Gambaran Keempat:
Al-Kalimat · hlm. 42
Lihatlah: permata-permata tiada tara yang ada di pameran-pameran yang tak terhitung ini dan makanan-makanan tiada banding yang ada di hidangan-hidangan ini menunjukkan bahwa raja negeri-negeri ini memiliki kedermawanan yang tanpa batas dan khazanah-khazanah penuh yang tak terhitung. Padahal kedermawanan semacam itu dan khazanah-khazanah yang tak kunjung habis menghendaki sebuah negeri jamuan yang kekal, yang di dalamnya terdapat segala yang diinginkan. Ia juga menghendaki agar orang-orang yang merasakan kelezatan jamuan itu tetap kekal di sana. Agar mereka tidak menanggung pedih karena kelenyapan dan perpisahan. Sebab, sebagaimana lenyapnya penderitaan adalah kelezatan, lenyapnya kelezatan pun adalah penderitaan. Lihatlah pameran-pameran ini! Perhatikanlah pengumuman-pengumuman ini! Dan pasanglah telingamu kepada para penyeru ini: mereka menghimpun dan memamerkan karya-karya seni yang langka milik seorang raja yang menampakkan mukjizat. Mereka memperlihatkan kesempurnaan-kesempurnaannya. Mereka menerangkan keindahan maknawinya yang tiada tara. Mereka membicarakan kelembutan-kelembutan keelokannya yang tersembunyi. Berarti ia memiliki kesempurnaan-kesempurnaan dan keindahan maknawi yang amat penting lagi menakjubkan. Adapun kesempurnaan yang tersembunyi lagi tanpa cacat menghendaki penampilan di hadapan orang-orang yang menghargai, yang mengagumi, dan yang menyaksikan seraya berucap mâsyâ Allah. Sedangkan keindahan yang tersembunyi lagi tiada banding menghendaki untuk terlihat dan melihat. Yakni: memandang keindahannya sendiri dengan dua sisi. Pertama: menyaksikannya secara langsung di dalam cermin-cermin yang beraneka ragam. Kedua: ia menghendaki menyaksikannya melalui penyaksian para pemandang yang penuh rindu dan para pengagum yang penuh takjub. Ia menghendaki melihat, juga terlihat; menghendaki penyaksian yang terus-menerus, juga persaksian yang abadi. Keindahan yang kekal itu juga menghendaki kelanggengan wujud para pemandang yang rindu dan para pengagum. Sebab keindahan yang kekal tidak dapat rela kepada perindu yang fana. Karena seorang pemandang yang divonis lenyap tanpa kembali — dengan membayangkan kelenyapan itu — kecintaannya berbalik menjadi permusuhan, dan ketakjuban serta penghormatannya condong kepada penghinaan. Sebab manusia adalah musuh bagi apa yang tidak ia ketahui dan tidak ia jangkau. Padahal dari penginapan-penginapan ini setiap orang cepat pergi dan menghilang. Ia memandang hanya sekejap — tanpa merasa puas — seberkas cahaya dari kesempurnaan dan keindahan itu, bahkan barangkali hanya bayangannya yang lemah, lalu ia pergi.
Berarti perjalanan ini menuju sebuah tempat tamasya yang kekal...