Risale-i NurLem'alar

Isyarat Keempat:

Lem'alar · hlm. 522

Ia menjelaskan tiga dari bukti-bukti yang membuat kilasan teragung Ismul-Fard yang nyata bagaikan matahari diterima secara teramat masuk akal dan dengan kemudahan tak terhingga, serta memperlihatkan kemustahilan syirik dan betapa jauhnya (syirik) dari akal.

Yang pertama: ia membuktikan dengan perumpamaan-perumpamaannya bahwa — dibandingkan dengan kekuasaan tak terhingga Zat Al-Fard — penciptaan sesuatu yang terbesar semudah dan segampang penciptaan sesuatu yang terkecil; bahwa Dia menciptakan dan mengelola satu musim semi semudah satu bunga, dan sebatang pohon semudah sebuah buah; dan bahwa seandainya sifat penciptaan ini dinisbahkan kepada sebab-sebab yang beragam, karena (dengan itu) beralih dari kesatuan kepada kejamakan, maka penciptaan sesuatu yang terkecil menjadi teramat mahal, teramat sulit, dan teramat menyusahkan, seperti penciptaan sesuatu yang terbesar.

Yang kedua: penciptaan segala yang maujud entah terjadi dari ketiadaan dan kenihilan melalui cara "ibda'" dan "ihtira'", atau terjadi dengan menghimpun dari unsur-unsur dan benda-benda melalui cara "insya'" dan "tarkib". Dalam kedua cara ini; seandainya penciptaan benda tidak dinisbahkan kepada Zat Al-Fard Al-Wâhid, melainkan dituntut dari sebab-sebab, maka ia akan menjadi teramat sulit, berat, tak masuk akal, bahkan akan menghasilkan teramat banyak kemustahilan. Seandainya dinisbahkan kepada kilasan Fardiyah dan rahasia Ahadiyah; maka akan terlihat bahwa benda-benda diciptakan dengan kemudahan dan kegampangan yang tak terhingga — dengan kekuasaan-Nya yang tak berpenghujung yang keagungannya dipahami melalui karya-karya-Nya, bagaikan menyalakan sebatang korek api — dari ketiadaan dan kenihilan, atau dengan cara menghimpun dari unsur-unsur dan benda-benda, melalui cetakan-cetakan ilmiah tertentu yang ada dalam cermin ilmu-Nya.

Yang ketiga: ia menjelaskan dengan tiga perumpamaan yang manis bahwa seandainya penciptaan segenap benda dinisbahkan kepada satu Zat Al-Fard Al-Wâhid, maka ia semudah satu benda tunggal; dan seandainya disandarkan kepada sebab-sebab dan tabiat, maka wujud satu benda tunggal saja menjadi sesulit segenap benda.

Perumpamaan Pertama: seandainya keadaan dan pengurusan seribu prajurit diserahkan kepada seorang perwira yang mengurus seribu prajurit itu, dan seorang prajurit diserahkan kepada pengurusan sepuluh perwira; (ia menjelaskan) betapa mudahnya pengurusan seribu prajurit dan betapa sulitnya pengurusan satu prajurit..

Perumpamaan Kedua: seandainya (kemampuan) menggantung di udara dan membentuk keadaan itu diminta dari batu-batu pada kubah sebuah masjid berkubah seperti Aya Sofya, (ia menjelaskan) bahwa itu teramat berat; dan seandainya keadaan itu diminta dari seorang tukang, bahwa itu teramat mudah..

Perumpamaan Ketiga: Sebagaimana Bola Bumi, apabila bergerak sebagai seorang pegawai Zat Yang Maha Tunggal lagi Esa (Al-Fard Al-Wâhid), maka terwujudnya dengan sangat mudah hasil-hasil yang megah dan agung dari gerakan itu memperlihatkan kemudahan yang ada dalam keesaan (wahdah); demikian pula ia menjelaskan bahwa untuk memperoleh hasil-hasil yang sama di jalan syirik dan kekufuran, orang harus menerima suatu keadaan yang merupakan kesukaran dan kesulitan yang paling dahsyat — yaitu memutar jirim-jirim tak terhingga lagi tak terhitung yang berjuta-juta kali lebih besar daripada Bola Bumi, pada jarak yang tak terbatas mengelilingi Bola Bumi, sekali dalam dua puluh empat jam seperti perputaran Bola Bumi pada poros hariannya, dan sekali dalam setahun seperti perputarannya pada poros tahunannya.. dan bahwa mereka yang menisbahkan penciptaan kepada sebab-sebab dan alam (tabiat) — "dengan perumpamaan kitab, jam, pabrik, dan istana" — telah melakukan kejahilan yang paling antik.