Risale-i NurAl-Kalimat

Kalimat Kesebelas

Al-Kalimat · hlm. 119

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِ

وَالشَّمْسِ وَضُحٰيهَا ❊ وَالْقَمَرِ اِذَا تَلٰيهَا ❊ وَالنَّهَارِ اِذَا جَلّٰيهَا ❊ وَ الَّيْلِ اِذَا يَغْشٰيهَا ❊ وَ السَّمَٓاءِ وَمَا بَنٰيهَا ❊ وَ اْلاَرْضِ وَمَا طَحٰيهَا ❊ وَ نَفْسٍ وَمَا سَوّٰيهَا ❊ الخ

Wahai saudaraku! Jika engkau ingin memahami sedikit rahasia pelik hikmah alam, teka-teki penciptaan manusia, dan rumus-rumus hakikat shalat, pandanglah bersama nafsuku hikayat tamsil kecil ini:

Pada suatu masa ada seorang sultan; dari segi kekayaan, ia memiliki amat banyak khazanah. Di dalam khazanah-khazanah itu terdapat segala jenis permata, intan, dan zamrud. Ia pun memiliki simpanan-simpanan harta tersembunyi yang amat menakjubkan. Dari segi kesempurnaan, ia memiliki kemahiran amat banyak dalam seni-seni yang menakjubkan. Ia memiliki pengetahuan dan liputan atas bidang-bidang ilmu menakjubkan yang tak terhitung. Ia memiliki ilmu dan pengetahuan atas ilmu-ilmu indah-menawan yang tanpa batas. Menurut rahasia bahwa setiap pemilik keindahan dan kesempurnaan ingin melihat dan memperlihatkan keindahan dan kesempurnaannya; sultan yang mulia itu pun menghendaki membuka sebuah tempat pameran dan menyusun galeri-galeri di dalamnya; agar di hadapan pandangan manusia ia menampakkan dan memperlihatkan kemegahan kerajaannya, kilau kekayaannya, keajaiban-keajaiban seninya sendiri, dan keanehan-keanehan pengetahuannya sendiri. Agar ia menyaksikan keindahan dan kesempurnaan maknawinya dengan dua sisi:

Sisi pertama:

Ia melihatnya secara langsung dengan pandangannya sendiri yang mengenal kehalusan-kehalusan.

Sisi lainnya:

Ia memandang melalui pandangan orang lain.

Berdasarkan hikmah ini, ia mulai membangun sebuah istana yang amat besar, luas, dan megah. Ia membaginya secara mengagumkan menjadi lingkungan-lingkungan dan tempat-tempat tinggal; menghiasinya dengan beraneka permata dari khazanah-khazanahnya; memperindahnya dengan karya-karya terhalus dan terindah dari tangan seninya sendiri; menatanya dan merapikannya dengan kehalusan-kehalusan terdalam ilmu hikmahnya; melengkapinya dengan karya-karya penuh mukjizat dari ilmu-ilmunya; dan setelah menyempurnakannya, ia menggelar di istana itu hidangan-hidangan yang menghimpun jenis-jenis terlezat dari segala macam makanan dan nikmatnya. Ia menetapkan satu hidangan yang layak bagi setiap golongan. Ia menyiapkan sebuah jamuan umum yang sedemikian dermawan dan penuh cinta seni, hingga seakan-akan setiap hidangan terwujud dari karya seratus seni yang halus; ia menghamparkan nikmat-nikmat berharga yang tanpa batas. Kemudian ia mengundang penduduk dan rakyat dari segenap penjuru negerinya untuk menyaksikan, bertamasya, dan menghadiri jamuan itu. Kemudian, kepada seorang ajudan termulianya ia mengajarkan hikmah-hikmah istana dan makna-makna isinya, lalu menetapkannya sebagai ustaz dan pengenal. Agar ia memperkenalkan Pembuat istana kepada penduduk melalui isi istana; memberitahukan rumus-rumus ukiran-ukiran istana; mengajarkan isyarat-isyarat seni di dalamnya; menerangkan kepada orang-orang yang memasuki istana apakah permata-permata yang tergubah dan ukiran-ukiran yang berirama di dalamnya itu, dan dari sisi mana semuanya menunjukkan kesempurnaan dan keahlian pemilik istana; memberitahukan adab masuk dan tata cara menyaksikan; serta menerangkan tata cara penghormatan — sesuai dengan apa yang diridhainya — di hadapan sultan yang tak terlihat itu. Sang ustaz pengenal itu memiliki seorang pembantu di setiap lingkungan. Ia sendiri berdiri di tengah murid-muridnya di lingkungan terbesar, menyampaikan kepada seluruh penonton pengumuman berikut. Ia berkata:

"Wahai penduduk! Junjungan kita, raja istana ini, dengan menampakkan benda-benda ini dan dengan membangun istana ini, menghendaki memperkenalkan dirinya kepada kalian. Kalian pun kenalilah dia dan berusahalah mengenalnya dengan baik. Dengan perhiasan-perhiasan ini ia menghendaki menjadikan dirinya dicintai kalian. Kalian pun, dengan menghargai seninya dan mengagumi pekerjaan-pekerjaannya, jadikanlah diri kalian dicintainya. Dengan karunia-karunia yang kalian lihat ini, ia memperlihatkan kecintaannya kepada kalian. Kalian pun cintailah dia dengan ketaatan. Dengan penganugerahan dan pemuliaan yang tampak ini, ia memperlihatkan kasih sayang dan rahmatnya kepada kalian. Kalian pun hormatilah dia dengan syukur. Dengan jejak-jejak kesempurnaannya ini, ia menghendaki memperlihatkan keindahan maknawinya kepada kalian. Kalian pun perlihatkanlah kerinduan kalian untuk melihatnya dan meraih perhatiannya. Dengan meletakkan pada seluruh ciptaan dan perhiasan yang kalian lihat ini sebuah stempel yang khas, sebuah khâtam yang khusus, sebuah tughra yang tak dapat ditiru, ia menghendaki memperlihatkan kepada kalian bahwa segala sesuatu khas miliknya, adalah karya tangannya sendiri, dan bahwa ia esa dan tunggal, pemilik kemandirian dan ketunggalan. Kalian pun kenalilah dan terimalah dia sebagai yang esa dan tunggal, tiada tara, tiada banding, tiada padanan."

Ia pun mengatakan kepada para penonton perkataan-perkataan lain seperti ini, yang sesuai dengannya dan dengan maqam itu. Kemudian penduduk yang masuk terbagi menjadi dua golongan:

Golongan pertama:

Karena mereka mengenal diri, akal mereka waras, dan kalbu mereka pada tempatnya; ketika memandang keajaiban-keajaiban di dalam istana itu mereka berkata: "Ada perkara besar di sini." Mereka pun memahami bahwa: semuanya tidak percuma, bukan mainan biasa. Karena itu mereka menjadi penasaran. Sambil berpikir, "Gerangan apakah rahasia peliknya, apakah isinya?", tiba-tiba mereka mendengar pidato yang disampaikan sang ustaz pengenal itu. Mereka memahami bahwa kunci-kunci seluruh rahasia ada padanya. Mereka pergi menghadapnya dan berkata: "Assalâmu 'alaika yâ ayyuhal-ustâdz! Sungguh benar, istana semegah ini memerlukan seorang pengenal yang jujur dan cermat-teliti sepertimu. Apa pun yang diberitahukan junjungan kita kepadamu, berkenanlah memberitahukannya kepada kami." Sang ustaz pun menyampaikan kepada mereka pidato-pidato yang telah disebut tadi. Mereka mendengarkannya dengan baik, menerimanya dengan sungguh-sungguh, dan mengambil manfaat sepenuhnya. Mereka beramal di dalam lingkaran yang diridhai raja. Karena sikap dan keadaan mereka yang penuh adab itu berkenan di hati raja, ia mengundang mereka ke sebuah istana lain yang khusus, tinggi, dan tak terlukiskan, serta menganugerahkannya. Ia memuliakan mereka dengan cara yang layak bagi Raja Yang Jawwâd semacam itu, pantas bagi penduduk yang taat semacam itu, sesuai bagi tamu-tamu beradab semacam itu, dan patut bagi istana setinggi itu; ia membahagiakan mereka secara kekal.

Golongan kedua:

Karena akal mereka rusak dan kalbu mereka padam, ketika masuk ke istana mereka kalah oleh nafsu mereka dan tidak menoleh kepada apa pun selain makanan-makanan lezat; mereka menutup mata dari seluruh keindahan itu, dan menyumbat telinga dari bimbingan sang ustaz dan peringatan murid-muridnya. Mereka makan seperti hewan lalu tenggelam dalam tidur. Mereka meminum ramuan-ramuan yang bukan untuk diminum, melainkan disiapkan untuk keperluan-keperluan lain. Mereka mabuk, lalu berteriak-teriak dan membuat kekacauan; sangat mengganggu para tamu yang menyaksikan. Mereka berlaku kurang ajar terhadap aturan-aturan Sang Pembuat yang mulia. Maka tentara-tentara pemilik istana menangkap mereka dan mencampakkan mereka ke penjara yang layak bagi orang-orang sekurang ajar itu.

Wahai kawan yang mendengarkan hikayat ini bersamaku! Tentu engkau telah memahami bahwa: Sang Penguasa yang mulia itu membangun istana ini demi maksud-maksud yang telah disebut. Terwujudnya maksud-maksud itu bergantung pada dua hal:

Pertama:

Adanya ustaz yang kita lihat dan kita dengar pidatonya itu. Sebab jika ia tidak ada, seluruh maksud menjadi percuma. Sebab sebuah kitab yang tak terpahami, bila tanpa pengajar, hanyalah lembaran kertas tanpa makna.

Kedua:

Penduduk menerima dan mendengarkan perkataan ustaz itu. Berarti wujud sang ustaz adalah sebab pendorong wujud istana, dan didengarkannya oleh penduduk adalah sebab kekalnya istana. Maka dapat dikatakan: seandainya ustaz ini tidak ada, Raja Yang Mulia itu tidak akan membangun istana ini. Dapat pula dikatakan: ketika penduduk tidak mendengarkan pengajaran ustaz itu, tentu istana itu akan diganti dan diubah.

Wahai kawan! Hikayat selesai di sini. Jika engkau telah memahami rahasia tamsil ini, pandanglah, lihat pula wajah hakikatnya:

Istana itu adalah alam ini: atapnya adalah langit yang diterangi bintang-bintang yang tersenyum; lantainya adalah muka bumi yang dihiasi bunga-bunga beraneka warna dari timur ke barat. Raja itu adalah Sang Dzât Mahasuci, sultan azal dan abad, yang ditakdiskan dan ditasbihkan oleh tujuh lapis langit dan bumi beserta segala isinya dengan lisan masing-masing yang khas. Dia adalah Sang Malik Yang Qadîr yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, lalu bersemayam di 'Arasy rububiyah-Nya; yang memutar malam dan siang silih berganti laksana dua garis hitam dan putih, menuliskan ayat-ayat-Nya pada halaman alam; pemilik kemegahan dan kudrat yang matahari, bulan, dan bintang-bintang tunduk pada perintah-Nya. Tempat-tempat tinggal istana itu adalah delapan belas ribu alam ini, yang masing-masing dihias dan ditata dengan cara yang layak baginya. Seni-seni menakjubkan yang engkau lihat di istana itu adalah mukjizat-mukjizat kudrat Ilahi yang tampak di alam ini. Makanan-makanan yang engkau lihat di istana itu mengisyaratkan buah-buah menakjubkan rahmat Ilahi di alam ini — terlebih pada musim panas, terlebih di kebun-kebun Barla. Tungku dan dapur di sana adalah bumi yang di jantungnya terdapat api, beserta permukaan bumi. Permata-permata simpanan tersembunyi yang engkau lihat dalam tamsil adalah misal bagi manifestasi asma Ilahi yang kudus dalam hakikat ini. Ukiran-ukiran yang kita lihat dalam tamsil beserta rumus-rumusnya adalah ciptaan-ciptaan teratur yang menghiasi alam ini dan ukiran-ukiran berirama pena kudrat, yang menunjukkan asma Sang Qadîr Dzul-Jalâl. Sang ustaz itu adalah Junjungan kita Muhammad صلى الله عليه وسلم. Para pembantunya adalah para nabi 'alaihimussalâm; dan murid-muridnya adalah para wali dan ashfiyâ'. Para pelayan penguasa di istana itu mengisyaratkan para malaikat 'alaihimussalâm di alam ini. Para tamu yang diundang untuk menyaksikan dan menghadiri jamuan dalam tamsil itu adalah isyarat kepada jin dan manusia serta hewan-hewan — para pelayan manusia — di penginapan dunia ini. Adapun dua kelompok itu: yang pertama di sini adalah ahli iman, murid-murid Al-Qur'an Al-Hakîm, penafsir ayat-ayat kitab alam. Golongan yang lain adalah ahli kekufuran dan thughyân: golongan yang mengikuti nafsu dan setan, yang hanya mengenal kehidupan duniawi, yang seperti hewan — bahkan lebih rendah — tuli, bisu, lagi sesat (dhâllîn).

Kafilah pertama, yaitu orang-orang bahagia (su'adâ') dan orang-orang berbakti (abrâr), mendengarkan sang ustaz pemilik dua sayap itu. Ustaz itu adalah hamba: pada titik ubudiyah ia menyifati dan memperkenalkan Rabbnya, sehingga ia berkedudukan sebagai duta umatnya di hadirat Allah Yang Haq. Ia juga rasul: pada titik risalah ia menyampaikan hukum-hukum Rabbnya kepada jin dan manusia melalui Al-Qur'an.

Jamaah yang beruntung ini mendengarkan sang rasul dan memasang telinga kepada Al-Qur'an. Mereka melihat diri mereka menyandang tugas-tugas yang amat lembut di dalam banyak maqam yang tinggi, melalui "shalat" — daftar isi segala jenis ibadah. Ya, mereka melihat secara terperinci tugas-tugas dan maqam-maqam yang diisyaratkan shalat dengan aneka zikir dan gerakannya. Begini:

Pertama:

Memandang jejak-jejak ciptaan, dalam bentuk muamalah secara gaib, mereka melihat diri mereka pada maqam penyaksian keindahan-keindahan kerajaan rububiyah; maka mereka menunaikan tugas takbir dan tasbih, berkata "Allâhu Akbar".

Kedua:

Tampil pada maqam penyeru bagi karya-karya menawan dan jejak-jejak cemerlang yang merupakan manifestasi asma Ilahi yang kudus, mereka berkata "Subhânallâh, walhamdulillâh", menunaikan tugas taqdis dan tahmid.

Ketiga:

Pada maqam mencicipi dan memahami dengan indra lahir dan batin nikmat-nikmat yang tersimpan di khazanah-khazanah rahmat Ilahi, mereka mulai menunaikan tugas syukur dan sanjungan.

Keempat:

Pada maqam menimbang dan mengetahui — dengan neraca-neraca perangkat maknawi — permata-permata di simpanan-simpanan asma Ilahi, mereka mulai menunaikan tugas tanzih dan pujian.

Kelima:

Pada maqam menelaah surat-surat Rabbani yang dituliskan dengan pena kudrat di atas misthar (garis-panduan) takdir, mereka mulai menunaikan tugas tafakur dan kekaguman.

Keenam:

Dengan menyaksikan kehalusan-kehalusan lembut dan keindahan-keindahan jelita pada penciptaan benda-benda dan pada seni ciptaan-ciptaan, pada maqam tanzih mereka masuk ke dalam tugas mencintai dan merindukan Sang Fâthir Dzul-Jalâl, Sang Shâni' Dzul-Jamâl mereka.

Berarti, setelah memandang alam dan jejak-jejak ciptaan lalu menunaikan tugas-tugas tersebut pada maqam-maqam tersebut dengan muamalah ubudiyah secara gaib, mereka naik ke derajat memandang muamalah dan perbuatan-perbuatan Sang Shâni' Hakîm — dalam bentuk muamalah secara hadir: pertama-tama, menyambut perkenalan diri Sang Khâliq Dzul-Jalâl kepada makhluk berkesadaran melalui mukjizat-mukjizat seni-Nya, mereka menjawab dengan makrifat penuh ketakjuban, berkata: سُبْحَانَكَ مَا عَرَفْنَاكَ حَقَّ مَعْرِفَتِكَ — "Para pengenal-Mu adalah mukjizat-mukjizat pada seluruh ciptaan-Mu." Kemudian, menyambut tindakan Sang Rahmân menjadikan diri-Nya dicintai melalui buah-buah indah rahmat-Nya, mereka menjawab dengan cinta dan rindu, berkata: اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَع۪ينُ. Kemudian, menyambut Sang Mun'im Hakiki yang memperlihatkan belas dan kasih sayang-Nya melalui nikmat-nikmat-Nya yang manis, mereka menjawab dengan syukur dan hamd; mereka berkata: سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَ — "Bagaimana kami dapat menunaikan syukur yang menjadi hak-Mu? Engkau adalah Zat tersyukuri yang sedemikian layak menerima syukur, hingga lisan-lisan hal yang terang dari seluruh karunia-Mu yang terhampar di seluruh alam membacakan syukur dan sanjungan-Mu. Seluruh nikmat yang berjajar di pasar alam dan tertabur di muka bumi pun, dengan pengumuman-pengumumannya, memberitakan hamd dan pujian-Mu. Buah-buah rahmat dan nikmat yang tergubah dan berirama pun, dengan bersaksi atas jûd dan kemurahan-Mu, menunaikan syukur-Mu di hadapan pandangan para makhluk."

Kemudian, menyambut penampakan keindahan, keagungan, kesempurnaan, dan kebesaran-Nya di cermin-cermin para makhluk yang silih berganti di wajah alam ini, mereka berkata اَللّٰهُ اَكْبَرُ, lalu rukuk dengan ketidakberdayaan di dalam pengagungan, dan sujud dengan kecintaan dan ketakjuban di dalam peniadaan-diri — demikianlah mereka menjawab. Kemudian, menyambut Sang Ghaniyy Mutlak yang memperlihatkan limpahan kekayaan-Nya dan keluasan rahmat-Nya, mereka menjawab dengan menampakkan kefakiran dan kebutuhan mereka, dengan berdoa dan meminta, lalu berkata: وَاِيَّاكَ نَسْتَع۪ينُ

Kemudian, menyambut Sang Shâni' Dzul-Jalâl yang menyebarkan kehalusan-kehalusan, keajaiban-keajaiban, dan karya-karya langka seni-Nya di galeri-galeri pameran bagi para makhluk, mereka menjawab dengan berkata مَاشَٓاءَ اللّٰهُ seraya menghargai; berkata "Alangkah indah dibuatnya!" seraya mengagumi; berkata بَارَكَ اللّٰهُ seraya menyaksikan; berkata اٰمَنَّا seraya bersaksi; dan berkata حَىَّ عَلَى الْفَلاَحِ — "Marilah, lihatlah!" — dengan penuh takjub, seraya menjadikan semua orang saksi. Lagi pula, menyambut Sang Sultan Azal dan Abad yang memaklumkan kekuasaan rububiyah-Nya di segenap penjuru alam dan menampakkan wahdaniyah-Nya, mereka menjawab dengan tauhid dan pembenaran, dengan ketaatan dan ketundukan, berkata: سَمِعْنَا وَ اَطَعْنَا

Kemudian, menyambut penampakan uluhiyah Rabbul-'Âlamîn, mereka menjawab dengan ubudiyah — yang hakikatnya memaklumkan ketidakberdayaan mereka di dalam kelemahan dan kefakiran mereka di dalam kebutuhan — dan dengan "shalat", intisari ubudiyah. Dengan aneka tugas ubudiyah seperti ini, di dalam masjid besar yang disebut negeri dunia ini, mereka menunaikan kewajiban umur dan tugas kehidupan mereka, lalu mengambil rupa ahsani taqwîm. Mereka naik ke suatu martabat di atas seluruh makhluk: dengan keberkahan iman, diperlengkapi keamanan dan amanah, menjadi khalifah bumi yang tepercaya. Dan setelah medan uji coba dan bengkel ujian ini, Rabb mereka Yang Karîm mengundang mereka — sebagai ganjaran atas iman mereka — kepada kebahagiaan abadi, dan — sebagai upah atas keislaman mereka — ke Dârussalâm; Dia memuliakan mereka dan akan terus memuliakan mereka dengan cara sedemikian cemerlang: Dia menjadikan mereka memperoleh rahmat-Nya pada derajat yang tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar telinga, dan tidak pernah terlintas di kalbu manusia; dan Dia memberi mereka keabadian dan kekekalan. Sebab penonton yang merindu dan pemegang cermin yang mencintai sebuah keindahan yang abadi dan sarmadi, tentu akan tetap kekal dan pergi menuju keabadian. Demikianlah akibat para murid Al-Qur'an. Semoga Allah Yang Haq menjadikan kita termasuk golongan mereka, âmîn!

Adapun golongan yang lain, yaitu orang-orang durjana dan orang-orang jahat: ketika memasuki istana alam ini pada batas usia balig, mereka menyambut seluruh dalil wahdaniyah dengan kekufuran; menyambut seluruh nikmat dengan pengingkaran nikmat; menghina seluruh makhluk dengan tuduhan kafir bahwa semuanya tanpa nilai; dan menyambut seluruh tajalli asma Ilahi dengan penolakan dan pengingkaran — karena itu, dalam waktu singkat mereka melakukan kejahatan tanpa batas; mereka berhak menerima azab tanpa batas. Ya, modal umur dan perangkat kemanusiaan diberikan kepada manusia untuk tugas-tugas yang telah disebut itu.

Wahai nafsuku yang dungu dan wahai kawanku yang penuh hawa keinginan! Apakah kalian menyangka tugas hidup kalian hanyalah menjaga diri baik-baik dengan pendidikan peradaban dan — maaf — terbatas pada pelayanan perut dan kemaluan? Atau apakah kalian menyangka bahwa satu-satunya tujuan dari kelembutan-kelembutan halus dan perkara-perkara maknawi, anggota-anggota dan alat-alat yang peka, organ-organ dan perangkat yang teratur, serta indra-indra dan perasaan-perasaan yang gemar menyelidik — yang disisipkan ke dalam mesin kehidupan kalian — terbatas pada penggunaannya demi memuaskan nafsu yang nista dan hawa-hawa keinginan yang rendah dalam kehidupan fana ini? Hâsyâ wa kallâ! Melainkan penciptaan semua itu pada wujud kalian dan tujuan dimasukkannya ke dalam fitrah kalian adalah dua asas:

Pertama:

Terdiri dari: Allah, Sang Mun'im Hakiki, menjadikan kalian merasakan setiap jenis dari seluruh nikmat-Nya dan membuat kalian bersyukur. Kalian pun harus merasakannya, lalu bersyukur dan beribadah kepada-Nya.

Kedua:

Memberitahukan dan mencicipkan kepada kalian, melalui perangkat-perangkat itu, satu demi satu, bagian-bagian dari seluruh tajalli asma Ilahi yang kudus yang bertajali ke alam. Kalian pun, dengan mencicipinya, harus mengenal dan beriman.

Di atas dua asas inilah kesempurnaan-kesempurnaan insani tumbuh dan berkembang. Dengan inilah manusia menjadi manusia.

Pandanglah dengan rahasia tamsil berikut bahwa perangkat kemanusiaan tidak diberikan untuk memperoleh kehidupan duniawi seperti hewan:

Misalnya, seorang zat memberi salah satu pelayannya dua puluh keping emas, agar ia membeli untuk dirinya satu setel pakaian dari kain tertentu. Pelayan itu pergi, membeli satu setel pakaian sempurna dari kain yang terbaik, lalu mengenakannya.

Kemudian ia melihat: zat itu memberi pelayannya yang lain seribu keping emas, meletakkan di saku pelayan itu sehelai kertas bertuliskan beberapa hal, lalu mengirimnya berniaga. Sekarang, setiap orang yang berakal waras tahu bahwa modal itu bukan untuk membeli satu setel pakaian. Sebab pelayan pertama telah membeli satu setel pakaian dari kain terbaik dengan dua puluh keping emas; tentu seribu keping emas ini tidak dibelanjakan untuk satu setel pakaian. Seandainya pelayan kedua ini tidak membaca kertas yang diletakkan di sakunya, melainkan memandang pelayan pertama, lalu menyerahkan seluruh uang itu kepada seorang pemilik kedai demi satu setel pakaian — dan mendapatkan pakaian dari kain yang paling buruk, lima puluh derajat lebih rendah daripada pakaian kawannya — tentu pelayan itu, karena telah berbuat kedunguan pada derajat tertinggi, akan disiksa dengan keras dan dididik dengan murka.

Wahai nafsuku dan wahai kawanku! Kumpulkanlah akal kalian ke kepala kalian. Janganlah membelanjakan modal umur dan istidad hidup kalian — seperti hewan, bahkan lebih rendah dari hewan — untuk kehidupan fana dan kelezatan materi ini. Jika tidak, meski dari segi modal kalian lima puluh derajat lebih tinggi dari hewan tertinggi, kalian akan jatuh lima puluh derajat lebih rendah dari yang terendahnya.

Wahai nafsuku yang lalai! Jika engkau ingin memahami sekadarnya tujuan hidupmu dan hakikat hidupmu, juga bentuk hidupmu, juga rahasia sejati hidupmu, juga kesempurnaan kebahagiaan hidupmu, pandanglah:

Ringkasan tujuan-tujuan hidupmu adalah sembilan perkara:

Pertama:

Menimbang, dengan neraca-neraca indra yang diletakkan pada wujudmu, nikmat-nikmat yang tersimpan di khazanah-khazanah rahmat Ilahi — dan bersyukur secara menyeluruh.

Kedua:

Membuka simpanan-simpanan tersembunyi asma Ilahi yang kudus dengan kunci-kunci perangkat yang diletakkan pada fitrahmu — dan mengenal Sang Dzât Aqdas dengan asma itu.

Ketiga:

Di galeri pameran dunia ini, di hadapan pandangan para makhluk, memamerkan dan menampakkan dengan hidupmu — secara sadar — seni-seni menakjubkan dan manifestasi-manifestasi lembut yang disematkan asma Ilahi kepadamu.

Keempat:

Memaklumkan ubudiyahmu ke hadirat rububiyah Khâliqmu dengan lisan hal dan lisan ucapanmu.

Kelima:

Sebagaimana seorang tentara mengenakan berbagai bintang jasa yang diterimanya dari rajanya pada waktu-waktu resmi, lalu tampil di hadapan pandangan raja untuk memperlihatkan jejak-jejak perhatian sang raja kepadanya; engkau pun — secara sadar — berhias dengan permata-permata kelembutan insani yang diberikan manifestasi asma Ilahi kepadamu, lalu tampil di hadapan pandangan penyaksian dan persaksian Sang Syâhid Azali.

Keenam:

Menyaksikan secara sadar penghormatan para makhluk hidup kepada Khâliq mereka — yang disebut penampakan-penampakan kehidupan; dan tasbih mereka kepada Shâni' mereka — yang disebut rumus-rumus kehidupan; dan persembahan ubudiyah mereka kepada Wâhibul-Hayât (Pemberi Kehidupan) — yang disebut buah dan tujuan kehidupan; melihatnya dengan tafakur dan memperlihatkannya dengan kesaksian.

Ketujuh:

Menjadikan contoh-contoh kecil dari sifat dan keadaan yang diberikan kepada hidupmu — seperti ilmu, kudrat, dan iradah yang juz'i — sebagai satuan ukur pembanding, lalu mengetahui dengan ukuran-ukuran itu sifat-sifat mutlak dan urusan-urusan kudus Sang Khâliq Dzul-Jalâl. Misalnya: karena engkau membangun rumah ini secara teratur dengan kemampuan juz'imu, ilmu juz'imu, dan iradahmu yang juz'i; maka sebesar apa istana alam ini melebihi rumahmu, sebesar itu pula engkau wajib mengenal Sang Pembangun alam ini sebagai Qadîr, 'Alîm, Hakîm, Mudabbir.

Kedelapan:

Memahami kata-kata maknawi setiap makhluk di alam ini — dengan bahasa masing-masing yang khas — mengenai wahdaniyah Khâliqnya dan rububiyah Shâni'-nya.

Kesembilan:

Memahami derajat-derajat tajalli kudrat Ilahi dan kekayaan Rabbani dengan ukuran ketidakberdayaan dan kelemahanmu, kefakiran dan kebutuhanmu. Sebagaimana kelezatan makanan, derajat-derajatnya, dan ragamnya dipahami menurut derajat-derajat lapar dan menurut kadar jenis-jenis kebutuhan. Seperti itu pula engkau harus memahami derajat-derajat kudrat dan kekayaan Ilahi yang tanpa batas dengan ketidakberdayaanmu dan kefakiranmu yang tanpa batas. Maka tujuan-tujuan hidupmu, secara ringkas, adalah perkara-perkara seperti ini.

Sekarang pandanglah hakikat hidupmu sendiri; ringkasan hakikatnya ialah: daftar isi keajaiban-keajaiban yang berkaitan dengan asma Ilahi; ukuran bagi urusan-urusan dan sifat-sifat Ilahi; timbangan bagi alam-alam di dalam alam raya; daftar alam besar ini; peta alam ini; ringkasan kitab terbesar ini; segenggam kunci yang akan membuka simpanan-simpanan kudrat yang tersembunyi; dan ahsani taqwîm bagi kesempurnaan-kesempurnaan yang tertabur pada para makhluk dan tergantung pada waktu-waktu. Hakikat hidupmu adalah perkara-perkara seperti ini.

Sekarang, bentuk hidupmu dan corak tugasnya ialah: hidupmu adalah sebuah kata yang tertulis. Sebuah perkataan penuh hikmah yang dituliskan dengan pena kudrat. Terlihat dan terdengar, ia menunjukkan Asmaul Husna. Bentuk hidupmu adalah perkara-perkara seperti ini.

Sekarang, rahasia sejati hidupmu ialah: menjadi cermin bagi tajalli Ahadiyah dan manifestasi Shamadiyah. Yakni: dengan suatu kemenghimpunan laksana titik fokus asma yang bertajali ke seluruh alam, menjadi cermin bagi Sang Dzât Ahad Shamad.

Sekarang, kesempurnaan hidupmu di dalam kebahagiaan ialah: merasakan dan mencintai cahaya-cahaya Sang Syams Azali yang terpantul di cermin hidupmu. Memperlihatkan kerinduan kepada-Nya sebagai makhluk berkesadaran. Lupa diri dalam kecintaan kepada-Nya. Menempatkan pantulan cahaya-Nya di pupil mata kalbu. Dari rahasia inilah dikatakan makna mulia sebuah hadis kudsi yang mengangkatmu ke a'lâ 'illiyyîn:

مَنْ نَه گُنْجَمْ دَرْ سَمٰوَات و زَم۪ينْ ❊ اَزْ عَجَبْ گُنْجَمْ بَقَلْبِ مُؤْمِن۪ينْ

Maka wahai nafsuku! Padahal hidupmu menghadap kepada tujuan-tujuan seluhur itu dan menghimpun khazanah-khazanah seberharga itu, layakkah bagi akal dan rasa keadilan bahwa engkau membelanjakannya untuk kesenangan-kesenangan nafsu sementara yang merupakan ketiadaan di dalam ketiadaan, untuk kelezatan-kelezatan duniawi yang sepintas — lalu menyia-nyiakannya! Jika engkau tidak ingin menyia-nyiakannya, renungkanlah sumpah dan jawaban sumpah dalam surah yang mengisyaratkan tamsil dan hakikat yang telah lalu:

وَالشَّمْسِ وَضُحٰيهَا ❊ وَالْقَمَرِ اِذَا تَلٰيهَا ❊ وَالنَّهَارِ اِذَا جَلّٰيهَا ❊ وَ الَّيْلِ اِذَا يَغْشٰيهَا ❊ وَ السَّمَٓاءِ وَمَا بَنٰيهَا ❊ وَ اْلاَرْضِ وَمَا طَحٰيهَا ❊ وَ نَفْسٍ وَمَا سَوّٰيهَا ❊ فَاَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَ تَقْوٰيهَا ❊ قَدْ اَفْلَحَ مَنْ زَكّٰيهَا ❊ وَ قَدْ خَابَ مَنْ دَسّٰيهَا ❊

— lalu beramallah.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلٰى شَمْسِ سَمَٓاءِ الرِّسَالَةِ وَ قَمَرِ بُرْجِ النُّبُوَّةِ وَ عَلٰٓى اٰلِه۪ وَ اَصْحَابِه۪ نُجُومِ الْهِدَايَةِ وَ ارْحَمْنَا وَ ارْحَمِ الْمُؤْمِن۪ينَ وَ الْمُؤْمِنَاتِ اٰم۪ينَ اٰم۪ينَ اٰم۪ينَ