Risale-i NurAl-Kalimat

Kalimat Kesembilan (Dokuzuncu Söz)

Al-Kalimat · hlm. 32

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِ

فَسُبْحَانَ اللّٰهِ ح۪ينَ تُمْسُونَ وَح۪ينَ تُصْبِحُونَ ❊ وَلَهُ الْحَمْدُ فِى السَّمٰوَاتِ وَاْلاَرْضِ وَعَشِيًّا وَح۪ينَ تُظْهِرُونَ

Wahai saudaraku! Engkau bertanya kepadaku tentang hikmah dikhususkannya salat pada lima waktu tertentu ini. . Dari sekian banyak hikmahnya, kami hanya akan mengisyaratkan satu saja. Ya, setiap waktu salat adalah pangkal sebuah peralihan yang penting, sekaligus cermin sebuah tasarruf Ilahi (pengelolaan dan penataan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى) yang agung, dan di dalam tasarruf itu ia menjadi pantulan karunia-karunia Ilahi yang menyeluruh. Karena itulah diperintahkan salat — yang berarti tasbih dan pengagungan yang lebih banyak kepada Kadîr-i Zülcelal (Yang Mahakuasa, Pemilik Keagungan) pada waktu-waktu itu, serta syukur dan puji atas keseluruhan nikmat-Nya yang tak berhingga, yang terkumpul di antara dua waktu. Untuk sedikit memahami makna yang halus lagi dalam ini, perlu kita dengarkan "lima nukte" (lima poin makna yang halus) bersama-sama diriku...

Nukte Pertama: Makna salat adalah tasbih, pengagungan, dan syukur kepada Cenab-ı Hak (Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى Yang Mahatinggi). Yakni: menyucikan-Nya di hadapan keagungan-Nya dengan ucapan dan perbuatan, seraya berkata "Subhânallâh". Mengagungkan-Nya di hadapan kesempurnaan-Nya dengan lisan dan amal, seraya berkata "Allâhu Akbar". Dan bersyukur di hadapan keindahan-Nya dengan kalbu, lisan, dan badan, seraya berkata "Alhamdulillâh". Artinya, tasbih, takbir, dan hamd berkedudukan sebagai benih-benih salat. Karena itulah ketiga hal ini ada di setiap sisi gerakan dan zikir salat. Dan karena itu pula, setelah salat, kalimat-kalimat penuh berkah ini diulang tiga puluh tiga kali untuk menegaskan dan menguatkan makna salat.

Nukte Kedua: Makna ibadah adalah: seorang hamba, di haribaan Ilahi, melihat kekurangan, ketidakberdayaan, dan kefakiran dirinya, lalu bersujud dengan takjub dan cinta di hadapan kesempurnaan rububiyah, kudrat Samadani (kekuasaan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى, Tempat Bergantung segala sesuatu), dan rahmat Ilahi. Yakni, sebagaimana kerajaan rububiyah menghendaki ubudiyah dan ketaatan; kesucian rububiyah pun menghendaki agar hamba melihat kekurangan dirinya, lalu dengan istigfar mengumumkan lewat tasbih — dengan "Subhânallâh" — bahwa Rabbnya suci lagi bersih dari segala kekurangan, mahatinggi lagi tersucikan dari pikiran-pikiran batil ahli kesesatan, dan mahakudus lagi terbebas dari segala cacat alam semesta. Dan kesempurnaan kudrat rububiyah pun menghendaki agar hamba, dengan melihat kelemahan dirinya dan ketidakberdayaan makhluk, di hadapan kebesaran jejak-jejak kudrat Samadani, dengan kekaguman dan takjub berkata "Allâhu Akbar", lalu pergi rukuk dengan rendah hati, berlindung dan bertawakal kepada-Nya. Dan khazanah rahmat rububiyah yang tak berhingga pun menghendaki agar hamba menyatakan kebutuhan dirinya dan kefakiran seluruh makhluk dengan lisan permintaan dan doa, lalu mengumumkan ihsan dan nikmat-nikmat Rabbnya dengan syukur dan pujian — dengan "Alhamdulillâh". Artinya, perbuatan dan ucapan salat mengandung makna-makna ini, dan semuanya ditetapkan dari sisi Ilahi untuk maksud-maksud ini.

Nukte Ketiga: Sebagaimana manusia adalah sebuah miniatur dari alam besar ini, dan Al-Fâtihah yang mulia adalah sebuah cermin bercahaya dari Al-Qur'an yang agung; salat pun adalah sebuah indeks bercahaya yang mencakup semua jenis ibadah, dan sebuah peta suci yang mengisyaratkan aneka warna ibadah dari semua golongan makhluk.

Nukte Keempat: Sebagaimana jarum-jarum sebuah jam yang menghitung detik, menit, jam, dan hari saling memandang satu sama lain, saling menjadi cermin, dan saling mengambil hukum satu sama lain; begitu pula: perputaran malam dan siang — yang berkedudukan sebagai detik dari alam dunia yang merupakan sebuah jam besar milik Cenab-ı Hak — dan tahun-tahun yang menghitung menit, dan tingkatan-tingkatan umur manusia yang menghitung jam, dan masa-masa umur alam yang menghitung hari; semuanya saling memandang, saling menjadi cermin, saling berkedudukan sebagai hukum satu sama lain, dan saling mengingatkan.

Misalnya: waktu fajar, sampai terbit matahari, menyerupai dan mengingatkan awal musim semi, saat manusia jatuh ke dalam rahim ibunya, dan hari pertama dari penciptaan langit dan bumi yang enam hari; ia mengingatkan keadaan-keadaan Ilahi pada masa-masa itu. Waktu zuhur menyerupai dan mengisyaratkan pertengahan musim panas, kesempurnaan masa muda, dan masa penciptaan manusia dalam umur dunia; ia mengingatkan tajalli rahmat dan limpahan nikmat pada masa-masa itu. Waktu asar menyerupai musim gugur, masa tua, dan masa bahagia Nabi akhir zaman ('alaihishshalâtu wassalâm); ia mengingatkan keadaan-keadaan Ilahi dan nikmat-nikmat Ar-Rahman pada masa-masa itu. Waktu magrib mengingatkan terbenamnya banyak makhluk di akhir musim gugur, wafatnya manusia, dan runtuhnya dunia pada awal kiamat; dengan itu ia menyampaikan tajalli keagungan (jalal) dan membangunkan manusia dari tidur kelalaian. Waktu isya mengumumkan tasarruf penuh keagungan dari Kahhâr-ı Zülcelal (Yang Mahaperkasa, Pemilik Keagungan): ia mengingatkan bagaimana alam kegelapan menutupi seluruh jejak alam siang dengan kain kafan hitamnya, bagaimana musim dingin menutupi wajah bumi yang telah mati dengan kain kafan putihnya, bagaimana sisa-sisa jejak manusia yang telah wafat pun ikut wafat dan masuk ke balik tirai keterlupaan, dan bagaimana dunia — tempat ujian ini — tertutup sama sekali. Waktu malam mengingatkan manusia betapa ruh manusia membutuhkan rahmat Ar-Rahman, dengan menyampaikan makna musim dingin, kubur, dan Alam Barzakh. Dan tahajud di malam hari memberitahukan serta membangunkan kesadaran betapa ia adalah cahaya yang begitu diperlukan di malam kubur dan kegelapan Barzakh; dan di tengah semua peralihan ini, ia mengumumkan betapa Cenab-ı Mün'im-i Hakikî (Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى Sang Pemberi nikmat yang sebenarnya) berhak menerima puji dan sanjungan, dengan mengingatkan nikmat-nikmat-Nya yang tak berhingga. Adapun subuh yang kedua, ia mengingatkan subuh kebangkitan (hasyr). Ya, sebagaimana subuh sesudah malam ini dan musim semi sesudah musim dingin ini begitu masuk akal, niscaya, lagi pasti; subuh kebangkitan dan musim semi Barzakh pun sepasti itu.

Artinya, setiap dari lima waktu ini berada di pangkal sebuah peralihan penting dan mengingatkan peralihan-peralihan besar; sebagaimana ia juga — dengan isyarat tasarruf-tasarruf harian kudrat Samadani yang agung — mengingatkan mukjizat-mukjizat kudrat dan hadiah-hadiah rahmat, baik yang tahunan, yang berkenaan dengan masa hidup manusia, maupun yang berkenaan dengan masa hidup alam. Artinya, salat fardu — yang merupakan tugas fitrah yang sejati, asas ubudiyah, dan utang yang pasti — layak dan paling serasi pada waktu-waktu ini.

Nukte Kelima: Manusia secara fitri amat lemah. Padahal segala sesuatu menyentuhnya, membuatnya terpengaruh dan menderita. Ia pun amat tak berdaya. Padahal bencana dan musuhnya sangat banyak. Ia pun amat fakir. Padahal kebutuhannya sangat banyak. Ia pun malas lagi tak berdaya. Padahal beban-beban kehidupan amat berat. Kemanusiaannya pun mengaitkannya dengan alam semesta. Padahal kelenyapan dan perpisahan dari hal-hal yang ia cintai dan akrabi terus-menerus menyakitinya. Akalnya pun memperlihatkan kepadanya maksud-maksud yang tinggi dan buah-buah yang kekal. Padahal tangannya pendek, umurnya pendek, kemampuannya pendek, kesabarannya pendek.

Nah, dalam keadaan seperti ini, sebuah ruh yang memohon dengan salat di waktu fajar ke haribaan Kadîr-i Zülcelal dan Rahîm-i Zülcemal (Yang Maha Penyayang, Pemilik Keindahan), menyampaikan keluh-kesah, dan meminta taufik serta pertolongan — betapa ini amat diperlukan; dan betapa ia menjadi sebuah titik sandaran yang diperlukan untuk memikul pekerjaan dan tugas yang akan menimpa kepalanya dan tertumpu di pundaknya di alam siang yang menantinya — hal ini dipahami dengan jelas.

Dan di waktu zuhur — yang merupakan kesempurnaan siang dan kecenderungannya untuk condong ke arah tergelincir, masa matangnya pekerjaan-pekerjaan harian, waktu istirahat sejenak dari tekanan kesibukan, saat ruh membutuhkan tarikan napas dari kelalaian dan pening yang ditimbulkan oleh pekerjaan-pekerjaan dunia yang fana lagi berat, dan saat nikmat-nikmat Ilahi tampak nyata. Ruh manusia, terlepas dari tekanan itu, terbebas dari kelalaian itu, keluar dari hal-hal yang tak bermakna lagi fana itu, lalu pergi ke haribaan Mün'im-i Hakikî Yang Mahategak lagi Mahakekal, mengatupkan tangan seraya bersyukur dan memuji atas keseluruhan nikmat-Nya, memohon pertolongan, menyatakan ketidakberdayaannya dengan rukuk di hadapan keagungan dan kebesaran-Nya, lalu bersujud di hadapan kesempurnaan-Nya yang tak lenyap dan keindahan-Nya yang tak bertara, seraya mengumumkan ketakjuban, cinta, dan peleburan dirinya. Betapa indah, betapa menyenangkan, betapa perlu lagi serasi salat zuhur ini; manusia yang tidak memahaminya, bukanlah manusia...

Di waktu asar — yang mengingatkan musim gugur yang sendu, keadaan masa tua yang muram, dan musim akhir zaman yang pedih; sekaligus masa berujungnya pekerjaan-pekerjaan harian; masa ketika kesehatan, keselamatan, dan pelayanan yang bermanfaat yang ia peroleh hari itu membentuk sebuah keseluruhan nikmat Ilahi yang besar; sekaligus — dengan isyarat matahari raksasa itu yang condong untuk terbenam — masa untuk mengumumkan bahwa manusia adalah seorang tamu yang bertugas dan segala sesuatu bersifat sementara lagi tak tetap. Nah,.ruh manusia yang menginginkan keabadian, yang diciptakan untuk keabadian, yang memuja ihsan. , dan yang menderita karena perpisahan — bangkit, mengambil wudu, lalu di waktu asar ini menyampaikan munajat ke haribaan Samadani dari Kadîm-i Bâki dan Kayyum-u Sermedî (Yang Mahaawal lagi Kekal, Yang Mahategak lagi Abadi) untuk menunaikan salat asar; berlindung pada limpahan rahmat-Nya yang tak lenyap lagi tak berhingga, bersyukur dan memuji atas nikmat-nikmat-Nya yang tak terhitung, pergi rukuk dengan rendah diri di hadapan keperkasaan rububiyah-Nya, bersujud dengan penuh peleburan di hadapan keabadian uluhiyah-Nya, lalu menemukan penghiburan kalbu yang sejati dan ketenteraman ruh, seraya berdiri dalam sikap ubudiyah yang sempurna di hadapan kebesaran-Nya. Betapa salat asar ini sebuah tugas yang tinggi, sebuah pelayanan yang serasi, sebuah penunaian utang fitrah yang tepat pada tempatnya — bahkan perolehan sebuah kebahagiaan yang amat menyenangkan; hal ini dipahami oleh orang yang benar-benar manusia.

Di waktu magrib — yang mengingatkan masa terbenamnya makhluk-makhluk musim panas dan musim gugur yang lembut lagi indah di dalam perpisahan yang sendu, seiring datangnya musim dingin. Sekaligus mengingatkan masa ketika manusia, dengan wafatnya, berpisah dari semua yang dicintainya dalam perpisahan yang pedih lalu masuk ke kubur. Sekaligus mengingatkan masa ketika dunia, dengan wafatnya di tengah gempa sekarat, seluruh penghuninya pindah ke alam-alam lain, dan lampu tempat ujian ini dipadamkan;.ia adalah masa yang dengan keras memperingatkan orang-orang yang memuja kekasih-kekasih yang terbenam dalam kelenyapan . Nah, untuk salat magrib, di waktu seperti ini, ruh manusia — yang secara fitri adalah cermin yang merindukan sebuah Keindahan Yang Kekal — memalingkan wajahnya ke arah singgasana keagungan Kadîm-i Lemyezel dan Bâki-i Lâyezal (Yang Mahaawal tanpa fana, Yang Mahakekal tanpa lenyap) yang mengerjakan pekerjaan-pekerjaan agung ini dan memutar serta mengganti alam-alam yang raksasa ini; ia berkata "Allâhu Akbar" di atas semua yang fana ini, menarik tangannya dari mereka, lalu mengatupkan tangan untuk berkhidmat kepada Sang Mawla, berdiri di hadapan Yang Mahakekal seraya berkata "Alhamdulillâh"; dengan itu ia memuji dan menyanjung kesempurnaan-Nya yang tanpa cacat, keindahan-Nya yang tak bertara, dan rahmat-Nya yang tak berhingga. Dengan mengucapkan اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَ اِيَّاكَ نَسْتَع۪ينُ ia menyatakan ubudiyah dan memohon pertolongan di hadapan rububiyah-Nya yang tak berpenolong, uluhiyah-Nya yang tak bersekutu, kerajaan-Nya yang tak berwazir. Lalu pergi rukuk di hadapan kebesaran-Nya yang tak berhingga, kudrat-Nya yang tak terbatas, dan keperkasaan-Nya yang tanpa kelemahan, seraya bersama seluruh alam semesta menyatakan kelemahan, ketidakberdayaan, kefakiran, dan kehinaan dirinya, lalu berkata سُبْحَانَ رَبِّىَ الْعَظ۪يمِ menyucikan Rabbnya Yang Mahaagung. Kemudian bersujud di hadapan keindahan Dzat-Nya yang tak lenyap, sifat-sifat suci-Nya yang tak berubah, dan kesempurnaan keabadian-Nya yang tak bertukar, seraya di dalam ketakjuban dan peleburan meninggalkan segala selain-Nya, mengumumkan cinta dan ubudiyahnya; lalu — sebagai ganti semua yang fana — menemukan sebuah Cemil-i Bâki (Yang Mahaindah lagi Kekal) dan Rahîm-i Sermedî (Yang Maha Penyayang lagi Abadi), lalu berkata سُبْحَانَ رَبِّىَ اْلاَعْلٰى menyucikan Rabbnya Yang Mahatinggi, yang tersucikan dari kelenyapan lagi terbebas dari cacat. Kemudian bertasyahud, duduk, lalu atas namanya sendiri menghadiahkan seluruh penghormatan penuh berkah dan salawat yang harum dari semua makhluk kepada Cemil-i Lemyezel dan Celil-i Lâyezal (Yang Mahaindah tanpa fana, Yang Mahaagung tanpa lenyap), lalu memberi salam kepada Rasul-Nya yang mulia; dengan itu ia memperbarui baiatnya, menyatakan ketaatannya pada perintah-perintah-Nya, dan untuk memperbarui serta mencerahkan imannya, ia menyaksikan keteraturan penuh hikmah istana alam semesta ini lalu bersaksi atas keesaan Sâni'-i Zülcelal (Sang Pencipta, Pemilik Keagungan); sekaligus bersaksi atas kerasulan Muhammad-i Arabî 'alaihishshalâtu wassalâm — sang penyeru kerajaan rububiyah, penyampai apa yang diridai-Nya, dan penerjemah ayat-ayat kitab alam semesta. Betapa salat magrib ini sebuah tugas yang halus lagi bersih, sebuah pelayanan yang mulia lagi lezat, sebuah ubudiyah yang menyenangkan lagi indah, sebuah hakikat yang sungguh-sungguh, sebuah perbincangan yang kekal dan kebahagiaan yang abadi di rumah tamu yang fana ini; orang yang tidak memahaminya, bagaimana bisa disebut manusia!

Di waktu isya — saat sisa-sisa jejak siang yang tertinggal di ufuk pun lenyap, dan alam malam menyelimuti semesta. Ia mengingatkan pekerjaan-pekerjaan Ilahi dari Kadîr-i Zülcelal yang bersifat مُقَلِّبُ الَّيْلِ وَ النَّهَارِ (Yang Membolak-balikkan malam dan siang), dalam tasarruf-Nya membalik lembar putih itu menjadi lembar hitam ini; dan pekerjaan-pekerjaan Ilahi dari Hakîm-i Zülkemal yang bersifat مُسَخِّرُ الشَّمْسِ وَ الْقَمَرِ (Yang Menundukkan matahari dan bulan), dalam membalik lembar hijau musim panas yang berhias menjadi lembar putih musim dingin yang beku. Sekaligus, dengan berlalunya waktu, ia mengingatkan keadaan-keadaan Ilahi dari Khalik kematian dan kehidupan, ketika sisa-sisa jejak ahli kubur pun terputus dari dunia ini lalu berpindah sama sekali ke alam lain. Sekaligus ia adalah masa yang mengingatkan tasarruf penuh keagungan dan tajalli penuh keindahan dari Khalik bumi dan langit, ketika dunia yang sempit, fana, lagi hina ini hancur sama sekali, wafat dengan sekarat yang dahsyat, lalu tersingkaplah alam akhirat yang luas, kekal, lagi agung. Sekaligus ia adalah keadaan yang membuktikan bahwa Pemilik dan Pengatur sejati alam semesta ini, Sembahan dan Kekasih sejatinya, hanyalah Dzat yang membalik malam dan siang, musim dingin dan musim panas, dunia dan akhirat, semudah membalik lembar-lembar sebuah buku — Dia menulis, menghapus, dan menggantinya; Dia adalah Yang Mahakuasa secara mutlak yang menghukumi semua ini.

Nah, ruh manusia — yang tak berdaya lagi lemah tanpa berhingga, fakir lagi membutuhkan tanpa berhingga, yang sedang tenggelam ke dalam kegelapan masa depan yang tak berhingga, dan terombang-ambing di tengah kejadian-kejadian yang tak berhingga — untuk menunaikan salat isya, di waktu isya yang bermakna seperti ini, ia berkata seperti Nabi Ibrahim: لَٓا اُحِبُّ اْلاٰفِل۪ينَ ("Aku tidak mencintai yang terbenam"), lalu berlindung dengan salat ke haribaan Mabud-u Lemyezel dan Mahbub-u Lâyezal (Sembahan tanpa fana, Kekasih tanpa lenyap). Di alam yang fana, dalam umur yang fana, di dunia yang gelap, dan di masa depan yang gelap, ia bermunajat dengan sebuah Bâki-i Sermedî (Yang Mahakekal lagi Abadi); di dalam sepotong kecil perbincangan yang kekal, di dalam beberapa menit umur yang kekal, ia melihat dan memohon limpahan rahmat serta cahaya hidayah dari Rahman-ı Rahîm — yang akan menaburkan cahaya ke dunianya, menerangi masa depannya, dan mengoleskan salep pada luka-luka yang lahir dari perpisahan serta kelenyapan makhluk dan para kekasihnya. Sekaligus dunia yang sejenak melupakannya dan bersembunyi darinya, ia pun melupakannya, lalu menumpahkan derita-deritanya di haribaan rahmat dengan tangisan kalbu. Sekaligus — untuk berjaga-jaga, siapa tahu — sebelum masuk ke dalam tidur yang menyerupai kematian, ia menunaikan tugas ubudiyah terakhirnya, menutup buku catatan amal hariannya dengan akhir yang baik, lalu berdiri untuk salat. Yakni: sebagai ganti semua yang fana yang dicintainya, ia menghadap sebuah Sembahan dan Kekasih Yang Kekal; sebagai ganti semua yang tak berdaya yang ia mintai, ia menghadap sebuah Kadîr-i Kerim (Yang Mahakuasa lagi Mahamulia); dan untuk terlepas dari kejahatan semua yang berbahaya yang membuatnya gemetar, ia menghadap seorang Hafîz-i Rahîm (Yang Maha Menjaga lagi Maha Penyayang). Sekaligus ia memulai dengan Al-Fâtihah — yakni, sebagai ganti memuji dan berterima kasih kepada makhluk-makhluk yang kurang lagi fakir, yang tak berguna dan tak pada tempatnya, ia memuji dan menyanjung Rabbul 'Âlamîn Yang Mahasempurna secara mutlak, Mahakaya secara mutlak, lagi Maha Penyayang lagi Mulia. Sekaligus ia naik ke seruan اِيَّاكَ نَعْبُدُ — yakni, bersama kekecilan, kehampaan, dan kesendiriannya, dengan penisbatannya kepada Mâlik-i Yevmiddin (Sang Penguasa Hari Pembalasan), Sultan azal dan abad, ia masuk ke kedudukan seorang tamu yang dimanja dan seorang bertugas yang penting di alam semesta ini; dengan mengucapkan اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَ اِيَّاكَ نَسْتَع۪ينُ ia mempersembahkan ibadah dan permohonan pertolongan atas nama semua makhluk, dari perhimpunan terbesar dan jamaah teragung alam semesta ini, kepada-Nya. Sekaligus dengan mengucapkan اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَق۪يمَ ia memohon petunjuk ke jalan lurus — jalan bercahaya yang menuju kebahagiaan abadi di tengah kegelapan masa depan. Sekaligus, dengan memikirkan kebesaran Zât-ı Zülcelal — yang bagi-Nya matahari-matahari yang kini tersembunyi seperti tumbuhan dan hewan yang telah tidur, dan bintang-bintang yang terjaga, masing-masing tunduk pada perintah-Nya seperti seorang prajurit, dan menjadi salah satu lampu serta pelayan-Nya di rumah tamu alam ini — ia berkata "Allâhu Akbar" lalu pergi rukuk. Sekaligus, dengan memikirkan sujud terbesar seluruh makhluk — yakni, sebagaimana makhluk yang telah tidur di malam ini, begitu pula aneka jenis makhluk di setiap tahun dan setiap masa, bahkan bumi, bahkan dunia, laksana pasukan yang teratur, bahkan laksana prajurit yang patuh, ketika dilepastugaskan dari tugas ubudiyah duniawinya dengan perintah كُنْ فَيَكُونُ ("Jadilah, maka jadilah ia"), yakni ketika dikirim ke alam gaib, dengan keteraturan yang sempurna berkata "Allâhu Akbar" di atas sajadah terbenamnya kelenyapan lalu bersujud; sekaligus sebagaimana mereka — dengan sebuah seruan penghidupan dan pembangkitan yang datang dari perintah كُنْ فَيَكُونُ — di musim semi kembali dibangkitkan, sebagian persis seperti asalnya, sebagian dengan yang serupa, lalu bangkit berdiri dalam sikap khidmat kepada Sang Mawla — manusia kecil ini pun, dengan meneladani mereka, di hadapan bârgâh (haribaan) Rahman-ı Zülkemal dan Rahîm-i Zülcemal, di dalam cinta yang bercampur takjub, peleburan yang bercampur kekekalan, dan kerendahan yang bercampur kemuliaan, berkata "Allâhu Akbar" lalu pergi bersujud — yakni naik ke sejenis mi'raj. Betapa salat isya ini menyenangkan, indah, manis, tinggi, mulia lagi lezat, masuk akal lagi serasi sebagai sebuah tugas, pelayanan, ubudiyah, dan hakikat yang sungguh-sungguh; tentu engkau telah memahaminya.

Artinya, lima waktu ini — karena masing-masing adalah isyarat sebuah peralihan agung, tanda pekerjaan-pekerjaan Rabbani yang raksasa, dan alamat nikmat-nikmat Ilahi yang menyeluruh — maka dikhususkannya salat fardu yang menjadi utang dan tanggungan pada waktu-waktu itu adalah puncak hikmah...

سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَٓا اِلَّا مَا عَلَّمْتَنَٓا اِنَّكَ اَنْتَ الْعَل۪يمُ الْحَك۪يمُ

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلٰى مَنْ اَرْسَلْتَهُ مُعَلِّمًا لِعِبَادِكَ لِيُعَلِّمَهُمْ كَيْفِيَّةَ مَعْرِفَتِكَ وَ الْعُبُودِيَّةَ لَكَ وَ مُعَرِّفًا لِكُنُوزِ اَسْمَٓائِكَ وَ تَرْجُمَانًا ِلاٰيَاتِ كِتَابِ كَٓائِنَاتِكَ وَ مِرْاٰتًا بِعُبُودِيَّتِه۪ لِجَمَالِ رُبُوبِيَّتِكَ وَ عَلٰٓى اٰلِه۪ وَ صَحْبِه۪ اَجْمَع۪ينَ وَ ارْحَمْنَا وَ ارْحَمِ الْمُؤْمِن۪ينَ وَ الْمُؤْمِنَاتِ اٰم۪ينَ بِرَحْمَتِكَ يَٓا اَرْحَمَ الرَّاحِم۪ينَ