Sinar Ketiga:
Lem'alar · hlm. 528
Yang pertama dari mukadimah-mukadimah yang mengisyaratkan tersingkapnya sekadar rahasia Kayyûmiyah di dalam daya cipta Ilahi dan aktivitas Rabbani: Perjalanan dan pengembaraan yang menakjubkan dari makhluk-makhluk ini — yang terus-menerus bergolak dalam arus waktu dan dikirim dari alam syahadah (alam nyata) ke alam gaib tanpa diberi kesempatan mengedipkan mata atau menarik napas — berasal dari suatu hikmah yang tak terhingga lagi tiada berkesudahan, yang terbagi ke dalam tiga cabang penting.
Cabang Pertama: Dengan rahasia bahwa setiap jenis aktivitas — baik yang parsial maupun yang universal — membuahkan suatu kelezatan; maka — semoga tidak keliru dalam ungkapan — syu'ûnat dari suatu cinta lahuti (cinta ketuhanan), suatu mahabbah qudsi (kasih suci), dan suatu kelezatan suci yang ada pada Zat Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri, terus-menerus memperbarui dan menggolakkan alam semesta dengan aktivitas yang tak terhingga dan daya cipta yang tiada berkesudahan..
Cabang Kedua: Berdasarkan kaidah bahwa setiap pemilik keindahan dan kepandaian mencintai keindahan dan kepandaiannya sendiri, lalu memperagakan dan memaklumkannya; maka oleh karena pada setiap tingkatan dari setiap nama di antara seribu satu asmaul husna Al-Jamîl Yang Maha Sempurna terdapat ragam keindahan yang tak terhingga beserta hakikat-hakikat indah yang tak terhingga pula — itulah sebabnya cinta suci Ilahi itu, berdasarkan rahasia Kayyûmiyah tersebut, terus-menerus mengubah dan memperbarui alam semesta..
Cabang Ketiga, sekaligus Sinar Keempat:
Berdasarkan kaidah-kaidah bahwa setiap zat pemilik rahmat dan kasih sayang serta setiap zat yang mulia hati memperoleh kelezatan dari membuat orang lain rida dan gembira, dari menyenangkan dan membahagiakan mereka; bahwa setiap zat yang adil bersukacita dari menegakkan kebenaran; dan bahwa setiap seniman pemilik kepandaian berbangga dari memperagakan karya seninya serta dari menghasilkan buah-buah yang diinginkannya dengan mengerjakan karya seninya sesuai tata cara yang dikehendakinya — maka ia menjelaskan, dengan ungkapan yang amat menakjubkan, amat manis, amat lembut, lagi sangat menyenangkan, bahwa As-Sâni' Yang Maha Bijaksana pemilik alam semesta ini terus-menerus memperbarui dan memperbaharui alam semesta ini dengan rahasia Kayyûmiyah — di dalam suatu daya cipta yang abadi lagi menakjubkan dan suatu aktivitas sermedi (abadi) yang menakjubkan — demi menjadikan segenap maujud ini tempat kenampakan keindahan-keindahan yang tiada berbatas dan berkesudahan dari seribu satu asmaul husna-Nya. Dan terhadap pertanyaan yang diajukan sebagian ahli kesesatan, "Bukankah zat yang mengubah dan mengganti alam semesta sedemikian rupa itu, dengan sendirinya juga harus berubah dan beralih?" — telah dijawab dengan sebuah jawaban yang menerangkan secara amat pasti bahwa justru sebaliknya, Zat Yang Maha Agung itu mustahil berubah dan beralih.