Risale-i NurAl-Kalimat

Bagian Kelima Zail

Al-Kalimat · hlm. 118

Ya, sebagaimana dengan nash hadis: seratus dua puluh empat ribu nabi — pribadi-pribadi paling istimewa dari jenis manusia — dengan ijma' dan tawâtur, bersandar sebagian pada penyaksian dan sebagian pada haqqul-yaqîn, secara sepakat mengabarkan wujud akhirat, digiringnya manusia ke sana, dan bahwa Khâliq alam ini pasti akan mendatangkan akhirat yang telah dijanjikan-Nya secara pasti; dan sebagaimana seratus dua puluh empat juta wali — yang membenarkan kabar para nabi itu dengan kasyf dan penyaksian dalam bentuk 'ilmul-yaqîn — bersaksi atas wujud akhirat itu; dan sebagaimana seluruh asma Sang Shâni' Hakîm alam ini, dengan manifestasi-manifestasi yang diperlihatkannya di dunia ini, secara terang-benderang meniscayakan sebuah alam yang kekal, sehingga kembali menunjukkan wujud akhirat; dan sebagaimana sebuah kudrat azali tanpa batas serta sebuah hikmah abadi yang tanpa hitung dan tanpa boros — yang setiap tahun pada musim semi menghidupkan dengan perintah kun fayakûn jenazah-jenazah pohon mati yang tak terhitung dan tak terhingga yang berdiri di muka bumi, menjadikannya memperoleh ba'ts ba'dal-maut, dan menghimpun serta menyebarkan tiga ratus ribu jenis dari golongan-golongan tumbuhan dan bangsa-bangsa hewan sebagai ratusan ribu contoh kebangkitan dan penyebaran — dan sebuah rahmat yang kekal serta inayah yang tetap — yang memberi makan dengan kasih sayang sempurna dan cara amat menakjubkan seluruh pemilik ruh yang membutuhkan rezeki, dan yang pada setiap musim semi, dalam waktu singkat, memperlihatkan jenis-jenis perhiasan dan keindahan tanpa hitung dan tanpa batas — secara terang-benderang mengharuskan wujud akhirat; dan sebagaimana "cinta kekekalan", "kerinduan keabadian", dan "angan-angan kesarmadian" yang kuat, tak tergoyahkan, dan kekal pada manusia — buah paling sempurna dari alam ini, ciptaan yang paling dicintai Khâliq alam, dan yang paling erat berhubungan dengan para makhluk alam — dengan isyarat dan penunjukannya yang terang-benderang: semuanya membuktikan dengan sedemikian pasti adanya sebuah alam kekal setelah alam fana ini, sebuah negeri akhirat, dan sebuah negeri kebahagiaan; hingga mengharuskan penerimaan wujud akhirat sepasti wujud dunia.

{(Hasyiyah): Ya, mudahnya mengabarkan suatu perkara yang bersifat menetapkan (subûti), dan sangat sulitnya mengingkari dan menafikannya, tampak dari tamsil ini. Yaitu: seseorang berkata: di atas bola bumi ada sebuah kebun amat menakjubkan yang buah-buahnya adalah susu kalengan. Yang lain berkata: tidak ada. Yang menetapkan, cukup dengan menunjukkan tempatnya atau sebagian buahnya, dengan mudah membuktikan dakwaannya. Sedangkan yang mengingkari, untuk membuktikan penafiannya, hanya dapat membuktikan dakwaannya dengan melihat dan memperlihatkan seluruh bola bumi. Persis seperti itu pula: terlepas dari ratusan ribu rembesan, buah, dan jejak yang diperlihatkan para pengabar Surga — padahal kesaksian dua saksi jujur atas ketetapannya sudah cukup — orang yang mengingkarinya hanya dapat membuktikan pengingkarannya dan memperlihatkan ketiadaannya setelah menyaksikan dan melihat alam yang tanpa batas dan zaman abadi yang tanpa batas, lalu mengayaknya. Maka wahai saudara-saudara yang telah lanjut usia, pahamilah betapa kuatnya iman kepada akhirat. Said Nursî}

Madem pelajaran terpenting yang diberikan Al-Qur'an Al-Hakîm kepada kita adalah iman kepada akhirat; dan iman itu sedemikian kuat; dan di dalam iman itu terdapat harapan dan penghiburan sedemikian rupa, hingga seandainya seratus ribu ketuaan menimpa satu orang, penghiburan yang datang dari iman ini sanggup menghadapinya. Maka kita para orang tua hendaknya berkata "Alhamdulillâhi 'alâ kamâlil-îmân" dan bergembira atas ketuaan kita.