Hakikat Ketiga:
Al-Kalimat · hlm. 60
Pintu hikmah dan keadilan; ia adalah manifestasi nama "Hakîm" dan "'Âdil".
Mungkinkah sama sekali: {(Hasyiyah): Ya, kalimat "Mungkinkah sama sekali" ini banyak diulang. Sebab ia mengungkapkan sebuah rahasia penting. Yaitu: kebanyakan kekufuran dan kesesatan bersumber dari istib'âd. Yakni: orang memandang sesuatu jauh dari akal dan mustahil, lalu mengingkarinya. Maka dalam Kalimat tentang Kebangkitan ini telah ditunjukkan secara pasti bahwa: istib'âd yang hakiki, kemustahilan yang hakiki, kejauhan dari akal, dan kesulitan yang hakiki — bahkan kepelikan pada derajat kemustahilan total (imtinâ') — berada di jalan kekufuran dan di jalur kesesatan.. sedangkan kemungkinan yang hakiki dan kemasukakalan yang hakiki — bahkan kemudahan pada derajat keniscayaan (wujûb) — berada di jalan iman dan di jalan raya Islam. Walhasil, ahli filsafat menuju pengingkaran dengan istib'âd. Kalimat Kesepuluh, dengan ungkapan itu, menunjukkan di pihak mana istib'âd berada. Ia menampar mulut mereka.} Sang Dzât Dzul-Jalâl — yang memperlihatkan kekuasaan rububiyah-Nya dengan hikmah dan keteraturan serta keadilan dan timbangan yang berlaku dari zarah-zarah hingga matahari-matahari — tidak memuliakan kaum mukmin yang berlindung di bawah sayap perlindungan rububiyah itu dan yang menyelaraskan gerak mereka dengan hikmah dan keadilan itu melalui iman dan ubudiyah; dan tidak mendidik orang-orang tak beradab yang mendurhakai hikmah dan keadilan itu dengan kekufuran dan thughyân (pelampauan-batas)? Padahal di dunia yang sementara ini, tidak dilaksanakan pada manusia satu dari seribu perkara yang layak bagi hikmah dan keadilan itu; semuanya ditangguhkan. Kebanyakan ahli kesesatan berpindah pergi dari sini tanpa menerima hukuman; kebanyakan ahli hidayah pun tanpa menerima ganjaran. Berarti perkara itu ditangguhkan kepada sebuah Mahkamah Kubrâ dan sebuah kebahagiaan yang teragung.
Ya, tampak bahwa: zat yang mengatur alam ini bekerja dengan hikmah yang tiada terhingga. Engkau menghendaki burhan atasnya? Yaitu dipeliharanya maslahat dan manfaat pada segala sesuatu. Tidakkah engkau melihat: diperhatikannya manfaat-manfaat dan hikmah-hikmah pada seluruh anggota tubuh manusia, pada tulang-tulang dan pembuluh-pembuluh darah, bahkan pada sel-sel badan, pada setiap tempat dan setiap bagiannya — bahkan disematkannya pada sebagian anggota tubuh hikmah dan manfaat sebanyak buah-buah yang dimiliki sebatang pohon — menunjukkan bahwa: semuanya dikerjakan oleh tangan sebuah hikmah yang tiada terhingga.
Adanya keteraturan pada derajat tertinggi dalam seni segala sesuatu pun menunjukkan bahwa semuanya dikerjakan dengan hikmah yang tiada terhingga. Ya, menyisipkan program yang cermat dari sebuah bunga yang indah ke dalam benihnya yang kecil mungil; menuliskan lembar amal sebatang pohon yang besar, riwayat hidupnya, dan daftar perangkatnya di dalam sebutir biji yang kecil mungil dengan pena takdir yang maknawi — menunjukkan bahwa sebuah pena hikmah yang tiada terhingga tengah bekerja.
Adanya keelokan seni pada derajat tertinggi dalam penciptaan segala sesuatu pun menunjukkan bahwa semuanya adalah ukiran seorang Shâni' yang hakîm pada derajat tertinggi. Ya, menyisipkan ke dalam badan manusia yang kecil mungil ini daftar isi seluruh alam, kunci-kunci seluruh khazanah rahmat, dan cermin-cermin seluruh asma-Nya — memperlihatkan sebuah hikmah di dalam keelokan seni pada derajat tertinggi. Sekarang, mungkinkah sama sekali sebuah hikmah yang berkuasa dalam pelaksanaan rububiyah semacam ini tidak menghendaki pemuliaan orang-orang yang berlindung di bawah sayap rububiyah itu dan yang taat dengan iman — dan tidak memuliakan mereka secara abadi?
Engkau menghendaki burhan pula bahwa semuanya dikerjakan dengan keadilan dan timbangan? Memberi wujud kepada segala sesuatu dengan timbangan-timbangan yang peka dan ukuran-ukuran yang khusus, mengenakan bentuk kepadanya, dan meletakkannya tepat pada tempatnya — menunjukkan bahwa semuanya dikerjakan dengan keadilan dan timbangan yang tiada terhingga.
Memberikan pula kepada setiap pemilik hak akan haknya sesuai kadar istidadnya — yakni memberikan seluruh keperluan wujudnya dan seluruh perangkat kekekalannya dengan cara yang paling sesuai — memperlihatkan tangan sebuah keadilan yang tiada terhingga.
Menjawab pula secara terus-menerus segala sesuatu yang ditanyakan dan diminta dengan lisan istidad, dengan lisan kebutuhan fitri, dan dengan lisan keterdesakan — memperlihatkan sebuah keadilan dan hikmah pada derajat tertinggi.
Sekarang, mungkinkah sama sekali sebuah keadilan dan hikmah yang bersegera menolong kebutuhan terkecil dari makhluk terkecil semacam ini membiarkan terabaikan kebutuhan terbesar — seperti kekekalan — dari makhluk terbesar seperti manusia? Membiarkan tanpa jawaban permohonan pertolongannya yang terbesar dan pertanyaannya yang terbesar? Tidak memelihara keagungan rububiyah dengan memelihara hak-hak hamba-hamba-Nya? Padahal manusia yang menjalani hidup singkat di dunia fana ini tidak mungkin dan memang tidak menjadi tempat penampakan hakikat keadilan semacam itu. Melainkan perkara itu ditangguhkan kepada sebuah Mahkamah Kubrâ. Karena keadilan hakiki menghendaki: manusia yang kecil mungil ini menerima ganjaran dan hukuman bukan menurut kadar kekecilannya, melainkan menurut kadar besarnya kejahatannya, pentingnya hakikat-dirinya, dan agungnya tugasnya. Madem dunia yang fana dan sepintas lalu ini amat jauh dari menjadi tempat penampakan keadilan dan hikmah semacam itu berkenaan dengan manusia yang diciptakan untuk keabadian. Tentulah Sang Dzât Jalîl Dzul-Jamâl Yang 'Âdil itu dan Sang Dzât Jamîl Dzul-Jalâl Yang Hakîm itu akan memiliki sebuah Jahannam yang kekal dan sebuah Surga yang abadi.