Bagian Pertama
Kelimat · hlm. 363
Perumpamaan bagi para budak dalam perumpamaan itu adalah para malaikat. Adapun malaikat, pada mereka tak ada kemajuan melalui perjuangan. Melainkan masing-masing memiliki suatu maqam yang tetap, suatu pangkat yang tertentu. Namun pada amal mereka sendiri terdapat suatu kelezatan khusus. Pada ibadah mereka sendiri terdapat limpahan menurut derajat mereka. Maka ganjaran para pelayan itu berada di dalam khidmah mereka. Sebagaimana manusia bergizi dan berlezat dengan air, udara, cahaya, dan makanan. Demikian pula malaikat bergizi dan berlezat dengan cahaya-cahaya zikir, tasbih, pujian, ibadah, makrifat, dan kecintaan. Sebab karena mereka tercipta dari cahaya, cahaya cukup bagi gizi mereka. Bahkan bau harum yang dekat dengan cahaya pun adalah semacam gizi bagi mereka yang mereka sukai. Ya, roh-roh yang baik menyukai bau-bau yang harum. Dan para malaikat, pada pekerjaan yang mereka kerjakan dengan perintah Sembahannya, pada amal yang mereka kerjakan atas perhitungan-Nya, pada khidmah yang mereka lakukan atas nama-Nya, pada pengawasan yang mereka lakukan dengan pandangan-Nya, pada kehormatan yang mereka peroleh dengan penautan kepada-Nya, pada rekreasi yang mereka peroleh dengan menelaah kerajaan dan malakut-Nya, dan pada kenikmatan yang mereka peroleh dengan menyaksikan tajalli keindahan dan keagungan-Nya, memiliki suatu kebahagiaan agung sedemikian rupa sehingga akal manusia tak memahaminya, dan yang bukan malaikat tak dapat mengetahuinya.
Sebagian malaikat adalah para ahli ibadah, sebagian lainnya ubudiyahnya pada amal. Bagian pekerja dari malaikat bumi adalah semacam manusia. Jika boleh diungkapkan, mereka melakukan semacam pengembalaan. Mereka juga melakukan semacam pertanian. Yakni muka bumi adalah suatu ladang umum. Seluruh golongan hewan di dalamnya diawasi oleh seorang malaikat yang ditugaskan, dengan perintah, izin, perhitungan, daya, dan kekuatan Sang Khâliq Dzul-Jalâl. Yang lebih kecil darinya, ada malaikat yang ditugaskan untuk melakukan semacam pengembalaan khusus bagi tiap-tiap jenis hewan. Dan pula muka bumi adalah suatu ladang, seluruh tumbuhan ditanam di dalamnya. Ada malaikat yang ditugaskan untuk mengawasi keseluruhannya atas nama dan dengan kekuatan Cenâb-ı Haq. Yang lebih rendah darinya, ada malaikat yang beribadah dan bertasbih kepada Cenâb-ı Haq dengan mengawasi suatu golongan khusus. Hazrat Mîkâîl Alaihissalâm, yang termasuk pemikul arasy rezeki, adalah pengawas terbesar mereka.
Malaikat yang bagaikan gembala dan petani itu tak memiliki keserupaan dengan manusia. Sebab pengawasan mereka murni atas perhitungan Cenâb-ı Haq, dan atas nama, kekuatan, serta perintah-Nya. Melainkan pengawasan mereka hanyalah: menyaksikan tajalli rububiyah pada jenis yang mereka tugaskan, menelaah manifestasi kudrat dan rahmat pada jenis itu, mengilhamkan semacam perintah Ilahi kepada jenis itu, dan menata semacam perbuatan ikhtiari jenis itu. Dan terutama pengawasan mereka atas tumbuhan di ladang bumi, hanyalah: mewakili tasbih maknawi tumbuhan dengan lisan malaikat, memaklumkan penghormatan maknawi yang dipersembahkan tumbuhan dengan kehidupannya kepada Sang Fâthir Dzul-Jalâl melalui lisan malaikat; serta menggunakan dengan sebaik-baiknya perangkat yang diberikan kepada tumbuhan, mengarahkannya kepada sebagian tujuan, dan menatanya. Khidmah para malaikat ini adalah semacam usaha dengan sebagian ikhtiar mereka. Melainkan ia adalah semacam ubudiyah dan ibadah. Mereka tak memiliki tasarruf hakiki. Sebab pada segala sesuatu ada suatu cap khusus milik Sang Pencipta Segala Sesuatu. Yang lain tak dapat mencampurkan jarinya ke dalam penciptaan. Maka amal para malaikat jenis ini adalah ibadah mereka. Ia bukan adat kebiasaan seperti manusia.