ISYARAT KEDUA BELAS:
Lem'alar · hlm. 95
Terdiri dari empat pertanyaan dan jawaban.
Pertanyaan Pertama:
Dalam kehidupan yang terbatas, terhadap dosa-dosa yang terbatas, bagaimana azab yang tak terhingga dan Neraka yang tak berkesudahan dapat menjadi keadilan?
Jawaban:
Dalam isyarat-isyarat yang lalu, khususnya dalam Isyarat Kesebelas sebelum ini, telah dipahami secara pasti bahwa: kejahatan kekufuran dan kesesatan adalah kejahatan yang tak berkesudahan dan suatu pelampauan batas terhadap hak yang tak terhingga.
Pertanyaan Kedua:
Dalam syariat dikatakan: “Neraka adalah balasan amal, tetapi Surga adalah dengan karunia Ilahi.” Apa rahasia hikmahnya?
Jawaban:
Dalam isyarat-isyarat yang lalu telah menjadi jelas bahwa: sebagaimana manusia — dengan suatu kehendak parsial (juz'i ikhtiyari) tanpa penciptaan dan dengan suatu usaha parsial (kasb) — dengan membentuk suatu perkara yang bersifat ketiadaan (adami) atau suatu perkara nisbi (i'tibari) serta memberinya ketetapan, menyebabkan perusakan dan keburukan yang dahsyat; maka karena nafsu dan hawanya senantiasa condong kepada keburukan dan kerugian, ia memikul tanggung jawab atas keburukan-keburukan (sayyiat) yang lahir dari hasil usaha kecil itu. Karena nafsunya menghendaki dan dengan usahanya sendiri ia menyebabkannya. Dan karena keburukan bersifat ketiadaan, hamba menjadi pelakunya. Dan Allah menciptakannya. Sudah pasti ia layak memikul tanggung jawab atas kejahatan yang tak terhingga itu dengan azab yang tak berkesudahan. Adapun kebaikan dan amal saleh, karena keduanya bersifat wujûdî (ada-positif); usaha insani dan kehendak parsial tak dapat menjadi sebab pengada (illat mujidah) baginya. Manusia tak dapat menjadi pelaku hakiki padanya. Dan nafsu amarahnya pun tidak berpihak kepada kebaikan; melainkan rahmat Ilahi yang menghendakinya dan kudrat Rabbani yang mengadakannya. Hanya saja manusia dapat memilikinya dengan iman, keinginan, dan niat. Dan setelah ia memilikinya, maka kebaikan itu merupakan suatu syukur terhadap nikmat-nikmat Ilahi yang tak terhingga sebelumnya — seperti nikmat wujud dan iman yang telah diberikan kepadanya lebih dahulu — dan ia menatap nikmat-nikmat yang telah lalu. Adapun Surga yang akan diberikan dengan janji Ilahi, diberikan dengan karunia Rahmani. Pada zahirnya ia adalah suatu pahala, pada hakikatnya ia adalah karunia. Artinya, dalam keburukan sebabnya adalah nafsu; ia layak dihukum dengan sendirinya. Adapun dalam kebaikan, sebabnya dari Allah dan illatnya pun dari Allah. Hanya saja, manusia memilikinya dengan iman. Ia tak dapat berkata, “Aku menuntut pahalaku,” tetapi dapat berkata, “Aku mengharap karunia-Nya.”
Pertanyaan Ketiga:
Dari penjelasan yang lalu juga dipahami bahwa: karena keburukan berlipat ganda melalui penyebaran dan pelampauan batas, satu keburukan seharusnya ditulis seribu; sedangkan kebaikan, karena bersifat wujûdî dan tidak berlipat ganda secara materi, serta tidak terjadi dengan penciptaan hamba dan keinginan nafsu, seharusnya tidak ditulis sama sekali atau ditulis satu. Mengapa keburukan ditulis satu, sedangkan kebaikan ditulis sepuluh dan kadang seribu?
Jawaban:
Allah memperlihatkan kesempurnaan rahmat dan keindahan rahimiah-Nya dengan cara itu.
Pertanyaan Keempat:
Keberhasilan yang diraih ahli kesesatan, kekuatan yang mereka perlihatkan, dan kemenangan mereka atas ahli hidayah menunjukkan bahwa mereka bersandar pada suatu kekuatan dan suatu hakikat. Artinya, apakah pada ahli hidayah ada kelemahan, ataukah pada mereka ada suatu hakikat?
Jawaban:
Sekali-kali tidak... Tidak ada hakikat pada mereka, dan tidak ada kelemahan pada ahli kebenaran. Namun sayangnya, sebagian orang awam yang berpandangan pendek lagi tanpa pertimbangan jatuh ke dalam keraguan dan waswas, sehingga akidah mereka terganggu. Karena mereka berkata: “Seandainya pada ahli kebenaran ada kebenaran dan hakikat yang sempurna, tak seharusnya ada kekalahan dan kehinaan sampai derajat ini. Karena hakikat itu kuat. Dengan kaidah asasi اَلْحَقُّ يَعْلُو وَلاَ يُعْلٰى عَلَيْهِ, kekuatan itu ada pada kebenaran. Seandainya ahli kesesatan yang datang dengan kemenangan menghadapi ahli kebenaran itu tidak memiliki suatu kekuatan hakiki dan suatu titik sandaran, tak seharusnya ada kemenangan dan keberhasilan sampai derajat ini?”
Jawaban:
Sebagaimana telah dibuktikan secara pasti dengan isyarat-isyarat yang lalu bahwa kekalahan ahli kebenaran tidak datang dari ketiadaan kekuatan atau ketiadaan hakikat; demikian pula telah dibuktikan secara pasti dengan isyarat-isyarat itu bahwa kemenangan ahli kesesatan tidak datang dari kekuatan mereka, kemampuan mereka, atau ditemukannya titik sandaran; maka jawaban atas pertanyaan ini adalah keseluruhan isyarat-isyarat yang lalu. Hanya saja di sini kami akan mengisyaratkan sebagian tipu daya mereka dan sebagian senjata yang mereka gunakan. Yakni demikian:
Aku sendiri telah berulang kali menyaksikan bahwa: sepuluh persen ahli kerusakan mengalahkan sembilan puluh persen ahli kebaikan. Dengan takjub aku penasaran, lalu setelah menyelidiki aku memahami secara pasti bahwa: kemenangan itu tidak datang dari kekuatan atau kekuasaan; melainkan datang dari kerusakan, kehinaan, dan perusakan, dari pemanfaatan perselisihan ahli kebenaran, dari menebarkan perselisihan di antara mereka, dari memegang dan mencangkokkan urat-urat lemah, dari membangkitkan perasaan-perasaan nafsani dan kepentingan-kepentingan pribadi, dari menggerakkan bakat-bakat buruk yang berkedudukan sebagai tambang berbahaya dalam hakikat manusia, dari membelai firaunisme nafsu secara riya dengan dalih kemasyhuran dan kehormatan, serta dari ketakutan setiap orang akan perusakan mereka yang tak berhati nurani. Dan melalui tipu daya setani yang serupa itu, mereka secara sementara mengalahkan ahli kebenaran. Namun dengan rahasia وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّق۪ينَ, dengan dustur اَلْحَقُّ يَعْلُو وَلاَ يُعْلٰى عَلَيْهِ: kemenangan sementara mereka itu, di samping tak berarti bagi mereka dari sisi manfaat, menjadi sebab bagi mereka meraih Neraka untuk diri mereka dan Surga untuk ahli kebenaran.
Nah, karena dalam kesesatan orang-orang tak berdaya tampak berdaya dan orang-orang tak berarti meraih kemasyhuran, maka orang-orang yang membanggakan diri, gila kemasyhuran, lagi riya — untuk memperlihatkan kekuasaan mereka dengan sedikit hal dan untuk meraih suatu kedudukan dari sisi menakut-nakuti dan merugikan — masuk ke dalam posisi menentang ahli kebenaran. Agar ia tampak dan perhatian tertuju kepadanya. Dan agar perusakan yang ia sebabkan — bukan dengan kekuasaan dan kekuatan, melainkan dengan peninggalan dan kemalasan — disandarkan kepadanya, dan ia dibicarakan. Sebagaimana salah seorang dari orang-orang gila kemasyhuran ini mengotori tempat salat agar setiap orang membicarakannya. Bahkan ia dibicarakan dengan laknat pun, sehingga menjadi peribahasa bahwa urat gila kemasyhuran membuat kemasyhuran terlaknat itu tampak indah baginya.
Wahai manusia malang yang diciptakan untuk alam kekal namun tergila-gila pada alam fana! Perhatikanlah rahasia ayat فَمَا بَكَتْ عَلَيْهِمُ السَّمَٓاءُ وَ اْلاَرْضُ, dan pasanglah telinga! Lihatlah, apa yang ia katakan? Dengan makna sarihnya ia berfirman: “Dengan matinya ahli kesesatan, langit dan bumi yang berkaitan dengan manusia tidak menangis di atas jenazah mereka; yakni mereka merasa senang dengan matinya orang-orang itu.” Dan dengan makna isyarinya ia menyatakan: “Dengan matinya ahli hidayah, langit dan bumi menangis di atas jenazah mereka, tidak menginginkan perpisahan dengan mereka.” Karena seluruh alam semesta berkaitan dengan ahli iman dan merasa senang dengannya. Sebab, karena mereka mengenal Sang Pencipta Alam Semesta dengan iman, mereka menghargai nilai alam semesta serta menghormati dan mencintainya. Mereka tidak menghina dan tidak memusuhi secara tersirat seperti ahli kesesatan.
Wahai manusia, pikirkanlah! Engkau bagaimanapun juga akan mati. Jika engkau mengikuti nafsu dan setan, tetanggamu, bahkan mungkin kerabatmu, akan bergembira karena lolos dari keburukanmu. Jika engkau mengucapkan A'ûdzu billâhi minasy-syaithânir-rajîm dan mengikuti Al-Qur'an serta Kekasih Yang Maha Pengasih (Habîb Rahmân), maka saat itu langit, bumi, dan segala yang ada — sesuai dengan derajat masing-masing dan sesuai dengan derajatmu — akan terharu oleh perpisahan denganmu dan menangis secara maknawi. Dengan suatu duka yang luhur dan suatu pengantaran yang megah, mereka mengisyaratkan bahwa di alam kekal yang engkau masuki melalui pintu kubur terdapat suatu sambutan yang indah bagimu, sesuai dengan derajatmu.