Poin Keempat:
Kalimat Kedua Puluh Tiga · hlm. 7
Iman menjadikan manusia sebagai manusia. Bahkan menjadikan manusia sebagai raja. Kalau begitu, tugas asli manusia adalah iman dan doa. Kekufuran menjadikan manusia sebagai seekor hewan buas yang amat tak berdaya. Dari ribuan dalil persoalan ini, perbedaan antara cara hewan dan manusia datang ke dunia saja sudah merupakan dalil yang jelas dan bukti yang pasti. Ya, bahwa kemanusiaan menjadi kemanusiaan justru lewat iman — itu diperlihatkan oleh perbedaan antara cara manusia dan hewan datang ke dunia. Sebab hewan, ketika datang ke dunia, datang — yakni dikirim — dalam keadaan sempurna sesuai kapasitasnya, seakan-akan ia telah disempurnakan di alam lain. Entah dalam dua jam, dua hari, atau dua bulan, ia mempelajari seluruh syarat kehidupannya, hubungannya dengan alam semesta, dan hukum-hukum hidupnya, lalu menjadi terampil. Kemampuan hidup dan keterampilan praktis yang diraih manusia dalam dua puluh tahun, diraih oleh seekor hewan seperti burung pipit dan lebah dalam dua puluh hari — yakni, hal itu diilhamkan kepadanya. Artinya, tugas asli hewan bukanlah menyempurnakan diri lewat belajar, bukan maju lewat memperoleh pengetahuan, dan bukan meminta pertolongan serta berdoa lewat memperlihatkan ketidakberdayaannya. Melainkan tugasnya adalah bekerja sesuai kapasitasnya, beramal, dan beribadah lewat perbuatan (ubudiyah amaliah).
Sedangkan manusia, ketika datang ke dunia, butuh mempelajari segala sesuatu dan tidak mengetahui hukum-hukum kehidupan; bahkan dalam dua puluh tahun pun ia belum sepenuhnya bisa mempelajari syarat-syarat hidup. Malah ia butuh terus belajar sampai akhir umurnya; dan ia dikirim ke dunia dalam keadaan yang amat tak berdaya lagi lemah, baru bisa berdiri sendiri setelah satu-dua tahun. Baru setelah lima belas tahun ia bisa membedakan bahaya dan manfaat. Dan baru dengan bantuan kehidupan bermasyarakat, ia bisa menarik manfaat untuk dirinya dan menjaga diri dari bahaya. Artinya, tugas fitri manusia adalah: menyempurnakan diri lewat belajar, dan beribadah lewat doa. Yakni: mengetahui — "Dengan rahmat siapa aku diatur sebijaksana ini? Dengan kemurahan siapa aku dididik sepenuh kasih ini? Dengan kelembutan siapa aku diberi makan dan diatur selembut ini?" — dan memohon kepada Sang Penunai Segala Kebutuhan (Kâdiyü'l-Hâcât) dengan lisan ketidakberdayaan dan kefakiran, untuk kebutuhan-kebutuhannya yang tangannya tidak sampai pada satu pun dari seribunya; lalu meminta dan berdoa. Yakni terbang ke kedudukan ibadah yang paling tinggi dengan kedua sayap ketidakberdayaan dan kefakiran.
Artinya, manusia datang ke alam ini untuk menyempurnakan diri lewat ilmu dan doa. Dari sisi hakikat dan kapasitas, segala sesuatu bergantung pada ilmu. Dan dasar, sumber, cahaya, serta ruh dari seluruh ilmu yang hakiki adalah makrifatullah (mengenal Allah جل جلاله); dan dasar paling dasar darinya adalah iman kepada Allah جل جلاله. Dan karena manusia — dengan ketidakberdayaannya yang tak terhingga — terpapar bencana yang tak terhingga, ditimpa serangan musuh yang tak terhitung, dan — bersama kefakirannya yang tak terhingga — terjerat kebutuhan yang tak terhingga serta membutuhkan tuntutan yang tak terhingga; maka tugas asli fitrinya, setelah iman, adalah "doa." Doa adalah dasar ibadah. Seperti halnya seorang anak, untuk meraih sebuah keinginan atau hasrat yang tangannya tidak sampai, ia entah menangis, entah meminta. Yakni ia berdoa dengan lisan ketidakberdayaan, baik lewat perbuatan maupun lewat ucapan. Lalu ia berhasil meraih maksudnya. Begitu pula: manusia, di tengah seluruh alam makhluk hidup, laksana seorang anak yang halus, lembut, lagi manja. Di hadapan pintu Ar-Rahman Ar-Rahîm, ia harus — entah menangis dengan kelemahan dan ketidakberdayaannya, entah berdoa dengan kefakiran dan kebutuhannya. Supaya tujuan-tujuannya tunduk kepadanya, atau supaya ia menunaikan syukur atas penundukan itu. Kalau tidak — seperti seorang anak bodoh lagi nakal yang menjerit-jerit gara-gara seekor lalat — lalu berkata "Aku, dengan kekuatanku, menundukkan hal-hal menakjubkan yang sebenarnya tak bisa ditundukkan dan yang seribu derajat lebih kuat daripada aku; dan dengan pikiran serta pengaturanku, aku membuat mereka taat kepadaku," lalu menyimpang ke kekufuran nikmat — maka itu, selain bertentangan dengan fitrah asli kemanusiaan, juga menjadikan dirinya pantas mendapat azab yang berat.