Risale-i NurAl-Kalimat

Lauhah Kedua

Al-Kalimat · hlm. 222

[Lauhah yang mengisyaratkan hakikat dunia ahli hidayah dan ahli hudhur.]

Ketika kelalaian menemui kesirnaan, kulihat cahaya Al-Haq nyata. Wujud menjadi burhan Dzât-Nya; hidup adalah cermin Al-Haq — lihatlah. Akal menjadi kunci khazanah; kefanaan adalah pintu kekekalan — lihatlah. Kilau kesempurnaan telah padam; tetapi ada matahari Keindahan — lihatlah. Kesirnaan menjadi pertemuan itu sendiri; derita adalah kelezatan itu sendiri — lihatlah. Umur menjadi amal itu sendiri; keabadian adalah umur itu sendiri — lihatlah. Kegelapan menjadi wadah cahaya; dalam kematian ini ada kehidupan yang haq — lihatlah. Segala sesuatu menjadi karib; segala suara adalah zikir — lihatlah. Seluruh zarah maujud — lihatlah masing-masing sebagai pezikir, pembertasbih. Kefakiran kudapati sebagai khazanah kekayaan; dalam ketidakberdayaan ada kekuatan penuh — lihatlah. Jika engkau telah menemukan Allah, segala sesuatu adalah milikmu — lihatlah. Jika engkau hamba milik Sang Mâlikul-Mulk, milik-Nya adalah milikmu — lihatlah. Namun jika engkau memandang dirimu sendiri dan menjadi pemilik nafsumu sendiri: itu bala tanpa bilangan — lihatlah; azab tanpa batas — rasakanlah; beban tanpa kesudahan — lihatlah. Jika engkau hamba sejati yang memandang Allah: itu kejernihan tanpa batas — lihatlah; ada pahala tanpa hitungan — rasakanlah; kebahagiaan tanpa penghabisan — lihatlah...

[Dua puluh lima tahun yang lalu, pada bulan Ramadhan setelah asar, aku membaca nazham Asmaul Husna karya Syaikh Geylanî (quddisa sirruh). Timbullah keinginan padaku untuk menulis sebuah munajat dengan Asmaul Husna. Namun saat itu hanya sebanyak inilah yang tertulis. Aku ingin membuat sebuah nazhirah (gubahan padanan) atas Munajat Asma yang penuh berkah dari ustazku yang suci itu. Sayang seribu sayang! Aku tidak berbakat dalam nazham; aku tak sanggup, dan ia tinggal tak rampung. Munajat ini pernah dilampirkan pada Risalah Jendela-Jendela (Pencereler Risalesi), yaitu Surat Ketiga Puluh Tiga dari Kalimat Ketiga Puluh Tiga; karena kesesuaian maqam, ia dipindahkan ke sini.]

هُوَ الْبَاق۪ى

حَك۪يمُ الْقَضَايَا نَحْنُ ف۪ى قَبْضِ حُكْمِه۪ ❊ هُوَ الْحَكَمُ الْعَدْلُ لَهُ اْلاَرْضُ وَ السَّمَٓاءُ عَل۪يمُ الْخَفَايَا وَ الْغُيُوبِ ف۪ى مُلْكِه۪ ❊ هُوَ الْقَادِرُ الْقَيُّومُ لَهُ الْعَرْشُ وَ الثَّرَٓاءُ لَط۪يفُ الْمَزَايَا وَ النُّقُوشِ ف۪ى صُنْعِه۪ ❊ هُوَ الْفَاطِرُ الْوَدُودُ لَهُ الْحُسْنُ وَ الْبَهَٓاءُ جَل۪يلُ الْمَرَايَا وَ الشُّؤُنِ ف۪ى خَلْقِه۪ ❊ هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ لَهُ الْعِزُّ وَ الْكِبْرِيَٓاءُ بَد۪يعُ الْبَرَايَا نَحْنُ مِنْ نَقْشِ صُنْعِه۪ ❊ هُوَ الدَّٓائِمُ الْبَاق۪ى لَهُ الْمُلْكُ وَ الْبَقَٓاءُ كَر۪يمُ الْعَطَايَا نَحْنُ مِنْ رَكْبِ ضَيْفِه۪ ❊ هُوَ الرَّزَّاقُ الْكَاف۪ى لَهُ الْحَمْدُ وَ الثَّنَٓاءُ جَم۪يلُ الْهَدَايَا نَحْنُ مِنْ نَسْجِ عِلْمِه۪ ❊ هُوَ الْخَالِقُ الْوَاف۪ى لَهُ الْجُودُ وَ الْعَطَٓاءُ سَم۪يعُ الشَّكَايَا وَ الدُّعَٓاءِ لِخَلْقِه۪ ❊ هُوَ الرَّاحِمُ الشَّاف۪ى لَهُ الشُّكْرُ وَ الثَّنَٓاءُ غَفُورُ الْخَطَايَا وَ الذُّنُوبِ لِعَبْدِه۪ ❊ هُوَ الْغَفَّارُ الرَّح۪يمُ لَهُ الْعَفْوُ وَ الرِّضَٓاءُ

Wahai nafsuku! Menangislah seperti kalbuku, berserulah, dan katakanlah: "Aku fana — yang fana tidak kuinginkan. Aku tak berdaya — yang tak berdaya tidak kuinginkan. Ruhku telah kuserahkan kepada Ar-Rahmân — selain Dia tidak kuinginkan. Aku menginginkan — tetapi yang kuinginkan adalah seorang kekasih yang kekal. Aku sebutir zarah — tetapi yang kuinginkan adalah matahari yang abadi. Aku kehampaan di dalam kehampaan — tetapi aku menginginkan segenap maujud ini."