Kelimat Kedua Puluh Delapan
Kelimat · hlm. 444
Kalimat ini berkenaan dengan surga. Kalimat ini memiliki dua maqam. Maqam Pertama mengisyaratkan sebagian kehalusan surga. Akan tetapi, ini bukanlah pembahasan tentang penetapan wujud surga — yang dalam Kelimat Kesepuluh telah ditetapkan dengan sangat pasti melalui dua belas hakikat yang qat'i, dan dalam Maqam Kedua Kalimat ini wujudnya dibuktikan dengan cara yang sangat cemerlang melalui suatu burhan Arab yang qat'i, berantai, lagi sangat kukuh, yang merupakan ringkasan dan asas Kelimat Kesepuluh — melainkan pada maqam ini hanya dibahas beberapa keadaan surga yang menjadi bahan pertanyaan, jawaban, dan sanggahan. Jika taufik Ilahi menjadi kawan, kelak akan ditulis sebuah kalimat yang agung mengenai hakikat yang megah itu, insya Allah.
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِوَبَشِّرِ الَّذِينَ اٰمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ اَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْر۪ى مِنْ تَحْتِهَا اْلاَنْهَارُ كُلَّمَا رُزِقُوا مِنْهَا مِنْ ثَمَرَةٍ رِزْقًا قَالُوا هٰذَا الَّذ۪ى رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ وَ اُتُوا بِه۪ مُتَشَابِهًا وَ لَهُمْ ف۪يهَٓا اَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ وَهُمْ ف۪يهَا خَالِدُونَ
Beberapa jawaban singkat atas sebagian pertanyaan mengenai surga yang kekal.
Mengenai surga, penjelasan ayat-ayat Al-Qur'an — yang lebih indah daripada surga, lebih halus daripada para bidadarinya, dan lebih manis daripada salsabilnya — tidak menyisakan ucapan bagi siapa pun untuk mengatakan sesuatu yang lebih. Akan tetapi, untuk mendekatkan ayat-ayat yang cemerlang, azali lagi abadi, tinggi lagi indah itu kepada pemahaman, kami akan mengatakan beberapa anak tangga, dan sebagai contoh dari surga Al-Qur'ani itu, kami akan menyebut beberapa nukilan laksana contoh beberapa kuntum bunga. Kami akan mengisyaratkannya dengan lima pertanyaan dan jawaban bersimbol. Ya, sebagaimana surga menjadi penyandar bagi seluruh kelezatan maknawi, demikian pula ia menjadi penyandar bagi seluruh kelezatan jasmani.
Pertanyaan
Apakah hubungan jasmaniah yang penuh cacat, kekurangan, berubah-ubah, tak menetap, lagi menyakitkan ini dengan keabadian dan surga? Oleh karena ruh memiliki kelezatan-kelezatan yang luhur, itu sudah cukup baginya. Untuk kelezatan jasmani, mengapa mesti ada kebangkitan jasmani?
Jawaban
Sebab sebagaimana tanah, dibanding air, udara, dan cahaya, adalah lebih pekat dan lebih gelap; namun karena ia menjadi sumber dan penyandar bagi seluruh jenis ciptaan Ilahi, maka secara maknawi ia naik di atas seluruh unsur lainnya. Dan sebagaimana nafsu insani yang pekat, dari sisi rahasia kemenyeluruhannya — dengan syarat disucikan — naik di atas seluruh kehalusan batin insani. Demikian pula, jasmaniah adalah cermin manifestasi asma Ilahi yang paling menyeluruh, paling meliputi, dan paling kaya. Perangkat-perangkat yang akan menakar dan menimbang segenap simpanan rahmat, ada pada jasmaniah. Misalnya: seandainya indra perasa pada lidah, dalam menikmati rezeki, bukanlah sumber bagi timbangan-timbangan sebanyak jenis makanan; niscaya ia tidak akan dapat merasakan dan mengenali masing-masingnya secara terpisah, tidak akan dapat mencicipi dan menimbangnya. Lagi pula, perangkat untuk merasakan dan mengetahui, mencicipi dan mengenali manifestasi kebanyakan asma Ilahi, juga ada pada jasmaniah. Lagi pula, kesiapan untuk merasakan kelezatan-kelezatan yang sangat beragam dan yang tak terhingga berbeda-beda, juga ada pada jasmaniah. Oleh karena Pencipta alam semesta ini menghendaki — sebagaimana telah dibuktikan dalam Kelimat Kesebelas — untuk mengenalkan seluruh simpanan rahmat-Nya dengan alam ini, memberitahukan seluruh manifestasi asma-Nya, dan mencicipkan seluruh jenis karunia-Nya; hal itu dipahami dengan pasti dari perjalanan alam semesta dan dari kemenyeluruhan manusia. Maka sudah pasti, negeri kebahagiaan — yang merupakan telaga terbesar dari aliran alam semesta ini, pameran teragung dari hasil kerja bengkel alam ini, dan gudang abadi dari ladang dunia ini — akan menyerupai alam semesta ini sampai derajat tertentu. Ia akan memelihara seluruh asasnya, baik yang jasmani maupun yang ruhani. Dan Pencipta Yang Mahabijaksana lagi Mahaadil lagi Maha Penyayang itu — sudah pasti sebagai upah bagi tugas-tugas perangkat jasmani, sebagai balasan bagi khidmahnya, dan sebagai pahala bagi ibadahnya yang khusus — akan memberi mereka kelezatan-kelezatan yang layak. Kalau tidak, itu menjadi suatu keadaan yang bertentangan dengan hikmah, keadilan, dan rahmat-Nya; yang sama sekali tidak sesuai dengan keindahan rahmat dan kesempurnaan keadilan-Nya, serta tidak dapat dipertautkan dengannya.
Pertanyaan
Tubuh, jika ia bersifat hidup; maka bagian-bagian badan senantiasa dalam penyusunan dan penguraian, terhukum kepada kepunahan, tidak dapat memperoleh keabadian. Adapun makan-minum untuk kelangsungan pribadi, dan hubungan suami-istri untuk kelangsungan jenis — semua itu menjadi asas di alam ini. Di alam keabadian dan alam ukhrawi, tidak ada kebutuhan akan hal-hal ini. Mengapa ia justru masuk ke dalam barisan kelezatan surga yang terbesar?
Jawaban
Pertama, di alam ini keterhukuman tubuh yang hidup kepada kepunahan dan kematian adalah karena tidak seimbangnya pemasukan dan pengeluaran. Dari masa kanak-kanak hingga usia matang, pemasukan lebih banyak; setelah itu pengeluaran bertambah, keseimbangan pun hilang.. maka ia pun mati. Adapun di alam keabadian, partikel-partikel tubuh tetap kukuh, tidak terkena penyusunan dan penguraian; atau keseimbangan tetap terjaga,
{(Catatan kaki): Di dunia ini tubuh insan dan hewan berkedudukan bagi partikel-partikel laksana suatu penginapan, barak, dan sekolah; partikel-partikel yang mati memasukinya, memperoleh kelayakan untuk menjadi partikel bagi alam keabadian yang hidup, lalu keluar. Adapun di akhirat, berdasarkan rahasia اِنَّ الدَّارَ اْلاٰخِرَةَ لَهِىَ الْحَيَوَانُ, cahaya kehidupan di sana bersifat umum. Untuk bercahaya, tidak dibutuhkan perjalanan, pelatihan, dan pendidikan itu. Partikel-partikel dapat tetap kukuh sebagai inventaris.}
pemasukan dan pengeluaran berada dalam keseimbangan. Laksana perputaran yang abadi, tubuh yang hidup — demi kelezatan-kelezatan — menjadi abadi bersama dijalankannya bengkel kehidupan jasmani. Makan-minum dan hubungan suami-istri, sekalipun di dunia ini datang dari suatu kebutuhan dan menuju suatu tugas, namun sebagai upah yang disegerakan bagi tugas itu telah diletakkan di dalamnya kelezatan yang beragam lagi lezat, sehingga mengungguli kelezatan-kelezatan lainnya. Oleh karena di negeri penuh derita ini, yang menjadi penyandar bagi kelezatan-kelezatan yang begitu ajaib dan berbeda-beda adalah makan dan nikah; maka sudah pasti di surga — negeri kelezatan dan kebahagiaan — kelezatan-kelezatan itu mengambil rupa yang sedemikian luhur, dengan menambahkan pula upah ukhrawi dari tugas duniawi sebagai kelezatan kepadanya, dan dengan menambahkan pula kebutuhan duniawi dalam rupa selera ukhrawi yang menyenangkan — sehingga menjadi suatu sumber kelezatan yang paling menyeluruh lagi hidup, layak bagi surga dan sesuai dengan keabadian. Ya, berdasarkan rahasia وَمَا هٰذِهِ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَٓا اِلاَّ لَهْوٌ وَلَعِبٌ وَاِنَّ الدَّارَ اْلاٰخِرَةَ لَهِىَ الْحَيَوَانُ, di negeri dunia ini benda-benda yang beku, tak berkesadaran, dan tak bernyawa, di sana bersifat berkesadaran lagi hidup. Sebagaimana manusia di sini, di sana pun pohon-pohon; sebagaimana hewan di sini, di sana pun batu-batu, memahami perintah dan melaksanakannya. Jika engkau berkata kepada sebuah pohon, "Bawakan kepadaku buah anu," ia membawakannya. Jika engkau berkata kepada sebuah batu, "Datanglah," ia datang. Oleh karena batu dan pohon mengambil rupa yang sedemikian luhur, maka sudah pasti makan-minum dan nikah pun — di samping memelihara hakikat jasmaninya — mesti mengambil suatu rupa yang setinggi derajat surga di atas dunia, sekadar derajat surga itu di atas derajat-derajat duniawi.
Pertanyaan
Berdasarkan rahasia اَلْمَرْءُ مَعَ مَنْ اَحَبَّ: "Sang kekasih akan bersama kekasihnya di surga." Padahal seorang badawi yang sederhana, dalam satu menit sohbet Kenabian, memperoleh suatu kecintaan karena Allah; dengan kecintaan itu, ia mesti berada di sisi Nabi Alaihissalâtu Vassalâm صلى الله عليه وسلم di surga. Padahal bagaimana limpahan Rasul Mulia Alaihissalâtu Vassalâm صلى الله عليه وسلم — yang memperoleh limpahan tak terhingga — dapat bersatu dengan limpahan seorang badawi sederhana?
Jawaban
Dengan suatu perumpamaan, kami mengisyaratkan hakikat yang luhur ini demikian: Misalnya, seorang pribadi yang megah telah menyiapkan di sebuah taman yang sangat indah lagi gemerlap suatu jamuan yang sangat besar, suatu tempat pesiar yang sangat berhias, dengan cara sedemikian rupa sehingga: ia menghimpun seluruh kelezatan makanan yang dapat dirasakan indra perasa, meliputi seluruh keindahan yang menyenangkan indra penglihatan, mencakup seluruh keajaiban yang menggembirakan daya khayal, dan demikian seterusnya.. ia telah meletakkan di dalamnya segala sesuatu yang akan membelai dan menyenangkan seluruh indra lahir dan batin. Sekarang ada dua orang sahabat. Bersama-sama mereka pergi ke jamuan itu. Mereka duduk di satu loji, di satu meja. Akan tetapi karena indra perasa salah satunya sangat lemah, ia hanya mengambil kenikmatan yang sedikit. Matanya pun kurang melihat. Indra penciumnya tidak ada. Ia tidak mengerti seni-seni yang menakjubkan. Ia tidak mengetahui hal-hal yang luar biasa. Dari tempat pesiar itu, ia hanya dapat menikmati dan mengambil manfaat satu dari seribu, bahkan satu dari sejuta, sekadar kemampuannya. Adapun yang lain, seluruh indra lahir dan batinnya, akal, kalbu, rasa, dan kehalusan batinnya, telah sedemikian sempurna dan berkembang sehingga ia merasakan dan menikmati seluruh kehalusan, keindahan, keelokan, dan keajaiban di tempat pesiar itu secara terpisah, mengambil kelezatan yang berbeda-beda dari masing-masingnya, sementara ia berada bahu-membahu dengan sahabatnya itu. Oleh karena di dunia yang kacau, penuh derita, lagi sempit ini pun demikian keadaannya — ketika yang paling kecil dan yang paling besar berdampingan, terdapat perbedaan sejauh dari bumi ke bintang Tsurayya — maka sudah pasti di surga, negeri kebahagiaan dan keabadian, dengan cara yang lebih utama, ketika kekasih berdampingan dengan kekasihnya, masing-masing mengambil bagiannya dari hidangan Sang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang menurut kadar bakatnya. Sekalipun surga tempat mereka berada berbeda-beda, hal itu tidak menghalangi kebersamaan mereka. Sebab kedelapan tingkat surga, sekalipun satu lebih tinggi dari yang lain, atap kesemuanya adalah Arasy Yang Agung. Sebagaimana seandainya di sekeliling sebuah gunung berbentuk kerucut terdapat lingkaran-lingkaran bertembok, satu di dalam yang lain, satu lebih tinggi dari yang lain, dari kaki hingga puncaknya; lingkaran-lingkaran itu berada satu di atas yang lain, tetapi tidak saling menghalangi untuk melihat matahari, dapat saling menembus, dan saling memandang. Demikian pula, bahwa surga-surga pun berada dengan cara yang mendekati hal ini, diisyaratkan oleh beragam riwayat hadis.
Pertanyaan
Dalam hadis dikatakan: "Para bidadari mengenakan tujuh puluh perhiasan, namun sumsum di dalam tulang betis mereka tetap terlihat." Apa maksudnya? Apa maknanya? Keindahan macam apa itu?
Jawaban
Maknanya sangat indah dan keindahannya sangat manis. Yaitu demikian: Di dunia yang buruk, mati, beku, dan kebanyakannya kulit ini; keindahan dan kecantikan, jika hanya tampak indah di mata dan tidak menghalangi keakraban, itu sudah cukup. Padahal di surga yang indah, hidup, berseri, tanpa kulit, seluruhnya inti dan isi tanpa selubung; seperti mata, seluruh indra dan kehalusan batin manusia ingin mengambil bagian kenikmatan dan beragam kelezatannya — masing-masing secara terpisah — dari para bidadari yang berjenis halus, dan dari wanita-wanita duniawi di surga yang datang dari dunia, yang seperti bidadari bahkan lebih indah. Berarti dari keindahan perhiasan yang paling atas, hingga sumsum di dalam tulang, hadis mengisyaratkan bahwa masing-masingnya adalah sumber kenikmatan bagi satu indra, bagi satu kehalusan batin. Ya, dengan ungkapan "Para bidadari mengenakan tujuh puluh perhiasan dan sumsum di dalam tulang betis mereka terlihat," hadis syarif mengisyaratkan bahwa: betapa pun banyak indra, perasaan, daya, dan kehalusan batin manusia yang gemar akan keindahan, pemuja kelezatan, terpikat pada hiasan, dan rindu akan kecantikan; para bidadari menghimpun segala macam hiasan, keindahan, dan kecantikan lahir maupun batin yang akan memuaskan dan mengenyangkan seluruhnya, serta membelai dan membahagiakan masing-masingnya secara terpisah. Berarti para bidadari mengenakan tujuh puluh macam dari ragam perhiasan surga — karena tidak berasal dari satu jenis, sehingga satu sama lain tidak saling menutupi — dan dari wujud, jiwa, serta tubuh mereka sendiri, mereka memperlihatkan ragam keindahan dan kecantikan yang berbeda-beda, bahkan lebih dari tujuh puluh tingkat. Mereka memperlihatkan hakikat isyarat وَف۪يهَا مَا تَشْتَه۪يهِ اْلاَنْفُسُ وَتَلَذُّ اْلاَعْيُنُ. Lagi pula, karena di surga tidak ada benda-benda yang tak perlu, berkulit, dan berlebih; maka penghuni surga, setelah makan dan minum, tidak memiliki kotoran — demikian dijelaskan hadis syarif. Oleh karena di dunia yang hina ini, pohon-pohon yang merupakan makhluk hidup paling rendah, sekalipun banyak mengambil makanan, tidak berkotoran; maka mengapa penghuni surga, lapisan kehidupan yang paling tinggi, tidak akan tanpa kotoran?
Pertanyaan
Dalam hadis-hadis syarif dikatakan bahwa: "Sebagian penghuni surga diberi tempat seluas dunia, dianugerahi ratusan ribu istana dan ratusan ribu bidadari." Apa perlunya dan apa butuhnya seorang manusia akan sebanyak ini, bagaimana mungkin, dan apa maksudnya?
Jawaban
Seandainya manusia hanya sebentuk wujud yang beku, atau hanya sebentuk makhluk nabati yang terdiri dari perut belaka, atau hanya sebuah pribadi jasmani yang terikat, berat, sementara, dan sederhana serta sebuah tubuh hewani belaka; niscaya ia tidak akan layak dan tidak akan memiliki istana yang banyak dan bidadari yang banyak. Akan tetapi, manusia adalah suatu mukjizat kudrat yang sedemikian menyeluruh, sehingga bahkan di dunia yang fana ini, dalam umur yang pendek ini, karena kebutuhan sebagian kehalusan batinnya yang belum berkembang, seandainya diberikan kepadanya kerajaan, kekayaan, dan kelezatan seluruh dunia, barangkali ketamakannya tidak akan kenyang. Padahal seorang manusia yang di negeri kebahagiaan yang abadi memiliki bakat tak terhingga, yang dengan lisan kebutuhan tak terhingga dan dengan tangan keinginan tak terhingga mengetuk pintu suatu rahmat yang tak terhingga; sudah pasti kelayakannya untuk memperoleh karunia-karunia Ilahi yang dijelaskan dalam hadis adalah masuk akal, benar, dan hakikat. Dan kami akan meneropong hakikat yang luhur ini dengan teropong sebuah perumpamaan. Yaitu demikian:
Sebagaimana kebun lembah ini,{(Catatan kaki): Itu adalah kebun Sulaiman, yang selama delapan tahun berkhidmat kepada si fakir ini dengan kesetiaan yang sempurna; dan dalam waktu satu atau dua jam Kalimat ini ditulis di sana.}sebagaimana masing-masing kebun dan taman Barla ini memiliki pemiliknya sendiri-sendiri; namun setiap burung, setiap pipit, setiap lebah di Barla — yang dari segi makanannya hanya memiliki segenggam makan — dapat berkata: "Seluruh kebun dan taman Barla adalah tempat pesiar dan tamasyaku." Ia menguasai Barla dan memasukkannya ke dalam lingkaran miliknya. Keikutsertaan pihak lain tidak merusak putusannya ini. Dan seorang manusia yang benar-benar manusia dapat berkata: "Penciptaku telah menjadikan dunia ini rumah bagiku, matahari adalah lampuku, bintang-bintang adalah listrikku, permukaan bumi adalah ayunanku yang terhampar dengan permadani berbunga-bunga," lalu ia bersyukur kepada Allah. Keikutsertaan makhluk lain tidak membatalkan putusannya ini. Sebaliknya, makhluk-makhluk itu menghiasi rumahnya. Mereka berkedudukan sebagai hiasan rumah itu. Gerangan, di dunia yang sempit ini, jika seorang manusia dari sisi kemanusiaannya — bahkan seekor burung sekalipun — mendakwakan suatu bentuk penguasaan dalam lingkaran yang seluas ini dan memperoleh nikmat yang begitu besar; maka di negeri kebahagiaan yang luas lagi abadi, menganugerahkan kepadanya suatu kerajaan sejauh perjalanan lima ratus tahun — bagaimana mungkin dianggap mustahil?
Dan sebagaimana di dunia yang pekat, gelap, lagi sempit ini matahari berada secara nyata dalam satu saat pada banyak sekali cermin; demikian pula, suatu pribadi yang bercahaya dapat berada secara nyata dalam satu saat di banyak tempat — sebagaimana telah dibuktikan dalam Kelimat Keenam Belas — misalnya, Malaikat Jibril Alaihissalâm dalam satu saat berada di seribu bintang, sekaligus di Arasy, di hadirat Kenabian, dan di hadirat Ilahi; dan Nabi Alaihissalâtu Vassalâm صلى الله عليه وسلم pada hari kebangkitan dalam satu saat berjumpa dengan kebanyakan umatnya yang bertakwa, serta menampakkan diri dalam satu saat di tempat-tempat yang tak terhingga di dunia; dan para wali yang merupakan sejenis keajaiban, yaitu para abdal, terlihat dalam satu waktu di banyak tempat; dan orang awam dalam mimpi terkadang dalam satu menit melihat dan menyaksikan pekerjaan sepanjang satu tahun; dan setiap orang dengan sisi kalbu, ruh, dan khayalnya dalam satu saat bersentuhan dan bertaut dengan banyak sekali tempat — semua ini maklum dan tersaksikan; maka sudah pasti di surga yang bercahaya, tak terikat, luas, lagi abadi, para penghuni surga — yang tubuhnya sekuat ruh, seringan ruh, dan secepat khayal — dapat berada dalam satu waktu di ratusan ribu tempat, bersohbet dengan ratusan ribu bidadari, dan mengambil kelezatan dalam ratusan ribu cara; itu layak bagi surga yang abadi itu, bagi rahmat yang tak terhingga itu, dan sebagaimana dikabarkan Sang Pembawa Kabar yang benar صلى الله عليه وسلم, itu haq dan hakikat. Bersama itu, hakikat-hakikat yang megah itu tidak dapat ditimbang dengan timbangan akal kita yang kecil ini.
Memahami hal-hal yang tinggi tidak dituntut dari akal yang kecil ini.
Karena timbangan ini tidak dapat memikul beban seberat itu.
سُبْحَانَكَ لاَ عِلْمَ لَنَٓا اِلاَّ مَا عَلَّمْتَنَٓا اِنَّكَ اَنْتَ الْعَل۪يمُ الْحَك۪يمُ
رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَٓا اِنْ نَس۪ينَٓا اَوْ اَخْطَاْنَا
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى حَب۪يبِكَ الَّذ۪ى فَتَحَ اَبْوَابَ الْجَنَّةِ بِحَب۪يبِيَّتِهِ وَ بِصَلاَتِهِ وَ اَيَّدَتْهُ اُمَّتُهُ عَلٰى فَتْحِهَا بِصَلَوَاتِهِمْ عَلَيْهِ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَ السَّلاَمُ اَللّٰهُمَّ اَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ اْلاَبْرَارِ بِشَفَاعَةِ حَب۪يبِكَ الْمُخْتَارِ اٰم۪ينَ
--
Zeyl Kecil bagi Kalimat Surga
Berkenaan dengan Neraka
Sebagaimana telah dibuktikan dalam Kelimat Kedua dan Kedelapan; iman membawa benih suatu surga maknawi.. dan kekufuran pun menyimpan benih suatu neraka maknawi. Sebagaimana kekufuran adalah benih neraka, demikian pula neraka adalah buahnya. Sebagaimana kekufuran menjadi sebab masuk ke neraka; demikian pula ia menjadi sebab bagi wujud dan penciptaan neraka. Sebab seandainya seorang hakim kecil memiliki kemuliaan kecil, kecemburuan kecil, dan keagungan kecil; lalu seorang tak beradab berkata dengan durhaka kepadanya: "Engkau tidak akan menghukumku dan tidak mampu menghukumku." Niscaya sekalipun di tempat itu belum ada penjara, ia akan membangun sebuah penjara khusus untuk si tak beradab itu, lalu mencampakkannya ke dalamnya. Padahal orang kafir, dengan mengingkari neraka, telah mendustakan dan menisbahkan kelemahan kepada suatu Zat yang memiliki kemuliaan, kecemburuan, dan keagungan tak terhingga, yang Mahaagung lagi Mahakuasa tak terhingga; ia menuduh-Nya dengan kedustaan dan kelemahan, ia menyentuh kemuliaan-Nya dengan keras, ia mengusik kecemburuan-Nya dengan dahsyat, ia mengganggu keagungan-Nya dengan durhaka. Maka sudah pasti — sekalipun secara pengandaian mustahil, tidak ada satu pun sebab bagi wujud neraka — untuk kekufuran yang mengandung pendustaan dan penisbahan kelemahan sedemikian rupa, sebuah neraka akan diciptakan, dan orang kafir itu akan dicampakkan ke dalamnya.
رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلاً سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
--