Risale-i NurKelimat

Kelimat Kedelapan Belas

Kelimat · hlm. 230

(Kalimat ini memiliki dua maqam. Maqam Kedua belum ditulis. Maqam Pertama terdiri dari tiga nuktah.)

NUKTAH PERTAMA

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِ

لاَ تَحْسَبَنَّ الَّذ۪ينَ يَفْرَحُونَ بِمَٓا اَتَوْا وَيُحِبُّونَ اَنْ يُحْمَدُوا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوا فَلاَ تَحْسَبَنَّهُمْ بِمَفَازَةٍ مِنَ الْعَذَابِ وَلَهُمْ عَذَابٌ اَل۪يمٌ

Sebuah tamparan pengajaran bagi nafsu ammârahku:

Wahai nafsuku yang dungu — yang tergila-gila pada kebanggaan, yang terjangkiti ketagihan kemasyhuran, yang gandrung pada pujian, yang tiada bandingnya dalam memandang diri sendiri! Jika sebutir biji kecil yang menjadi asal pohon tin yang menghasilkan ribuan buah, dan sebatang ranting hitam kering anggur yang padanya bergantung seratus tandan, boleh mengaku bahwa seluruh buah dan tandan itu adalah kepandaian mereka sendiri, dan bahwa orang-orang yang mengambil manfaat darinya wajib memuji serta menghormati ranting dan biji itu — jika itu sebuah dakwaan yang benar — maka engkau pun barangkali punya hak untuk berbangga dan bermegah atas nikmat-nikmat yang dimuatkan padamu. Padahal engkau senantiasa berhak atas celaan. Sebab engkau tidak seperti biji dan ranting itu. Karena engkau memiliki sebuah juz' ikhtiyârî, engkau mengurangi nilai nikmat-nikmat itu dengan kebanggaanmu, merusaknya dengan kemegahanmu, membatalkannya dengan kekufuranmu akan nikmat, dan merampasnya dengan mengaku-aku memilikinya. Tugasmu bukanlah berbangga, melainkan bersyukur. Yang layak bagimu bukanlah kemasyhuran, melainkan tawadhu dan rasa malu. Hakmu bukanlah pujian, melainkan istighfar dan penyesalan. Kesempurnaanmu bukan pada memandang dirimu sendiri, melainkan pada memandang Allah.

Benar; engkau, di dalam tubuhku, menyerupai tabiat di alam. Kalian berdua diciptakan untuk menerima kebaikan dan menjadi tempat kembalinya keburukan. Yakni, kalian bukanlah pelaku dan sumber, melainkan pihak yang dikenai dan wadah. Kalian hanya punya satu pengaruh: yaitu menjadi sebab keburukan, karena kalian tidak menerima dengan cara yang baik kebaikan yang datang dari Kebaikan Mutlak. Kalian pun diciptakan sebagai tirai-tirai, agar keburukan-keburukan lahiriah yang keindahannya tak terlihat disandarkan kepada kalian, sehingga kalian menjadi sarana penyucian Dzât Ilahi Yang Mahasuci. Padahal kalian telah mengenakan rupa yang sepenuhnya berlawanan dengan tugas fitrah kalian. Sementara karena ketiadaan kemampuan, kalian mengubah kebaikan menjadi keburukan, kalian seakan-akan berserikat dengan Khâliq kalian. Berarti pemuja nafsu dan pemuja tabiat itu teramat bodoh, teramat zalim.

Dan jangan berkata: "Aku adalah mazhhar (tempat tampaknya tajali). Yang menjadi mazhhar bagi keindahan akan menjadi indah." Sebab, karena keindahan itu tidak menjelma menetap padamu secara tamatstsul, engkau bukanlah mazhhar, melainkan hanya mamarr (tempat lalu).

Dan jangan pula berkata: "Di antara khalayak, akulah yang terpilih. Buah-buah ini diperlihatkan melaluiku. Berarti aku punya suatu keistimewaan." Tidak, hâsyâ! Justru semua itu diberikan kepadamu lebih dahulu daripada semua orang, karena engkau lebih bangkrut, lebih membutuhkan, dan lebih menderita daripada semua orang; karena itulah ia diserahkan ke tanganmu paling awal.

{(Hâsyiyah): Sungguh, dalam perdebatan ini aku pun sangat mengagumi cara Said Baru membungkam dan mendiamkan nafsunya sampai sebegini rupa, dan aku berkata: "Seribu kali Bârakallâh."}

NUKTAH KEDUA

اَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ

Nuktah ini menjelaskan satu rahasia ayat di atas. Yaitu:

Pada segala sesuatu — bahkan pada hal-hal yang tampak paling buruk — terdapat satu segi keindahan yang hakiki. Benar; segala sesuatu di alam, setiap peristiwa, adakalanya indah pada dirinya sendiri — itu disebut husn bidz-dzât — atau indah dari segi hasil-hasilnya — itu disebut husn bil-ghair. Ada sebagian peristiwa yang secara lahiriah buruk dan kacau, namun di balik tirai lahiriah itu terdapat keindahan-keindahan dan keteraturan-keteraturan yang amat cemerlang. Di antaranya:

Pada musim semi, di balik tirai hujan badai dan tanah berlumpur, tersimpan senyuman bunga-bunga yang tak terhingga indahnya dan tumbuh-tumbuhan yang teratur; dan penghancuran kasar musim gugur, di balik tirai-tirai perpisahan yang pilu, adalah — sambil membebastugaskan dari tugas kehidupan hewan-hewan mungil nan lembut, para sahabat bunga-bunga yang manja, demi melindungi mereka dari tekanan dan siksaan peristiwa-peristiwa musim dingin yang merupakan mazhhar tajali-tajali jalâliyah Subhâniyah — penyiapan tempat bagi musim semi baru yang lembut, segar, dan indah di balik tirai musim dingin itu. Di balik tirai peristiwa-peristiwa seperti badai, gempa, dan wabah, tersembunyi mekarnya sangat banyak bunga maknawi. Banyak biji istidad yang tinggal tak bertunas dan tak berkembang laksana benih-benih, justru karena peristiwa-peristiwa yang tampak buruk secara lahiriah itu, bertunas dan menjadi indah. Seakan-akan segala pergolakan dan perubahan menyeluruh itu masing-masing adalah sebuah hujan maknawi. Akan tetapi manusia, karena memuja yang lahiriah sekaligus mementingkan dirinya sendiri, memandang yang lahir lalu memvonisnya buruk. Dari segi sifat mementingkan diri, ia menimbang hanya dengan hasil yang memandang dirinya sendiri, lalu memvonisnya sebagai keburukan. Padahal jika tujuan segala sesuatu yang berkenaan dengan manusia itu satu, maka yang berkenaan dengan asma Shâni'-nya ada ribuan.

Misalnya: rumput-rumput dan pohon-pohon berduri, yang termasuk mukjizat-mukjizat besar kudrat Sang Fâthir, ia anggap berbahaya dan tak bermakna. Padahal mereka adalah para pahlawan bersenjata lengkap dari kalangan rumput dan pepohonan. Misalnya: dikuasakannya burung alap-alap atas burung-burung pipit secara lahiriah tampak tak sesuai dengan rahmat. Padahal istidad burung pipit justru berkembang melalui penguasaan itu. Misalnya: salju mereka anggap teramat dingin dan hambar. Padahal di balik tirainya yang dingin dan hambar itu terdapat tujuan-tujuan yang begitu hangat dan hasil-hasil manis laksana gula, yang tak terlukiskan. Lagi pula manusia, di samping sifat mementingkan diri dan pemujaannya pada yang lahiriah, menimbang segala sesuatu dengan wajahnya yang memandang dirinya sendiri, sehingga banyak hal yang merupakan adab semata ia sangka berlawanan dengan adab. Misalnya, organ reproduksi manusia: dalam pandangan manusia, pembicaraan tentangnya mendatangkan rasa malu. Namun tirai rasa malu itu hanya ada pada wajah yang memandang manusia. Adapun wajah-wajah yang memandang penciptaan, ciptaan, dan tujuan-tujuan fitrah adalah tirai-tirai yang, bila dipandang dengan pandangan hikmah, merupakan adab itu sendiri; rasa malu sama sekali tidak menyentuhnya.

Demikianlah, sebagian ungkapan Al-Qur'an Al-Hakîm — sumber segala adab — mengikuti wajah-wajah dan tirai-tirai ini. Sebagaimana di balik wajah-wajah lahiriah makhluk-makhluk dan peristiwa-peristiwa yang tampak buruk bagi kita terdapat wajah-wajah indah yang memandang kepada ciptaan dan penciptaannya yang amat indah lagi penuh hikmah — wajah-wajah yang memandang kepada Shâni'-nya; dan ada banyak tirai indah yang menyimpan hikmah-hikmah; dan ada sangat banyak ketidakteraturan serta kekacauan lahiriah yang sesungguhnya merupakan sebuah tulisan qudsi yang sangat teratur.

NUKTAH KETIGA

اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُون۪ى يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ

Karena keindahan ciptaan di alam ini ada secara tersaksikan dan bersifat pasti, maka sudah tentu risalah Ahmad صلى الله عليه وسلم mesti tetap terbukti dengan kepastian setingkat penyaksian. Sebab keindahan seni dan hiasan rupa pada ciptaan-ciptaan yang indah ini menunjukkan bahwa pada ahli seni yang menciptakan mereka terdapat kehendak memperindah yang sungguh-sungguh dan tuntutan menghias yang kuat. Dan kehendak serta tuntutan ini menunjukkan bahwa pada Sang Shâni' terdapat cinta yang luhur dan hasrat yang suci terhadap kesempurnaan-kesempurnaan seni yang Dia tampakkan pada ciptaan-ciptaan-Nya. Dan cinta serta hasrat ini menghendaki untuk lebih terarah dan terpusat pada manusia, individu yang paling bercahaya dan paling sempurna di antara segala ciptaan. Manusia adalah buah berkesadaran dari pohon penciptaan; sedangkan buah adalah bagiannya yang paling menghimpun, paling jauh, yang pandangannya paling menyeluruh dan kesadarannya paling universal. Adapun pribadi yang pandangannya menyeluruh dan kesadarannya universal itu dapat menjadi individu tertinggi dan paling cemerlang, yang menjadi lawan bicara Sang Ahli Seni Dzul-Jamâl dan berjumpa dengan-Nya, serta mencurahkan seluruh kesadaran universalnya dan pandangan menyeluruhnya sepenuhnya untuk penyembahan kepada Sang Shâni', untuk pengaguman seni-Nya, dan untuk kesyukuran atas nikmat-Nya.

Kini tampak dua lauhah, dua lingkaran. Yang satu: sebuah lingkaran rubûbiyah yang amat megah lagi teratur, dan sebuah lauhah seni yang amat halus buatannya lagi bertatahkan permata... Yang lain: sebuah lingkaran ubudiyah yang amat bercahaya lagi semarak berbunga, dan sebuah lauhah tafakkur, pengaguman, kesyukuran, dan iman yang amat luas lagi menghimpun; lingkaran kedua ini bergerak dengan segenap kekuatannya atas nama lingkaran pertama.

Maka dengan sendirinya dapatlah dipahami betapa eratnya hubungan pemimpin lingkaran itu — yang berkhidmah kepada seluruh maksud Sang Shâni' yang mencintai seni — dengan Sang Shâni', dan betapa dicintai serta diterimanya ia dalam pandangan-Nya.

Mungkinkah akal menerima bahwa ahli seni pencipta ciptaan-ciptaan indah ini — yang sedemikian pecinta seni, bahkan pecinta pemberian nikmat sehingga memperhatikan setiap jenis rasa bagi lidah — akan tinggal acuh terhadap ciptaan-Nya yang terindah, yang menghadap kepada-Nya dengan penuh penyembahan, dalam gemuruh pengaguman dan penghargaan yang membuat 'Arsy dan hamparan bumi bergema, dengan senandung kesyukuran dan takbir yang membawa daratan dan lautan kepada jadzbah; bahwa Dia tidak akan berbicara dengannya, tidak akan dengan penuh perhatian menjadikannya rasul, dan tidak menghendaki keadaannya yang indah itu menular pula kepada yang lain? Sekali-kali tidak! Tidak berbicara dengannya dan tidak menjadikannya rasul adalah hal yang mustahil.

اِنَّ الدّ۪ينَ عِنْدَ اللّٰهِ اْلاِسْلاَمُ ❊ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللّٰهِ وَالَّذ۪ينَ مَعَهُ