Persoalan Kedua
Lem'alar · hlm. 519
di samping menjelaskan bahwa keteraturan sempurna yang penuh hikmah ini — yang menolak dan tidak menerima syirik dengan segenap kekuatannya — menuntut kesatuan, kemandirian, dan ketunggalan; ia memberitahukan betapa besar suatu kesalahan menisbahkan ketakberdayaan kepada suatu Yang Maha Kuasa Yang Mutlak — yang menahan alam semesta yang besar beserta segenap keadaan dan sifatnya dalam timbangan keadilan dan tatanan hikmah-Nya — dengan syirik dan kekufuran; dan betapa suatu sambutan yang benar, hak, lagi penuh hakikat beriman dengan tauhid.
Butir Ketiga:
Sang Pembuat Yang Maha Kuasa, dengan nama Al-Hakam dan Al-Hakîm-Nya, telah menciptakan manusia — yang Dia jadikan poros dan penerima hikmah yang paling banyak di alam semesta — laksana suatu pusat dan suatu poros. Dan di dalam lingkup manusia pun, Dia menjadikan rezeki laksana suatu pusat. Ia menjelaskan bahwa: kilasan Ismul-Hakam tampak secara cemerlang melalui kesadaran pada manusia dan cita rasa pada rezeki; dan bahwa setiap ilmu dari ratusan ilmu, dari suatu sisi, memerikan kilasan Ismul-Hakam (misalnya Ilmu Kedokteran, Ilmu Kimia, Ilmu Pertanian, Ilmu Perniagaan, dan seterusnya...); bahwa dengan kesaksian pasti dari setiap ilmu-ilmu ini, sebagaimana Sang Pembuat Yang Maha Bijaksana memberikan keteraturan dan hikmah tak terhingga yang memperlihatkan pilihan, iradah, kehendak, dan masyi'ah ini kepada segenap alam semesta, demikian pula Dia menyisipkannya bahkan pada makhluk hidup yang terkecil dan benih yang terkecil; (sehingga) Zat Yang Maha Suci-Nya adalah Pelaku Yang Maha Berkehendak (fâil-i muhtar); segala sesuatu terwujud dengan perintah-Nya; dan betapa suatu kebodohan dan kegilaan yang mengherankan untuk tidak mengetahui dan tidak mengenal-Nya.
Butir Keempat:
Ia menjelaskan bahwa Sang Pembuat Yang Maha Bijaksana — padahal Dia mengejar dengan puncak kesaksamaan banyak faedah dan tujuan dari ratusan hikmah yang Dia sematkan pada setiap yang maujud, serta dari ratusan tugas yang Dia bebankan (kepadanya) dengan puncak kepekaan yang maujud itu — sama sekali tidak mengizinkan ketiadaan kebangkitan (haşirsizlik) yang bertentangan dengan keindahan rahmat-Nya, kesempurnaan keadilan-Nya, dan hikmah-Nya yang tak terhingga, serta yang membuat rahmat dan keadilan-Nya diingkari.
Butir Kelima:
Ia adalah "Dua Persoalan".