Persoalan Kedua:
Lem'alar · hlm. 385
Dapat dikatakan bahwa Nama al-Hakam dan al-Hakîm menunjukkan dan mengharuskan kerasulan Rasul Yang Mahamulia — 'alaihis-salâtu was-salâm — pada tingkat yang nyata. Ya, karena suatu kitab yang sangat bermakna menuntut adanya seorang guru yang akan mengajarkannya. Dan suatu keindahan yang sangat indah menuntut adanya sebuah cermin yang akan melihat dan memperlihatkan dirinya. Dan suatu seni pada puncak kesempurnaan menuntut adanya seorang penyeru yang memamerkannya. Tentu, di antara jenis manusia yang merupakan lawan bicara dari kitab besar alam semesta ini — yang pada setiap hurufnya terdapat ratusan makna dan hikmah — tentu akan ada seorang pembimbing tersempurna dan seorang guru terbesar. Agar; ia mengajarkan hikmah-hikmah yang suci dan hakiki yang terdapat dalam kitab itu.. bahkan memberitahukan keberadaan hikmah-hikmah di alam semesta.. bahkan menjadi wasilah bagi tampaknya, bahkan tercapainya, maksud-maksud Rabbani dalam penciptaan alam semesta.. dan memberitahukan serta menjadi cermin bagi kesempurnaan seni-Nya dan keindahan nama-nama-Nya yang kemunculannya dikehendaki oleh Sang Pencipta dengan sangat penting di seluruh alam semesta.. dan karena Sang Pencipta itu ingin membuat diri-Nya dicintai dengan segenap yang maujud dan menginginkan sambutan dari makhluk-makhluk berkesadaran, maka seseorang atas nama makhluk berkesadaran itu akan menyambut manifestasi rububiyah yang luas itu dengan suatu penghambaan yang luas, membuat daratan dan lautan bergetar penuh gairah, serta — dengan suatu gemuruh pemameran dan pengudusan yang menggemakan langit dan bumi — akan mengalihkan pandangan makhluk-makhluk berkesadaran itu kepada Sang Pembuat karya-karya seni itu.. dan dengan suatu Al-Qur'an Yang Maha Agung yang — dengan pelajaran dan pengajaran yang suci — mengalihkan telinga segenap orang berakal kepada dirinya, ia akan memperlihatkan maksud-maksud Ilahi dari Sang Pembuat al-Hakam al-Hakîm itu dengan cara yang paling indah.. dan seseorang yang akan memberikan sambutan yang paling sempurna terhadap tampaknya seluruh hikmah-Nya serta terhadap manifestasi keindahan dan keagungan-Nya, adalah suatu keharusan dan kepastian bagi alam semesta ini, sebagaimana keberadaan Matahari. Dan yang melakukan hal itu dan menunaikan tugas-tugas itu dengan cara yang paling sempurna, secara nyata disaksikan adalah Rasul Yang Mahamulia — 'alaihis-salâtu was-salâm.
Kalau begitu; sebagaimana Matahari mengharuskan cahaya, dan cahaya mengharuskan siang; demikian pula hikmah-hikmah di alam semesta mengharuskan kerasulan Ahmadi (shallallâhu 'alaihi wa sallam).
Ya, sebagaimana kilasan teragung Nama al-Hakam dan al-Hakîm menuntut kerasulan Ahmadi pada derajat teragung; demikian pula, banyak nama dari nama-nama yang terindah seperti Allah, ar-Rahman, ar-Rahîm, al-Wadûd, al-Mun'im, al-Karîm, al-Jamîl, dan ar-Rabb — masing-masing, dengan suatu kilasan teragung yang tampak di alam semesta, mengharuskan kerasulan Ahmadi (shallallâhu 'alaihi wa sallam) pada derajat teragung dan tingkat yang pasti.
Misalnya: rahmat yang luas yang merupakan kilasan Nama ar-Rahman, termanifestasi melalui "Rahmatan lil-'âlamîn (rahmat bagi seluruh alam)" itu. Dan kecintaan Ilahi serta perkenalan Rabbani yang merupakan kilasan Nama al-Wadûd, membuahkan hasil dan memperoleh sambutan melalui "Kekasih Tuhan Semesta Alam (Habîb-i Rabbil-'âlamîn)" itu. Dan segenap keindahan yang merupakan kilasan Nama al-Jamîl; yakni keindahan Dzat, keindahan nama-nama, keindahan seni, dan keindahan ciptaan, pun terlihat dan diperlihatkan pada cermin Ahmadi itu. Dan kilasan-kilasan keagungan rububiyah dan kesultanan uluhiyah pun diketahui, terlihat, dipahami, dan dibenarkan melalui kerasulan Sosok Ahmadi yang merupakan penyeru kesultanan rububiyah itu. Dan seterusnya... Seperti contoh-contoh ini, kebanyakan dari nama-nama yang terindah, masing-masing merupakan suatu dalil yang cemerlang bagi kerasulan Ahmadi.
Kesimpulannya:
Karena alam semesta itu ada dan tidak diingkari; maka tentu hakikat-hakikat yang tersaksikan seperti hikmah, pemeliharaan, rahmat, keindahan, aturan, timbangan, dan perhiasan — yang berkedudukan sebagai warna, hiasan, sinar, cahaya, sifat, kehidupan, dan ikatan alam semesta — tidak dapat diingkari dari sisi mana pun. Karena pengingkaran sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan ini tidak mungkin; maka tentu Dzat Yang Wajibul-Wujud, al-Hakîm, al-Karîm, ar-Rahîm, al-Jamîl, al-Hakam, dan al-'Adl — yang merupakan pemilik sifat-sifat itu, pelaku perbuatan-perbuatan itu, dan matahari bagi cahaya-cahaya itu — pun tidak dapat diingkari dari sisi mana pun, dan pengingkarannya tidak mungkin. Dan tentu, kerasulan Muhammad — 'alaihis-salâtu was-salâm — yang merupakan pembimbing terbesar, guru tersempurna, penyeru teragung, penyingkap teka-teki alam semesta, cermin Samadani, dan Kekasih Rahmani — yang menjadi sumber tampaknya, bahkan sumber kesempurnaannya, bahkan sumber terwujudnya sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan itu — tidak dapat diingkari dari sisi mana pun. Sebagaimana cahaya-cahaya alam hakikat dan hakikat alam semesta, kerasulan beliau ini pun adalah cahaya alam semesta yang paling cemerlang. عَلَيْهِ وَعَلٰٓى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ بِعَدَدِ عَاشِرَاتِ اْلاَيَّامِ وَذَرَّاتِ اْلاَنَامِ سُبْحَانَكَ لاَ عِلْمَ لَنَٓا اِلاَّ مَا عَلَّمْتَنَٓا اِنَّكَ اَنْتَ الْعَل۪يمُ الْحَك۪يمُ