Risale-i NurLem'alar

Kelimat Kedua Puluh Dua

Lem'alar · hlm. 387

dan Surat Ketiga Puluh Tiga telah memperlihatkan secara terperinci bahwa Ismul-A'zam al-Fard, dengan suatu manifestasi teragung, menempatkan suatu meterai tauhid dan suatu cap ketauhidan pada keseluruhan alam semesta, pada setiap jenisnya, dan pada setiap individunya. Di sini kami hanya akan mengisyaratkan tiga meterai.

Meterai Pertama:

Kilasan kefardan (ketunggalan) telah menempatkan suatu meterai keesaan pada wajah alam semesta sedemikian rupa sehingga menjadikan alam semesta bagaikan suatu keseluruhan yang tak menerima pembagian. Suatu dzat yang tidak dapat mengelola seluruh alam semesta, tidak dapat menjadi pemilik hakiki atas satu bagian pun darinya. Meterai itu adalah ini: Segenap yang maujud dan jenis-jenis alam semesta saling menolong bagaikan roda-roda sebuah pabrik yang paling teratur; masing-masing berupaya menyempurnakan tugas yang lain. Dengan suatu kesetiakawanan, saling menolong, saling menjawab pertanyaan satu sama lain, bergegas menolong satu sama lain, saling merangkul, dan saling berlapis sedemikian rupa, mereka membentuk suatu kesatuan wujud sedemikian rupa sehingga; bagaikan unsur-unsur dalam tubuh seorang manusia, mereka tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Siapa yang memegang kendali satu unsur, jika ia tidak dapat memegang kendali segenap unsur, ia tidak dapat menguasai kendali unsur tunggal itu.

Nah, saling menolong, kesetiakawanan, saling menjawab, dan saling merangkul pada wajah alam semesta ini; adalah suatu meterai keesaan terbesar yang sangat cemerlang.

Meterai Kedua:

Di permukaan bumi dan pada wajah musim semi, dengan kilasan Nama al-Fard tampak suatu cap keahadan dan meterai ketauhidan yang cemerlang sedemikian rupa sehingga membuktikan bahwa suatu dzat yang tidak mengelola segenap makhluk hidup di permukaan bola bumi beserta segenap individunya, keadaannya, dan urusannya, serta yang tidak melihat, tidak mengetahui, dan tidak mengadakan keseluruhannya sekaligus, tidak turut campur dalam apa pun dari sisi pengadaan (penciptaan). Meterai itu adalah ini: Dengan mengesampingkan meterai-meterai yang sangat teratur namun tersembunyi dari zat-zat tambang, unsur-unsur, dan makhluk-makhluk mati di permukaan bumi; pandanglah saja meterai berukir ini yang ditenun dengan benang pakan dari dua ratus ribu golongan hewan dan dua ratus ribu jenis tumbuhan: Karena kita melihat dengan mata kita bahwa — seketika pada musim semi, di permukaan bumi, saling berlapis, bersama — bentuk-bentuknya yang berbeda-beda, khidmatnya yang berbeda-beda, rezekinya yang berbeda-beda, dan perangkatnya yang berbeda-beda; tanpa mengacaukan dan menyalahkan satu pun, dengan pembedaan dan pemisahan pada puncaknya di tengah kekacauan pada puncaknya, dengan suatu timbangan yang sangat peka — segala sesuatu yang diperlukan setiap sesuatu diberikan tanpa kesukaran, tepat pada waktunya, dari tempat yang tak terduga, maka keadaan, pengaturan, dan pengelolaan itu pada wajah bumi adalah suatu cap ketauhidan dan suatu meterai keahadan sedemikian rupa sehingga; suatu dzat yang tidak mengadakan segenap yang maujud itu sekaligus dari ketiadaan dan tidak mengelolanya bersama-sama, tidak dapat turut campur dalam apa pun dari sisi rububiyah dan pengadaan. Sebab seandainya ia turut campur, keseimbangan pengelolaan yang tak terhingga luasnya itu akan rusak. Akan tetapi, manusia memiliki suatu khidmat lahiriah — yang juga dengan perintah Ilahi — terhadap berjalannya undang-undang rububiyah itu dengan baik.

Meterai Ketiga:

Pada wajah manusia.. bahkan, wajah manusia adalah suatu meterai keahadan sedemikian rupa sehingga suatu sebab yang tidak memiliki dalam pandangan penelaahannya segenap individu manusia — yang telah datang dan akan datang dari zaman Adam hingga kiamat — sekaligus, yang tidak menempatkan suatu tanda pembeda pada wajah tunggal itu terhadap masing-masingnya, dan yang tidak meninggalkan tanda-tanda pembeda yang tak terhingga pada wajah kecil itu, tidak dapat mengulurkan tangan dari sisi pengadaan kepada cap ketauhidan pada wajah satu manusia pun. Ya, Dzat yang menempatkan meterai itu pada wajah manusia, tentu memiliki segenap individu manusia dalam pandangan penyaksian-Nya dan dalam lingkup ilmu-Nya; sehingga wajah setiap manusia, sementara serupa satu sama lain dalam anggota-anggota pokok seperti mata, telinga, dan mulut, dengan suatu tanda pembeda, tidak serupa sepenuhnya dengan satu pun. Sebagaimana keserupaan anggota-anggota seperti mata dan telinga pada wajah itu di antara segenap individu, adalah suatu meterai tauhid yang bersaksi bahwa Sang Pembuat jenis manusia itu Esa lagi Tunggal; demikian pula: perbedaan wajah-wajah itu dengan banyak tanda pembeda yang penuh hikmah — agar tidak tertukar satu sama lain dan agar dapat dibedakan satu sama lain, melebihi jenis-jenis lainnya demi menjaga hak-hak kemanusiaan — di samping memperlihatkan kehendak, pilihan, dan masyiah Sang Pembuat Yang Esa itu, menjadi suatu meterai keahadan yang tersendiri dan sangat halus, sehingga; suatu dzat, suatu sebab yang tidak menciptakan segenap manusia, hewan, bahkan alam semesta, tidak dapat menempatkan meterai itu.