Risale-i NurLem'alar

OBAT KETIGA:

Lem'alar · hlm. 255

Wahai orang sakit yang tak tahan! Bahwa manusia tak datang ke dunia ini untuk bersenang-senang dan mengambil kelezatan, disaksikan oleh terus-menerus perginya orang-orang yang datang, menuanya orang-orang muda, dan berkelindannya manusia dalam kelenyapan serta perpisahan yang terus-menerus. Dan padahal manusia adalah yang paling sempurna, paling tinggi, dan paling kaya perangkatnya di antara makhluk hidup, bahkan berkedudukan sebagai sultan makhluk hidup; melalui perantaraan memikirkan kelezatan yang lalu dan bala yang akan datang, ia justru menjalani suatu kehidupan yang penuh kesedihan lagi kepayahan pada suatu derajat yang paling rendah dibandingkan hewan. Artinya, manusia tidak datang ke dunia ini hanya untuk hidup indah dan untuk menjalani umur dengan kenyamanan serta kesenangan. Melainkan, manusia yang memiliki suatu modal besar di tangannya datang ke sini untuk bekerja — dengan perniagaan — bagi kebahagiaan suatu kehidupan yang abadi lagi kekal. Adapun modal yang diberikan ke tangannya adalah umur. Seandainya tak ada penyakit, kesehatan dan keselamatan memberi kelalaian, memperlihatkan dunia sebagai indah, membuat orang melupakan akhirat. Ia tak ingin mengingat kubur dan kematian, ia membelanjakan modal umurnya sia-sia belaka. Adapun penyakit, ia langsung membuka mata. Ia berkata kepada wujud dan jasadnya: “Engkau tak kekal, engkau tak terlantar, engkau memiliki suatu tugas. Tinggalkan kesombongan, pikirkan Yang menciptakanmu, ketahuilah bahwa engkau akan pergi ke kubur, dan bersiaplah demikian.” Nah, penyakit dari sudut pandang ini adalah suatu penasihat yang sama sekali tak menipu dan suatu pembimbing (mursyid) yang mengingatkan. Bukan mengeluh, melainkan dari sisi ini harus bersyukur kepadanya; jika ia terlalu berat, harus meminta kesabaran.