Risale-i NurLampiran Kastamonu

Saudara-saudaraku! Sebuah kisah yang manis untuk kalian:

Lampiran Kastamonu · hlm. 22

Suatu masa di Barla, seseorang mengirimiku sebuah manisan berkenari di dalam kotak kayu. Dari satu setengah kilo gigitan-gigitan yang sudah kuberi gantinya itu, setiap hari aku sendiri makan enam butir, dan kadang sebanyak itu atau lebih kuberikan kepada orang lain sebagai tabarruk (mengambil berkah). Sıddık Süleyman barangkali masih mengingat peristiwa ini. Ia berlangsung lebih dari sebulan. Lalu, bersama almarhum Galib Bey, kami menghitungnya, dan kami yakin bahwa di dalamnya ada keberkahan lima-enam kali lipat. Waktu itu aku berkata: "Pada orang ini ada keberkahan yang besar, sebuah keikhlasan." Sekarang aku menduga dan mengingat bahwa orang itu ternyata Hacı Hâfız. Rahasia keberkahan ajaib itu kini telah tersingkap. اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ هٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبّ۪ى

Di tengah-tengah kampung Hâfız Ali, pemilik "pabrik Nur", dan kampung-kampung para Mübarekler, kampung Sav telah mengambil tempat dalam doa. Sudah genap setahun, karena orang-orang yang hidup, orang-orang yang telah wafat pun mendapat bagian.

Sebagaimana sebagian besar murid merasakan satu jenis keramat dan karunia Ilahi dalam khidmah Risalet-ün Nur; saudara kalian yang tak berdaya ini, karena sangat membutuhkannya, merasakan banyak jenis dan ragamnya. Dan akhir-akhir ini para murid di kawasan ini mengakui dengan bersumpah: "Selama kami bekerja dalam khidmah Nur, kami merasakan secara nyata sebuah kelapangan dan kegembiraan, baik dalam penghidupan (maişet) maupun dalam ketenangan hati." Aku sendiri merasakannya sedemikian rupa, sampai-sampai nafsu dan setanku pun, di hadapan kejelasan itu, terdiam dengan keheranan.

Ketahuilah: sudah lebih dari setahun aku memasukkan ke dalam doaku pula istri-istri, anak-anak, dan kedua orang tua para murid Risalet-ün Nur yang berkaitan dengan risalah-risalah. Salah satu sebabnya adalah masuknya beberapa orang ke dalam lingkaran (daire) bersama anak-istri mereka — didahului oleh Sabri — di sana-sini.

Keadilan Ilahi telah menimpakan kepada mimsiz medeniyet — yang menghina Islam — sebuah azab maknawi sedemikian rupa, sehingga menjatuhkannya jauh ke bawah derajat kebaduian dan keliaran. Ia telah menimpakan ke atas kepala mereka bom-bom yang menumpahkan ketakutan, kengerian, kepanikan, dan krisis yang tak henti — yang menjadikan seratus tahun kenikmatan peradaban, kemajuan, dominasi, dan kelezatan kekuasaan Eropa dan Inggris menjadi tak berarti. Nah, di zaman seperti inilah, karena tugas yang paling diperlukan, paling penting, dan paling utama adalah menyelamatkan iman; maka kabar gembira Qur'ani yang memandang zaman ini dan tahun ini, serta kabar gembira ayat-ayat فَضْلاً كَب۪يرًا ❊ فَضْلُ اللّٰهِ يُؤْت۪يهِ مَنْ يَشَٓاءُ, dalam bentuk futuhat terbesar, menunjukkan futuhat iman maknawi dari Risalet-ün Nur.

Ya, iman seseorang adalah kunci dan cahaya bagi sebuah kerajaan yang kekal, abadi, dan seluas dunia. Kalau begitu, Risalet-ün Nur — yang bagi setiap orang yang imannya terpapar bahaya memenangkan sebuah kerajaan, sebuah futuhat yang lebih bermanfaat daripada kesultanan seluruh bola bumi — sudah pasti adalah sasaran pandangan yang disengaja dari ayat-ayat ini, dari kabar-kabar gembira ini, di abad ini.

Para pelayan (khadim) dan pemilik pabrik Nur dan pabrik Gül (Mawar) itu laksana dua mata di kepala manusia; secara lahir ia dua, tapi melihat satu. Yang matanya juling (ahvel) melihatnya jadi dua. Lillahilhamd, dua arus bercahaya ini berada dalam persatuan yang sempurna.