Hakikat Keempat:
Al-Kalimat · hlm. 62
Pintu jûd (kemurahan-melimpah) dan keindahan. Ia adalah manifestasi nama "Jawwâd" dan "Jamîl".
Mungkinkah sama sekali: jûd dan kedermawanan yang tiada terhingga, kekayaan yang tak terkuras, khazanah-khazanah yang tak kunjung habis, keindahan sarmadi yang tiada tara, dan kesempurnaan abadi yang tanpa cacat — tidak menghendaki orang-orang bersyukur yang membutuhkan, para pemegang cermin yang penuh rindu, dan para penonton yang penuh takjub, yang akan berada secara kekal di dalam sebuah negeri kebahagiaan dan tempat jamuan? Ya, menghiasi wajah dunia dengan ciptaan-ciptaan yang sedemikian terhias, menjadikan bulan dan matahari lampu, menjadikan muka bumi sebuah hidangan nikmat dan memenuhinya dengan jenis-jenis makanan terindah, menjadikan pohon-pohon berbuah wadah-wadah, dan memperbaruinya berkali-kali pada setiap musim — menunjukkan sebuah jûd dan kedermawanan tanpa batas. Jûd dan kedermawanan tanpa batas semacam ini, serta khazanah-khazanah dan rahmat yang tak terkuras semacam itu, menghendaki sebuah negeri jamuan dan tempat kebahagiaan yang kekal, yang di dalamnya terdapat segala yang diinginkan. Ia pun menghendaki secara pasti: orang-orang yang merasakan kelezatan jamuan itu tetap berada di tempat kebahagiaan itu dan tinggal secara abadi. Agar mereka tidak menanggung pedih karena kelenyapan dan perpisahan. Sebab, sebagaimana lenyapnya penderitaan adalah kelezatan, lenyapnya kelezatan pun adalah penderitaan. Kedermawanan semacam itu tidak menghendaki menimpakan penderitaan.
Berarti ia menghendaki sebuah Surga yang abadi, sekaligus orang-orang yang membutuhkan secara abadi di dalamnya. Sebab jûd dan kedermawanan tanpa batas menghendaki penganugerahan tanpa batas, menghendaki pemberian nikmat. Sedangkan penganugerahan dan pemberian nikmat tanpa batas menghendaki rasa terima kasih dan penikmatan tanpa batas. Dan ini menghendaki kelanggengan wujud pribadi yang menerima karunia itu. Agar dengan kenikmatan yang kekal ia memperlihatkan syukur dan terima kasihnya terhadap penganugerahan nikmat yang kekal itu. Jika tidak, kelezatan juz'i yang menjadi pahit oleh kelenyapan, dalam waktu yang amat singkat, tidak mungkin diselaraskan dengan tuntutan jûd dan kedermawanan semacam itu.
Lihatlah pula pameran-pameran segenap penjuru alam, galeri seni Ilahi itu. Perhatikanlah pengumuman-pengumuman Rabbani di tangan tumbuh-tumbuhan dan hewan-hewan di muka bumi, {(Hasyiyah-1): Ya, sekuntum bunga yang amat berukir lagi terhias dan sebuah buah yang amat indah buatannya lagi bertatah permata — pada sebatang tangkai sehalus kawat di ujung sebatang pohon kering laksana tulang — tentu merupakan sebuah pengumuman yang membacakan kepada makhluk berkesadaran kebagusan-kebagusan seni seorang Shâni' yang pencinta seni, pembuat mukjizat, lagi penuh hikmah. Maka kiaskanlah pula hewan-hewan kepada tumbuh-tumbuhan.} dan pasanglah telinga kepada para nabi dan para wali, para penyeru kebagusan-kebagusan rububiyah. Betapa mereka secara sepakat memperlihatkan kesempurnaan-kesempurnaan Sang Shâni' Dzul-Jalâl yang tanpa cacat melalui pameran seni-seni-Nya yang menakjubkan, menerangkannya, dan menarik pandangan-pandangan penuh perhatian kepadanya.
Berarti Shâni' alam ini memiliki kesempurnaan-kesempurnaan tersembunyi yang amat penting lagi menakjubkan. Dia menghendaki memperlihatkannya melalui seni-seni yang menakjubkan ini. Sebab kesempurnaan yang tersembunyi lagi tanpa cacat menghendaki penampilan di hadapan orang-orang yang menghargai, yang mengagumi, dan yang menyaksikan seraya berucap mâsyâ Allah. Sedangkan kesempurnaan yang kekal menghendaki penampakan yang kekal. Dan itu menghendaki kelanggengan wujud orang-orang yang menghargai dan mengagumi. Di dalam pandangan pengagum yang tidak memiliki kekekalan, nilai kesempurnaan-kesempurnaan itu jatuh.
{(Hasyiyah-2): Ya, termasuk peribahasa: seorang perempuan tercantik di dunia, pada suatu waktu, mengusir dari hadapannya seorang lelaki rendahan yang tergila-gila kepadanya. Untuk menghibur dirinya, lelaki itu berkata: "Cih, alangkah buruk rupanya!" Ia menafikan kecantikan perempuan cantik itu. Pada suatu waktu pula, seekor beruang masuk ke bawah pohon anggur rambat yang amat manis. Ia ingin memakan anggur-anggurnya. Tangannya tak sampai untuk memetik. Ia pun tak mampu memanjat pohon rambatnya. Untuk menghibur dirinya sendiri, dengan bahasanya sendiri ia berkata: "Masam," lalu menggerutu pergi...}
Lagi pula, para makhluk yang terhampar di wajah alam ini — yang amat indah, penuh seni, cemerlang, dan terhias — sebagaimana cahaya memberitahukan matahari, memberitahukan kebagusan-kebagusan sebuah keindahan maknawi yang tiada tara dan mengisyaratkan kelembutan-kelembutan sebuah keelokan tersembunyi yang tiada banding.
{(Hasyiyah-3): Bersamaan dengan kelenyapan dan kefanaan para makhluk yang laksana cermin itu satu demi satu, terdapatnya manifestasi keelokan dan keindahan yang sama di atas dan di wajah makhluk-makhluk yang datang sesudah mereka menunjukkan bahwa: keindahan itu bukan milik mereka; melainkan keindahan-keindahan itu adalah ayat-ayat dan tanda-tanda dari sebuah keelokan yang tersucikan dan sebuah keindahan yang mahasuci.}
Dari manifestasi keelokan yang tersucikan dan keindahan yang mahasuci itu, terisyaratkan bahwa di dalam asma — bahkan di dalam setiap nama — terdapat banyak simpanan harta yang tersembunyi. Maka keindahan yang sedemikian tinggi, tiada banding, lagi tersembunyi ini — sebagaimana menghendaki melihat kebagusan-kebagusannya sendiri di dalam sebuah cermin dan menyaksikan derajat-derajat keelokannya serta ukuran-ukuran keindahannya di dalam sebuah cermin yang berkesadaran dan penuh rindu — menghendaki pula untuk terlihat, agar dapat memandang keindahannya yang tercinta melalui pandangan orang-orang lain. Berarti ia menghendaki memandang keindahannya sendiri dengan dua sisi; pertama: menyaksikannya secara langsung di dalam cermin-cermin yang masing-masing berwarna berbeda-beda. Kedua: menyaksikannya melalui penyaksian para penonton yang penuh rindu dan para pengagum yang penuh takjub. Berarti keelokan dan keindahan menghendaki melihat dan terlihat. Sedangkan melihat dan terlihat menghendaki wujud para penonton yang penuh rindu dan para pengagum yang penuh takjub. Karena keelokan dan keindahan itu abadi lagi sarmadi, ia menghendaki kelanggengan wujud para perindu. Sebab keindahan yang kekal tidak dapat rela kepada perindu yang fana. Karena seorang penonton yang divonis lenyap tanpa kembali — dengan membayangkan kelenyapan itu — kecintaannya berbalik menjadi permusuhan, ketakjubannya condong menjadi peremehan, dan penghormatannya condong menjadi penghinaan. Sebab manusia yang mementingkan dirinya sendiri, sebagaimana menjadi musuh bagi apa yang tidak ia ketahui, juga menentang apa yang tidak ia jangkau. Padahal terhadap sebuah keindahan yang layak disambut dengan kecintaan tanpa batas serta kerinduan dan kekaguman tanpa batas, ia menyambutnya dengan permusuhan, kebencian, dan pengingkaran yang terselubung. Maka dari sinilah dipahami rahasia bahwa orang kafir adalah musuh Allah.
Madem kedermawanan jûd yang tiada terhingga itu, keindahan-keelokan yang tiada tara itu, dan kesempurnaan-kesempurnaan tanpa cacat itu meniscayakan orang-orang yang bersyukur, yang merindu, dan yang mengagumi secara abadi. Padahal kita melihat di penginapan dunia ini: setiap orang cepat pergi dan menghilang. Ia hanya mencicipi sedikit bagian dari karunia kedermawanan itu. Seleranya terbuka, namun ia pergi tanpa makan. Ia pun hanya memandang sesaat sedikit cahaya dari keindahan dan kesempurnaan itu — bahkan mungkin hanya bayangannya yang lemah — lalu pergi tanpa merasa puas. Berarti perjalanan ini menuju sebuah tempat tamasya yang kekal.
Walhasil: sebagaimana alam ini dengan seluruh makhluknya menunjukkan secara pasti kepada Sang Shâni' Dzul-Jalâl-nya; sifat-sifat dan asma Sang Shâni' Dzul-Jalâl yang kudus pun menunjukkan negeri akhirat, memperlihatkannya, dan menghendakinya.