Risale-i NurPanduan Wanita

Surat Ketujuh Belas

Panduan Wanita · hlm. 65

(Surat Takziah atas Wafatnya Seorang Anak)

بِاسْمِهِ وَاِنْ مِنْ شَيْءٍ اِلاَّ يُسَبِّحُ بِحَمْدِه۪

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِ

وَبَشِّرِ الصَّابِر۪ينَ ٭ الَّذ۪ينَ اِذَا اَصَابَتْهُمْ مُص۪يبَةٌ قَالُوا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّا اِلَيْهِ رَاجِعُونَ

Saudaraku akhiratku yang mulia, Hâfız Hâlid Efendi:

Saudaraku, wafatnya anakmu membuatku terharu. Akan tetapi اَلْحُكْمُ لِلّٰهِ — rida kepada qadha dan berserah kepada takdir adalah salah satu syiar Islam. Semoga Allah mengaruniakan kepada kalian kesabaran yang indah. Dan semoga Dia menjadikan almarhum sebagai bekal akhirat dan pemberi syafaat bagi kalian. Kami akan menerangkan "Lima Titik" yang akan menampakkan sebuah kabar gembira yang besar dan penghiburan yang hakiki bagi kalian dan bagi kaum mukmin yang bertakwa seperti kalian:

Titik Pertama:

Rahasia dan makna وِلْدَانٌ مُخَلَّدُونَ dalam al-Qur'an yang penuh hikmah ialah: anak-anak kaum mukmin yang wafat sebelum balig akan tetap tinggal di surga sebagai anak-anak yang abadi, menggemaskan, dan layak bagi surga untuk selama-lamanya; dan mereka akan menjadi sumber kegembiraan abadi di pelukan ayah dan ibu mereka yang masuk surga; dan mereka akan menjadi sarana terjaminnya bagi kedua orang tuanya kenikmatan yang paling lembut, yaitu mencintai anak dan membelai anak; dan bahwa segala sesuatu yang lezat terdapat di surga; dan bahwa anggapan orang yang berkata, "Karena surga bukan tempat berketurunan, maka cinta kepada anak dan membelainya tidak ada di sana," bukanlah hakikat; dan lagi, memperoleh cinta dan belaian anak yang murni tanpa derita selama jutaan tahun yang abadi, sebagai ganti cinta anak yang bercampur derita dalam waktu singkat sepuluh tahun di dunia, adalah sumber kebahagiaan terbesar bagi ahli iman — semuanya itu diisyaratkan dan dikabargembirakan oleh ayat yang mulia ini melalui kalimat وِلْدَانٌ مُخَلَّدُونَ.

Titik Kedua:

Pada suatu masa, seorang lelaki berada di sebuah penjara. Seorang anaknya yang menggemaskan dikirimkan kepadanya. Tahanan yang malang itu, di samping menanggung deritanya sendiri, ia pun terharu oleh kepayahan anaknya karena tidak dapat menjamin ketenangannya. Kemudian sang hakim yang penuh belas kasih mengirimkan seorang utusan kepadanya dan berkata: "Anak ini memang anakmu, tetapi ia adalah rakyatku dan bangsaku. Aku akan mengambilnya dan akan memeliharanya di sebuah istana yang indah." Lelaki itu menangis dan meratap; ia berkata, "Aku tidak akan menyerahkan anakku yang menjadi sumber penghiburanku." Kawan-kawannya berkata kepadanya: "Kesedihanmu tidak bermakna. Jikalau engkau mengasihani anak itu — sebagai ganti penjara yang kotor, pengap, dan sesak ini, anak itu akan pergi ke sebuah istana yang lapang dan penuh bahagia. Dan jikalau engkau bersedih demi dirimu sendiri dan mencari keuntunganmu — sekiranya anak itu tetap di sini, bersama keuntunganmu yang sementara lagi meragukan, engkau akan banyak menanggung kesesakan dan derita dari kepayahan-kepayahan anak itu. Dan jikalau ia pergi ke sana, ada seribu keuntungan bagimu. Sebab ia menjadi sebab tertariknya belas kasih sang raja, dan ia menjadi laksana pemberi syafaat bagimu. Sang raja akan berkeinginan mempertemukannya denganmu. Tentu ia tidak akan mengirim anak itu ke penjara untuk pertemuan itu; melainkan ia akan mengeluarkanmu dari penjara, memanggilmu ke istana itu, dan mempertemukanmu dengan anak itu. Dengan syarat, engkau memiliki kepercayaan dan ketaatan kepada sang raja..."

Maka seperti perumpamaan ini, saudaraku yang mulia, kaum mukmin sepertimu, ketika anak mereka wafat, semestinya berpikir demikian: Anak ini tak berdosa; dan Khâliq-nya pun Rahîm dan Karîm. Sebagai ganti didikan dan kasih sayangku yang kurang, Dia telah mengambilnya ke dalam pertolongan dan rahmat-Nya yang amat sempurna. Dia telah mengeluarkannya dari penjara dunia yang penuh derita, musibah, dan kepayahan, lalu mengirimnya ke surga Firdaus-Nya. Alangkah berbahagianya anak itu! Sekiranya ia tetap tinggal di dunia ini, siapa tahu ke bentuk apa ia akan berubah? Karena itu aku tidak mengasihaninya; aku mengetahuinya sebagai anak yang beruntung.

Adapun mengenai keuntungan bagi nafsuku sendiri: aku pun tidak mengasihani diriku dan tidak terharu secara pedih. Sebab sekiranya ia tetap di dunia, ia hanya akan memberikan cinta anak selama sepuluh tahun yang sementara dan bercampur derita. Sekiranya ia salih dan cakap dalam urusan dunia, barangkali ia akan menolongku. Tetapi dengan wafatnya, ia menjadi laksana pemberi syafaat yang menjadi sumber cinta anak bagiku selama sepuluh juta tahun di surga yang abadi, dan menjadi perantara bagi kebahagiaan abadi. Maka sudah tentu, orang yang kehilangan satu keuntungan yang meragukan dan segera, lalu memperoleh seribu keuntungan yang pasti meski tertunda, tidaklah menampakkan kesedihan yang pedih dan tidak menjerit putus asa.

Titik Ketiga:

Anak yang wafat itu adalah makhluk, milik, dan hamba dari Sang Khâliq Rahîm; dengan segenap susunannya ia adalah ciptaan-Nya dan kepunyaan-Nya; ia adalah seorang kawan bagi kedua orang tuanya yang untuk sementara diserahkan kepada pengawasan mereka. Dia menjadikan ayah dan ibu sebagai pelayan baginya. Dan sebagai imbalan atas khidmah mereka itu, Dia memberikan kasih sayang yang lezat sebagai upah yang segera. Sekarang, jikalau Sang Khâliq Rahîm — Pemilik sembilan ratus sembilan puluh sembilan bagian dari seribu — sebagai tuntutan rahmat dan hikmah-Nya mengambil anak itu dari tanganmu dan mengakhiri khidmahmu; maka bersedih dan menjerit secara putus asa dengan cara yang menyerupai pengaduan terhadap Pemilik seribu bagian yang hakiki, hanya karena satu bagian yang bersifat lahiriah — tidaklah pantas bagi ahli iman; melainkan hanya pantas bagi ahli kelalaian dan kesesatan.

Titik Keempat:

Sekiranya dunia abadi, dan manusia kekal tinggal di dalamnya, dan perpisahan bersifat abadi; niscaya kesedihan yang pedih dan derita yang putus asa memiliki suatu makna. Akan tetapi, karena dunia adalah sebuah rumah perjamuan tamu, maka ke mana pun anak yang wafat itu pergi, kalian dan kami pun akan pergi ke sana. Lagi pula kematian ini tidaklah khusus baginya; ia adalah jalan raya yang umum. Dan lagi, karena perpisahan itu pun tidak abadi — kelak akan berjumpa kembali, baik di barzakh maupun di surga. Hendaklah berkata اَلْحُكْمُ لِلّٰهِ — Dia yang memberi, Dia pula yang mengambil. Hendaklah bersyukur dengan sabar, seraya berkata "Alhamdulillâhi 'alâ kulli hâl".

Titik Kelima:

Kasih sayang, yang termasuk manifestasi rahmat Ilahi yang paling lembut, paling indah, paling menyenangkan, dan paling manis, adalah sebuah iksir yang bercahaya. Ia jauh lebih tajam daripada asyik. Ia dengan cepat menjadi perantara sampai kepada Allah. Sebagaimana asyik majasi dan asyik duniawi, dengan amat banyak kesulitan, berubah menjadi asyik hakiki lalu menemukan Allah; demikian pula kasih sayang — tetapi tanpa kesulitan — mengikatkan kalbu kepada Allah dengan cara yang lebih singkat dan lebih murni. Baik ayah maupun ibu mencintai anaknya seperti seluruh dunia. Ketika anaknya diambil dari tangannya, jikalau ia beruntung, jikalau ia ahli iman yang sejati, ia memalingkan wajahnya dari dunia dan menemukan Sang Mun'im Hakiki, Pemberi Nikmat yang hakiki. Ia berkata: "Karena dunia ini fana, ia tidak layak bagi keterikatan kalbu..." Ke mana pun anaknya pergi, ke sanalah ia menumbuhkan keterikatan, dan ia memperoleh suatu keadaan maknawi yang besar.

Ahli kelalaian dan kesesatan terhalang dari kebahagiaan dan kabar gembira yang ada pada lima hakikat ini. Betapa pedih keadaan mereka, kiaskanlah dengan ini: seorang wanita tua melihat satu-satunya anak kesayangannya yang menggemaskan sedang meregang nyawa; karena — menurut hukum waham keabadian dunia, sebagai akibat kelalaian atau kesesatan — ia membayangkan kematian sebagai ketiadaan dan perpisahan abadi, maka sebagai ganti kasur empuknya ia memikirkan tanah kubur; dan karena dari segi kelalaian atau kesesatan ia tidak memikirkan surga rahmat dan Firdaus nikmat milik Arhamur-Râhimîn — Yang Paling Penyayang dari segala penyayang — betapa putus asa kesedihan dan derita yang ditanggungnya, dapat engkau kiaskan. Akan tetapi iman dan Islam, perantara kebahagiaan dua negeri, berkata kepada seorang mukmin: Khâliq Yang Rahîm dari anak yang sedang meregang nyawa ini akan mengeluarkannya dari dunia yang fana ini dan membawanya ke surga-Nya. Dia akan menjadikannya pemberi syafaat bagimu dan anak yang abadi. Perpisahan ini sementara, janganlah gelisah; katakanlah اَلْحُكْمُ لِلّٰهِ ٭ اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّا اِلَيْهِ رَاجِعُونَ dan bersabarlah.

اَلْبَاقِى هُوَ الْبَاقِى

Said Nursî

(Demikian pula, sepotong bagian surat yang berkenaan dengan wafatnya anak)

بِاسْمِه۪ سُبْحَانَهُ

Mengenai ayat يَطوُفُ عَلَيْهِمْ وِلْدَانٌ مُخَلَّدُونَ dalam risalah yang bernama "Surat Takziah atas Wafatnya Seorang Anak", sebagian tafsir lama telah berkata: "Di surga, semua orang — dari anak kecil sampai yang amat tua — akan berusia tiga puluh tiga tahun." Hakikatnya, wallâhu a'lam, ialah demikian; ayat yang jelas itu mengungkapkan dengan ungkapan وِلْدَانٌ bahwa: anak-anak yang belum wajib mengerjakan kewajiban-kewajiban syariat, yang dari segi kesunahan pun belum mengerjakannya, dan yang wafat sebelum balig, akan tetap tinggal sebagai anak-anak yang layak bagi surga dan menggemaskan. Akan tetapi terdapat dalam syariat: anak-anak yang telah sampai usia tujuh tahun hendaklah diperintahkan oleh ayah dan ibunya secara mendorong agar terbiasa dengan yang fardu seperti salat; dan apabila telah masuk usia sepuluh tahun, hendaklah disuruh salat dengan tegas dan dibiasakan.

Berarti, anak-anak yang meskipun belum wajib, secara sunah — dari usia tujuh tahun sampai batas balig — mengerjakan salat dan berpuasa seperti orang dewasa, akan berusia tiga puluh tiga tahun agar menerima pahala seperti orang-orang dewasa yang teguh beragama; sebagian tafsir, tanpa menerangkan titik ini, telah memberlakukannya kepada semua anak; mereka menyangka umum apa yang sesungguhnya khusus.

Said Nursî

SEBUAH KENANGAN PENUH MAKNA DARI EMIRDAĞ

Sejak lima tahun, ketika aku berkeliling dengan kereta kuda di sekitar Emirdağ untuk menghirup udara, dengan cara yang mengherankan, anak-anak kecil dari usia satu sampai tujuh tahun berlari kepada keretaku dan berpegangan pada tanganku dengan kerinduan yang melebihi keterikatan yang mereka tampakkan kepada ibu dan ayah mereka. Bahkan pada suatu kali, meskipun mereka terjatuh ke bawah kereta, mereka selamat tanpa cedera dengan cara yang menakjubkan.

Anak-anak berusia satu, dua, atau tiga tahun yang sama sekali belum pernah melihatku dan tidak mengenalku, berlari-lari dengan kaki telanjang di tengah duri-duri untuk mengejar kereta. Seperti orang dewasa, mereka memberi hormat dan berkata, "Biarlah kami mencium tanganmu." Aku, saudara-saudaraku, dan orang-orang yang melihatnya terheran-heran akan keadaan ini. Keadaan ini tidaklah khusus pada satu kampung; di mana-mana, bahkan di desa-desanya pun, keadaan yang sama terus berlangsung.

Dengan sebuah kenangan hakikat yang tidak menipuku, aku dan kawan-kawanku sampai kepada keyakinan bahwa: golongan yang tak berdosa ini, dari segi ketakberdosaan mereka, dengan suatu perasaan sebelum terjadi (hiss-i kablel-wuqu') yang disebut dorongan fitri — karena Risale-i Nur di negeri ini kelak akan memberi banyak manfaat kepada anak-anak tak berdosa dan kepada diri mereka — meskipun akal dan pikiran mereka belum memahaminya, dengan perasaan tak berdosa itu, dan dari segi makna Risale-i Nur, mereka berlari kepada penerjemahnya dengan kerinduan yang melebihi rengekan mereka kepada ibu-ibu mereka.

Kami pun merasakan dengan suatu perasaan sebelum terjadi bahwa: kelak dari antara makhluk-makhluk kecil yang tak berdosa ini akan keluar para murid Nur yang besar. Dan kelak mereka akan menjadi murid-murid khusus Nur; itulah yang ditunjukkan keadaan ini.

Aku pun, karena aku tidak memiliki anak di dunia, telah memasukkan anak-anak kecil tak berdosa semacam ini secara umum ke dalam doa-doaku sebagai anak-anak maknawi. Setiap subuh aku menyebut mereka pula dalam doa-doaku bersama para murid Nur.

Adapun sebab aku mengutamakan seorang yang tak berdosa dari mereka di atas seorang dewasa berusia empat puluh tahun yang acuh tak acuh ialah: karena mereka tanpa dosa dan menampakkan keterikatan yang tulus, tentu ada suatu hakikat yang menggerakkan mereka; maka sebagaimana aku memberi hormat kepada orang-orang dewasa, aku pun membalas penghormatan mereka.

Dan lagi, berdasarkan ketakberdosaan mereka dan karena kelak mereka akan menjadi murid Nur yang sejati, dengan berkata "doa mereka akan diterima mengenai diriku," aku berkata kepada mereka: "Karena kalian telah menjadi anak-anak maknawiku, aku mendoakan kalian. Karena kalian tidak berdosa, doa kalian mengenai diriku insya Allah diterima. Doakanlah aku pula. Sebab aku sakit keras."

Aku dan saudara-saudaraku yang bersamaku sampai kepada keyakinan, dengan kemungkinan yang kuat, bahwa: sebagai imbangan atas usaha merusakkan para pemuda di sekolah-sekolah yang pada suatu masa dibuka dengan rencana kaum mason dan kaum zindik untuk mendidik para pemuda menurut cara bolsyevisme — sekolah-sekolah yang kemudian berubah itu — maka anak-anak kecil tak berdosa dari bangsa Turki, pembawa panji Islam yang gagah berani, dengan suatu kesadaran bercahaya dan perasaan sebelum terjadi, menerima pelajaran dari Risale-i Nur; itulah suatu imbangan terhadap bencana yang menimpa kepala para pemuda. Dan insya Allah ini adalah suatu isyarat bahwa anak-anak itu — baik mereka sendiri maupun para pemuda — akan selamat dari kejahatan kaum mason, orang-orang tak beragama, dan kaum zindik; itulah yang ditunjukkan keadaan yang menakjubkan ini.

Said Nursî

Benar, keadaan ini kami pun menyaksikannya dengan mata kami sendiri.

Para Murid Nur yang berada dalam khidmahnya

(Ini adalah sepotong bagian dari Cahaya Ketujuh Belas)

NOTA KEDUA BELAS

Wahai sahabat-sahabatku yang mendengarkan Nota-Nota ini! Ketahuilah bahwa sebab aku — menyalahi kebiasaan — kadang-kadang menuliskan tadaruk, munajat, dan permohonan kalbuku kepada Rabb-ku, yang semestinya disembunyikan, ialah: memohon kepada rahmat Ilahi agar diterima ucapan kitabku sebagai pengganti lidahku, pada saat kematian membungkam lidahku. Benar, dalam umur yang pendek, taubat dan penyesalan lidahku yang sementara tidaklah mencukupi sebagai penebus dosa-dosaku yang tak terhingga. Lidah kitab yang tetap dan sampai suatu derajat kekal, lebih berguna bagi urusan itu.

Maka tiga belas tahun {Catatan kaki: Menurut tarikh penulisannya.} yang lalu, sebagai akibat suatu badai ruhani yang bergejolak, pada saat tawa-tawa Said Lama akan berubah menjadi tangis-tangis Said Baru; pada suatu waktu ketika aku terbangun dari tidur kelalaian masa muda dengan subuh ketuaan, munajat dan permohonan ini telah dituliskan dalam bahasa Arab. Makna sebagiannya ialah sebagai berikut:

Wahai Rabb-ku Yang Rahîm dan wahai Khâliq-ku Yang Karîm! Karena buruknya ikhtiarku, umurku dan masa mudaku telah tersia-sia dan pergi. Dan dari buah-buah umur dan masa muda itu, yang tinggal di tanganku hanyalah dosa-dosa yang memberi derita, derita-derita yang memberi kehinaan, dan waswas-waswas yang membawa kesesatan. Dan dengan beban yang berat ini, dengan kalbu yang sakit dan wajah yang penuh malu ini, aku sedang mendekat ke kubur. Dengan disaksikan mata kepala, sambil terus melihat, dengan amat cepat, tanpa berbelok ke kanan dan ke kiri, dalam keadaan tanpa dapat memilih, aku sedang merapat ke pintu kubur seperti para sahabat, teman sebaya, dan kerabatku yang telah wafat. Kubur itu adalah persinggahan pertama dan pintu pertama yang dipasang dan dibuka di jalan keabadian yang tiada berkesudahan, dengan perpisahan abadi dari negeri yang fana ini.

Dan negeri dunia yang aku terikat dan tergila-gila kepadanya ini, telah kupahami dengan keyakinan yang pasti bahwa: ia akan binasa dan pergi, ia fana dan mati. Dan dengan disaksikan mata kepala, segala maujud di dalamnya pun berpindah pergi kafilah demi kafilah, satu di belakang yang lain, dan menghilang. Terlebih bagi orang yang membawa nafsu ammarah sepertiku, dunia ini amat kejam dan penuh tipu daya. Jikalau ia memberi satu kelezatan, ia menimpakan seribu derita. Jikalau ia memberi makan sebutir anggur, ia memukulkan seratus tamparan.

Wahai Rabb-ku Yang Rahîm dan wahai Khâliq-ku Yang Karîm! Dengan rahasia كُلُّ اٰتٍ قَر۪يبٌ aku sejak sekarang telah melihat bahwa: dalam waktu yang dekat aku telah mengenakan kafanku, telah naik ke tabutku, telah berpamitan dengan sahabat-sahabatku. Ketika aku menghadap ke kuburku dan pergi, di istana rahmat-Mu, dengan bahasa keadaan jenazahku dan dengan bahasa ucapan ruhku, aku berseru dan berkata: El-aman, el-aman! Yâ Hannân! Yâ Mannân! Selamatkanlah aku dari rasa malu atas dosa-dosaku!

Kini aku telah sampai di sisi kuburku; dengan kafan terkalung di leherku, aku berdiri di atas tubuhku yang terbujur di tepi kuburku. Sambil mengangkat kepalaku ke istana rahmat-Mu, aku menjerit dengan segenap kekuatanku dan berseru: El-aman, el-aman! Yâ Hannân! Yâ Mannân! Lepaskanlah aku dari beban-beban berat dosa-dosaku!

Kini aku telah masuk ke kuburku, telah terbalut dalam kafanku. Para pengantar telah meninggalkanku dan pergi. Aku menantikan ampunan dan rahmat-Mu. Dan aku telah melihat dengan penyaksian bahwa: tiada tempat berlindung dan tempat berselamat selain Engkau. Dari wajah dosa-dosa yang buruk, dari rupa maksiat yang liar, dan dari sempitnya tempat itu, aku berseru dengan segenap kekuatanku dan berkata: El-aman, el-aman! Yâ Rahmân! Yâ Hannân! Yâ Mannân! Yâ Dayyân! Selamatkanlah aku dari persahabatan dosa-dosaku yang buruk, lapangkanlah tempatku! Ilahi! Rahmat-Mu adalah tempat perlindunganku, dan Kekasih-Mu yang merupakan Rahmatan lil-'Âlamîn adalah perantaraku untuk sampai kepada rahmat-Mu. Bukan mengadu tentang-Mu, melainkan aku mengadukan nafsuku dan keadaanku kepada-Mu.

Wahai Khâliq-ku Yang Karîm dan wahai Rabb-ku Yang Rahîm! Makhluk-Mu, ciptaan-Mu, dan hamba-Mu yang bernama Said ini — yang durhaka, tak berdaya, lalai, bodoh, sakit-sakitan, hina, berbuat buruk, tua renta, sengsara, dan seorang budak yang telah lari dari tuannya — setelah empat puluh tahun menyesal dan ingin kembali ke istana-Mu. Ia berlindung kepada rahmat-Mu. Ia mengakui dosa-dosa dan kesalahan-kesalahannya yang tak terhingga. Ia telah tertimpa waham-waham dan berbagai macam penyakit. Ia bertadaruk dan memohon kepada-Mu. Jikalau dengan kesempurnaan rahmat-Mu Engkau menerimanya, mengampuninya, dan merahmatinya — memang demikianlah keagungan-Mu. Sebab Engkau Arhamur-Râhimîn, Yang Paling Penyayang dari segala penyayang. Dan jikalau Engkau tidak menerimanya, ke pintu mana lagi aku pergi selain pintu-Mu? Pintu mana yang ada? Tiada Rabb selain Engkau, yang dapat didatangi istana-Nya. Tiada Ma'bûd yang haq selain Engkau, yang dapat dijadikan tempat berlindung!..

لآَ اِلٰهَ اِلاَّ اَنْتَ وَحْدَكَ لاَ شَر۪يكَ لَكَ اٰخِرُ الْكَلاَمِ فِى الدُّنْيَا وَ اَوَّلُ الْكَلاَمِ فِى الاْٰخِرَةِ وَ فِى الْقَبْرِ اَشْهَدُ اَنْ لآَ اِلٰهَ اِلاَّ اللّٰهُ وَ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ تَعَالٰى عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ

(Dari Lampiran Emirdağ)

Saudara-saudaraku yang mulia dan setia!

.....

Yang pertama: Yang secara fitrah dan menurut keadaan zaman akan menjadi murid Risale-i Nur, terutama adalah anak-anak yang tak berdosa. Sebab jikalau seorang anak di masa kecilnya tidak menerima pelajaran iman yang kuat, maka kelak ia hanya dapat menerima rukun-rukun Islam dan iman ke dalam ruhnya dengan cara yang amat sulit dan berat. Keadaannya menjadi sesulit seorang bukan muslim yang menerima Islam; ia menjadi asing terhadapnya. Terlebih lagi jikalau ia tidak melihat ayah dan ibunya teguh beragama, dan akalnya hanya dididik dengan ilmu-ilmu duniawi, maka keasingan itu semakin bertambah. Pada keadaan itu, anak tersebut, sebagai ganti menghormati ayah dan ibunya di dunia, justru memandang mereka sebagai beban, mengharapkan cepatnya kematian mereka, dan menjadi sejenis bencana bagi mereka. Di akhirat pun ia bukan menjadi pemberi syafaat bagi mereka, melainkan menjadi penuntut: "Mengapa kalian tidak menyelamatkan imanku dengan tarbiyah Islami?"

Maka berdasarkan hakikat ini, anak-anak yang paling beruntung ialah mereka yang masuk ke dalam lingkaran Risale-i Nur; yang di dunia menjadi anak yang beruntung dengan menghormati dan berkhidmah kepada ayah dan ibunya, dengan kebaikan-kebaikannya menuliskan amal-amal kebaikan ke dalam buku amal mereka setelah wafat mereka, dan di akhirat memberi syafaat kepada mereka menurut derajatnya.

Golongan kedua dari para murid Risale-i Nur: ialah kaum wanita yang secara fitrah membutuhkan Risale-i Nur, yang sampai suatu derajat telah merasa ngeri terhadap dunia atau telah berkecil hati kepadanya. Terlebih lagi jikalau ia telah agak lanjut usia, Risale-i Nur baginya adalah santapan maknawi yang hakiki. Sebab salah satu dari empat asas Risale-i Nur adalah kasih sayang, yang datang dari keberuntungan menerima manifestasi nama Rahîm. Dan watak kaum wanita yang paling mendasar serta ragi tugas-tugas fitri mereka pun adalah kasih sayang.

Anak-anakku yang mulia dan tak berdosa!

Kalian sedang berusaha menerima pelajaran untuk mempelajari al-Qur'an. Karena pada huruf baru yang kalian kenal terdapat kekurangan-kekurangan, maka sedapat mungkin hendaklah tidak membaca dari huruf baru itu.

Lagi pula faedah membaca al-Qur'an bukanlah hanya untuk menjadi hafiz dan dengannya memperoleh suatu kedudukan di dunia atau menerima gaji; melainkan mesti membacanya dengan memikirkan bahwa setiap satu hurufnya memberikan — paling sedikit dari sepuluh kebaikan sampai seratus, sampai ribuan — buah-buah surga dan faedah-faedah akhirat, dan dengan niat menjamin ketenangan serta kebahagiaan hidup yang abadi.

Benar, jikalau mempelajari ilmu-ilmu di sekolah demi penghidupan dunia atau demi pangkat-pangkatnya, derajat dan faedahnya dalam kehidupan duniawi yang pendek ini bernilai satu; maka mempelajari al-Qur'an serta kalimat-kalimatnya yang suci dan makna-maknanya yang bercahaya dan penuh iman untuk kehidupan abadi, adalah ribuan derajat lebih berharga. Yang pertama laksana kaca, yang kedua laksana intan.

Dan lagi, kalian dapat menjadi anak-anak yang sejati dan berfaedah bagi ayah dan ibu kalian. Karena kalian tak berdosa dan belum memiliki dosa, jikalau kalian membaca dengan niat suci semacam ini, aku menerima kalian ke dalam barisan murid-murid Risale-i Nur yang tak berdosa, dan kalian menjadi pemilik bagian dalam doa-doa seluruh murid, serta menjadi para pelajar yang bercahaya dan penuh berkah.

Aku mengucapkan selamat kepada ustaz kalian, kepada kalian, kepada ayah dan ibu kalian, dan kepada negeri kalian.

Said Nursî

بِاسْمِهِ سُبْحَانَهُ وَاِنْ مِنْ شَيْءٍ اِلاَّ يُسَبِّحُ بِحَمْدِه۪

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللّٰهِ وَ بَرَكَاتُهُ

Ustaz kami, junjungan kami yang amat kami muliakan, amat penuh berkah, dan amat penuh kasih!

Dahulu, alangkah pahit dan alangkah kelam hari-hari yang kami lalui. Bahkan kepergian anak-anak kami ke pelajaran al-Qur'an pun dilarang. Di sekolah-sekolah, pelajaran-pelajaran agama dihapuskan. Orang-orang yang menulis Risale-i Nur diserahkan ke mahkamah-mahkamah. Kepada engkau, Ustaz kami yang amat penuh berkah, para musuh agama telah melakukan banyak penganiayaan. Mereka menimpakan banyak penderitaan. Mereka berusaha menjatuhkan hukuman mati kepadamu dengan alasan: ia menulis Risale-i Nur, ia memberikan kekuatan besar yang baru kepada agama, ia memajukan keislaman. Pada hari-hari yang pedih itu kami menangis dan meratap; kami memohon kepada Allah, "Yâ Rabbi! Peliharalah Ustaz kami! Binasakanlah orang-orang yang memusuhi agama kami, Ustaz kami, dan Risale-i Nur!" Kami hampir-hampir menumpahkan air mata darah. Pada akhirnya Allah memelihara engkau, Ustaz kami; orang-orang tak beragama itu runtuh. Mereka yang berniat memusnahkan keislaman menjadi hancur lebur. Adapun engkau, Ustaz kami, telah menang dalam khidmah agamamu. Engkau telah menyelamatkan bangsa kami dari mudarat orang-orang tak beragama; engkau memperoleh kemenangan-kemenangan. Engkau menjadi sebab kaum muslimin melalui hari-hari yang bahagia. Berkat itu kami memperoleh kemerdekaan agama kami, kebebasan agama kami. Risale-i Nur mulai dicetak amat banyak di percetakan-percetakan; kami kaum wanita amat bergembira. Ketika melihat Nur-Nur kami telah tercetak, kami berada dalam kegembiraan seakan-akan dilahirkan kembali ke dunia. Sekiranya diberikan kepada kami ribuan untaian emas, kepingan emas, dan intan; sekiranya dibagikan pakaian-pakaian dari sutra dan atlas, semuanya itu tidak akan dapat menyenangkan kami sampai derajat ini. Mencetak Risale-i Nur adalah khidmah yang paling pertama dan paling besar bagi agama dan iman.

Ustaz kami, junjungan kami!

Kami para ibu, yang hanya dapat berbahagia dengan kecintaan kepada agama dan iman serta dengan perasaan keislaman, mengajarkan al-Qur'an yang mulia kepada anak-anak kami dan menyuruh mereka menekuni Risale-i Nur. Kami berusaha mendidik mereka dengan pelajaran-pelajaran iman dan Islam dari Risale-i Nur. Rumah-rumah kami menjadi Madrasah-Madrasah Nuriyah, alhamdulillah. Jikalau kami tidak membacakan Risale-i Nur kepada anak-anak kami, mereka akan jatuh ke dalam bahaya-bahaya zaman yang menyesatkan ini, akan terbawa kebiasaan-kebiasaan buruk, akan meniru kejahatan-kejahatan. Mereka akan menjadi bencana dan derita bagi kepala kami. Di akhirat pun mereka akan menuntut ibu dan ayah mereka: "Mengapa kalian tidak menyelamatkan iman kami?" Karena itu kami menanamkan kecintaan Risale-i Nur ke dalam kalbu anak-anak tersayang kami. Kasih sayang kaum wanita terhadap anak-anaknya amatlah besar. Jikalau tidak diberikan pelajaran-pelajaran iman yang akan menyelamatkan kehidupan akhirat mereka yang abadi, jikalau hal ini dilalaikan dan mereka hanya disuruh bekerja untuk kehidupan dunia yang sementara dan fana, maka kasih sayang kepada anak-anak itu tidaklah terbelanjakan pada tempatnya yang hakiki. Ia menjadi suatu kasih sayang yang menyebabkan kebinasaan anak, baik di dunia maupun di akhirat.

Sambil membelai anak-anak kami, dengan penuh cinta kami berkata:

"Anakku!.. Risale-i Nur adalah kitab agama yang paling besar dan paling hakiki, pelajaran-pelajaran iman, yang akan menjadikanmu bahagia dan beruntung di dunia dan di akhirat. Jikalau engkau terhalang dari membacanya, jikalau engkau tidak menerima pelajaran-pelajaran iman itu sekarang, engkau akan celaka di dunia dan di akhirat, engkau akan hidup terlunta-lunta."

Demikianlah, sambil membaca dan membacakan surat-surat, hikayat-hikayat kepahlawanan, kasidah-kasidah, dan syair-syair yang telah dituliskan tentang Risale-i Nur, kami akan terus menanamkan kecintaan Risale-i Nur ke dalam kalbu mereka dan keagungannya ke dalam ruh mereka. Berkat doa-doamu, dengan pelajaran-pelajaran Risale-i Nur, insya Allah anak-anak kami tumbuh menjadi pemuda-pemuda yang teguh beragama, yang berguna bagi Islam, bagi kami, dan bagi bangsa kami.

Ustaz kami yang penuh berkah!

Perasaan cinta yang telah ditanamkan Rabb kami tercinta ke dalam kalbu-kalbu kami dengan rahmat-Nya — mengapa tidak kami belanjakan di jalan pelajaran-pelajaran iman yang akan membawa kami kepada kebahagiaan abadi, di jalan Risale-i Nur, dan di jalanmu, Ustaz kami? Jikalau kami membelanjakannya di jalan lain, ia akan membuat kami berkeluh "aduhai" di dunia dan akhirat, akan membawa kami kepada kerugian, bahkan mungkin membuat kami menangis selama-lamanya. Jikalau kami dapat pula menanamkan hakikat yang penting ini kepada anak-anak kami — dengan menampakkan kasih sayang kami yang hakiki tanpa menyalahgunakannya — berarti kami telah menunaikan tugas keibuan kami dengan sepenuh hak.

Kami telah mendatangkan dari Bursa kitab tentang Risale-i Nur yang di dalamnya terdapat ceramah yang amat indah, surat-surat yang bercahaya, dan kasidah-kasidah yang amat bagus. Setiap kali membacanya dan mendengarkannya kami amat bergembira; ruh-ruh kami bersuka cita. Semoga Allah meridai saudara-saudara kami para murid Nur yang telah menuliskannya, amin...

اَلْبَاقِى هُوَ الْبَاقِى

Yang membutuhkan doa kalian

Para Wanita Istanbul

(Ini adalah gubahan syair seorang wanita yang berkhidmah kepada iman dengan penuh pengorbanan.)

Kepada Ustazku, Penulis Risale-i Nur!

Pedang Nur maknawi telah digenggam tangannya,

Menghantam kepala dan pinggang kaum munafik;

Ustazku yang setiap ucapannya adalah hikmah —

Maulâ-ku telah memberi ilmu pada lidah nur-nya.

Api macam apakah ini, membakar sedemikian rupa,

Asapnya membubung hangus ke angkasa;

Dari pena Ustazku yang mengajarkan iman dan al-Qur'an

Nur-nur mengalir ke seluruh alam.

Ia telah mengorbankan jiwanya di jalan iman;

Apalah yang telah diperbuatnya kepada Syahidah ini hingga kini;

Dengan hadis-hadis yang sahih dan isyarat-isyarat,

Rasul telah mengabarkan kedatangannya.

Kepada murid-muridnya Ustaz berkata, "Jangan berhenti";

"Jangan turuti perkataan munafik," katanya;

Dengan yang fana dan binasa ia tak punya sangkut paut,

"Jangan tanyakan kepadaku hal-hal yang fana," katanya.

Wahai Syahidah, janganlah berdiam begini,

Ucapkanlah al-Haq di mana-mana;

Dengan Risale-i Nur

Berkhidmahlah kepada iman.

Gali terus khazanah Nur,

Bacakan dan tuliskan Nur-Nur itu;

Jangan biarkan waktumu kosong berlalu,

Sebab umur teramat sedikit.

Biarlah yang engkau baca adalah Nur,

Biarlah kalbumu dipenuhi Nur-Nur;

Dengan membaca Nur-Nur itu

Biarlah iman kita terselamatkan.

Mata-mata menaburkan nur,

Di kalbu-kalbu mawar mekar;

Dari hakikat Nur itu

Kaum munafik berlarian.

Saudara-saudara semua menangis,

Bersandar teguh kepada Ustaz;

Hakikat yang ada dalam Nur-Nur itu

Bergelora laksana samudra.

Kalbu-kalbu kami selalu tertidur,

Ustazku, panjatkanlah doa;

Sebelum umur kami habis,

Perdengarkanlah iman kepada kami...

Elbâki Hüvelbâki

Atas nama Para Wanita Murid Nur

Yang Amat Banyak Kekurangan

Syahidah

(Akan ditambahkan ke dalam Panduan Wanita.)

(Surat ini, yang dituliskan kepada Ustaz kami berkenaan dengan ucapan selamat atas Ramadan yang mulia, dan yang merupakan sebuah contoh dari khidmah serta penyebaran Risale-i Nur yang penting dan berkesan di Izmir, Manisa, dan sekitarnya, serta pengaruh baiknya di kalangan kaum wanita — adalah sejenis surat yang dituliskan para wanita murid Nur di Istanbul; ia menunjukkan bahwa di Izmir, Manisa, dan sekitarnya, sebagaimana almarhum Hâfız Ali, Hasan Feyzi, dan Halil İbrahim (rahmatullahi 'alaihim), dari kalangan kaum wanita pun telah lahir para pahlawan Nur yang tulus.)

بِاسْمِهِ سُبْحَانَهُ

Wahai Ustaz kami, junjungan kami yang amat terhormat, amat kami muliakan, dan amat kami cintai, yang kami tak berdaya mengungkapkan cinta tanpa batas di kalbu kami!

Kami mengucapkan selamat dengan segenap ruh dan jiwa kami atas Ramadan mulia yang kedatangannya memuliakan kami. Kami memohon agar engkau mengampuni kekurangan-kekurangan kami dan menerima kami yang malang ini sebagai Murid-Murid Nur.

Wahai santapan ruh kami dan obor kalbu kami yang abadi tak pernah padam, obat derita-derita jasmani dan maknawi kami; dan wahai Ustaz kami, penerjemah karya agung yang memancar dari cahaya al-Qur'an yang keterangannya mukjizat, yang megah, jernih, dan murni, serta memiliki kekuatan untuk menerangi seluruh alam kemanusiaan!

Engkau adalah seorang pelayan iman yang menggiring manusia ke jalan Allah dan Rasulullah, yang berusaha menerangkan hakikat kemanusiaan dengan sepenuh maknanya kepada setiap pemuda dan orang tua, kepada kaum awam dan kaum khusus yang memiliki kesadaran dan pemahaman — dan yang telah berhasil dalam usaha itu.

Maka dari segi inilah: kami berpegang teguh dengan segenap ruh, jiwa, dan seluruh keberadaan kami kepada Risale-i Nur, mukjizat maknawi al-Qur'an yang mulia pada abad ini; kami mengagungkan, memuliakan, dan menghormatinya. Tiada satu kekuatan pun yang dapat mengendurkan keterikatan kami kepada Risale-i Nur ini. Bahkan membayangkannya pun mustahil. Sebab ia adalah ikatan iman yang berdiri di atas kalbu-kalbu. Kami sekali-kali tidak akan berpisah dari jalanmu dan jalan Risale-i Nur. Dan kami akan senantiasa mengambil manfaat dari Nur yang tiada duanya ini, insya Allah... Sebab ia adalah samudra iman dan khazanah tauhid yang bandingannya tidak dijumpai di muka bumi, dan setelah ini pun tidak mungkin dijumpai. Maka kepada engkau, Ustaz kami yang penuh berkah dan mulia, yang telah menghadiahkan karya-karya semacam ini kepada kami, kami berhutang budi dan berterima kasih untuk selama-lamanya.

Wahai Ustaz kami tercinta yang penuh berkah, junjungan kami!

Ketika kami mencari sebuah karya agama agar kami memperoleh pengetahuan yang memadai tentang agama suci yang kami peluk, dan agar kami dapat menjamin masa depan kami serta kebahagiaan abadi kami — sebuah karya yang bercahaya dan terang, yang akan menyelamatkan dari arus-arus kekafiran dan ketidaksusilaan abad ini yang telah mengganas dan amat sukar dibendung — akhirnya, dengan kelembutan dan pertolongan Allah, kami menemukan Risale-i Nur yang dikaruniakan kepada kami, dan kami membacanya. Karena limpahan karunia yang ada padanya tidak terdapat pada karya mana pun, kami menyadari bahwa ia adalah suatu karya yang menakjubkan. Sebab Risale-i Nur adalah seorang pembimbing yang paling sempurna dan pendidik yang paling agung, yang menerangi kalbu-kalbu yang menggelap dengan cahaya hidayah, dan yang akan menyampaikan kami yang malang ini dari kegelapan kepada cahaya, dari kesesatan kepada hakikat, kepada kebahagiaan dan keselamatan di dunia dan akhirat.

Kami memanjatkan puji dan sanjung ribuan, ratusan ribu kali kepada Allah yang telah memuliakan kami yang tak berdaya ini dengan kehormatan membaca karya-karya semacam ini. Patutlah kiranya, sebagai rasa syukur kepada Sang Khâliq Yang Penuh Kemuliaan — yang telah menganugerahkan kepada kami membaca khazanah ilmu yang telah dinanti-nantikan seluruh dunia selama berabad-abad dan yang mereka dambakan untuk mengambil manfaat dari cahayanya namun tidak berhasil — kami tidak mengangkat kepala kami dari sujud sampai akhir umur kami... Kami berharap: semoga Allah tidak memisahkan kami dari Risale-i Nur dan dari Ustaz kami tercinta untuk selama-lamanya. Amin, amin, amin...

Wahai Ustaz kami yang berharga, junjungan kami!

Engkau telah mengorbankan segala milikmu demi khidmah al-Qur'an dan iman. Terhadap kezaliman dan siksaan yang begitu keras yang menimpamu, dan terhadap begitu banyak musibah dan bencana yang dijeratkan kepadamu, engkau bersabar dan bertahan sampai puncaknya. Meskipun ditekan dengan keras oleh para musuh agama dan Islam, engkau sekali-kali tidak meninggalkan tugasmu. Di mahkamah-mahkamah, tanpa merasakan ketakutan sedikit pun dalam kalbumu, engkau membela Islam tanpa gentar. Dan dengan itu engkau melahirkan karya-karya yang luhur, yang mencukupi dan memadai bagi kebahagiaan dua negeri, dan engkau menjadi penyeru iman yang terbesar. Dan demikianlah engkau memaklumkan bahwa engkau diserahi tugas suci untuk memperkenalkan, menyebarkan, dan menyampaikan Agama yang Haq kepada seluruh umat manusia — untuk yang terakhir kalinya — dengan segala keagungan dan keluasannya, dengan segenap kekuatan dan kegemilangannya. Semoga jihadmu ini penuh berkah bagimu!..

Dalam menunaikan tugas suci ini engkau telah naik ke puncak kasih sayang. Dengan mengatakan bahwa engkau bersedia masuk neraka dengan segenap kekuatanmu demi masuknya beberapa orang malang ke surga, dan dengan bersabar serta bertahan atas kezaliman dan bencana yang keras — yang bandingannya tidak pernah dijumpai di dunia dan yang membuat kekejaman inkuisisi tampak bagai rahmat — engkau telah membuktikannya.

Perkataan-perkataanmu yang berkesan dalam Risale-i Nur itu melahirkan pengaruh-pengaruh besar atas ruh, kehendak, dan akhlak kami. Terlebih raja segala risalah itu, "Kumpulan Kalimat" (Sözler), patut dibaca dan dibacakan berulang-ulang kali. Dan kami berkeyakinan bahwa sama sekali bukan berlebihan untuk mengatakan: karya semacam ini tidak mungkin lahir dari tangan dan lidah banyak pemikir dan ulama besar sekalipun. Risale-i Nur, sebelum segala sesuatu, memberikan kepada manusia sebuah pelajaran ibrah. Ia menghidupkan pikiran akhirat, kesadaran akan hisab dan perhitungan. Sejak masih di dunia, ia menetapkan persinggahan-persinggahan ahli kebahagiaan dan ahli kesesatan.

Kami pun, dengan pengaruh pelajaran-pelajaran Risale-i Nur ini, sampai kepada derajat tidak lagi merasakan kecemasan-kecemasan hidup yang fana. Dan kami sungguh-sungguh telah meyakini bahwa dengan membacanya kami akan meraih rida Ilahi, dan bahwa kami akan berjumpa dengan Hazret-i Penghulu Kerasulan serta dengan engkau, Ustaz kami yang penuh berkah, wakilnya yang tercinta dan penerjemahnya yang hakiki. Dan sampai napas-napas terakhir hidup kami, kami akan mengorbankan segala milik kami di jalan ini. Dan setiap bencana yang datang menghadang akan kami kalahkan dengan izin Ilahi dan dengan himmah Ustaz kami. Dan kami sekali-kali tidak akan memberi telinga kepada orang-orang lalai yang hendak memalingkan kami dari jalan ini, insya Allah.

Wahai Ustaz kami tercinta, junjungan kami!

Kami tidaklah berdaya memuji dan menyanjung sebutir zarah pun dari nilai dirimu dan nilai Risale-i Nur. Pujian bagimu dan bagi Risale-i Nur telah disenandungkan oleh murid-muridmu yang perkasa dengan lidah mereka yang bergelora dan kecintaan mereka yang menyala. Adapun kami, agar dapat merangkak di jejak-jejak kaki mereka sampai ke hadapanmu, telah menuliskan hal-hal ini kepadamu dengan lidah kami yang buruk ini. Demi kenangan kedua syahid hakikat, Hâfız Ali dan Hasan Feyzi (rahmatullahi 'alaihima), kami memohon kepadamu agar memandang baik kelancangan kami ini.

اَلْبَاقِى هُوَ الْبَاقِى

Atas nama anak-anakmu dan saudari-saudari akhiratmu di Izmir, Manisa, dan sekitarnya

Âsıme, Fatma, Leman, Ayşe, Naile

بِاسْمِهِ سُبْحَانَهُ

Wahai Ustaz kami, Sang Penakluk Hati, junjungan kami!

Bagaimana mungkin kami tidak beriman dengan segenap keberadaan kami sambil menyebutmu "Hazret-i Ustaz kami" dan menyebut Risale-i Nur "Nur-Nur kami"? Adakah kemungkinan kami sama sekali tidak mempercayainya? Benar, Hazret-i Ustaz kami, dengan terus-menerus membaca Nur-Nur kami, kami telah memahami bahwa jalanmu yang bercahaya itu menuju kepada Nabi kita, Rasul yang paling mulia صلى الله عليه وسلم, junjungan kita.

Seluruh dunia telah menjadi saksi bahwa Risale-i Nur tidak lain hanyalah matahari hakikat-hakikat yang dapat kami pahami dan kami renungkan, yang menunjukkan bahwa al-Qur'an kita yang mulia adalah kitab yang haq. Risale-i Nur, dengan mengalirkan tetesan dan sinar air kehidupan ke ruh-ruh yang menggelap, adalah seorang pengajar Ilahi yang berseru "Tunaikanlah tugasmu!" kepada kemanusiaan, pada abad yang kita hidup di dalamnya dan pada masa-masa yang akan datang.

Pada masa lampau, ketika kami dijauhkan begitu rupa dari al-Qur'an kami dan iman kami; pada hari-hari kelam ketika kami hendak digulingkan ke jurang-jurang kesesatan dan tanpa kami sadari hendak dijerumuskan ke dalam penjara-penjara abadi dan hukuman-hukuman mati; engkau datang dengan pedang intan yang bercahaya dari al-Qur'an di tanganmu. Engkau turun ke dataran tinggi Barla. Engkau menundukkan falsafah tak beragama dan kaum naturalis, membuat mereka bertekuk lutut. Dengan membungkam semua yang berpikiran kelam, engkau mematahkan punggung komunisme, zionisme, dan kaum mason sehingga tidak dapat dipulihkan lagi.

Tiada lagi keraguan pada kami bahwa Allah telah menganugerahkan engkau — dan dengan demikian Nur-Nur itu — agar menaikkan ahli iman kepada iman tahkiki, dan agar mereka memperoleh kebahagiaan abadi sebagai ganti kegelapan abadi. Kami percaya bahwa dengan menyebutmu utusan Nabi kita pada abad kedua puluh dan penyelamat golongan al-Qur'an, kami telah mengungkapkan sebuah hakikat.

Sementara al-Qur'an kami sampai kini masih hendak diingkari dengan lidah falsafah akal-akal yang banyak bicara; Risale-i Nur, dengan menjadi cermin bagi al-Qur'an, menampakkan dengan terang benderang kepada kami kaum awam pun bahwa kitab ini adalah undang-undang Allah, dan bahwa hanya undang-undang inilah panduan yang membawa kepada kebahagiaan abadi. Kemarin kami tidak tahu, sekarang kami memahami bahwa: pada masa orang-orang yang mengingkari matahari ini — agama kita yang luhur, saripati agama-agama samawi, dan santapan segala ruh — telah muncul suatu cara berpikir yang sedemikian rupa, sehingga cara berpikir yang keji dan mengerikan ini tidak pernah ada, baik pada para Firaun maupun pada para Abu Jahal.

Dalam Riwayat Hidupmu yang diterbitkan hari ini pun terlihat bahwa: kezaliman-kezaliman yang ditimpakan kepada engkau, Hazret-i Ustaz kami Bedîüzzaman, bermula dengan pembuanganmu ke dataran tinggi Barla. Dalam pembuangan-pembuanganmu ke Isparta, Eskişehir, Kastamonu, Denizli, Emirdağ, dan Afyon, secara lahiriah engkau diasingkan oleh para musuh agama. Pada hakikatnya engkau adalah seorang petugas Rabbani yang akan menaklukkan dan menyelamatkan hati ribuan ahli iman dan para pelajar sekolah yang haus akan perkataan yang haq. Dan engkau adalah teladan sejati yang menunjukkan jalan kepada mereka. Orang-orang yang hendak menjatuhkan hukuman kebinasaan abadi kepada generasi-generasi mendatang telah berkali-kali meracunimu; namun racun-racun itu gentar oleh besarnya kejahatan ini, lalu berubah menjadi penawar-penawar, dan menjadi tanda-tanda pemisah antara ahli kekafiran dan ahli iman.

Karena engkau, Hazret-i Ustaz kami, telah ditetapkan sebagai penyelamat kami, maka dengan izin Allah, tiang-tiang gantungan pun telah berubah menjadi papan-papan pengumuman. Dalam perkara Ankara, kakak-kakak kami yang gagah berani, yang tua dan yang muda, menjadi teladan-teladan yang membuktikan atas nama seluruh Islam watak luhur murid-muridmu — yang kemarin ribuan, dan hari ini telah melampaui jutaan.

Kami hadir di hadapan Majelis Mahkamah Pidana Berat Pertama Ankara, pada sidang pertama saudara-saudara kami yang bercahaya. Dari Konya, kami tiga saudari wanita murid Nur turut hadir. Bersama ratusan saudara dan saudari kami, kami melihat dan menyaksikan hakikat kebenaran. Seorang kakak kami yang pengacara, ketika ditanya jati diri dan pekerjaannya, menjawab, "Aku pelayan Risale-i Nur." Ketika menceritakan bagaimana ia mengenal Risale-i Nur, ia berkata, "Aku mengenal Nur-Nur itu pada tahun 1952. Pada tahun 1954 aku masuk ke dalam khidmahnya. Pada tahun 1957 aku menamatkan Fakultas Hukum dan menyerahkan diriku kepada khidmah Nur-Nur itu" — kami pun berlinang air mata. Kami tidak dapat menahan diri dari mengucap "Allah, Allah". Semoga Allah meridai engkau, Hazret-i Ustaz kami, dan kakak-kakak kami yang berada dalam khidmah Nur-Nur itu.

Ustaz kami yang berharga, junjungan kami!

Betapa pun kami bersyukur kepada Allah, tidaklah akan cukup — Dia yang telah menganugerahkan kepada kami kehormatan untuk mengabarkan kabar gembira kepadamu, Hazret-i Ustaz kami, bahwa berkat doa-doamu yang penuh berkah, dengan kelembutan dan karunia Allah kami, orang-orang yang membaca Nur-Nur itu di Konya bertambah banyak dari hari ke hari; dan untuk mengucapkan selamat kepadamu sebagai saksi kemenanganmu dalam perjuangan menyelamatkan iman.

Kami pun mendengar dan menyaksikan bahwa para penerus khidmahmu — yang telah melelehkan jeruji-jeruji besi penjara-penjara, misal Madrasah Yusufiyah masa lalu, dengan sinar-sinar Nur, dan menjadi perantara masuknya Nur-Nur itu ke rumah-rumah kami laksana roti — bukan lagi ribuan, bukan ratusan ribu, melainkan telah melampaui jutaan.

Dengan perantaraan surat kami ini kami memberitahukan bahwa rumah-rumah kami telah menjadi Madrasah-Madrasah Nuriyah, dan kami berkata kepadamu, Hazret-i Ustaz kami: Engkau telah menyelamatkan kami dari tangan kaum musyrik. Engkau telah memberikan ke tangan kami surat-surat iman sebagai tanda-tanda keselamatan. Dengan khidmahmu, kami telah meninggalkan hawa-hawa kepemudaan kami dan berpegang teguh kepada Nur-Nur itu. Kami percaya bahwa bukan hanya di tanah air kami, bahkan di seluruh dunia, bersama Nur-Nur kami, kami akan melangkah dari kemenangan ke kemenangan. Kemenangan ini adalah kemenangan nur-nur yang menuju Allah. Kemenangan ini adalah kemenangan orang-orang yang mengikuti jalan bercahaya yang telah dibuka Nabi kita pada Masa Kebahagiaan. Kemenangan ini adalah kemenangan orang-orang beriman. Kejayaan adalah milik Islam. Adapun kekalahan adalah milik gerombolan-gerombolan tak beragama, yang kemarin dan yang hari ini. Seluruh dunia sedang menyaksikan bahwa tiada satu kekuatan pun yang dapat mengalahkan hati-hati yang beriman. Kemenangan Risale-i Nur dalam khidmah iman menunjukkan hal ini sekali lagi.

Sekiranya engkau tiada, niscaya kami telah lama menanamkan ke dalam kalbu kami perhiasan-perhiasan fana abad ini yang hanyalah kepura-puraan — dengan dalih "perintah abad peradaban" — dan telah menjatuhkan ruh-ruh kami dari derajat intan ke derajat arang yang kotor. Karena Allah telah menganugerahkan Nur-Nur kami melalui perantaraanmu, maka dalam cahaya Nur-Nur kami itu, kami dapat melihat dengan terang benderang malam-malam yang gelap itu serta keburukan-keburukan peradaban para penipu itu. Kami memanjatkan puji dan sanjung atas pertolongan Allah kami ini.

Agar kami dapat melihat betapa mengerikan dan betapa dahsyatnya abad ini, ternyata kami hanya dan hanya dapat memandangnya dengan teropong iman tahkiki. Kami para murid Nur amat bersedih dengan pikiran bahwa mereka yang tidak memasang teropong iman pada kalbu dan matanya, dapat ditelan oleh rawa-rawa kesesatan peradaban tanpa "mim" ini, yang menampakkan hiburan-hiburan kosong sebagai kebaikan. Akan tetapi dari surat-surat yang datang telah kami ketahui bahwa Nur-Nur itu telah masuk pula ke ruh orang-orang Eropa dan dari hari ke hari membersihkan hiburan-hiburan kosong mereka.

Adapun kami, hari ini, dengan cahaya iman kami berkata: Wahai falsafah tak beragama yang mendakwa abad kedua puluh sebagai abad peradaban! Wahai kaum mason naturalis yang tak beragama dan kaum Moskow merah!.. Kami berseru kepada kalian dari tanah-tanah indah tanah air ini, dari pangkuan Hazret-i Maulana di Anatolia Tengah: kami adalah umat Hazret-i Muhammad صلى الله عليه وسلم, cucu-cucu Maulana, dan murid-murid Bedîüzzaman Said Nursî. Kenalilah kami baik-baik. Peradabanmu telah kami kuburkan di pekuburan masa lampau. Sebagai gantinya, matahari abad kedua puluh satu yang amat segar hampir terbit. Matahari ini akan terbit sebagai matahari kaum muslimin, matahari Nur-Nur, dan dengan demikian matahari para murid Nur, insya Allah.

Hazret-i Ustaz kami, junjungan kami! Dengan lidah kami yang penuh kekurangan ini, dengan menyatakan tanda-tanda penerimaan kami akan hakikat kebenaran bersamamu di jalan iman, di jalan Allah, dalam bimbingan al-Qur'an kami — kami percaya bahwa kami adalah manusia yang paling beruntung di abad ini. Sebab tubuhmu yang fana — yang bahkan hari ini pun engkau pandang dengan pandangan seorang murid — di sisi Allah dan di sisi kami adalah abadi. Sebab kalbu-kalbu kami yang menghadap kepada makrifatullah berdetak dengan kekuatan iman. Kekuatan ini telah menjadi kekuatan Ilahi yang tidak akan memisahkan kami dari jalan Allah, dari bimbingan Nabi kita Rasul yang paling mulia صلى الله عليه وسلم junjungan kita, dan dari Nur-Nur kami, insya Allah.

Dengan izin Allah, kami menulis surat ini dengan limpahan karunia yang diberikan Risale-i Nur dan Nur-Nur kami ke dalam kalbu kami. Karena kami terlalu banyak menyibukkan engkau, Ustaz kami, dalam keadaan sakitmu, kami masing-masing memohon ampun atas kekurangan-kekurangan kami, memohonkan kesembuhan dari Allah, dan mengucapkan selamat atas Malam Mikrajmu.

اَلْبَاقِى هُوَ الْبَاقِى

Atas nama Para Wanita Konya yang amat membutuhkan doa-doamu

Gülsün, Elmas, Firdevs, Mediha, Ayşe, Hatice, Fatma, Sâliha, Şükran, Müşerref, Zehra, Ayşe, Nuran

(Ini adalah surat para wanita di Istanbul yang, seperti para pahlawan Nur semisal Hasan Feyzi dan Halil İbrahim, menampakkan keterikatan yang menakjubkan kepada Nur-Nur dari kalangan kaum wanita)

بِاسْمِهِ سُبْحَانَهُ

Ustaz kami yang agung, yang amat terhormat dan amat penuh berkah, junjungan kami!

Karena engkau menerima kami yang lemah dan malang ini menjadi murid, kami amat bergembira. Dunia serasa menjadi milik kami. Mata kami dipenuhi air mata kegembiraan. Kami menangis... Dan sambil menangis, kami memanjatkan syukur yang tak terhingga kepada Rabb kami Ta'âlâ. Allah telah memasukkan kami yang fakir ini ke dalam doa-doa seorang Ustaz yang megah — satu-satunya Bedîüzzaman di dunia sepertimu — yang seratus tiga puluh karyanya yang tiada bandingan dibaca dengan penuh kecintaan di mana-mana. Dia telah menyampaikan kami kepada suatu kehormatan yang amat besar, suatu nikmat yang amat besar: menjadi murid pemilik Risale-i Nur, Zat terbesar zaman ini...

Aduhai Ustaz kami, apa yang dapat kami perbuat! Engkau tidak menerima hadiah, sehingga kami tak dapat mengirimkan hadiah. Engkau telah menyelamatkan kehidupan abadi kami. Sedangkan kami, kebaikan yang paling kecil pun tidak mampu kami perbuat kepadamu. Sekalipun diperbuat kebaikan sepenuh dunia, tetap tidak akan dapat mengimbangi karuniamu yang besar seperti Risale-i Nur, yang telah menyampaikan kami kepada iman yang sempurna. Semoga Allah meridai engkau, Ustaz kami, untuk selama-lamanya; memberikan kesehatan dan kesembuhan. Dan semoga Dia tidak memisahkan kami dari Ustaz kami Bedîüzzaman, amin...

Wahai Rabb kami! Demi kehormatan Nabi kami tercinta, Kekasih-Mu, kabulkanlah doa kami ini, amin.

Ustaz kami yang agung, junjungan kami! Kami tidak melihat pada diri kami kelayakan menjadi muridmu. Kasih sayangmu yang begitu besar kepada kami dan kepedulianmu yang amat tinggi itulah yang memasukkan kami ke dalam barisan murid Risale-i Nur, yang menyampaikan kami kepada kebahagiaan-kebahagiaan di dunia dan akhirat. Kami membaca Risale-i Nur. Saudari-saudari akhiratmu amat merindukan Risale-i Nur. Kami membacanya bersama-sama. Dari Risalah-Risalah Nur kami mengambil banyak — bahkan amat banyak — manfaat. Pelajaran-pelajaran amat suci yang diberikan kepada kaum wanita dalam Risale-i Nur, sampai sekarang belum pernah kami lihat dalam kitab mana pun, belum pernah kami dengar dari guru mana pun. Hakikat-hakikat iman yang amat berharga, amat indah, dan amat manis itu adalah santapan ruh kami.

Hakikat-hakikat al-Qur'an yang suci dalam Risale-i Nur meresap ke dalam kalbu-kalbu kami, menyalakan nyala-nyala cinta dari nur di dalam kalbu kami, memberikan kekuatan kepada iman kami, menaikkan derajat-derajat kami dalam kehidupan maknawi. Risale-i Nur menjauhkan kami dari fitnah-fitnah, menghimpunkan kami kepada jalan yang lurus, jalan al-Qur'an. Ia menjadikan kami aman dari kejahatan setan-setan, jin-jin, dan orang-orang yang menipu serta memperdaya kami di balik tirai agama. Semoga al-Haq Ta'âlâ meridai engkau, Ustaz kami, untuk selama-lamanya, dan memberikan umur yang panjang... Rasa terima kasih kami kepadamu, Ustaz kami, tiada berkesudahan.

Semoga Nabi kita tercinta, Rasul yang paling mulia صلى الله عليه وسلم junjungan kita, menjadi penolong dan pembantu bagi engkau, Ustaz kami, dan bagi saudara-saudara kami para murid Nur dalam khidmah iman dan al-Qur'an untuk selama-lamanya. Semoga Allah memberi kalian keberhasilan dalam khidmah al-Qur'an ini, amin, amin, amin...

Ustaz kami, junjungan kami!

Bagaimana kami mengadukan derita kami! Komite-komite perusak, para musuh agama, dengan tipu daya telah merusakkan kami kaum wanita; banyak dari kami telah mereka jauhkan dari Islam. Mereka telah menghalangi kami dari tarbiyah Islam yang tinggi, dari adab Islam yang luhur. Sampai sekarang pun mereka masih berusaha menanamkan kepada kami hal-hal yang memudaratkan agama kami. Puji dan sanjung yang tak terhingga bagi Rabb kami: Risale-i Nur telah menyelamatkan kami bahkan dari terbawa arus semuanya itu. Ketika kami memperoleh Risale-i Nur, nur-nur berhujanan ke dalam kalbu kami. Dalam ruh kami terbuka jendela-jendela ke alam-alam yang bercahaya. Setiap kali membaca Risalah-Risalah Nur, keterikatan kami kepada iman kami dan agama suci kami bertambah. Cinta kami kepada Nabi kita, Kekasih Yang Penuh Kemuliaan, junjungan kita, semakin besar. Ketaatan, kecintaan, dan kerinduan kami kepada Allah menjadi tiada berkesudahan. Setiap kali membaca Nur-Nur itu, kami mulai dapat memilah hal-hal yang memudaratkan agama dan iman kami.

Kami tidak lagi pergi kepada orang-orang yang menipu kami para wanita yang lugu dengan dalih "aku memberikan pelajaran agama", lalu mendorong kami ke jalan-jalan yang salah. Sebab Risale-i Nur telah membuka mata kami. Sebelum membaca Risale-i Nur, kami tidak dapat mengetahui hal-hal ini. Ternyata kami telah berbuat dosa-dosa dengan mengikuti hal-hal lain dan hasrat-hasrat lain. Ternyata kami telah terbawa meniru keadaan orang-orang kafir Eropa yang tidak pantas bagi kehormatan kewanitaan Islam yang suci. Risale-i Nur telah menyelamatkan kami dari kebodohan dan dari hal-hal buruk itu. Ia menjauhkan kami dari dosa-dosa dan menyampaikan kami kepada pahala-pahala. Risale-i Nur menjadi obat bagi setiap derita kami, menjadi salep bercahaya bagi kepedihan-kepedihan kami. Sekarang kami beriman bahwa: Risale-i Nur adalah obat bagi segala sesuatu. Karya-karya yang amat bercahaya dan amat penuh limpahan karunia ini mencukupi bagi kami. Ia tidak menyisakan kebutuhan untuk pergi dan mencari kepada yang lain.

Kami kaum wanita, alhamdulillah, terikat kepada agama kami. Akan tetapi kami telah dihalangi dari karya-karya yang akan mengajarkan agama kami secara hakiki, yang akan menggiring kami kepada ibadah, amal-amal yang baik, dan akhlak yang indah. Orang-orang tak beragama telah membingungkan kaum wanita. Karena itu kami memerlukan seorang pembimbing yang sempurna seperti Risalah-Risalah Nur, yang mengajarkan kami jalan al-Qur'an dan memandu kami menuntut ilmu iman di jalan raya Islam yang bercahaya dan penuh keselamatan. Kami amat membutuhkannya. Kebutuhan kami amat besar kepada seorang ustaz, sebuah karya, seperti Risalah-Risalah Nur, yang akan menyampaikan kami kepada kebahagiaan-kebahagiaan abadi, yang akan menerangi kami dengan nur-nur al-Qur'an, dan melimpahi kami dengan karunia al-Qur'an yang mulia yang tiada berkesudahan. Berarti selama ini kami tidak melihat Nur-Nur ini, karya-karya ini, ustaz ini. Berarti kami berada dalam kelalaian. Kami telah melihat, kami tersadar, kami terbangun, kami berpegang teguh kepada Risale-i Nur. Kami selamat dari penipuan orang-orang lain. Kami telah sampai kepada nur-nur al-Qur'an dan iman dalam Risalah-Risalah Nur. Alhamdulillah, kami memanjatkan syukur yang tak terhingga atas kelembutan dan kemurahan Allah yang besar ini...

Ustaz kami! Kami berpegang kepada Risalah-Risalah Nur dengan segenap ruh dan jiwa kami. Panduan Wanita, Panduan Pemuda, Kelimat-Kelimat Kecil, Risalah Orang-Orang Sakit, dan Risalah Orang-Orang Tua adalah panduan kami yang terbesar. Ialah pelajaran-pelajaran kami yang bercahaya, yang melenyapkan kepedihan-kepedihan kami. Panduan Wanita adalah karyamu yang patut dibaca berulang-ulang kali. Setiap kali membacanya, lahirlah hasrat untuk membacanya lagi. Panduan Pemuda kami baca berulang-ulang. Setiap kali mengulanginya, pemahaman kami bertambah; pengaruhnya pada ruh dan kalbu kami semakin besar.

Kelimat-Kelimat (Sözler), Risalah Orang-Orang Sakit, dan Risalah Orang-Orang Tua sering kami baca. Setiap kali membacanya kami semakin menyadari dan memahami bahwa kami membutuhkan Risalah-Risalah ini melebihi roti, air, dan udara. Demikianlah kami mengedarkan Risalah-Risalah Nur itu. Risalah-Risalah Nur adalah ruh kami, kalbu kami, mahkota kepala kami, cahaya hati kami. Kami mendekap Nur-Nur itu ke dada kami. Kami tidak membiarkannya jauh dari sisi kami, dari lidah kami, dari tas kami...

Ustaz kami! Nur-nur iman dalam Risalah-Risalah Nur laksana mawar-mawar Muhammadi (صلى الله عليه وسلم). Kami tak berdaya mengungkapkan betapa besar faedah karya-karyamu ini bagi kami, dan betapa dalam pengaruhnya pada ruh dan kalbu kami.

Ustaz kami! Kami telah memperoleh doa Nabi kita صلى الله عليه وسلم junjungan kita yang bernama "Cevşenü'l-Kebir" — yang dibaca para murid Nur dan yang tiada satu pun bandingannya di dunia — serta salawat-salawatmu yang amat besar pahalanya, amat bercahaya, dan amat penuh keutamaan; kami pun mulai membacanya. Wirid-wirid yang amat berharga dan penuh berkah yang engkau langgengkan ini telah menjadi zikir kami, menjadi wirid kami, alhamdulillah! Akan tetapi yang paling kami utamakan dan kami pentingkan ialah membaca Risalah-Risalah itu. Sebab semakin sering kami membaca Risalah-Risalah Nur, semakin banyak pula limpahan karunia yang kami peroleh dari doa-doa ini. Doa-doa dan wirid-wirid itu kami baca pada malam-malam yang penuh berkah, terutama pada waktu-waktu seperti Malam Ragaib, Malam Mikraj, Malam Nisfu Syakban, Lailatulqadar, dan malam-malam Jumat.

Allah telah menjadikan bagi kami kaum wanita — yang amat membutuhkan kasih sayang — seorang Zat yang amat penuh kasih dan amat penuh belas kasihan sepertimu sebagai ustaz. Dia telah menganugerahkan kepada kami Risalah-Risalah Nur, pembimbing yang paling benar, paling tinggi, paling hakiki, dan paling besar di muka bumi.

Kami tidaklah berpegang kepada seorang ustaz yang fana, yang apabila ia wafat kami tinggal tanpa pembimbing. Ada seorang ustaz yang abadi: tafsir al-Qur'an yang tidak mati dan kekal, Risale-i Nur. Ustaz kami akan menjadi ustaz bagi kami untuk selama-lamanya, akan menjadi pelindung kami, akan menerangi kami sampai kami mati, insya Allah.

Syukur yang berlimpah bagi Allah kami: kami kini telah masuk ke Maktab Nur, sebuah maktab yang tinggi. Kami telah berhimpun kepada Nur-Nur al-Qur'an. Risale-i Nur adalah pelajaran-pelajaran kami yang tinggi. Risale-i Nur adalah sumber nur yang terbesar dan khazanah limpahan karunia yang terkaya. Kami kaum wanita berbangga dan merasa terhormat dengan kedudukan sebagai murid Nur. Pada zaman yang penuh tipu daya ini, pada abad ketika bahaya-bahaya mencekik kemanusiaan ini, benteng pelindung yang terbesar ialah menjadi murid Risale-i Nur. Menjadi murid Risale-i Nur adalah kehormatan yang terbesar. Berhimpun kepada Risalah-Risalah Nur — yang meresapkan hakikat-hakikat al-Qur'an ke dalam kalbu, ruh, dan akal kami — adalah berhimpun kepada al-Qur'an dan Islam.

Terlebih pada masa kekacauan ini, ketika banyak orang penipu yang memanfaatkan keluguan kaum wanita; jalan yang paling lurus, panduan yang paling benar, dan ustaz yang paling hakiki ialah Risale-i Nur. Risale-i Nur adalah jalan al-Qur'an. Risale-i Nur adalah jalan iman dan Islam. Hakikat-hakikat bercahaya yang paling indah, paling manis, dan paling nikmat ada di dalam Risale-i Nur. Sebagaimana seseorang dipenuhi kecintaan Ilahi ketika berzikir dengan kalimat tauhid dan ketika membaca al-Qur'an; demikian pula halnya ketika membaca dan mendengarkan Risale-i Nur. Sebab Risale-i Nur, dari awal sampai akhir, mengajarkan hakikat-hakikat kalimat tauhid. Ia menerangkan kepada kami hakikat-hakikat al-Qur'an dan hakikat-hakikat tauhid, lalu mengukirkannya ke dalam kalbu, akal, dan ruh kami. Sekalipun kami tidak dapat memahami semuanya dengan sepatutnya, sekadar yang dapat kami pahami pun telah menyelamatkan kami. Dan hakikat-hakikat tinggi yang tidak kami pahami pun secara maknawi memberi kesan kepada kami, melimpahi kami dengan karunia, dan menerangi kami. Karena itulah Risalah-Risalah Nur dibaca berkali-kali, ditelaah berulang-ulang.

Ustaz kami, junjungan kami!

Engkau adalah seorang ustaz sejati yang tidak menipu, yang satu kata dan perbuatannya, yang mengamalkan ilmunya. Engkau adalah pembimbing sempurna yang hakiki dan paling lurus. Sekiranya engkau tidak menolak hadiah-hadiah yang ditawarkan kepadamu selama ini, niscaya engkau dapat membangun istana dari emas. Engkau, dengan Risalah-Risalah Nur, adalah seorang ustaz sejati dan pembimbing terbesar yang hakiki: engkau tidak mengumpulkan keuntungan-keuntungan dunia bagi dirimu, tidak menimbun kekayaan-kekayaan dunia... Engkau telah meninggalkan dunia. Semata-mata demi rida Allah engkau memberikan pelajaran-pelajaran iman, engkau berkhidmah kepada al-Qur'an. Maka karena keikhlasan yang ada padamu inilah kami kaum wanita dan jutaan kaum lelaki, orang tua, dan pemuda berpegang kepada kitab-kitabmu.. terus mengikuti pelajaran-pelajaranmu dengan penuh kepercayaan. Mereka menjadi pengorban demi agama, demi iman. Mereka membusungkan dada menghadapi segala kesulitan di jalan Risale-i Nur. Mereka amat mementingkan perkataan-perkataanmu dan mempercayainya...

Karena engkau menafsirkan ayat al-Qur'an yang mulia yang memelihara nilai, kehormatan, dan kesucian kaum wanita serta menjaga mereka dari pandangan-pandangan kotor, orang-orang tak beragama menyeretmu ke mahkamah hukuman mati dan melemparkanmu ke penjara-penjara. Di mahkamah-mahkamah itu, engkau sama sekali tidak takut kepada hukuman mati yang akan dijatuhkan kepadamu. Engkau bertahan atas siksaan-siksaan yang tak tertanggungkan, dan engkau tidak gentar. Engkau tetap membela dengan keteguhan risalahmu yang merupakan tafsir ayat mulia itu dan yang membela hak-hak kewanitaan. Engkau kembali menerbitkan risalahmu yang memelihara dari maksiat dan meninggikan kaum wanita — yang pada abad ini dibiarkan berada di tengah hal-hal yang buruk dan amat membutuhkan pelindung agama yang hakiki — dan engkau datang menolong kami. Para suami kami berkata kepada kami: "Dalam tiga puluh-empat puluh tahun ini, tiada seorang pun yang berani menulis sebuah karya Islami yang membela kaum wanita. Karya semacam itu, di tengah siksaan orang-orang tak beragama, hanya Bedîüzzaman yang mampu menuliskannya. Ia menjadi panduan yang besar bagi alam kewanitaan..."

Ustaz kami! Engkau, pada zaman yang begitu banyak orang tak beragama seperti ini, telah membela al-Qur'an dan Islam di mahkamah-mahkamah tempat mereka menyeretmu untuk menghukum mati engkau.

Ada saudara-saudara kami yang mempelajari bagaimana seharusnya seorang pembimbing yang sempurna dari kitab-kitab para Zat agung seperti Hazret-i Abdülkadir-i Geylanî (r.a.), Şah-ı Nakşibend (r.a.), dan İmam-ı Rabbanî (r.a.). Kami mendapati syarat-syarat, keadaan-keadaan, dan sifat-sifat seorang ustaz terbesar dan pembimbing sempurna terbesar itu seluruhnya ada padamu, dan kami membacanya dalam karya-karyamu. Pembimbing yang sempurna hanyalah seorang Zat yang keadaannya seperti satu-dua sifat yang kami sebutkan di atas. Kami hanya mengikatkan diri kepada ustaz yang demikian sepertimu dan kepada karya-karyanya. Sebagaimana banyak orang menyaksikan sendiri keadaan-keadaanmu yang berlalu dalam istiqamah sejak masa kecilmu, di mahkamah-mahkamah pun keadaanmu telah menjadi terang benderang. Semuanya ini adalah dalil bahwa engkau adalah Zat terbesar pemilik karya yang tiada bandingannya pada zaman ini.

Kami percaya dengan sepenuh jiwa dan hati kepada karya-karya Risale-i Nur-mu. Kami membaca Nur al-Qur'an dengan cinta dan kasih. Engkau, dengan seluruh keadaan hidupmu, berjalan di jalan al-Qur'an yang ditempuh Nabi Yang Penuh Kemuliaan, junjungan kita. Pada hari-hari pahit ketika karya-karya agama dilarang, engkau memberikan karya-karya seperti Risalah-Risalah Nur yang menyelamatkan iman.

Karena engkau mengikuti jalan Hazret-i Nabi junjungan kita dengan sepenuhnya, engkau tidak takut kepada hukuman-hukuman mati, mahkamah-mahkamah, dan kezaliman-kezaliman. Dan dengan pertolongan Allah, engkau melahirkan seratus tiga puluh bagian Risalah Nur. Laksana singa-singa yang mengaum, engkau membela agama Islam di mahkamah-mahkamah hukuman mati.

Ustaz kami yang amat kami muliakan!

Murid-mu yang berharga, ibunda kami yang terhormat Âsiye Hanım, yang telah berkhidmah kepada Risale-i Nur sejak dua puluh tahun, berada di sini. Ia telah memperkenalkan Risale-i Nur kepada kami. Di kalangan kaum wanita, ia telah melakukan khidmah-khidmah besar bagi iman dengan Risale-i Nur. Ibunda kami di Ankara berkhidmah kepada Risale-i Nur dengan ikhlas. Ia menjadi perantara bagi banyak wanita untuk berbahagia dengan Risale-i Nur dan terselamatkan imannya. Saudari kami murid Nur di sekitar Afyon yang penuh kesaksian, bercahaya, dan giat itu, kabarnya berkhidmah sesuai dengan jalan Risale-i Nur. Banyak wanita dan gadis muda, melalui perantaraannya, memperoleh keberuntungan membaca pelajaran iman dari Risale-i Nur. Kami pun mendengar bahwa di Antalya banyak saudara kami murid Nur yang menekuni Risale-i Nur dan menuliskannya; kami amat bergembira... Kami berdoa bagi saudara-saudara kami para murid Nur yang menekuni Nur-Nur ini, dan bagi seluruh saudara akhirat kami di tanah air kami; kami mengucapkan selamat kepada mereka dengan segenap ruh dan jiwa kami.

Kami telah menulis panjang; kami memohon ampunanmu. Cinta Nur, kasih Nur, tidak membiarkan kami berhenti. Kami senantiasa berbicara tentang Nur. Setiap waktu, di lidah kami, di kalbu kami, di ruh kami, ada cinta Nur... Kami akan membaca Nur... Kami akan membawa Nur... Kami akan menyebarkan Nur, insya Allah...

Di Ankara, Risale-i Nur kabarnya sedang dicetak ribuan di percetakan-percetakan. Inilah hari raya kami yang terbesar. Hari raya ini adalah hari raya seluruh saudara seagama kami di seluruh dunia. Karena itu kami mengucapkan selamat, terutama kepadamu, Ustaz kami, dan kepada seluruh murid Risale-i Nur. Saudari-saudari akhirat kami di sini yang terikat dengan Risale-i Nur, dan kami semua, mengirimkan amat banyak salam dan doa kepadamu. Dengan penghormatan kami yang terbesar, kami mencium tanganmu.

Ustaz kami, junjungan kami!

Karena pada zaman yang dahsyat ini kami telah memperoleh kebahagiaan yang tiada berkesudahan — yakni meraih iman melalui pelajaran-pelajaran yang kami terima dari Risale-i Nur — maka rasa syukur yang terbit di kalbu kami, kami tuliskan dengan cara demikian ini. Sekiranya kami mampu, akan kami tuliskan berlembar-lembar ribuan halaman tentang faedah-faedah yang diberikan Risale-i Nur kepada kaum wanita dan kepada seluruh bangsa-bangsa Islam. Tetapi itu tidaklah mungkin.

Akan datang suatu masa: jutaan wanita akan berlarian ke lingkaran Risalah-Risalah Nur, laksana laron-laron, menuju pelajaran-pelajaran Risale-i Nur. Mereka akan menerima pelajaran-pelajaran iman yang suci dari Risale-i Nur dan mendengarkannya. Mereka akan menghirup Nur-Nur di langit Nur. Mereka akan memperoleh nikmat iman yang memperolehkan surga Firdaus.

Ustaz kami yang amat penuh kasih dan amat penuh belas kasihan!

Kami mengucapkan selamat sekali lagi atas hari raya besar Risale-i Nur ini... Kami tidak akan berpisah dari engkau, Ustaz kami yang penuh kasih, dan dari Risale-i Nur sampai kami mati. Engkau dan Risale-i Nur adalah pembimbing kami di dunia dan pemberi syafaat kami di akhirat. Biarlah jiwa kami menjadi kurban bagi Risale-i Nur — Nur al-Qur'an dan iman — dan bagimu, Ustaz kami, penyeru al-Qur'an... Biarlah segala milik kami menjadi tebusan bagi Risale-i Nur...

اَلْبَاقِى هُوَ الْبَاقِى

Murid-muridmu dan anak-anak maknawimu di Istanbul yang membutuhkan doamu

Hayrünnisa, Seyyide, Emine, Fatma

Kasidah Para Murid Nur

{Kasidah ini, yang dituliskan sebagai imbangan atas mars para prajurit "Ibuku membesarkanku, mengirimku untuk tanah air ini," dapat dilantunkan menurut irama mars itu dan menurut irama nakt syarif Hazret-i Ghazali "Wahai purnama paling bercahaya dari mentari takhta kerasulan".}

Ibuku membesarkanku, mengirimku kepada khidmah ini,

Ia serahkan Risalah itu, menitipkanku kepada Allah;

"Jangan duduk berpangku tangan, bekerjalah," katanya, "berkhidmahlah kepada iman,

Air susuku tak kuhalalkan bagimu, jika engkau tak bekerja untuk al-Qur'an."

Yang kami tulis adalah Risalah, yang kami baca al-Qur'an,

Dengan pertolongan Nur-Nur itu kami menjaga iman;

Madrasah Nuriyah-lah Sav dan Barla, Eflani,

Penolong bagi para murid adalah Abdülkadir Geylanî.

Dengan barisan orang-orang penuh berkah, Pabrik Nur dan Mawar,

Pena-pena mereka laksana pedang, keajaiban zaman;

Yang mereka namakan penjara telah menjadi madrasah-madrasah,

Muda, tua, wanita, lelaki berlarian menuju pelajaran ini.

Genap tiga puluh lima tahun ia berjihad melawan kekafiran,

Keteguhan semacam ini amat jarang terlihat dalam sejarah Islam;

Wahai para murid Nur! Wahai para murid Nur! Wahai saudara-saudara yang penuh berkah!

Semoga Allah dan Rasul-Nya rida kepada kalian setiap saat...