahku. Aku terpaut dengan semuanya. Untuk semuanya itu aku dipekerjakan, dan aku bekerja.
دَٓائِرَهءِ اِحْتِيَاجْ مَانَنْدِ دَٓائِرَهءِ مَدِّ نَظَرْ بُزُرْگ۪ى دَارَسْتْ
Lingkaran kebutuhan itu sebesar dan seluas lingkaran pandangan.
خَيَالْ كُدَامْ رَسَدْ اِحْتِيَاجْ ن۪يزْ رَسَدْدَرْ دَسْتْ هَرْچِه ن۪يسْتْ دَرْ اِحْتِيَاجْ هَسْتْ
Bahkan ke mana pun khayal pergi, lingkaran kebutuhan pun pergi ke sana. Di sana pun ada hajat. Bahkan apa saja yang tidak ada di tangan, ada dalam kebutuhan. Yang tidak ada di tangan, ada dalam kebutuhan. Dan yang tidak terdapat di tangan itu tak terhingga.
دَٓائِرَهءِ اِقْتِدَارْ هَمْچُو دَٓائِرَهءِ دَسْتِ كُوتَاهْ كُوتَاهَسْتْ
Padahal lingkaran kemampuan hanyalah sependek dan sesempit lingkaran tanganku yang pendek.
پَسْ فَقْر و حَاجَاتِ مَا بَقَدْرِ جِهَانَسْتْ
Berarti kefakiran dan kebutuhan-kebutuhanku itu sebesar dunia.
وَ سَرْمَايَهءِ مَا هَمْ چُو جُزْءِ لاَيَتَجَزَّا اَسْتْ
Sedangkan modalku hanyalah sesuatu yang kecil bagaikan juz' lâ-yatajazzâ.
اِينْ جُزْءْ كُدَامْ وَ اِينْ كَٓائِنَاتِ حَاجَاتْ كُدَامَسْتْ
Maka, di manakah hajat yang sebesar jagat ini, yang hanya dapat diperoleh dengan milyaran — dan di manakah juz' ikhtiyârî yang hanya bernilai sepeser ini? Dengannya tak mungkin pergi membeli semuanya itu; dengannya semuanya itu tak dapat diraih. Karena itu, harus dicari jalan keluar yang lain.
پَسْ دَرْ رَاهِ تُو َازْ ا۪ينْ جُزْءْ ن۪يزْ بَازْ م۪ى گُذَشْتَنْ چَارَهءِ مَنْ اَسْتْ
Jalan keluar itu ialah: melepaskan diri bahkan dari juz' ikhtiyârî itu, menyerahkan urusannya kepada iradah Ilahi, berlepas diri dari daya dan kekuatan sendiri, lalu berlindung kepada daya dan kekuatan Allah Yang Haq, dan berpegang teguh pada hakikat tawakal. Ya Rabb! Karena jalan keselamatan adalah ini, maka di jalan-Mu aku melepaskan juz' ikhtiyârî itu dan aku berlepas diri dari keakuanku.
تَا عِنَايَتِ تُو دَسْتْگ۪يرِ مَنْ شَوَدْ رَحْمَتِ ب۪ى نِهَايَتِ تُو پَنَاهِ مَنْ اَسْتْ
Agar inayah-Mu, karena kasihan kepada ketidakberdayaan dan kelemahanku, memegang tanganku; dan agar rahmat-Mu, karena iba kepada kefakiran dan kebutuhanku, dapat menjadi tempat sandaranku dan membukakan pintu-Nya bagiku.
آنْ كَسْ كِه بَحْرِ ب۪ى نِهَايَتِ رَحْمَتْ يَافْتْ اَسْتْ تَكْيَه نَه كُنَدْ بَرْ ا۪ينْ جُزْءِ اِخْتِيَار۪ى كِه يَكْ قَطْرَه سَرَابَسْتْ
Benar; siapa pun yang menemukan lautan rahmat yang tiada bertepi, tentu ia tidak akan bersandar pada juz' ikhtiyârînya yang laksana setetes fatamorgana; ia tidak akan meninggalkan rahmat lalu berpaling kepadanya...
اَيْوَاهْ ا۪ينْ زِنْدِگَان۪ى هَمْ چُو خَابَسْتْو۪ينْ عُمْرِ ب۪ى بُنْيَادْ هَمْ چُو بَادَسْتْ
Aduhai! Kita telah tertipu. Kehidupan duniawi ini kita sangka tetap. Karena sangkaan itu kita sia-siakan seluruhnya. Benar, perjalanan hidup ini sebuah tidur; ia berlalu bagaikan mimpi. Umur yang tak berdasar ini pun terbang lenyap bagaikan angin...
اِنْسَانْ بَزَوَالْ دُنْيَا بَفَنَا اَسْتْ آمَالْ ب۪ى بَقَا آلاَمْ بَبَقَا اَسْتْ
Manusia congkak yang percaya pada dirinya sendiri dan menyangka dirinya abadi, telah divonis untuk sirna; ia pergi dengan cepat. Dan dunia, rumah manusia itu, jatuh ke dalam kegelapan ketiadaan. Harapan-harapan tak berkekalan; derita-derita tinggal kekal dalam ruh.
بِيَا اَىْ نَفْسِ نَافَرْجَامْ وُجُودِ فَان۪ى خُودْرَا فَدَا كُنْخَالِقِ خُودْرَا كِه ا۪ينْ هَسْتِى وَد۪يعَه هَسْتْ
Karena hakikatnya demikian, marilah, wahai nafsuku yang malang — yang begitu merindukan kehidupan, begitu menginginkan umur, begitu mencintai dunia, dan tertimpa harapan-harapan serta derita-derita yang tak terhingga! Bangunlah, sadarkan akalmu! Sebagaimana kunang-kunang bersandar pada cahaya kecilnya sendiri sehingga ia tinggal dalam kegelapan malam yang tak bertepi, sedangkan lebah madu, karena tidak percaya pada dirinya sendiri, menemukan matahari siang dan menyaksikan seluruh sahabatnya, bunga-bunga, tersepuh keemasan oleh cahaya matahari — demikian pula: jika engkau bersandar pada dirimu, pada wujudmu, dan pada keakuanmu, engkau menjadi seperti kunang-kunang. Namun jika engkau mengorbankan wujudmu yang fana di jalan Sang Khâliq yang memberimu wujud itu, engkau menjadi seperti lebah madu; engkau akan menemukan cahaya wujud yang tak terhingga. Maka korbankanlah! Sebab wujud ini adalah titipan dan amanah padamu.
وَ مُلْكِ اُو وَ اُو دَادَه فَنَا كُنْ تَا بَقَا يَابَدْاَزْ آنْ سِرّ۪ى كِه ، نَفْىِ نَفْىْ اِثْبَاتْ اَسْتْ
Ia milik-Nya, dan Dia pula yang memberikannya. Karena itu, tanpa merasa berjasa dan tanpa segan, fanakanlah ia, korbankanlah ia, agar ia menemukan kekekalan. Sebab peniadaan atas peniadaan adalah penetapan. Yakni: jika "tiada" itu tiada, ia pun ada; jika yang tiada menjadi tiada, ia menjadi ada.
خُدَاىِ پُرْكَرَمْ خُودْ مُلْكِ خُودْرَا م۪ى خَرَدْ اَزْ تُوبَهَاىِ ب۪ى گِرَانْ دَادَه بَرَاىِ تُو نِگَاهْ دَارَسْتْ
Sang Khâliq Karîm membeli milik-Nya sendiri darimu. Dia memberikan harga yang besar seperti surga. Dia pun memelihara milik itu dengan baik untukmu dan meninggikan nilainya. Dan Dia akan mengembalikannya lagi kepadamu dalam keadaan kekal lagi sempurna. Karena itu, wahai nafsuku! Jangan berdiam sedikit pun. Lakukanlah perniagaan yang mengandung lima keuntungan berlapis-lapis ini, agar engkau selamat dari lima kerugian dan meraih lima laba sekaligus.
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِ
فَلَمَّٓا اَفَلَ قَالَ لآَ اُحِبُّ اْلاٰفِل۪ينَ
لَقَدْ اَبْكَانِى نَعْىُ ﴿ لآَ اُحِبُّ اْلاٰفِل۪ينَ ﴾ مِنْ خَل۪يلِ اللّٰهِ
Ratapan
لآَ اُحِبُّ اْلاٰفِل۪ينَ
yang terbit dari Ibrâhîm 'alaihissalâm, yang memaklumkan kesirnaan dan kematian alam, telah membuatku menangis.
فَصَبَّتْ عَيْنُ قَلْب۪ى قَطَرَاتٍ بَاكِيَاتٍ مِنْ شُئُونِ اللّٰهِ
Karena itu mata kalbu menangis dan mencucurkan tetes-tetes tangisnya. Sebagaimana mata kalbu menangis, setiap tetes yang dicucurkannya pun begitu pilu, membuat menangis; seakan-akan tetes itu sendiri ikut menangis. Tetes-tetes itu ialah untaian-untaian Persia yang akan datang berikut ini.
لِتَفْس۪يرِ كَلاَمٍ مِنْ حَك۪يمٍ اَىْ نَبِىٍّ ف۪ى كَلاَمِ اللّٰهِ
Tetes-tetes itu adalah semacam tafsir atas sebuah kalam — kalam seorang hakim Ilahi yang juga seorang nabi — yang terdapat di dalam Kalâmullâh.
نَم۪ى زِيبَاسْتْ اُفُولْدَه گُمْ شُدَنْ مَحْبُوبْ
Tidaklah indah kekasih yang lenyap dengan terbenam. Sebab yang divonis untuk sirna tidak mungkin indah secara hakiki; ia tidak dicintai — dan tidak boleh dicintai — oleh kalbu yang diciptakan untuk cinta abadi dan yang merupakan cermin Ash-Shamad.
نَم۪ى اَرْزَدْ غُرُوبْدَه غَيْبْ شُدَنْ مَطْلُوبْ
Sesuatu yang dicari yang divonis untuk menghilang dengan terbenam, tidaklah layak bagi keterikatan kalbu dan minat pikiran; ia tak dapat menjadi tempat kembali harapan-harapan; tak pantas disesali kepergiannya dengan duka dan nestapa. Apalagi sampai kalbu memujanya dan tinggal terpaut kepadanya!
نَم۪ى خَواهَمْ فَنَادَه مَحْوْ شُدَنْ مَقْصُودْ
Sesuatu yang dituju yang musnah dalam kefanaan — aku tidak menginginkan yang dituju semacam itu. Sebab aku fana; yang fana tidak kuinginkan — apalah gunanya bagiku?..
نَم۪ى خَوانَمْ زَوَالْدَه دَفْنْ شُدَنْ مَعْبُودْ
Sesembahan yang terkubur dalam kesirnaan — aku tidak akan menyerunya, tidak akan berlindung kepadanya. Sebab aku tak terhingga butuhnya dan tak berdaya; sedangkan yang tak berdaya tidak dapat menemukan penawar bagi derita-deritaku yang amat besar, tidak dapat mengoleskan salep pada luka-lukaku yang abadi. Bagaimana dapat menjadi sesembahan, sesuatu yang tak mampu menyelamatkan dirinya sendiri dari kesirnaan?
عَقْلْ فَرْيَادْ م۪ى دَارَدْ نِدَاءِ ﴿لآَ اُحِبُّ اْلاٰفِل۪ينَ﴾ م۪ى زَنَدْ رُوحَمْ
Benar; akal yang terpaut pada yang lahiriah, dengan menyaksikan sirnanya hal-hal yang dipujanya di alam yang kacau-balau ini, menjerit putus asa; dan ruh yang mencari kekasih yang kekal pun memaklumkan jeritan
لآَ اُحِبُّ اْلاٰفِل۪ينَ
نَم۪ى خَواهَمْ نَم۪ى خَوانَمْ نَم۪ى تَابَمْ فِرَاق۪ى
Aku tak menginginkannya, tak menghendakinya, tak sanggup menanggung perpisahan...
نَم۪ى اَرْزَدْ مَرَاقَه ا۪ينْ زَوَالْ دَرْ پَسْ تَلاَق۪ى
Pertemuan-pertemuan yang segera dipahitkan oleh kesirnaan tidaklah layak bagi duka dan kerisauan, sama sekali tak pantas dirindukan. Sebab sebagaimana hilangnya kelezatan adalah derita, membayangkan hilangnya kelezatan pun sebuah derita. Diwan-diwan seluruh pecinta majasi — yakni kitab-kitab bersyair mereka yang merupakan surat-surat cinta — adalah jeritan-jeritan yang lahir dari derita bayangan kesirnaan ini. Jika engkau peras ruh seluruh diwan syair mereka satu demi satu, dari masing-masing akan menetes sebuah jeritan yang penuh derita.
اَزْ آنْ دَرْد۪ى گِر۪ينِ ﴿ لآَ اُحِبُّ اْلاٰفِل۪ينَ ﴾ م۪ى زَنَدْ قَلْبَمْ
Karena derita dan bencana pertemuan-pertemuan yang berlumur kesirnaan itu, karena cinta-cinta majasi yang pedih itulah, kalbuku menangis dan berseru dengan tangisan
لآَ اُحِبُّ اْلاٰفِل۪ينَ
sebagaimana Ibrâhîm.
دَرْ ا۪ينْ فَان۪ى بَقَا خَازِى بَقَا خِيزَدْ فَنَادَنْ
Jika engkau menginginkan kekekalan di dunia yang fana ini — kekekalan itu lahir dari kefanaan. Fanakanlah dirimu dari sisi nafsu ammârah, agar engkau menjadi kekal.
فَنَا شُدْ هَمْ فَدَا كُنْ هَمْ عَدَمْ ب۪ينْ كِه اَزْ دُنْيَا بَقَايَه رَاهْ فَنَادَنْ
Lepaskanlah dirimu dari akhlak-akhlak buruk yang menjadi dasar pemujaan dunia. Jadilah fana! Korbankanlah segala yang ada dalam lingkup milikmu dan hartamu di jalan Sang Kekasih Hakiki. Lihatlah kesudahan segala maujud yang menampakkan ketiadaan. Sebab jalan yang menuju kekekalan dari dunia ini melewati kefanaan.
فِكِرْ ف۪يزَارْ م۪ى دَارَدْ اَن۪ينِ ﴿ لآَ اُحِبُّ اْلاٰفِل۪ينَ ﴾ م۪ى زَنَدْ وِجْدَانْ
Pikiran manusia yang tenggelam dalam sebab-sebab, terpana oleh gempa kesirnaan dunia ini dan meratap putus asa. Sedangkan hati nurani yang menginginkan wujud hakiki, dengan rintihan
لآَ اُحِبُّ اْلاٰفِل۪ينَ
sebagaimana Ibrâhîm, memutuskan keterikatan dari kekasih-kekasih majasi dan maujud-maujud yang sirna, lalu terpaut kepada Sang Maujûd Hakiki dan Sang Kekasih Sarmadi.
بِدَانْ اَىْ نَفْسِ نَادَانَمْ كِه دَرْ هَرْ فَرْدْ اَزْ فَان۪ى دُو رَاهْ هَسْتْ بَا بَاق۪ى دُو سِرِّ جَانِ جَانَان۪ى
Wahai nafsuku yang jahil! Ketahuilah: sekalipun dunia dan segala maujud itu fana, namun pada setiap yang fana engkau dapat menemukan dua jalan yang menyampaikan kepada Yang Kekal, dan engkau dapat melihat dua kilau, dua rahasia, dari tajali keindahan Sang Kekasih yang tidak pernah sirna, jiwa segala jiwa — dengan syarat: engkau mampu melampaui rupa yang fana dan melampaui dirimu sendiri...
كِه دَرْ نِعْمَتْهَا اِنْعَامْ هَسْتْ وَ پَسْ آثَارْهَا اَسْمَا بِگِيرْ مَغْزِى وَ مِيزَنْ دَرْ فَنَا آنْ قِشْرِ بِى مَعْنَا
Benar; di dalam nikmat tampak pemberian nikmat; terasa perhatian penuh kasih Ar-Rahmân. Jika dari nikmat engkau beralih kepada pemberian nikmat, engkau akan menemukan Sang Mun'im. Dan setiap karya Shamadânî, bagaikan sepucuk surat, memberitahukan asma Sang Shâni' Dzul-Jalâl. Jika dari ukiran engkau beralih kepada makna, melalui asma engkau akan menemukan Sang Musammâ (Pemilik asma). Karena engkau dapat menemukan inti dan isi ciptaan-ciptaan yang fana ini, raihlah ia; sedangkan kulitnya yang tak bermakna dapat kaulemparkan tanpa iba ke dalam arus kefanaan.
بَل۪ى آثَارْهَا گُويَنْدْ زِاَسْمَا لَفْظِ پُرْ مَعْنَا بِخَانْ مَعْنَا وَ م۪يزَنْ دَرْ هَوَا آنْ لَفْظِ ب۪ى سَوْدَا
Benar; dalam ciptaan-ciptaan itu tidak ada satu karya pun yang bukan lafal berjasad yang sarat makna, yang tidak membacakan banyak asma Sang Shâni' Dzul-Jalâl. Karena ciptaan-ciptaan ini adalah lafal-lafal, kalimat-kalimat kudrat, maka bacalah makna-maknanya dan taruhlah dalam kalbumu. Lafal-lafal yang tinggal tanpa makna, lemparkanlah tanpa gentar ke angin kesirnaan; jangan menoleh ke belakangnya dengan penuh keterpautan dan jangan menyibukkan diri dengannya.
عَقْلْ فَرْيَادْ م۪ى دَارَدْ غِيَاثِ ﴿ لآَ اُحِبُّ اْلاٰفِل۪ينَ ﴾ م۪يزَنْ اَىْ نَفْسَمْ
Demikianlah, akal duniawi yang memuja yang lahiriah dan yang modalnya hanya pengetahuan-pengetahuan luaran, karena rangkaian pikirannya berujung pada kehampaan dan ketiadaan, menjerit putus asa dalam kebingungan dan kekecewaannya; ia mencari sebuah jalan lurus yang menuju hakikat. Karena ruh telah menarik tangannya dari segala yang terbenam dan yang sirna, kalbu pun telah melepaskan kekasih-kekasih majasi, dan hati nurani pun telah memalingkan wajahnya dari segala yang fana — maka engkau juga, wahai nafsuku yang malang, serukanlah seruan minta tolong
لآَ اُحِبُّ اْلاٰفِل۪ينَ
sebagaimana Ibrâhîm, dan selamatkanlah dirimu.
چِه خُوشْ گُويَدْ اُو شَيْدَا جَام۪ى عِشْقْ خُوىْ
Mevlâna Câmî — yang mabuk piala cinta, seakan fitrahnya diadon dengan cinta — untuk memalingkan wajah-wajah dari kemajemukan kepada kesatuan, lihatlah betapa indah ia berkata:
يَك۪ى خَواهْ يَك۪ى خَوانْ يَك۪ى جُوىْ يَك۪ى ب۪ينْ يَك۪ى دَانْ يَك۪ى گُوىْ
— demikianlah katanya. {(Hâsyiyah): Hanya baris ini yang merupakan perkataan Mevlâna Câmî.}
1 - Yakni: Inginkanlah hanya Yang Satu; selain-Nya tak layak diinginkan.
2 - Serulah Yang Satu; selain-Nya tak datang menolong.
3 - Tuntutlah Yang Satu; selain-Nya tidaklah pantas.
4 - Pandanglah Yang Satu; selain-Nya tidak selalu tampak — mereka bersembunyi di balik tirai kesirnaan.
5 - Kenalilah Yang Satu; pengetahuan-pengetahuan lain yang tidak menolong makrifat kepada-Nya tiada berguna.
6 - Ucapkanlah Yang Satu; kata-kata yang bukan mengenai-Nya dapat terhitung sia-sia.
نَعَمْ صَدَقْتَ اَىْ جَام۪ى ❊ هُوَ الْمَطْلُوبُ ❊ هُوَ الْمَحْبُوبُ ❊ هُوَ الْمَقْصُودُ ❊ هُوَ الْمَعْبُودُ
Benar, wahai Câmî, engkau berkata amat tepat. Kekasih hakiki, yang dicari hakiki, yang dituju hakiki, yang disembah hakiki — hanyalah Dia.
كِه لآَ اِلٰهَ اِلاَّ هُو بَرَابَرْ م۪يزَنَدْ عَالَمْ
Sebab alam ini, dengan seluruh maujudnya, dengan bahasa-bahasanya yang beraneka dan nada-nadanya yang berbeda-beda, dalam lingkaran kubrâ zikir Ilahi bersama-sama mengucap "Lâ ilâha illâ Hû" dan bersaksi atas keesaan-Nya; ia mengoleskan salep pada luka yang dibuka oleh
لآَ اُحِبُّ اْلاٰفِل۪ينَ
dan, sebagai ganti kekasih-kekasih majasi yang telah diputuskan keterikatannya, ia menunjukkan Sang Kekasih yang tidak pernah sirna.
[Kira-kira dua puluh lima tahun sebelum ini, di Bukit Yuşa di Selat Istanbul, pada suatu masa ketika aku telah memutuskan untuk meninggalkan dunia, sebagian sahabatku yang penting datang menemuiku untuk mengembalikanku kepada dunia, kepada keadaanku yang dahulu. Aku berkata: "Biarkanlah aku sampai besok; aku hendak beristikharah." Pagi harinya terlintaslah dua lauhah ini dalam kalbuku. Keduanya menyerupai syair, tetapi bukan syair. Demi kenangan yang penuh berkah itu aku tidak menyentuhnya; ia dipelihara sebagaimana datangnya. Ia pernah dilampirkan pada akhir Kelimat Kedua Puluh Tiga; karena kesesuaian maqam, ia dipindahkan ke sini.]
Lauhah Pertama
[Lauhah yang melukiskan hakikat dunia ahli kelalaian.]
Jangan panggil aku ke dunia; aku telah datang kepadanya — kulihat kefanaan. Ketika kelalaian menjadi hijab, kulihat cahaya Al-Haq tersembunyi. Segala maujud yang ada, kulihat satu per satu fana lagi mencelakakan. Kausebut wujud — aku telah mengenakannya; ah, ia ketiadaan — kulihat banyak bala. Kausebut hidup — aku telah mengecapnya; kulihat azab di dalam azab. Akal menjadi hukuman itu sendiri; kekekalan kulihat sebuah bala. Umur menjadi hawa semata; kesempurnaan kulihat kesia-siaan semata. Amal menjadi riya semata; harapan kulihat derita semata. Pertemuan menjadi kesirnaan itu sendiri; obat kulihat penyakit itu sendiri. Cahaya-cahaya ini menjadi kegelapan; para kekasih ini kulihat yatim. Suara-suara ini menjadi ratapan kematian; yang hidup-hidup ini kulihat mayat-mayat. Ilmu-ilmu berubah menjadi waham-waham; dalam hikmah-hikmah kulihat seribu penyakit. Kelezatan menjadi derita semata; dalam wujud kulihat seribu ketiadaan. Kausebut kekasih — aku telah menemukannya; ah! dalam perpisahan kulihat banyak derita.
Lauhah Kedua
[Lauhah yang mengisyaratkan hakikat dunia ahli hidayah dan ahli hudhur.]
Ketika kelalaian menemui kesirnaan, kulihat cahaya Al-Haq nyata. Wujud menjadi burhan Dzât-Nya; hidup adalah cermin Al-Haq — lihatlah. Akal menjadi kunci khazanah; kefanaan adalah pintu kekekalan — lihatlah. Kilau kesempurnaan telah padam; tetapi ada matahari Keindahan — lihatlah. Kesirnaan menjadi pertemuan itu sendiri; derita adalah kelezatan itu sendiri — lihatlah. Umur menjadi amal itu sendiri; keabadian adalah umur itu sendiri — lihatlah. Kegelapan menjadi wadah cahaya; dalam kematian ini ada kehidupan yang haq — lihatlah. Segala sesuatu menjadi karib; segala suara adalah zikir — lihatlah. Seluruh zarah maujud — lihatlah masing-masing sebagai pezikir, pembertasbih. Kefakiran kudapati sebagai khazanah kekayaan; dalam ketidakberdayaan ada kekuatan penuh — lihatlah. Jika engkau telah menemukan Allah, segala sesuatu adalah milikmu — lihatlah. Jika engkau hamba milik Sang Mâlikul-Mulk, milik-Nya adalah milikmu — lihatlah. Namun jika engkau memandang dirimu sendiri dan menjadi pemilik nafsumu sendiri: itu bala tanpa bilangan — lihatlah; azab tanpa batas — rasakanlah; beban tanpa kesudahan — lihatlah. Jika engkau hamba sejati yang memandang Allah: itu kejernihan tanpa batas — lihatlah; ada pahala tanpa hitungan — rasakanlah; kebahagiaan tanpa penghabisan — lihatlah...
[Dua puluh lima tahun yang lalu, pada bulan Ramadhan setelah asar, aku membaca nazham Asmaul Husna karya Syaikh Geylanî (quddisa sirruh). Timbullah keinginan padaku untuk menulis sebuah munajat dengan Asmaul Husna. Namun saat itu hanya sebanyak inilah yang tertulis. Aku ingin membuat sebuah nazhirah (gubahan padanan) atas Munajat Asma yang penuh berkah dari ustazku yang suci itu. Sayang seribu sayang! Aku tidak berbakat dalam nazham; aku tak sanggup, dan ia tinggal tak rampung. Munajat ini pernah dilampirkan pada Risalah Jendela-Jendela (Pencereler Risalesi), yaitu Surat Ketiga Puluh Tiga dari Kelimat Ketiga Puluh Tiga; karena kesesuaian maqam, ia dipindahkan ke sini.]
هُوَ الْبَاق۪ى
حَك۪يمُ الْقَضَايَا نَحْنُ ف۪ى قَبْضِ حُكْمِه۪ ❊ هُوَ الْحَكَمُ الْعَدْلُ لَهُ اْلاَرْضُ وَ السَّمَٓاءُ عَل۪يمُ الْخَفَايَا وَ الْغُيُوبِ ف۪ى مُلْكِه۪ ❊ هُوَ الْقَادِرُ الْقَيُّومُ لَهُ الْعَرْشُ وَ الثَّرَٓاءُ لَط۪يفُ الْمَزَايَا وَ النُّقُوشِ ف۪ى صُنْعِه۪ ❊ هُوَ الْفَاطِرُ الْوَدُودُ لَهُ الْحُسْنُ وَ الْبَهَٓاءُ جَل۪يلُ الْمَرَايَا وَ الشُّؤُنِ ف۪ى خَلْقِه۪ ❊ هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ لَهُ الْعِزُّ وَ الْكِبْرِيَٓاءُ بَد۪يعُ الْبَرَايَا نَحْنُ مِنْ نَقْشِ صُنْعِه۪ ❊ هُوَ الدَّٓائِمُ الْبَاق۪ى لَهُ الْمُلْكُ وَ الْبَقَٓاءُ كَر۪يمُ الْعَطَايَا نَحْنُ مِنْ رَكْبِ ضَيْفِه۪ ❊ هُوَ الرَّزَّاقُ الْكَاف۪ى لَهُ الْحَمْدُ وَ الثَّنَٓاءُ جَم۪يلُ الْهَدَايَا نَحْنُ مِنْ نَسْجِ عِلْمِه۪ ❊ هُوَ الْخَالِقُ الْوَاف۪ى لَهُ الْجُودُ وَ الْعَطَٓاءُ سَم۪يعُ الشَّكَايَا وَ الدُّعَٓاءِ لِخَلْقِه۪ ❊ هُوَ الرَّاحِمُ الشَّاف۪ى لَهُ الشُّكْرُ وَ الثَّنَٓاءُ غَفُورُ الْخَطَايَا وَ الذُّنُوبِ لِعَبْدِه۪ ❊ هُوَ الْغَفَّارُ الرَّح۪يمُ لَهُ الْعَفْوُ وَ الرِّضَٓاءُ
Wahai nafsuku! Menangislah seperti kalbuku, berserulah, dan katakanlah: "Aku fana — yang fana tidak kuinginkan. Aku tak berdaya — yang tak berdaya tidak kuinginkan. Ruhku telah kuserahkan kepada Ar-Rahmân — selain Dia tidak kuinginkan. Aku menginginkan — tetapi yang kuinginkan adalah seorang kekasih yang kekal. Aku sebutir zarah — tetapi yang kuinginkan adalah matahari yang abadi. Aku kehampaan di dalam kehampaan — tetapi aku menginginkan segenap maujud ini."
DATARAN TINGGI BARLA; SEBUAH BUAH DARI POHON PINUS, KATRAN, JUNIPER, DAN POPLAR HITAM
[Dipindahkan ke sini karena kesesuaian maqam; merupakan sepenggal dari Surat Kesebelas.]
Pada suatu waktu dalam masa pembuanganku, di puncak gunung, tatkala aku menyaksikan rupa-rupa penuh wibawa dan keadaan-keadaan yang membangkitkan takjub dari pohon-pohon pinus, katran (aras), dan juniper yang megah, bertiuplah angin yang amat lembut. Karena angin itu mengubah keadaan tersebut menjadi rupa sebuah gempa tarian yang riuh, megah, dan manis — sebuah tasbih yang berjiwa jadzbah — maka tontonan hiburan itu berubah menjadi pandangan ibrah dan pendengaran hikmah. Tiba-tiba untaian Kurdi Ahmed-i Cezerî ini terlintas dalam ingatanku:
هَرْكَسْ بِتَمَاشَاگَهِ حُسْنَاتَه زِهَرْ جَاىْ تَشْب۪يهِ نِگَارَانْ بِجَمَالاَتَه دِنَازِنْ
Kalbuku, untuk mengungkapkan makna-makna ibrah, menangis seperti berikut:
يَا رَبْ هَرْ حَىْ بِتَمَاشَاگَهِ صُنْعِ تُو زِهَرْجَاىْ بَتَاز۪ى ❊ زِنِش۪يبُ اَزْ فِرَاز۪ى مَانَنْدِ دَلاَّلاَنْ بِنِدَاءِ بِآوَاز۪ى ❊ دَمْ دَمْ زِجَمَالِ نَقْشِ تُو دَرْ رَقْصْ بَاز۪ى ❊ زِكَمَالِ صُنْعِ تُو خُوشْ خُوشْ بِگَاز۪ى ❊ زِش۪ير۪ين۪ى آوَازِ خُودْ هَىْ هَىْ دِنَاز۪ى ❊ اَزْوَىْ رَقْصَ آمَدْ جَذْبَه خَاز۪ى ❊ اَزْي۪نْ آثَارِ رَحْمَتْ يَافْتْ هَرْ حَىْ دَرْسِ تَسْب۪يحُ نَمَاز۪ى ❊ اِيسْتَادَسْتْ هَرْ يَك۪ى بَرْ سَنْگِ بَالاَ سَرْفِرَاز۪ى ❊ دِرَازْ كَرْدَسْتْ دَسْتْهَارَا بَدَرْگَاهِ اِلٰهِى هَمْ چُو شَهْبَازِى ❊ بِجُنْبِيدَسْتْ زُلْفْهَارَا بَشَوْقْ اَنْگِيزِ شَهْنَاز۪ى ❊ بَبَالاَ م۪يزَنَنْدْ اَزْ پَرْدَه هَاىِ هَاىِ هُوىِ عِشْقْ بَاز۪ى ❊ م۪يدِهَدْ هُوشَه گِر۪ينْهَاىِ دَرِينْهَاىِ زَوَال۪ى اَزْ حُبِّ مَجَاز۪ى ❊ بَرْ سَرِ مَحْمُودْهَا نَغْمَهَاىِ حُزْنْ اَنْگ۪يزِ اَيَاز۪ى
مُرْدَهَارَا نَغْمَهَاىِ اَزَل۪ى اَزْ حُزْنْ اَنْگ۪يزِ نَوَاز۪ى ❊ رُوحَه م۪ى آيَدْ اَزُو زَمْزَمَهءِ نَازُ نِيَاز۪ى ❊ قَلْبْ م۪يخَوانَدْ اَز۪ينْ آيَاتْهَا سِرِّ تَوْح۪يدْ زِعُلُوِّ نَظْمِ اِعْجَاز۪ى ❊ نَفْسْ م۪يخَواهَدْ دَرْ ا۪ينْ وَلْوَلَهَا زَلْزَلَهَا ذَوْقِ بَاق۪ى دَرْ فَنَاىِ دُنْيَا بَاز۪ى ❊ عَقْلْ م۪يب۪ينَدْ اَز۪ينْ زَمْزَمَهَا دَمْدَمَهَا نَظْمِ خِلْقَتْ نَقْشِ حِكْمَتْ كَنْزِ رَاز۪ى ❊ آرْزُو مِيدَارَدْ هَوَا اَز۪ينْ هَمْهَمَهَا هَوْهَوَهَا مَرْگِ خُودْ دَرْ تَرْكِ اَذْوَاقِ مَجَاز۪ى ❊ خَيَالْ ب۪ينَدْ اَز۪ينْ اَشْجَارْ مَلاَئِكْ رَا جَسَدْ آمَدْ سَمَاو۪ى بَاهَزَارَانْ نَىْ ❊ اَز۪ينْ نَيْهَا شُن۪يدَتْ هُوشْ سِتَايِشْهَاىِ ذَاتِ حَىْ ❊ وَرَقْهَارَا زَبَانْ دَارَنْدْ هَمَه هُو هُو ذِكْرْ آرَنْدْ بَدَرْ مَعْنَاىِ حَىُّ حَىْ ❊ چُو لآَ اِلٰهَ اِلاَّ هُو بَرَابَرْ م۪يزَنَدْ هَرْ شَىْ ❊ دَمَادَمْ جُويَدَنْدْ يَا حَقْ سَرَاسَرْ گُويَدَنْدْ يَا حَىْ بَرَابَرْ م۪يزَنَنْدْ اَللّٰهْ ❊ فَيَا حَىُّ يَا قَيُّومُ بِحَقِّ اِسْمِ حَىِّ قَيُّومِ ❊ حَيَات۪ى دِهْ بَاِينْ قَلْبِ پَر۪يشَانْ رَا اِسْتِقَامَتْ دِهْ بَا۪ينْ عَقْلِ مُشَوَّشْ رَا آمِينْ
Makna bait-bait Persia yang ditulis tentang buah pohon pinus, katran, juniper, dan poplar hitam di Tepelice, Dataran Tinggi Barla:
هَرْكَسْ بِتَمَاشَاگَهِ حُسْنَاتَه زِهَرْ جَاىْ تَشْب۪يهِ نِگَارَانْ بِجَمَالاَتَه دِنَازِنْ
Terlintas dalam ingatanku. Kalbuku pun menangis untuk mengungkapkan makna-makna ibrah seperti berikut:
Yakni: Ke tempat penyaksian keindahan-Mu, setiap orang berlari datang dari segala penjuru. Dengan keindahan-Mu mereka bermanja-manja.
يَا رَبْ هَرْ حَىْ بِتَمَاشَاگَهِ صُنْعِ تُو زِهَرْجَاىْ بَتَاز۪ى
Setiap yang hidup keluar dari segala penjuru memandang ke muka bumi, tempat penyaksian ciptaan-Mu.
زِنِش۪يبُ اَزْ فِرَاز۪ى مَانَنْدِ دَلاَّلاَنْ بِنِدَاءِ بِآوَاز۪ى
Dari bawah, dari atas, mereka tampil berseru-seru bagaikan para penyeru.
دَمْ دَمْ زِجَمَالِ نَقْشِ تُو ﴿نُسْخَه: زِهَوَاىِ شَوْقِ تُو﴾ دَرْ رَقْص بَاز۪ى
Karena bersuka oleh keindahan ukiran-Mu, pohon-pohon yang laksana penyeru itu menari.
زِكَمَالِ صُنْعِ تُو خُوشْ خُوشْ بِگَاز۪ى
Karena riang oleh kesempurnaan ciptaan-Mu, mereka melantunkan suara yang indah-indah.
زِش۪ير۪ين۪ى آوَازِ خُودْ هَىْ هَىْ دِنَاز۪ى
Seakan-akan kemanisan suara mereka membuat mereka sendiri pun riang dan bermanja dengan penuh kelembutan.
اَزْوَىْ رَقْصَه آمَدْ جَذْبَه خَاز۪ى
Karena itulah pohon-pohon ini datang menari, menginginkan jadzbah.
اَز۪ينْ آثَارِ رَحْمَتْ يَافْتْ هَرْ حَىْ دَرْسِ تَسْب۪يحُ نَمَاز۪ى
Berkat jejak-jejak rahmat Ilahi inilah setiap yang hidup mengambil pelajaran tasbih dan shalat yang khusus bagi dirinya.
اِيسْتَادَسْتْ هَرْ يَك۪ى بَرْ سَنْگِ بَالاَ سَرْفِرَاز۪ى
Setelah mengambil pelajaran, setiap pohon berdiri di atas batu yang tinggi, mengangkat kepalanya ke arah 'Arsy.
دِرَازْ كَرْدَسْتْ دَسْتْهَارَا بَدَرْگَاهِ اِلٰه۪ى هَمْ چُو شَهْبَاز۪ى
Masing-masing mengulurkan ratusan tangannya ke haribaan Ilahi bagaikan Şehbaz-ı Kalender,{(Hâsyiyah 1): Şehbaz-ı Kalender adalah seorang pahlawan masyhur yang, dengan bimbingan Syaikh Geylanî, berlindung ke haribaan Ilahi dan naik ke martabat kewalian.} dan mengambil sikap ibadah yang megah.
بِجُنْب۪يدَسْتْ زُلْفْهَارَا بَشَوْقْ اَنْگ۪يزِ شَهْنَاز۪ى
{(Hâsyiyah 2): Şehnaz-ı Çelkezî adalah seorang jelita dunia yang masyhur dengan empat puluh kepang rambutnya.} Mereka menggerak-gerakkan ranting-ranting kecilnya yang bagaikan ikal rambut, dan dengan itu mengingatkan orang-orang yang menyaksikan akan kerinduan-kerinduan mereka yang lembut dan cita rasa mereka yang luhur.
بَبَالاَ م۪يزَنَنْدْ اَزْ پَرْدَه هَاىِ هَاىِ هُوىِ عِشْقْ بَاز۪ى
Dari tangga nada "Hây Hûy" cinta, mereka melantunkan suara seakan-akan menyentuh dawai-dawai dan urat-urat yang paling peka.
{(Nuskhah): Naskah ini memandang kepada pohon juniper di pekuburan:
بَبَالاَ م۪يزَنَنْدْ اَزْ پَرْدَه هَاىِ هَاىِ هُوىِ چَرْخِ بَاز۪ى ❊ مُرْدَهَارَا نَغْمَهَاىِ اَزَل۪ى اَزْ حُزْنْ اَنْگ۪يزِ نَوَاز۪ى }
م۪يدِهَدْ هُوشَه گِر۪ينْهَاىِ دَرِينْهَاىِ زَوَال۪ى اَزْ حُبِّ مَجَاز۪ى
Dari keadaan ini datanglah makna berikut kepada pikiran: mereka mengingatkan tangisan yang lahir dari derita sirnanya cinta-cinta majasi, dan sebuah rintihan pilu yang datang dari kedalaman demi kedalaman.
بَرْ سَرِ مَحْمُودْهَا نَغْمَهَاىِ حُزْنْ اَنْگ۪يزِ اَيَاز۪ى
Di atas kepala para Mahmud — yakni semua pecinta yang terpisah dari kekasihnya seperti Sultan Mahmud — mereka memperdengarkan gaya senandung kekasih mereka yang berlumur kesedihan.
مُرْدَهَارَا نَغْمَهَاىِ اَزَل۪ى اَزْ حُزْنْ اَنْگ۪يزِ نَوَاز۪ى
Mereka tampak seakan mengemban tugas memperdengarkan senandung-senandung azali dan suara-suara yang membangkitkan kesedihan kepada orang-orang yang telah mati, yang telah terputus dari mendengar suara-suara dan kata-kata duniawi.
رُوحَه م۪ى آيَدْ اَزُو زَمْزَمَهءِ نَازُ نِيَاز۪ى
Adapun ruh memahami dari keadaan ini bahwa segala sesuatu menyambut tajali-tajali asma Sang Shâni' Dzul-Jalâl dengan tasbih-tasbih; datanglah ia sebagai sebuah senandung manja dan pinta.
قَلْبْ م۪يخَوانَدْ اَز۪ينْ آيَاتْهَا سِرِّ تَوْح۪يدْ زِعُلُوِّ نَظْمِ اِعْجَاز۪ى
Adapun kalbu membaca rahasia tauhid dari pohon-pohon yang masing-masing laksana ayat berjasad ini, dari keluhuran susunan i'jâz ini. Yakni: dalam penciptaan mereka terdapat keteraturan, ciptaan, dan hikmah yang sedemikian menakjubkan sehingga seandainya seluruh sebab alam diandaikan sebagai pelaku yang bebas memilih dan mereka semua berhimpun, mereka tetap tidak mampu menirunya.
نَفْسْ م۪يخَواهَدْ دَرْ ا۪ينْ وَلْوَلَهَا زَلْزَلَهَا ذَوْقِ بَاقِى دَرْ فَنَاىِ دُنْيَا بَاز۪ى
Adapun nafsu, tatkala menyaksikan keadaan ini, melihat seluruh muka bumi seakan bergulir dalam gempa perpisahan yang riuh; ia mencari suatu cita rasa yang kekal, dan menangkap makna: "Engkau akan menemukannya dalam meninggalkan pemujaan dunia."
عَقْلْ م۪يب۪ينَدْ اَز۪ينْ زَمْزَمَهَا دَمْدَمَهَا نَظْمِ خِلْقَتْ نَقْشِ حِكْمَتْ كَنْزِ رَاز۪ى
Adapun akal menemukan, dari senandung hewan dan pepohonan itu serta dari dengung tumbuhan dan udara itu, sebuah keteraturan penciptaan yang amat sarat makna, sebuah ukiran hikmah, sebuah khazanah rahasia. Ia memahami bahwa segala sesuatu, dari banyak segi, mempertasbihkan Sang Shâni' Dzul-Jalâl.
آرْزُو م۪يدَارَدْ هَوَا اَز۪ينْ هَمْهَمَهَا هَوْهَوَهَا مَرْگِ خُودْ دَرْ تَرْكِ اَذْوَاقِ مَجَاز۪ى
Adapun hawa nafsu memperoleh dari desau udara dan gemersik dedaunan itu suatu kelezatan yang membuatnya lupa akan segala cita rasa majasi, sehingga ia ingin mati dalam cita rasa hakikat ini dengan meninggalkan cita rasa majasi yang menjadi hayat hawa nafsu itu.
خَيَالْ ب۪ينَدْ اَز۪ينْ اَشْجَارْ مَلاَئِكْ رَا جَسَدْ آمَدْ سَمَاو۪ى بَاهَزَارَانْ نَىْ
Adapun khayal melihat: seakan-akan para malaikat yang ditugaskan atas pohon-pohon ini telah masuk ke dalamnya dan mengenakan pohon-pohon itu — yang pada tiap dahannya tergantung banyak seruling ney — sebagai jasad. Seakan-akan Sang Sultan Sarmadi telah mengenakannya kepada mereka dalam sebuah upacara pembukaan yang megah dengan suara ribuan ney, sehingga pohon-pohon itu tidak seperti benda beku yang tak sadar, melainkan memperlihatkan keadaan-keadaan yang penuh kesadaran dan sarat makna.
اَز۪ينْ نَيْهَا شُن۪يدَتْ هُوشْ سِتَايِشْهَاىِ ذَاتِ حَىْ
Ney-ney itu jernih dan menggetarkan, seakan datang dari sebuah musik samawi yang luhur. Dari ney-ney itu pikiran tidak mendengar keluh-kesah perpisahan yang penuh derita sebagaimana yang didengar oleh semua pecinta, dengan Mevlâna Celaleddin-i Rumî di barisan terdepan; melainkan ia mendengar ungkapan-ungkapan syukur Rahmani dan puji-pujian Rabbani yang dipersembahkan ke hadapan Sang Dzât Hayy Qayyûm.
وَرَقْهَارَا زَبَانْ دَارَنْدْ هَمَه هُو هُو ذِكْرْ آرَنْدْ بَدَرْ مَعْنَاىِ حَىُّ حَىْ
Karena pohon-pohon itu telah menjadi jasad-jasad, seluruh daunnya pun menjadi lidah-lidah. Berarti masing-masing, dengan ribuan lidahnya, mengulang-ulang zikir "Hû, Hû" oleh sentuhan udara. Dengan tahiyat kehidupan mereka, mereka memaklumkan bahwa Shâni' mereka adalah Hayy dan Qayyûm.
چُو لآَ اِلٰهَ اِلاَّ هُو بَرَابَرْ م۪يزَنَدْ هَرْ شَىْ
Sebab segala sesuatu mengucap "Lâ ilâha illâ Hû" dan bekerja sambil berzikir bersama-sama dalam lingkaran zikir alam yang agung.
دَمَادَمْ جُويَدَنْدْ يَا حَقْ سَرَاسَرْ گُويَدَنْدْ يَا حَىْ بَرَابَرْ م۪يزَنَنْدْ اَللّٰهْ
Dari waktu ke waktu, dengan lisan istidad, mereka meminta hak-hak kehidupan mereka kepada Allah Yang Haq dari khazanah rahmat sambil mengucap "Yâ Haq"; dan dari ujung ke ujung, dengan lisan keberolehannya akan kehidupan, mereka menzikirkan nama "Yâ Hayy".
فَيَا حَىُّ يَا قَيُّومُ بِحَقِّ اِسْمِ حَىِّ قَيُّومِحَيَات۪ى دِهْ بَاِينْ قَلْبِ پَر۪يشَانْ رَا اِسْتِقَامَتْ دِهْ بَا۪ينْ عَقْلِ مُشَوَّشْ رَا آمِينْ
[Pada suatu waktu di Barla, di Gunung Çam, di suatu tempat yang tinggi, pada malam hari aku memandang wajah langit. Untaian-untaian berikut terlintas seketika. Ia ditulis seakan-akan aku mendengar dalam khayal bintang-bintang berbicara dengan lisân hâl mereka. Karena aku tidak mengenal nazham dan syair, ia tidak masuk ke dalam kaidah syair; ia ditulis sebagaimana terlintasnya. Diambil dari Surat Keempat dan dari penghujung Mauqif Pertama Kelimat Ketiga Puluh Dua.]
Sebuah Yıldızname (Kitab Bintang) yang membuat bintang-bintang berbicara
Dengarkanlah bintang-bintang, khutbah mereka yang manis ini; lihatlah apa yang telah dituturkan oleh surat hikmah yang bercahaya itu. Semuanya serentak mulai berbicara; dengan lisan kebenaran mereka berkata:
"Kamilah burhan-burhan yang menaburkan cahaya bagi kemegahan Kesultanan Sang Qadîr Dzul-Jalâl, bagi wujud Sang Shâni'; kamilah saksi-saksi atas kesatuan dan atas kudrat-Nya.
Bagaikan malaikat yang bertamasya menyaksikan mukjizat-mukjizat jelita yang menyepuh keemasan muka bumi ini, kamilah ribuan mata penyelidik langit ini, yang memandang ke bumi dan menatap cermat ke surga.
{(Hâsyiyah): Yakni: karena di muka bumi — persemaian dan ladang kecil bunga-bunga surga — dipamerkan mukjizat-mukjizat kudrat yang tak terhingga, maka sebagaimana para malaikat di alam langit menyaksikan mukjizat-mukjizat dan keajaiban-keajaiban itu, bintang-bintang — yang laksana mata benda-benda langit — pun, bagaikan para malaikat, setiap kali memandang ciptaan-ciptaan jelita di muka bumi, mereka memandang pula ke alam surga. Seakan-akan mereka menyaksikan keajaiban-keajaiban sementara itu dalam rupa yang kekal di surga; mereka memandang ke bumi sekaligus ke surga. Yakni, mereka mengawasi kedua alam itu.}
Kamilah buah-buah yang amat indah, yang digantungkan oleh tangan hikmah Sang Jamîl Dzul-Jalâl pada belahan langit dari pohon Tûbâ penciptaan, pada ranting-ranting kahkasyân (Bimasakti).
Bagi penghuni langit ini, kamilah masjid-masjid yang berpindah, rumah-rumah yang beredar, sarang-sarang yang luhur, pelita-pelita yang benderang, bahtera-bahtera yang perkasa, dan pesawat-pesawat terbang.
Kamilah mukjizat-mukjizat kudrat Sang Qadîr Dzul-Kamâl, Sang Hakîm Dzul-Jalâl; keajaiban-keajaiban ciptaan khâliqânah; kelangkaan-kelangkaan hikmah; keluarbiasaan-keluarbiasaan penciptaan; dan alam-alam cahaya.
Dengan seratus ribu lidah seperti ini kami perlihatkan seratus ribu burhan; kami perdengarkan kepada manusia yang benar-benar manusia. Mata si tak beragama yang celaka membuta itu tidak lagi melihat wajah kami, tidak pula mendengar perkataan kami; kamilah ayat-ayat yang menuturkan kebenaran.
Cap kami satu, tughra kami satu; kami tertundukkan kepada Rabb kami. Kami pembertasbih; kami berzikir sebagai hamba-hamba yang beribadah. Kamilah para majdzûb yang tergolong pada lingkaran kubrâ kahkasyân." — demikianlah kudengar dalam khayal apa yang mereka katakan