Risale-i NurAl-Kalimat

Sebuah Yıldızname (Kitab Bintang) yang membuat bintang-bintang berbicara

Al-Kalimat · hlm. 229

Dengarkanlah bintang-bintang, khutbah mereka yang manis ini; lihatlah apa yang telah dituturkan oleh surat hikmah yang bercahaya itu. Semuanya serentak mulai berbicara; dengan lisan kebenaran mereka berkata:

"Kamilah burhan-burhan yang menaburkan cahaya bagi kemegahan Kesultanan Sang Qadîr Dzul-Jalâl, bagi wujud Sang Shâni'; kamilah saksi-saksi atas kesatuan dan atas kudrat-Nya.

Bagaikan malaikat yang bertamasya menyaksikan mukjizat-mukjizat jelita yang menyepuh keemasan muka bumi ini, kamilah ribuan mata penyelidik langit ini, yang memandang ke bumi dan menatap cermat ke surga.

{(Hâsyiyah): Yakni: karena di muka bumi — persemaian dan ladang kecil bunga-bunga surga — dipamerkan mukjizat-mukjizat kudrat yang tak terhingga, maka sebagaimana para malaikat di alam langit menyaksikan mukjizat-mukjizat dan keajaiban-keajaiban itu, bintang-bintang — yang laksana mata benda-benda langit — pun, bagaikan para malaikat, setiap kali memandang ciptaan-ciptaan jelita di muka bumi, mereka memandang pula ke alam surga. Seakan-akan mereka menyaksikan keajaiban-keajaiban sementara itu dalam rupa yang kekal di surga; mereka memandang ke bumi sekaligus ke surga. Yakni, mereka mengawasi kedua alam itu.}

Kamilah buah-buah yang amat indah, yang digantungkan oleh tangan hikmah Sang Jamîl Dzul-Jalâl pada belahan langit dari pohon Tûbâ penciptaan, pada ranting-ranting kahkasyân (Bimasakti).

Bagi penghuni langit ini, kamilah masjid-masjid yang berpindah, rumah-rumah yang beredar, sarang-sarang yang luhur, pelita-pelita yang benderang, bahtera-bahtera yang perkasa, dan pesawat-pesawat terbang.

Kamilah mukjizat-mukjizat kudrat Sang Qadîr Dzul-Kamâl, Sang Hakîm Dzul-Jalâl; keajaiban-keajaiban ciptaan khâliqânah; kelangkaan-kelangkaan hikmah; keluarbiasaan-keluarbiasaan penciptaan; dan alam-alam cahaya.

Dengan seratus ribu lidah seperti ini kami perlihatkan seratus ribu burhan; kami perdengarkan kepada manusia yang benar-benar manusia. Mata si tak beragama yang celaka membuta itu tidak lagi melihat wajah kami, tidak pula mendengar perkataan kami; kamilah ayat-ayat yang menuturkan kebenaran.

Cap kami satu, tughra kami satu; kami tertundukkan kepada Rabb kami. Kami pembertasbih; kami berzikir sebagai hamba-hamba yang beribadah. Kamilah para majdzûb yang tergolong pada lingkaran kubrâ kahkasyân." — demikianlah kudengar dalam khayal apa yang mereka katakan