LEM'A KEENAM BELAS
Lem'alar · hlm. 117
بِاسْمِهِ وَاِنْ مِنْ شَيْءٍ اِلاَّ يُسَبِّحُ بِحَمْدِه۪ اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللّٰهِ وَ بَرَكَاتُهُ Saudara-saudaraku yang aziz lagi setia: Hoca Sabri, Hafiz Ali, Mes'ud, para Mustafa, Hüsrev, Re'fet, Bekir Bey, Rüşdü, para Lütfü, Hafiz Ahmed, Syaikh Mustafa, dan lainnya... Aku merasakan suatu bisikan di kalbuku untuk menjelaskan kepada kalian “Empat Persoalan Kecil” yang menarik perhatian dan menjadi bahan pertanyaan, secara ringkas sebagai pengetahuan.
YANG PERTAMA:
Beberapa orang di antara saudara-saudara kita, seperti Çaprazzade Abdullah Efendi, mengabarkan — berdasarkan riwayat dari ahli kasyaf — bahwa pada Ramadan yang lalu akan terjadi suatu kelapangan (faraj) dan kemenangan (futuhat) bagi Ahlus-Sunnah wal-Jamaah, namun hal itu tidak terjadi. Mengapa ahli wilayah dan kasyaf seperti itu mengabarkan sesuatu yang menyelisihi kenyataan? Mereka bertanya kepadaku. Dan ringkasan jawaban yang kuberikan — sebagai lintasan hati (sunuhat) — adalah demikian:
Dalam hadis syarif disebutkan: “Kadang bala turun; tatkala datang, sedekah menghadangnya dan mengembalikannya.” Rahasia hadis ini menunjukkan bahwa: takdir, tatkala hendak terjadi dengan syarat-syarat tertentu, tertahan. Artinya, takdir yang diketahui ahli kasyaf itu bukanlah mutlak, melainkan terikat dengan syarat-syarat tertentu; dan dengan tidak terpenuhinya syarat itu, peristiwa itu pun tidak terjadi. Namun peristiwa itu — seperti ajal muallaq (tergantung) — telah tertulis sebagai takdir pada Lauh Mahv-Itsbat (penghapusan-penetapan), yang berkedudukan sebagai suatu bentuk catatan dari Lauh Azali. Sangat jarang kasyaf sampai ke Lauh Azali. Kebanyakannya tak dapat sampai ke sana. Nah, berdasarkan rahasia inilah, kabar-kabar yang diberikan pada Ramadan Syarif yang lalu, pada Idul Adha, dan pada waktu-waktu lain — berdasarkan istikhraj (penyimpulan) atau berupa kasyaf — tidak terjadi karena syarat-syarat yang menggantunginya tak terpenuhi, dan hal itu tidak mendustakan para pemberi kabar. Karena ia memang tertakdir, tetapi sebelum syaratnya datang ia pun tak terjadi. Ya, pada Ramadan Syarif, doa tulus mayoritas Ahlus-Sunnah wal-Jamaah untuk mengangkat bidah-bidah adalah suatu syarat dan suatu sebab penting. Sayangnya, karena bidah-bidah masuk ke masjid-masjid pada Ramadan Syarif, terkabulnya doa terhalang dan kelapangan pun tak datang. Sebagaimana dengan rahasia hadis tadi sedekah menolak bala, demikian pula doa tulus mayoritas menarik kelapangan umum. Karena daya penarik itu tak terwujud, kemenangan pun tak diberikan.
PERTANYAAN KEDUA YANG MENARIK:
Dalam dua bulan ini, di hadapan suatu situasi politik yang menegangkan, padahal seharusnya aku melakukan suatu usaha yang dengan kemungkinan kuat akan memberi kegembiraan bagiku dan bagi banyak saudara yang kupedulikan, aku justru sama sekali tidak mempedulikan situasi itu; bahkan aku berpandangan yang menguntungkan ahli dunia yang menekanku. Beberapa tokoh terheran-heran. Mereka berkata, “Bagaimana engkau memandang politik yang ditempuh oleh para penguasa pelaku bidah dan sebagian munafik yang menyiksamu ini, sehingga engkau tidak menentangnya?”
Ringkasan jawaban yang kuberikan adalah demikian: Pada masa ini, bahaya terbesar bagi umat Islam adalah rusaknya kalbu dan tercederainya iman oleh suatu kesesatan yang datang dari sains dan filsafat. Satu-satunya obatnya adalah: nur, memperlihatkan nur, agar kalbu diperbaiki dan iman diselamatkan. Seandainya bertindak dengan gada politik dan meraih kemenangan, maka orang-orang kafir itu akan turun ke derajat munafik. Munafik lebih buruk daripada kafir. Artinya, gada tak akan memperbaiki kalbu pada masa seperti ini. Saat itu kekufuran masuk ke kalbu, bersembunyi, lalu berubah menjadi nifak. Baik nur maupun gada — keduanya sekaligus, pada masa ini, tak dapat dilakukan oleh orang yang tak berdaya sepertiku. Karena itu, karena aku terpaksa berpegang pada nur dengan seluruh kekuatanku, aku tak perlu menoleh pada gada politik dalam bentuk apa pun. Adapun tuntutan jihad materi, tugas itu untuk saat ini bukanlah pada kami. Ya, menurut ahlinya, untuk membendung serangan orang kafir atau murtad diperlukan gada. Namun kita hanya memiliki dua tangan. Seandainya kita memiliki seratus tangan pun, semuanya hanya cukup untuk nur. Kita tak punya tangan untuk memegang gada!..
PERTANYAAN KETIGA YANG MENARIK:
Baru-baru ini, dengan campur tangan bangsa asing seperti Inggris dan Italia terhadap pemerintah ini — padahal hal itu, dengan membangkitkan semangat keislaman (hamiyah) yang sejak dahulu merupakan titik sandaran hakiki dan sumber kekuatan maknawi pemerintah di negeri ini, akan menjadi sebab bagi terhidupkannya syiar-syiar Islam sampai suatu derajat dan tertolaknya bidah sampai suatu derajat — mengapa engkau dengan keras menentang perang, mendoakan agar masalah ini diselesaikan dengan damai, dan dengan keras berpihak kepada pemerintah para pelaku bidah? Bukankah ini secara tidak langsung merupakan keberpihakan kepada bidah?
Jawaban:
Kami menginginkan kelapangan, kegembiraan, sukacita, dan kemenangan. Namun bukan dengan pedang orang-orang kafir. Biarlah pedang orang-orang kafir memenggal kepala mereka sendiri; faedah yang datang dari pedang mereka tak kami butuhkan. Memang bangsa-bangsa asing yang durhaka itulah yang mengerahkan kaum munafik untuk menguasai ahli iman dan yang membiakkan kaum zindik. Selain itu, bala perang adalah suatu kerugian besar bagi khidmat Al-Qur'an kami. Karena kebanyakan saudara kami yang paling penuh pengorbanan dan paling berharga berusia di bawah empat puluh lima tahun, maka melalui perang mereka akan terpaksa meninggalkan tugas suci Al-Qur'an dan pergi menjadi tentara. Seandainya aku punya uang, dengan keridaan penuh, untuk menyelamatkan setiap saudaraku yang berharga itu dari wajib militer, aku akan membayar tebusan tunai walau sampai seribu lira sekalipun. Aku merasakan kerugian kami sendiri sebesar seratus ribu lira dalam hal ratusan saudara kami yang berharga meninggalkan khidmat Al-Qur'an yang bercahaya (Nuriah) lalu mengulurkan tangan ke gada jihad materi. Bahkan wajib militer Zekâi selama satu-dua tahun ini barangkali telah menghilangkan faedah maknawi sebesar seribu lira. Bagaimanapun juga... Yang Mahakuasa atas Segala Sesuatu (Qâdir Kulli Syai'), sebagaimana dalam sekejap Dia menyapu dan membersihkan angkasa yang dipenuhi awan lalu memperlihatkan matahari yang bercahaya di wajah langit yang bening, demikian pula Dia dapat melenyapkan awan-awan yang gelap lagi tanpa rahmat ini, memperlihatkan hakikat-hakikat syariat laksana matahari, dan memberikannya dengan murah tanpa keributan. Kami mengharap dari rahmat-Nya agar Dia tak menjualnya mahal kepada kami. Cukuplah Dia memberi akal ke kepala para penguasa dan iman ke kalbu mereka. Saat itu urusan akan membaik dengan sendirinya.
PERTANYAAN KEEMPAT YANG MENARIK:
Mereka berkata: Karena yang ada di tanganmu adalah nur, bukan gada; nur tak dapat dilawan, dari nur orang tak lari, dan dari penampakan nur tak datang kerugian. Mengapa engkau menasihatkan kehati-hatian kepada teman-temanmu? Mengapa engkau melarang memperlihatkan risalah-risalah yang bercahaya kepada orang banyak?
Ringkasan makna jawaban atas pertanyaan ini adalah demikian:
Kebanyakan penguasa di puncak itu mabuk, tak membaca. Kalaupun membaca, tak memahami. Mereka memberi makna yang keliru lalu mengusik. Agar mereka tak mengusik, sampai akal mereka kembali ke kepala mereka, ia tak perlu diperlihatkan. Selain itu, ada banyak manusia yang tak berhati nurani, yang karena kedengkian, ketamakan, atau ketakutan, mengingkari nur atau menutup matanya. Karena itu aku pun menasihati saudara-saudaraku agar: berhati-hati, tidak menyerahkan hakikat-hakikat ke tangan orang-orang yang tak layak. Dan agar tidak melakukan hal-hal yang akan membangkitkan prasangka ahli dunia.
{(Catatan): Suatu kelakar yang dapat menjadi wasilah bagi suatu masalah serius: Kemarin pagi menantu seorang sahabatku, Mehmed, datang kepadaku. Dengan gembira lagi penuh kabar suka ia berkata, “Salah satu kitabmu telah dicetak di Isparta, banyak orang membacanya.” Aku berkata, “Itu bukan pencetakan yang dilarang; melainkan mungkin beberapa naskah disalin oleh juru salin, yang tentangnya pemerintah tak berkata apa-apa.” Dan aku berkata, “Awas, jangan sampaikan ini kepada dua munafik yang menjadi temanmu itu. Mereka mencari-cari hal seperti ini untuk dijadikan dalih.” Nah, saudara-saudaraku, meskipun orang ini adalah menantu seorang sahabatku — dan karena hubungan itu ia terhitung kenalanku juga — namun karena hubungan tukang cukur, ia adalah teman guru yang tak berhati nurani dan direktur yang munafik. Di sana salah seorang saudara kita mengatakannya tanpa sadar. Untunglah ia datang kepadaku lebih dahulu dan mengabariku. Aku pun memperingatkan, sehingga keburukan itu dapat dicegah. Dan mesin penggandaan (teksir) menyebarkan ribuan naskah di balik tabir ini.}
Hâtime (Penutup)
Hari ini aku menerima sepucuk surat dari Re'fet Bey. Sehubungan dengan pertanyaannya tentang Lihyah Syarifah (helai janggut mulia Nabi), aku berkata: Telah tetap dalam hadis bahwa helai rambut yang jatuh dari Janggut Saadah Rasul Ekrem 'alaihis-salâtu was-salâm jumlahnya terbatas. Padahal jumlahnya sedikit — seperti tiga puluh sampai empat puluh helai, atau lima puluh sampai enam puluh helai — keberadaan rambut Janggut Saadah di ribuan tempat lama membuatku berpikir. Saat itu terlintas di benakku: Janggut Saadah bukan hanya terdiri dari rambut Lihyah Syarifah, melainkan para sahabat — yang tak menyia-nyiakan sedikit pun tatkala kepala mubarak beliau dicukur — telah menjaga rambut-rambut yang bercahaya, mubarak, lagi akan hidup abadi itu. Jumlahnya ribuan. Bisa jadi setara dengan jumlah yang ada sekarang.
Saat itu pula terlintas di benakku: Apakah rambut ini — yang terdapat di setiap masjid — dengan sanad sahih terbukti sebagai rambut Hazrat Risalah, sehingga ziarah kepadanya dapat masuk akal?
Tiba-tiba terlintas: Ziarah kepada rambut-rambut itu adalah wasilah. Ia menjadi sebab untuk membaca salawat atas Rasul Ekrem 'alaihis-salâtu was-salâm serta menjadi sumber penghormatan dan kecintaan. Sisi kewasilahan tak memandang zat sesuatu itu, melainkan memandang sisi kewasilahannya. Karena itu, seandainya suatu rambut secara hakiki bukan berasal dari Janggut Saadah, karena menurut keadaan zahir ia telah dianggap demikian dan ia menjalankan tugas kewasilahan itu serta menjadi wasilah bagi penghormatan, tawajuh, dan salawat, maka memastikan dan menetapkan zat rambut itu dengan sanad pasti tidaklah diperlukan. Cukup asalkan tak ada dalil pasti yang menyanggahnya. Karena anggapan umum dan penerimaan umat berpindah menjadi suatu bentuk hujah. Sebagian ahli takwa dalam hal-hal seperti ini, meski mengusik dari sisi takwa, kehati-hatian, atau azimah, mereka mengusiknya secara pribadi. Kalaupun mereka menyebutnya bidah, ia termasuk jenis bidah hasanah. Karena ia adalah wasilah salawat.
Dalam suratnya Re'fet Bey berkata, “Masalah ini menjadi bahan perdebatan di antara ikhwan.” Aku menasihati saudara-saudaraku agar: tidak berdebat yang menyebabkan perpecahan dan perselisihan. Hendaklah mereka membiasakan diri hanya bertukar pikiran dalam bentuk pembahasan tanpa pertikaian.
بِاسْمِهِ سُبْحَانَهُ وَاِنْ مِنْ شَيْءٍ اِلاَّ يُسَبِّحُ بِحَمْدِه۪اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللّٰهِ وَ بَرَكَاتُهُ Saudara-saudaraku yang aziz lagi setia dari Senirkent: İbrahim, Şükrü, Hafiz Bekir, Hafiz Hüseyin, Hafiz Receb Efendi sekalian!
Tiga persoalan yang kalian kirimkan melalui Hafiz Tevfik telah sejak dahulu diusik oleh kaum mulhid (ateis).
Yang pertama:
Menurut makna zahir yang dinyatakan oleh ayat حَتّٰٓى اِذَا بَلَغَ مَغْرِبَ الشَّمْسِ وَجَدَهَا تَغْرُبُ ف۪ى عَيْنٍ حَمِئَةٍ: (Zulkarnain) melihat Matahari terbenam di suatu mata air yang panas lagi berlumpur, katanya.
Yang kedua:
Di manakah Benteng (Sadd) Zulkarnain?
Yang ketiga:
Mengenai kedatangan Hazrat Isa ('alaihis-salâm) pada akhir zaman dan bahwa beliau akan membunuh Dajjal.
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini panjang. Hanya dengan isyarat ringkas kami katakan bahwa: karena ayat-ayat Al-Qur'an menyatakan sesuatu menurut uslub Arab dan menurut pandangan zahir dalam bentuk yang dapat dipahami orang banyak, ia sering menyatakan dalam bentuk tasybih dan tamsil.
Nah, تَغْرُبُ ف۪ى عَيْنٍ حَمِئَةٍ — yakni Zulkarnain melihat Matahari terbenam di tepi Bahr Muhith Barat (Samudra Atlantik) yang tampak seperti mata air yang panas lagi berlumpur, atau di kawah gunung yang bervolkano, berapi, lagi berasap. Yakni: menurut pandangan zahir, di tepi Bahr Muhith Barat, pada suatu waktu tatkala rawa di sekitarnya memanas oleh teriknya musim panas dan menguap, di balik uap itu — dalam bentuk suatu kolam mata air besar yang tampak dari kejauhan bagi Zulkarnain — beliau melihat terbenamnya Matahari secara zahir di suatu bagian Bahr Muhith. Atau beliau melihat tersembunyinya Matahari, yang merupakan mata langit, di kawah berapi yang baru terbuka di puncak sebuah gunung yang bervolkano — yang menyemburkan air bercampur batu, tanah, dan barang tambang.
Ya, ungkapan balaghah Al-Qur'an Al-Hakim yang penuh mukjizat mengajarkan banyak masalah dengan kalimat ini. Pertama: dengan menyatakan bahwa perjalanan Zulkarnain ke arah barat bertepatan dengan masa teriknya panas, ke arah rawa, ke saat terbenamnya Matahari, dan ke waktu semburan sebuah gunung berapi, ia mengisyaratkan banyak masalah yang penuh ibrah seperti penaklukan penuh atas Afrika. Sudah dimaklumi bahwa: gerak Matahari yang tampak itu bersifat zahir dan merupakan dalil bagi gerak tersembunyi Bola Bumi; ia mengabarkannya. Yang dimaksud bukanlah hakikat terbenam. Selain itu, mata air adalah tasybih. Dari kejauhan, sebuah laut yang besar tampak seperti sebuah kolam kecil.
Penyerupaan suatu laut — yang tampak di balik kabut, uap, dan rawa yang timbul dari panas — dengan suatu mata air di dalam lumpur, serta kata عَيْنٍ yang dalam bahasa Arab bermakna mata air, Matahari, sekaligus mata, sangatlah penuh makna dan tepat dari sisi rahasia balaghah.
{(Catatan): Ungkapan عَيْنٍ dalam ف۪ى عَيْنٍ حَمِئَةٍ, dari sisi rahasia balaghah, mengingatkan secara rumus pada suatu makna yang halus. Yakni demikian: “Langit dan wajahnya, setelah menyaksikan keindahan rahmat di wajah bumi dengan mata Matahari, dan bumi pun setelah menonton keagungan Ilahi di atas dengan mata laut; tatkala kedua mata itu saling menutup satu ke dalam yang lain, ia menutup mata-mata di wajah bumi.” Demikian ia mengingatkan dengan suatu kata yang penuh mukjizat, dan mengisyaratkan tanda istirahat bagi tugas mata-mata itu.}
Sebagaimana ia tampak demikian bagi pandangan Zulkarnain dari sisi jarak, maka seruan samawi Al-Qur'an — yang datang dari Arasy Teragung dan yang memimpin benda-benda langit — mengatakan bahwa Matahari yang tunduk, yang menjalankan tugas sebagai pelita di suatu wisma tamu Rahmani, bersembunyi di suatu mata air Rabbani seperti Bahr Muhith Barat: hal ini cocok dengan keagungan dan keluhuran-Nya, dan dengan uslub-Nya yang penuh mukjizat, ia memperlihatkan laut sebagai suatu mata air yang panas dan suatu mata yang berasap. Dan begitulah ia tampak bagi mata-mata samawi.
Kesimpulannya: Ungkapan “mata air berlumpur” bagi Bahr Muhith Barat — dari sisi jarak, secara relatif terhadap Zulkarnain — ia melihat laut yang besar itu seperti sebuah mata air. Adapun pandangan Al-Qur'an, karena ia dekat dengan segala sesuatu, tak dapat memandang menurut pandangan Zulkarnain yang berupa ilusi indra; melainkan karena Al-Qur'an datang dengan memandang dari langit, ia melihat Bola Bumi kadang seperti sebuah lapangan, kadang sebuah istana, kadang sebuah ayunan, kadang sebuah lembaran; maka penyebutannya terhadap Bahr Muhith Atlas Barat yang besar, berkabut, lagi beruap sebagai sebuah “mata air” memperlihatkan keagungan keluhuran-Nya.
Pertanyaan Kedua Kalian:
Di manakah Benteng Zulkarnain (Sadd Zulkarnain)? Siapakah Ya'juj dan Ma'juj?
Jawaban:
Dahulu aku telah menulis sebuah risalah mengenai masalah ini. Kaum mulhid pada masa itu terbungkam olehnya. Untuk saat ini, risalah itu tak ada padaku, dan daya ingatku pun sedang mogok bekerja, tak membantu. Selain itu, dalam Cabang Ketiga Kelimat Kedua Puluh Empat telah sedikit dibicarakan masalah ini. Karena itu kami hanya akan mengisyaratkan dua-tiga poin dari masalah ini secara sangat ringkas. Yakni demikian:
Menurut penjelasan para ahli tahkik, dan dengan isyarat dari gelar “Zulkarnain” — karena di antara raja-raja Yaman terdapat nama-nama yang berawalan kata “Zû” seperti Zulyazan — maka Zulkarnain ini bukanlah Iskandar Rumi (Alexander). Melainkan ia adalah salah seorang raja Yaman yang hidup pada masa Hazrat Ibrahim dan berguru kepada Hazrat Khidir. Adapun Iskandar Rumi hidup kira-kira tiga ratus tahun sebelum Masehi dan berguru kepada Aristoteles. Sejarah manusia secara teratur hanya sampai tiga ribu tahun. Pandangan sejarah yang kurang lagi pendek ini tak dapat memberi keputusan yang benar mengenai masa sebelum Hazrat Ibrahim. Ia berjalan entah secara khurafat, entah secara ingkar, entah secara sangat ringkas. Adapun sebab masyhurnya Zulkarnain Yaman ini dengan nama Iskandar dalam tafsir-tafsir sejak dahulu: entah karena salah satu nama Zulkarnain itu adalah Iskandar — yaitu Iskandar Agung (Iskandar Kebir) dan Iskandar Kuno; atau karena peristiwa-peristiwa parsial yang disebutkan ayat-ayat Al-Qur'an merupakan ujung-ujung dari peristiwa-peristiwa universal:
Sebagaimana Iskandar Agung yang merupakan Zulkarnain, dengan bimbingan bercorak kenabian, mendirikan bangunan Tembok Cina yang masyhur — yang menjadi penghalang di antara kaum-kaum zalim dan bangsa-bangsa terzalimi serta mencegah penjarahan para perusak yang kejam; demikian pula sejumlah penakluk dunia dan raja-raja kuat seperti Iskandar Rumi dari sisi materi, dan sebagian nabi serta sebagian qutub — yang merupakan raja alam kemanusiaan maknawi — dari sisi maknawi dan bimbingan, berjalan mengikuti di belakang Zulkarnain itu dan meneladaninya; lalu mereka mendirikan benteng-benteng (sadd) di tengah gunung-gunung —
{(Catatan): Di muka bumi terdapat banyak benteng buatan yang seiring waktu telah mengambil bentuk gunung dan berubah menjadi rupa yang tak dikenali.}
— yang merupakan salah satu cara penting untuk menyelamatkan kaum terzalimi dari kaum zalim; kemudian mereka mendirikan kubu-kubu di puncak gunung-gunung. Mereka mendirikannya entah dengan kekuatan materi mereka sendiri, entah dengan bimbingan dan pengaturan mereka. Kemudian mereka membuat tembok di sekeliling kota-kota dan kubu di tengahnya, hingga — sebagai cara terakhir — meriam kaliber empat puluh dua dan kapal perang (dreadnought) laksana benteng bergerak. Bahkan benteng yang paling masyhur di muka bumi dan membentang sejauh perjalanan beberapa hari — Tembok Cina — telah dibangun oleh raja-raja Iran kuno yang serupa Zulkarnain: suatu tembok panjang di antara dua gunung dekat rangkaian Himalaya, untuk menghentikan serangan kaum liar dan bangsa-bangsa penjarah — yang dalam lisan Al-Qur'an disebut Ya'juj dan Ma'juj, dan dengan istilah lain dalam lisan sejarah disebut Manchu dan Mongol, yang beberapa kali memporak-porandakan alam kemanusiaan, keluar dari balik Pegunungan Himalaya, dan meluluhlantakkan dari timur sampai barat — terhadap serangan mereka kepada kaum terzalimi di India dan Cina; dan yang untuk waktu yang lama mencegah serbuan besar-besaran kaum liar itu; sebagaimana pula di Pegunungan Kaukasus di arah Derbent, dengan kesungguhan raja-raja Iran kuno yang serupa Zulkarnain, telah dibangun benteng-benteng untuk menghentikan serangan kaum-kaum Tartar penjarah lagi perampas. Ada banyak benteng dari jenis ini. Karena Al-Qur'an Al-Hakim berbicara dengan seluruh jenis manusia, ia menyebutkan suatu peristiwa parsial secara zahir, lalu berbicara dengan mengingatkan seluruh peristiwa yang serupa dengan peristiwa itu.
Nah, dari sudut pandang inilah riwayat-riwayat dan pendapat para mufasir tentang Benteng serta Ya'juj dan Ma'juj berbeda-beda.
Selain itu, Al-Qur'an Al-Hakim, dari sisi hubungan pembicaraan, berpindah dari suatu peristiwa ke peristiwa yang jauh. Orang yang tak memikirkan hubungan ini menyangka bahwa masa kedua peristiwa itu berdekatan satu sama lain. Nah, pemberitaan Al-Qur'an tentang terjadinya kiamat dari kehancuran Benteng bukanlah dari sisi kedekatan masa, melainkan dari sisi hubungan pembicaraan, demi dua poin: Yakni sebagaimana benteng ini akan hancur, demikian pula dunia akan hancur. Dan sebagaimana gunung-gunung yang merupakan benteng-benteng fitri lagi Ilahi itu kukuh, dan hanya akan hancur dengan terjadinya kiamat; demikian pula benteng ini pun kukuh laksana gunung, dan hanya akan rata dengan tanah dengan hancurnya dunia. Artinya, meskipun perubahan zaman melakukan kerusakan, sebagian besarnya tetap utuh. Ya, Tembok Cina yang merupakan salah satu individu dari keseluruhan Benteng Zulkarnain, meskipun telah hidup ribuan tahun, masih berdiri di tengah lapangan. Ia terbaca sebagai satu baris panjang dari sejarah kuno yang mewujud, membatu, lagi penuh makna, yang ditulis dengan tangan manusia pada lembaran bumi.
Pertanyaan Ketiga Kalian:
Mengenai pembunuhan Dajjal oleh Hazrat Isa 'alaihis-salâm, terdapat jawaban yang sangat ringkas lagi mencukupi bagi kalian, baik dalam Surat Pertama maupun dalam Surat Kelima Belas.
بِاسْمِهِ وَاِنْ مِنْ شَيْءٍ اِلاَّ يُسَبِّحُ بِحَمْدِه۪ اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللّٰهِ وَ بَرَكَاتُهُ
Saudara-saudaraku yang aziz, penuh pengorbanan, setia, lagi menepati janji: Hoca Sabri (rahimahullah) dan Hafiz Ali (rahimahullah)!
Tatkala aku ingin memberi suatu jawaban yang sangat penting atas pertanyaan penting kalian tentang ayat di akhir Surah Luqman mengenai “Mughayyabat Khamsah” (Lima Perkara Gaib), sayangnya keadaan ruhaniku dan keadaan materiku saat ini tidak mendukung jawaban itu. Kami hanya akan mengisyaratkan secara sangat ringkas pada satu-dua poin yang disinggung pertanyaan kalian. Makna pertanyaan kalian ini menunjukkan bahwa ahli ilhad, dalam bentuk kritik, telah membantah dua dari Lima Perkara Gaib: waktu datangnya hujan dan keadaan janin dalam rahim ibu. Mereka berkata, “Di observatorium, dengan suatu alat, waktu turunnya hujan dapat disingkap. Berarti selain Allah pun ada yang mengetahuinya. Selain itu, dengan sinar rontgen dapat diketahui apakah janin dalam rahim ibu laki-laki atau perempuan. Berarti Lima Perkara Gaib dapat diketahui?”
Jawaban:
Karena waktu turunnya hujan tidak terikat pada suatu kaidah — sehingga ia langsung terkait dengan kehendak khusus Ilahi (masyi'ah khassah) dan tunduk pada iradah khusus dari perbendaharaan rahmat — salah satu rahasia hikmahnya adalah demikian: Hakikat yang paling penting dan mahiyat yang paling berharga di alam semesta adalah nur, wujud, kehidupan, dan rahmat; keempat hal ini memandang kudrat Ilahi dan kehendak khusus Ilahi secara langsung, tanpa tabir, tanpa perantara. Pada ciptaan-ciptaan lain, sebab-sebab zahir menjadi tabir bagi tasarruf kudrat. Dan kanun-kanun serta kaidah-kaidah yang tetap menjadi hijab bagi iradah dan kehendak sampai suatu derajat. Namun pada wujud, kehidupan, nur, dan rahmat, tabir-tabir itu tak diletakkan. Karena rahasia hikmah tabir tak berlaku pada urusan itu. Karena hakikat paling penting dalam wujud adalah rahmat dan kehidupan; hujan adalah sumber kehidupan dan sumber rahmat, bahkan rahmat itu sendiri. Sudah pasti perantara tak akan menjadi tabir. Kaidah dan keseragaman pun tak akan menutupi kehendak khusus Ilahi; agar setiap waktu, setiap orang, dalam segala hal, terdorong untuk bersyukur, beribadah, memohon, dan berdoa. Seandainya ia berada dalam suatu kaidah, orang akan bergantung pada kaidah itu dan pintu syukur serta harapan akan tertutup. Sudah dimaklumi betapa banyak manfaat dalam terbitnya Matahari. Padahal, karena ia tunduk pada suatu kaidah yang tetap, tak ada doa untuk terbitnya Matahari dan tak ada syukur atas terbitnya. Dan karena ilmu manusia mengetahui — melalui jalan kaidah itu — bahwa esok Matahari akan terbit, ia tak terhitung gaib. Namun karena rincian hujan tak tunduk pada suatu kaidah, setiap waktu manusia terdorong berlindung ke hadirat Ilahi dengan harapan dan doa. Dan karena ilmu manusia tak dapat menentukan waktu turunnya, mereka menganggapnya semata-mata sebagai suatu nikmat khusus dari perbendaharaan rahmat dan bersyukur secara hakiki.
Nah, dari sudut pandang inilah ayat ini memasukkan waktu turunnya hujan ke dalam Lima Perkara Gaib. Merasakan pendahuluan suatu hujan dengan alat di observatorium lalu menentukan waktunya bukanlah mengetahui gaib, melainkan mengetahui — dalam bentuk penyingkapan sebagian pendahuluannya — pada waktu ia keluar dari gaib dan mendekat ke alam syahadah. Sebagaimana perkara-perkara gaib yang paling tersembunyi diketahui dengan suatu bentuk firasat prakejadian (hiss qabla al-wuqu') setelah ia terjadi atau mendekati terjadi. Itu bukanlah mengetahui gaib; melainkan mengetahui yang sudah ada atau yang hampir ada. Bahkan aku sendiri, dari sisi suatu kepekaan pada sarafku, kadang merasakan hujan yang akan datang dua puluh empat jam sebelumnya. Artinya, hujan memiliki pendahuluan dan permulaan. Permulaan-permulaan itu memperlihatkan diri dalam bentuk kelembapan, lalu memberitahukan datangnya hujan di belakangnya. Keadaan ini, persis seperti kaidah, menjadi suatu wasilah bagi ilmu manusia untuk sampai kepada perkara-perkara yang telah keluar dari gaib namun belum masuk ke syahadah. Namun mengetahui waktu turunnya hujan — yang belum menginjakkan kaki ke alam syahadah dan belum keluar dari kehendak khusus serta rahmat khusus — adalah khusus bagi ilmu Allah Yang Maha Mengetahui segala yang gaib ('Allâmul-Ghuyûb).
Adapun masalah kedua:
Mengetahui laki-laki atau perempuannya anak dalam rahim ibu dengan sinar rontgen tak dapat bertentangan dengan makna gaib ayat وَ يَعْلَمُ مَا فِى اْلاَرْحَامِ. Karena yang dimaksud ayat itu bukan hanya keadaan kelaki-lakian dan keperempuanan, melainkan bakat khusus anak itu yang menakjubkan, permulaan-permulaan takdir kehidupannya yang menjadi sumber bagi kedudukan yang akan ia peroleh di masa depan, bahkan meterai Shamadiyah yang sangat menakjubkan pada wajahnya — sehingga pengetahuan tentang anak itu dalam bentuk demikian adalah khusus bagi ilmu Allah Yang Maha Mengetahui segala yang gaib. Seandainya seratus ribu pikiran manusia yang serupa rontgen bersatu, ia tetap tak dapat menyingkap bahkan hanya wajah lahiriah hakiki anak itu, yang merupakan tanda pembeda baginya di antara seluruh individu manusia. Apalagi menyingkap wajah maknawi dalam bakatnya, yang seratus kali lebih ajaib daripada meterai wajah lahiriah.
Di awal telah kami katakan: Wujud, kehidupan, dan rahmat adalah hakikat-hakikat yang paling penting di alam semesta ini, dan kedudukan yang paling penting adalah milik mereka. Nah, karena itulah salah satu rahasia mengapa hakikat kehidupan yang bersifat menghimpun itu — dengan seluruh kehalusan dan detailnya — memandang iradah khusus, rahmat khusus, dan kehendak khusus, adalah demikian: Karena kehidupan, dengan seluruh perangkat dan sisinya, merupakan sumber syukur, ubudiah, dan tasbih; maka keseragaman dan kaidah yang menjadi hijab bagi iradah khusus, serta perantara-perantara zahir yang menjadi tabir bagi rahmat khusus, tak diletakkan padanya.
Allah memiliki dua tajalli pada wajah materi dan maknawi anak-anak dalam rahim ibu:
Yang pertama:
Ia memperlihatkan Kesatuan (Wahdah), Keesaan (Ahadiah), dan Shamadiyah-Nya; yaitu karena anak itu — pada anggota-anggota pokok dan pada berbagai jenis perangkat insani — sesuai dan cocok dengan manusia lain, maka dari sisi itu ia bersaksi atas kesatuan Sang Pencipta dan Pembuatnya.
Janin itu berteriak dengan lisan ini: “Siapa pun yang memberiku wajah dan anggota-anggota ini, Dia pulalah Pembuat seluruh manusia yang menyerupaiku pada pokok-pokok anggota tubuh. Dan Dia pulalah Pembuat seluruh makhluk hidup.”
Nah, lisan janin dalam rahim ibu ini bukanlah gaib; karena ia tunduk pada kaidah, keteraturan, dan jenisnya, ia dimaklumi dan dapat diketahui. Ia adalah suatu cabang dan suatu lisan yang telah masuk dari alam syahadah ke alam gaib.
Sisi kedua:
Dengan lisan wajah bakat khususnya dan wajah lahiriah pribadinya, ia berteriak memperlihatkan pilihan (ikhtiar) Pembuatnya, iradah-Nya, kehendak-Nya, rahmat khusus-Nya, dan bahwa Dia tak berada di bawah ikatan apa pun. Namun lisan ini datang dari gaibnya gaib (ghaibul-ghaib). Selain ilmu azali, tak ada yang dapat melihat dan meliputi ini sebelum ia ada (kabla al-wujud). Tatkala berada dalam rahim ibu, meskipun seperseribu perangkat wajah ini tampak, ia tak dapat diketahui!
Kesimpulannya: Pada wajah bakat dan wajah lahiriah janin terdapat dalil wahdaniah, sekaligus hujah bagi pilihan dan iradah Ilahi. Jika Allah memberi taufik, akan dituliskan beberapa poin mengenai Lima Perkara Gaib. Untuk saat ini, waktu dan keadaanku tak mengizinkan lebih dari ini; aku menutupnya. اَلْبَاق۪ى هُوَ الْبَاق۪ى
Said Nursî
سُبْحَانَكَ لاَ عِلْمَ لَنَٓا اِلاَّ مَا عَلَّمْتَنَٓا اِنَّكَ اَنْتَ الْعَل۪يمُ الْحَك۪يمُ