Poin Kedua
Panduan Pemuda · hlm. 109
Seperti halnya iman adalah sebuah cahaya, ia menerangi manusia, ia membuat orang membaca seluruh surat-surat dari Yang Mahatunggal tempat bergantung yang tertulis di atasnya. Begitu pula, ia menerangi alam semesta juga. Ia menyelamatkan masa lalu dan masa depan dari kegelapan. Rahasia ini akan kami jelaskan lewat sebuah perumpamaan yang kulihat dalam sebuah kejadian (mimpi) tentang salah satu rahasia ayat mulia: اَللّٰهُ وَلِىُّ الَّذِينَ اٰمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ اِلَى النُّورِ
Begini:
Dalam sebuah kejadian khayal aku melihat: ada dua gunung tinggi yang saling berhadapan. Di atasnya terbentang sebuah jembatan yang mengerikan. Di bawah jembatan itu ada sebuah jurang yang amat dalam. Aku berada di atas jembatan itu. Dan dunia pun telah dikuasai oleh kegelapan pekat di segala penjurunya. Aku memandang ke sebelah kananku; di dalam kegelapan yang tak terhingga aku melihat — yakni kubayangkan — sebuah kuburan terbesar. Aku memandang ke sebelah kiriku; aku seakan-akan melihat badai-badai dahsyat, gejolak-gejolak, dan bencana-bencana sedang disiapkan di dalam gelombang-gelombang kegelapan yang mengerikan. Aku memandang ke bawah jembatan; aku menyangka melihat sebuah jurang yang amat dalam. Menghadapi kegelapan yang mengerikan ini, aku punya sebuah senter saku yang suram. Aku menggunakannya, lalu memandang dengan cahayanya yang setengah-setengah. Sebuah keadaan yang amat mengerikan tampak kepadaku. Bahkan di ujung jembatan di depanku dan di sekelilingnya tampak naga-naga, singa-singa, dan binatang-binatang buas yang sedemikian mengerikan, sampai-sampai aku berkata: "Andai saja aku tidak punya senter saku ini, andai saja aku tidak melihat kengerian-kengerian ini." Ke arah mana pun kuputar senter itu, kengerian semacam itulah yang kuterima. Aku berkata: "Aduh! Senter ini menjadi bencana bagiku." Aku marah kepadanya; senter saku itu kubanting ke tanah, kupecahkan. Seakan-akan, pecahnya senter itu — seolah aku menyentuh sakelar lampu listrik besar yang menerangi dunia — tiba-tiba kegelapan itu pun tertumpah hilang. Segala penjuru terpenuhi cahaya lampu itu. Ia memperlihatkan hakikat segala sesuatu.
Aku melihat: jembatan yang tadi kulihat itu ternyata sebuah jalan raya di sebuah tempat yang amat teratur, di tengah sebuah dataran. Dan kuburan terbesar yang tadi kulihat di sebelah kananku, ternyata kusadari adalah majelis-majelis ibadah, khidmah (pelayanan), perbincangan, dan zikir — yang seluruhnya penuh taman hijau yang indah, di bawah kepemimpinan orang-orang yang bercahaya. Dan jurang-jurang serta puncak-puncak yang tadi kusangka penuh badai dan gejolak di sebelah kiriku, ternyata — di balik gunung-gunung yang berhias, elok, lagi memikat itu — aku melihat samar-samar adanya sebuah tempat jamuan yang agung, sebuah tempat tamasya yang indah, dan sebuah tempat rekreasi yang tinggi. Dan makhluk-makhluk yang tadi kusangka binatang-binatang buas dan naga-naga yang mengerikan, ternyata kulihat adalah hewan-hewan jinak yang ramah seperti unta, sapi, domba, dan kambing. Sambil mengucapkan "Alhamdulillahi 'alâ nûril-îmân (segala puji bagi Allah جل جلاله atas cahaya iman)," aku membaca ayat mulia: اَللّٰهُ وَلِىُّ الَّذِينَ اٰمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ اِلَى النُّورِ lalu aku tersadar dari kejadian itu.
Nah, dua gunung itu: awal kehidupan dan akhir kehidupan.. yakni alam dunia dan alam barzakh. Jembatan itu adalah jalan kehidupan. Sebelah kanan itu adalah masa lalu. Sebelah kiri adalah masa depan. Senter saku itu adalah keakuan manusia (enaniyet) yang hanya memikirkan dirinya sendiri (hodbin), yang bersandar pada pengetahuannya sendiri, dan yang tidak mendengarkan wahyu langit. Hal-hal yang disangka binatang buas itu adalah peristiwa-peristiwa alam dan makhluk-makhluk yang menakjubkan. Nah, orang yang bersandar pada keakuannya, yang jatuh ke kegelapan kelalaian, yang ditimpa kegelapan kesesatan; ia seperti keadaanku yang pertama dalam kejadian itu: dengan pengetahuan yang cacat lagi bercampur kesesatan — yang laksana senter saku itu — ia melihat masa lalu dalam rupa sebuah kuburan terbesar, di dalam kegelapan yang bercampur ketiadaan. Ia memperlihatkan masa depan sebagai sebuah tempat seram yang amat penuh badai dan bergantung pada kebetulan. Dan ia menampakkan peristiwa-peristiwa serta wujud-wujud — yang tiap-tiapnya adalah petugas yang tunduk dari seorang Al-Hakîm-i Rahîm (Mahabijaksana lagi Maha Penyayang) — sebagai binatang-binatang buas yang membahayakan. Ia menjadikan orang itu sasaran hukum ayat: وَالَّذِينَ كَفَرُوا اَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ اِلَى الظُّلُمَاتِ
Kalau hidayah Ilahi datang, iman masuk ke kalbunya, sifat fir'auniyah nafsunya patah, dan ia mendengarkan Kitabullah; ia akan seperti keadaanku yang kedua dalam kejadian itu. Saat itu, tiba-tiba alam semesta mengambil warna siang, terpenuhi cahaya Ilahi. Alam pun membaca ayat: اَللّٰهُ نُورُ السَّمٰوَاتِ وَاْلاَرْضِ
Saat itu, ia melihat dengan mata kalbu bahwa masa lalu bukanlah sebuah kuburan terbesar, melainkan: tiap-tiap abad adalah jamaah ruh-ruh suci yang menunaikan tugas ibadah di bawah kepemimpinan seorang nabi atau wali; dan dengan selesainya tugas hidup mereka, mereka — sambil mengucapkan "Allahu Akbar" — terbang ke kedudukan-kedudukan tinggi dan menyeberang ke sisi masa depan. Ia memandang ke sebelah kirinya: di balik beberapa pergolakan barzakh dan ukhrawi yang laksana gunung-gunung, ia — dengan cahaya iman itu — menyadari dari kejauhan sebuah jamuan Ar-Rahmani yang digelar di istana-istana kebahagiaan di taman-taman surga. Dan ia mengetahui peristiwa-peristiwa seperti badai, gempa bumi, dan wabah sebagai petugas-petugas yang tunduk. Ia memandang peristiwa-peristiwa seperti badai musim semi dan hujan sebagai — secara lahir keras, namun secara batin — penopang bagi hikmah-hikmah yang amat lembut. Bahkan ia memandang kematian sebagai mukadimah kehidupan abadi, dan kubur sebagai pintu kebahagiaan abadi. Sisi-sisi yang lain, kamu kiaskan sendiri. Terapkanlah hakikat ini pada perumpamaan tadi...