Risale-i NurKalimat Kedua Puluh Tiga

Poin Ketiga:

Kalimat Kedua Puluh Tiga · hlm. 5

Iman itu cahaya sekaligus kekuatan. Ya, orang yang meraih iman sejati bisa menantang alam semesta, dan — sesuai kekuatan imannya — bisa terlepas dari tekanan peristiwa-peristiwa. Ia berkata "Tevekkeltü alâllah (aku bertawakal kepada Allah جل جلاله)," lalu berlayar dengan ketenangan sempurna di dalam bahtera kehidupan, di tengah gelombang-gelombang peristiwa yang laksana gunung. Ia menitipkan seluruh bebannya ke tangan kekuasaan Al-Kadîr-i Mutlak (Sang Mahakuasa Mutlak), melintasi dunia dengan tenang, beristirahat di alam barzakh. Lalu, untuk masuk ke kebahagiaan abadi, ia bisa terbang ke surga. Tapi kalau ia tidak bertawakal, beban-beban dunia bukannya membuatnya terbang, melainkan menariknya ke serendah-rendah tempat. Artinya: iman menuntut tauhid, tauhid menuntut penyerahan (teslim), penyerahan menuntut tawakal, dan tawakal menuntut kebahagiaan dua negeri.

Tapi jangan salah paham. Tawakal bukanlah menolak sebab-sebab sama sekali. Melainkan: dengan mengetahui sebab-sebab sebagai tirai tangan kekuasaan lalu menjaganya; dengan menganggap usaha pada sebab-sebab sebagai semacam doa lewat perbuatan (dua-i fiilî); lalu meminta akibat-akibat hanya dari Allah جل جلاله Yang Mahaagung, mengetahui hasil-hasilnya datang dari-Nya, dan bersyukur kepada-Nya.

Perumpamaan orang yang bertawakal dan yang tidak, seperti kisah ini: Dahulu, dua orang lelaki memikul beban-beban berat di pinggang dan di kepala mereka, lalu membeli sebuah tiket dan naik ke sebuah kapal besar. Yang satu, begitu naik, langsung meletakkan bebannya di kapal, lalu duduk di atasnya sambil mengawasinya. Yang lain, karena ia bodoh sekaligus sombong, tidak mau meletakkan bebannya ke lantai. Dikatakan kepadanya: "Letakkanlah beban beratmu di kapal, lalu istirahatlah." Ia berkata: "Tidak, aku tidak akan meletakkannya. Bisa-bisa ia hilang. Aku ini kuat. Hartaku akan kujaga di pinggang dan di kepalaku." Dikatakan lagi kepadanya: "Kapal kerajaan yang aman ini — yang mengangkat kami dan kalian — lebih kuat. Ia menjaga jauh lebih baik. Bisa-bisa kepalamu pusing, lalu kamu jatuh ke laut bersama bebanmu. Dan kamu pun akan semakin kehabisan tenaga. Pinggangmu yang sudah bungkuk dan kepalamu yang tak berakal itu tidak akan sanggup menahan beban-beban yang semakin lama semakin berat ini. Dan kalau kapten melihatmu dalam keadaan begini, entah ia akan mengusirmu sambil berkata 'orang ini gila,' entah ia akan memerintahkan 'penjarakan dia,' sambil berkata 'orang ini pengkhianat, ia menuduh kapal kita, ia mengejek kita.' Dan kamu akan menjadi bahan tertawaan semua orang. Sebab, di mata orang yang jeli, dengan kesombonganmu yang justru memperlihatkan kelemahan, dengan keangkuhanmu yang justru memperlihatkan ketidakberdayaan, dan dengan kepura-puraanmu yang justru memperlihatkan riya dan kehinaan — kamu telah menjadikan dirimu bahan tawaan orang banyak. Semua orang menertawakanmu." Setelah dikatakan demikian, si malang itu pun sadar. Ia meletakkan bebannya ke lantai, lalu duduk di atasnya. Ia berkata: "Oh!.. Semoga Allah جل جلاله meridaimu. Aku terlepas dari susah-payah, dari penjara, dan dari jadi bahan tertawaan."

Nah, wahai manusia yang tak bertawakal! Kamu pun, seperti lelaki ini, sadarlah dan bertawakallah. Supaya kamu terlepas dari mengemis kepada seluruh alam semesta, dari menggigil di hadapan setiap peristiwa, dari memamerkan diri, dari jadi bahan tertawaan, dari kesengsaraan ukhrawi, dan dari penjara tekanan duniawi.