Risale-i NurKelimat

Kelimat Ketiga Puluh Dua

Kelimat · hlm. 556

Kalimat ini terdiri atas tiga mauqif (perhentian).

[Ini adalah sebuah lampiran yang menjelaskan Kilau Kedelapan dari Kelimat Kedua Puluh Dua. Ia merupakan tafsir atas lisan pertama dari lima puluh lima lisan yang dengannya segenap wujud alam bersaksi atas keesaan (wahdâniyah) — lisan-lisan yang telah diisyaratkan di dalam Risalah Katre (Risalah Tetes). Dan ia adalah sebuah hakikat yang dikenakan busana perumpamaan, yang berasal dari sekian banyak hakikat ayat لَوْ كَانَ ف۪يهِمَٓا اٰلِهَةٌ اِلاَّ اللّٰهُ لَفَسَدَتَا.]

Mauqif Pertama

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِلَوْ كَانَ ف۪يهِمَٓا اٰلِهَةٌ اِلاَّ اللّٰهُ لَفَسَدَتَا ❊ لآَ اِلٰهَ اِلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لاَ شَر۪يكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَ لَهُ الْحَمْدُ يُحْي۪ى وَ يُم۪يتُ وَ هُوَ حَىٌّ لاَ يَمُوتُ بِيَدِهِ الْخَيْرُ وَ هُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَد۪يرٌ وَ اِلَيْهِ الْمَص۪يرُ

Pada suatu malam Ramadan, aku pernah menuturkan — dalam bentuk sebuah percakapan perumpamaan yang dapat dipahami oleh akal orang awam yang sederhana, dan sebuah perdebatan pengandaian, dengan menjadikan bahasa keadaan (lisan hâl) tampil dalam rupa bahasa lisan (lisan kal) — bahwa pada masing-masing dari sebelas kalimat ucapan tauhid ini terkandung sebuah tingkat ketauhidan dan sebuah kabar gembira, serta makna yang terkandung dalam kalimat لاَ شَر۪يكَ لَهُ saja. Atas permintaan dan kehendak saudara-saudaraku yang mulia yang berkhidmah kepadaku serta teman-teman masjidku, kutuliskan percakapan itu. Demikianlah:

Kita andaikan seorang tokoh atas nama segala sekutu yang dikhayalkan oleh seluruh macam ahli syirik, kekufuran, dan kesesatan — seperti para penyembah tabiat, penyembah sebab-sebab, dan kaum musyrik — bahwa tokoh pengandaian itu hendak menjadi Rabb bagi sesuatu dari wujud-wujud alam, dan mendakwakan diri sebagai pemilik yang hakiki.

Maka sang pendakwa itu pertama-tama berjumpa dengan zarah, wujud yang paling kecil. Ia mengatakan kepada zarah itu — dengan bahasa tabiat, dengan bahasa filsafat — bahwa dirinya adalah Rabb dan pemilik hakiki atasnya. Zarah itu pun menjawab dengan bahasa hakikat dan dengan bahasa hikmah rabbâni, katanya: "Aku menjalankan tugas yang tak terhitung. Aku masuk dan bekerja pada setiap ciptaan yang berbeda-beda. Jika padamu ada ilmu dan kudrat yang sanggup menjalankan seluruh tugas itu melalui diriku — dan jika engkau sanggup mengurus bersamaku zarah-zarah yang tak terhingga jumlahnya yang berkelana

{(Catatan kaki): Ya, setiap benda yang bergerak, dari zarah hingga planet, sebagaimana ia menunjukkan kesatuan melalui cap Shamadiyah yang ada padanya, demikian pula dengan gerakannya ia menaklukkan seluruh tempat yang dilaluinya atas nama kesatuan, dan memasukkannya ke dalam kerajaan Pemiliknya. Adapun ciptaan yang tidak bergerak, dari tumbuhan hingga bintang-bintang yang tetap, ia laksana stempel keesaan yang menunjukkan bahwa tempat kedudukannya adalah surat dari Pembuatnya. Maka setiap tumbuhan, setiap buah, adalah stempel keesaan dan cap kesatuan, yang menunjukkan bahwa tempat dan negerinya adalah surat dari Pembuatnya atas nama kesatuan. Kesimpulannya: setiap benda, dengan gerakannya, menaklukkan segala benda atas nama kesatuan. Maka barangsiapa tidak menggenggam seluruh bintang dalam tangannya, ia tidak dapat menjadi Rabb bagi satu zarah pun.}

dan bekerja bersamaku. Jika padamu ada hukum dan kuasa untuk memperkerjakan pula seluruh zarah yang serupa denganku serta menundukkannya ke bawah perintahmu — dan jika engkau sanggup menjadi pemilik dan pengatur hakiki atas wujud-wujud yang aku menjadi bagiannya dengan keteraturan yang sempurna, misalnya atas sel-sel darah merah — maka dakwakanlah diri menjadi Rabb bagiku; sandarkanlah aku kepada selain Allah. Jika tidak, diamlah! Sebagaimana engkau tak sanggup menjadi Rabb bagiku, engkau pun tak sanggup mencampurinya sedikit pun. Sebab pada tugas-tugas dan gerakan-gerakan kami terdapat keteraturan yang begitu sempurna, sehingga tiada yang dapat menyisipkan jarinya ke dalamnya kecuali pemilik hikmah yang tak terhingga dan ilmu yang meliputi. Sekiranya ada yang mencampuri, niscaya ia akan mengacaukannya. Padahal sesosok pribadi sepertimu — yang beku, lemah, buta, yang kedua tangannya berada di dalam genggaman dua yang buta, yakni kebetulan dan tabiat — sekali-kali tak dapat mengulurkan jari ke arah mana pun."

Pendakwa itu berkata sebagaimana ucapan kaum Materialis: "Kalau begitu, jadilah engkau pemilik atas dirimu sendiri. Mengapa engkau berkata bahwa engkau bekerja atas nama pihak lain?" Zarah menjawabnya, katanya: "Seandainya aku memiliki otak sebesar matahari, ilmu yang meliputi seperti cahayanya, kudrat yang menyeluruh seperti panasnya, indra-indra yang meliputi seperti tujuh warna dalam sinarnya, serta pada setiap tempat yang kudatangi dan setiap wujud yang kukerjakan aku memiliki sebuah wajah yang menghadap, sebuah mata yang memandang, dan sebuah ucapan yang berlaku — barangkali aku pun akan berlaku bodoh sepertimu dan mendakwakan bahwa aku memiliki diriku sendiri. Nah, enyahlah pergi, engkau tak akan menemukan pekerjaan dariku!"

Maka tatkala sang wakil para sekutu itu berputus asa dari zarah, ia berkata: "Akan kucari pekerjaan pada sel darah merah," lalu ia berjumpa dengan sebutir sel darah merah di dalam darah. Ia berkata kepadanya atas nama sebab-sebab dan dengan bahasa tabiat serta filsafat: "Aku adalah Rabb dan pemilikmu." Sel darah merah itu — yakni wujud bundar berwarna merah — menjawabnya dengan bahasa hakikat dan bahasa hikmah Ilahi: "Aku tidaklah sendiri. Jika engkau sanggup menjadi pemilik atas seluruh saudaraku yang serupa di dalam bala tentara darah, yang cap, tugas, dan aturannya satu — dan jika padamu ada hikmah yang halus serta kudrat yang agung untuk menjadi pemilik seluruh sel tubuh yang kami kelilingi dan tempat kami diperkerjakan dengan penuh hikmah — maka tunjukkanlah; dan jika engkau sanggup menunjukkannya, barangkali dakwaanmu ada artinya. Padahal dengan dirimu yang dungu, dan dengan tabiat yang tuli serta kekuatan yang buta di tanganmu, jangankan menjadi pemilik, mencampuri sebesar zarah pun engkau tak sanggup. Sebab keteraturan pada diri kami begitu sempurna, sehingga hanya Dzat yang melihat, mendengar, mengetahui, dan mengerjakan segala sesuatu yang dapat memerintah kami. Maka diamlah! Tugasku demikian penting dan keteraturannya demikian sempurna, sehingga aku tak punya waktu menjawab kata-katamu yang campur aduk ini," lalu ia mengusirnya.

Kemudian, karena tak mampu meyakinkannya, pendakwa itu pergi dan berjumpa dengan bilik kecil yang mereka sebut sel tubuh. Ia berkata dengan bahasa filsafat dan tabiat: "Kepada zarah dan sel darah merah aku tak dapat menyampaikan maksudku; barangkali engkau memahami ucapanku. Sebab engkau, laksana sebuah bilik yang sangat kecil, terbuat dari beberapa hal saja. Maka aku dapat membuatmu. Jadilah engkau ciptaanku dan milik hakikiku." Sel itu menjawabnya dengan bahasa hikmah dan hakikat, katanya:

"Aku memang sesuatu yang amat kecil. Akan tetapi aku memiliki tugas-tugas yang amat besar, hubungan-hubungan yang amat halus, dan kaitan-kaitan yang terikat dengan seluruh sel tubuh serta keseluruhan susunannya. Di antaranya: aku memiliki tugas-tugas yang mendalam dan sempurna terhadap pembuluh balik dan pembuluh nadi, terhadap saraf-saraf perasa dan penggerak, serta terhadap daya-daya seperti daya penarik, penolak, pembentuk, dan pelukis. Jika padamu ada kudrat dan ilmu untuk menyusun, menata, dan memperkerjakan seluruh tubuh beserta segala pembuluh, saraf, dan dayanya — dan jika padamu ada kudrat yang menembus serta hikmah yang meliputi untuk berkuasa atas seluruh sel tubuh yang, dalam seni dan sifat, saling bersaudara denganku — maka tunjukkanlah, lalu dakwakanlah 'aku dapat membuatmu.' Jika tidak, pergilah! Sel-sel darah merah membawakan rezeki untukku. Sel-sel darah putih pun menangkis penyakit-penyakit yang menyerangku. Aku sedang sibuk, janganlah mengusikku. Dan sesuatu yang lemah, beku, tuli, lagi buta sepertimu, sekali-kali tak dapat mencampuri urusan kami. Sebab pada diri kami ada keteraturan yang demikian halus, lembut, dan sempurna

{(Catatan kaki): Sang Pembuat Yang Mahabijaksana telah menciptakan tubuh manusia laksana sebuah kota yang teramat teratur. Sebagian pembuluh menjalankan tugas telegraf dan telepon. Sebagian lagi, laksana pipa-pipa air mancur, menjadi jalan mengalirnya darah yang merupakan air kehidupan. Di dalam darah diciptakan dua macam sel. Yang pertama disebut sel darah merah, yang membagikan rezeki kepada sel-sel tubuh dan menyampaikan rezeki kepadanya dengan sebuah hukum Ilahi (laksana para saudagar dan petugas rezeki). Yang lain adalah sel-sel darah putih, yang jumlahnya lebih sedikit dibanding yang pertama. Tugas mereka ialah membela tubuh laksana prajurit terhadap musuh-musuh seperti penyakit; dan setiap kali mereka masuk ke medan pembelaan, mereka mengambil sikap menakjubkan yang cepat, dengan dua gerak berputar laksana penari Maulawi. Adapun keseluruhan darah memiliki dua tugas umum: pertama, memperbaiki kerusakan sel-sel tubuh; kedua, mengumpulkan puing-puing sel dan membersihkan tubuh. Ada dua macam pembuluh yang bernama pembuluh balik dan pembuluh nadi: yang satu membawa dan membagikan darah bersih, yaitu saluran darah bersih. Yang lain adalah saluran darah keruh yang mengumpulkan puing-puing, yang membawa darah ke tempat masuknya napas yang disebut "Ree".

Sang Pembuat Yang Mahabijaksana menciptakan dua unsur di udara: yang satu nitrogen, yang lain oksigen. Adapun oksigen, tatkala di dalam napas ia bersentuhan dengan darah, ia menarik ke dirinya — laksana batu ambar — unsur karbon pekat yang mengotori darah. Keduanya berpadu. Ia mengubahnya menjadi suatu zat yang disebut uap asam karbon (udara beracun). Ia sekaligus menjamin panas alami dan menjernihkan darah. Sebab Sang Pembuat Yang Mahabijaksana telah memberikan kepada oksigen dan karbon suatu hubungan yang kuat, yang dalam ilmu Kimia disebut cinta kimiawi; sehingga tatkala kedua unsur itu berdekatan, dengan hukum Ilahi itu keduanya berpadu. Telah tetap secara ilmiah bahwa dari perpaduan lahirlah panas. Sebab perpaduan adalah semacam pembakaran. Hikmah rahasia ini ialah: masing-masing dari kedua unsur itu memiliki gerak zarah-zarahnya sendiri-sendiri. Pada saat perpaduan, kedua zarah — yakni zarah yang satu dengan zarah yang lain — berpadu, dan bergerak dengan satu gerak. Satu gerak menjadi tergantung. Sebab sebelum perpaduan ada dua gerak; kini kedua zarah menjadi satu, dan kedua zarah mengambil satu gerak laksana satu zarah. Gerak yang lain, dengan sebuah hukum Sang Pembuat Yang Mahabijaksana, berubah menjadi panas. Memang "gerak melahirkan panas" adalah hukum yang telah tetap. Maka berdasarkan rahasia inilah, panas alami dalam tubuh manusia terjamin melalui perpaduan kimiawi ini, sebagaimana darah pun menjadi jernih karena karbon telah diambil darinya. Maka tatkala napas masuk ke dalam, ia sekaligus membersihkan air kehidupan tubuh dan menyalakan api kehidupan. Tatkala keluar, di mulut ia membuahkan buah-buah kata yang merupakan mukjizat kudrat Ilahi. فَسُبْحَانَ مَنْ تَحَيَّرَ ف۪ى صُنْعِهِ الْعُقُولُ}

sehingga sekiranya tidak ada Sang Hakîm Mutlak, Sang Qadîr Mutlak, lagi Sang 'Alîm Mutlak yang memerintah kami, niscaya keteraturan kami akan rusak dan tatanan kami akan kacau."

Kemudian pendakwa itu pun berputus asa darinya. Ia berjumpa dengan tubuh seorang manusia. Kembali dengan bahasa tabiat yang buta dan filsafat yang linglung (sebagaimana ucapan kaum Naturalis) ia berkata: "Engkau adalah milikku, akulah yang membuatmu. Atau setidaknya aku punya bagian padamu." Sebagai jawaban, tubuh manusia itu berkata dengan bahasa hakikat dan hikmah, serta dengan bahasa keadaan dari keteraturannya: "Jika padamu ada kudrat dan ilmu untuk menjadi pengatur hakiki atas tubuh seluruh manusia — yang cap kudrat dan tera fitrah pada wajah kami satu — dan jika engkau memiliki kekayaan serta kekuasaan untuk menjadi pemilik gudang-gudang rezekiku, mulai dari air dan udara hingga tumbuhan dan hewan; dan jika padamu ada kudrat yang tak terhingga serta hikmah yang tak terbatas untuk menempatkan latîfah-latîfah maknawi seperti ruh, kalbu, dan akal — yang aku menjadi sarungnya, yang begitu luas dan tinggi — ke dalam wadah yang sempit dan rendah sepertiku, lalu memperkerjakannya dengan hikmah yang sempurna dan menjadikannya beribadah — maka tunjukkanlah, barulah katakan 'Aku yang membuatmu.' Jika tidak, diamlah! Dengan kesaksian keteraturanku yang sempurna dan dengan petunjuk cap kesatuan pada wajahku, Pembuatku adalah Dzat yang Mahakuasa atas segala sesuatu, Mahatahu atas segala sesuatu, yang melihat dan mendengar segalanya. Jari sesosok dungu lagi lemah sepertimu tak dapat mencampuri seni-Nya. Sebesar zarah pun ia tak dapat menyisip."

Wakil para sekutu itu, karena tak menemukan celah untuk menyisipkan jari pada tubuh, pergi dan berjumpa dengan jenis manusia. Dari dalam kalbunya ia berkata: "Barangkali di tengah kerumunan yang berserak dan campur aduk ini — sebagaimana setan menyusup ke dalam perbuatan ikhtiar dan sosial mereka — aku pun dapat menyusup ke dalam keadaan wujud dan fitrah mereka, dan menemukan celah untuk menyisipkan jari. Bila kutemukan celah padanya, akan kuberlakukan hukumku atas tubuh dan sel tubuh yang mengusirku itu." Karena itu ia berkata kepada jenis manusia, kembali dengan bahasa tabiat yang tuli dan filsafat yang linglung: "Kalian tampak sebagai sesuatu yang amat campur aduk. Aku adalah Rabb dan pemilik kalian, atau setidaknya pemegang saham." Maka jenis manusia menjawab dengan bahasa haq dan hakikat, dengan bahasa hikmah dan keteraturan, katanya: "Jika padamu ada kudrat dan hikmah untuk membuat dan menjahit baju yang ditenun dengan hikmah sempurna dari benang lungsi dan pakan beraneka warna — baju yang dikenakan pada bola bumi dan pada ratusan ribu jenis hewan serta tumbuhan seperti jenis kami — serta permadani yang dihamparkan di muka bumi, yang ditenun dari ratusan ribu jenis makhluk hidup dan diciptakan dalam rupa yang sangat bercorak, lalu setiap saat memperbaruinya dengan hikmah yang sempurna; dan jika padamu ada kudrat yang meliputi serta hikmah yang menyeluruh untuk berkuasa atas bola bumi — yang kami menjadi buahnya — dan atas alam yang kami menjadi benihnya, lalu mengirimkan kepada kami dengan timbangan hikmah zat-zat yang kami perlukan bagi kehidupan dari segala penjuru alam; dan jika padamu ada kuasa untuk menciptakan seluruh yang serupa dengan kami, yang telah berlalu dan yang akan datang, yang cap kudratnya pada wajah kami satu — barangkali engkau dapat mendakwakan rububiyah atasku. Jika tidak, diamlah! Jangan berkata 'aku dapat menyisipkan jari' dengan memandang kekacauan pada jenisku. Sebab keteraturan itu sempurna. Keadaan-keadaan yang kausangka campur aduk itu adalah penyalinan yang sempurna dari kitab takdir kudrat. Sebab keteraturan sempurna hewan dan tumbuhan yang jauh lebih rendah dari kami dan berada di bawah pengawasan kami menunjukkan bahwa apa yang tampak campur aduk pada kami pun adalah semacam penulisan.

Mungkinkah gerangan pihak yang menempatkan sehelai benang pakan yang terbentang ke seluruh sisi sebuah permadani dengan penuh seni, adalah selain sang perajin permadani itu? Mungkinkah pencipta sebuah buah adalah selain pencipta pohonnya? Mungkinkah yang menciptakan benih adalah selain Pembuat jasad yang berbiji itu? Matamu buta. Engkau tak melihat mukjizat-mukjizat kudrat pada wajahku, dan keajaiban-keajaiban fitrah dalam hakikat kami. Sekiranya engkau melihat, engkau akan mengerti bahwa Pembuatku adalah Dzat yang dari-Nya tiada sesuatu pun tersembunyi, dan tiada sesuatu pun yang berat lagi enggan bagi-Nya. Bintang-bintang bagi-Nya semudah zarah. Ia menciptakan satu musim semi semudah satu kuntum bunga. Dialah Dzat yang menyisipkan indeks alam raya yang agung ke dalam hakikatku dengan keteraturan yang sempurna. Mungkinkah pihak yang beku, lemah, buta, lagi tuli sepertimu menyisipkan jari ke dalam seni Dzat yang demikian? Maka diamlah! Enyahlah pergi!" lalu ia mengusirnya.

Kemudian pendakwa itu pergi kepada permadani luas yang terhampar di muka bumi dan kepada baju yang amat berhias dan bercorak yang dikenakan pada bumi. Ia berkata atas nama sebab-sebab, dengan bahasa tabiat dan filsafat: "Aku dapat berkuasa atasmu, dan aku pemilikmu, atau aku punya bagian padamu," lalu ia mendakwa. Maka baju itu — {(Catatan kaki): Namun permadani ini hidup, lagi bergetar dengan getaran yang teratur. Setiap saat corak-coraknya berganti dengan hikmah dan keteraturan yang sempurna, agar sang penenun menampakkan manifestasi asma-Nya yang beragam satu demi satu.} permadani itu — atas nama haq dan hakikat, dengan bahasa hikmah berkata kepada pendakwa: "Jika padamu ada kudrat dan seni untuk menenun serta menciptakan seluruh baju dan permadani — yang dikenakan pada bumi sebanyak bilangan tahun dan abad, lalu ditanggalkan dengan teratur dan digantungkan pada tali masa silam, lalu dikenakan yang baru; yang rancangan dan potongannya digambar serta ditetapkan dengan keteraturan sempurna dalam lingkaran takdir, lalu disematkan pada pita masa depan, yang masing-masing memiliki corak berbeda yang teratur dan penuh hikmah — dan jika padamu ada dua tangan maknawi yang penuh hikmah dan kudrat, yang menjangkau dari penciptaan bumi hingga kehancurannya, bahkan dari azali hingga abadi; dan jika padamu ada kuasa dan hikmah untuk memperbaiki dan memperbarui dengan keteraturan sempurna seluruh individu pada segala benang lungsiku; serta jika engkau sanggup menggenggam bola bumi — model kami, yang mengenakan kami dan menjadikan kami cadar serta seprainya — lalu menjadi penciptanya, maka dakwakanlah rububiyah atasku. Jika tidak, keluarlah! Di tempat ini engkau tak akan menemukan celah. Sebab pada kami ada cap kesatuan dan tera keesaan yang sedemikian rupa, sehingga tak dapat memiliki kami dan tak dapat mencampuri kami pihak yang tidak menggenggam seluruh alam dalam kuasanya, yang tidak melihat segala sesuatu beserta segala keadaannya sekaligus, yang tidak sanggup mengerjakan tugas tak terhingga secara serentak, yang tidak hadir lagi menyaksikan di setiap tempat, yang tidak tersucikan dari ruang, dan yang tidak memiliki hikmah, ilmu, serta kudrat yang tak terhingga."

Kemudian pendakwa itu pergi. "Barangkali kubujuk bola bumi, lalu kutemukan celah di sana," katanya. Ia pergi kepada bola bumi

{(Catatan kaki 1): Kesimpulannya: Zarah mengalihkan pendakwa itu kepada sel darah merah. Sel darah merah mengalihkannya kepada sel tubuh, sel tubuh kepada tubuh manusia, tubuh manusia kepada jenis manusia, jenis manusia kepada baju bumi yang ditenun dari jenis-jenis makhluk hidup, baju bumi kepada bola bumi, bola bumi kepada matahari, dan matahari kepada seluruh bintang. Masing-masing berkata: "Pergilah, jika engkau sanggup menaklukkan yang di atasku, barulah datang berusaha menaklukkanku. Jika engkau tak dapat mengalahkannya, engkau tak akan dapat menggenggamku." Maka pihak yang tak dapat memberlakukan ucapannya atas seluruh bintang, tak akan dapat mendengarkan rububiyahnya kepada satu zarah pun.}

kembali atas nama sebab-sebab dan dengan bahasa tabiat ia berkata: "Karena engkau berkelana tak tentu arah, engkau menunjukkan bahwa engkau tak bertuan. Kalau begitu, engkau bisa jadi milikku." Maka bola bumi, atas nama haq dan dengan bahasa hakikat, dengan suara laksana guruh berkata kepadanya: "Jangan mengada-ada! Bagaimana mungkin aku tak tentu arah lagi tak bertuan? Pernahkah engkau mendapati bajuku, atau satu titik terkecil, satu benang di dalam bajuku, tanpa keteraturan, tanpa hikmah, dan tanpa seni — sehingga engkau menyebutku tak bertuan lagi berkelana? Jika engkau sanggup menjadi pemilik hakiki atas lingkaran agung yang kutempuh dalam setahun dengan gerak tahunanku sejauh kira-kira dua puluh lima ribu tahun perjalanan

{(Catatan kaki 2): Jika setengah garis tengah sebuah lingkaran adalah seratus delapan puluh juta kilometer, maka lingkaran itu sendiri kira-kira berjarak dua puluh lima ribu tahun perjalanan.}

yang kujalani dengan timbangan dan hikmah yang sempurna; dan jika padamu ada hikmah serta kudrat tak terhingga untuk menciptakan dan menempatkan sepuluh planet yang bertugas sepertiku dan saudara-saudaraku, beserta seluruh lingkaran yang mereka tempuh, serta matahari — imam kami, yang kepadanya kami terikat dan tergantung dengan daya tarik rahmat — lalu mengikatkan aku dan bintang-bintang planet kepadanya laksana batu umban, kemudian memutar dan memperkerjakannya dengan keteraturan dan hikmah yang sempurna, maka dakwakanlah rububiyah atasku. Jika tidak, enyahlah, pergilah! Aku punya tugas. Aku sedang menuju tugasku. Keteraturan yang agung, gerakan yang dahsyat, dan penundukan yang penuh hikmah pada diri kami menunjukkan bahwa perajin kami adalah Dzat yang kepada-Nya seluruh wujud — dari zarah hingga bintang dan matahari — tunduk dan takluk laksana prajurit yang siap perintah. Dia adalah Sang Hakîm Dzul-Jalâl lagi Penguasa Mutlak yang, sebagaimana Ia menata dan menghias sebuah pohon dengan buah-buahnya, dengan mudah menata matahari beserta planet-planetnya."

Kemudian pendakwa itu, karena tak menemukan celah di bumi, pergi kepada matahari. Dari dalam kalbunya ia berkata: "Ini sesuatu yang amat besar, barangkali kutemukan lubang di dalamnya dan kubuka jalan. Bumi pun akan kutundukkan." Kepada matahari, atas nama syirik dan dengan bahasa filsafat yang telah menjadi setan, sebagaimana ucapan kaum Majusi ia berkata: "Engkau adalah seorang sultan, engkau memiliki dirimu sendiri, engkau berkuasa sekehendakmu." Adapun matahari, atas nama haq dan dengan bahasa hakikat serta bahasa hikmah Ilahi, berkata kepadanya: "Mahasuci Allah, seratus ribu kali sekali-kali tidak dan mustahil! Aku adalah petugas yang tunduk. Aku sebatang lilin di rumah tamu Tuanku. Jangankan atas seekor lalat, atas sehelai sayap lalat pun aku tak sanggup menjadi pemilik hakiki. Sebab pada wujud seekor lalat terdapat mutiara-mutiara maknawi serta seni-seni antik seperti mata dan telinga, yang tak ada di kedaiku, yang berada di luar lingkaran kuasaku," lalu ia menghardik pendakwa itu.

Kemudian pendakwa itu berbalik dan berkata dengan bahasa filsafat yang telah menjadi Fir'aun: "Karena engkau bukan pemilik dan tuan atas dirimu, melainkan seorang pelayan, maka atas nama sebab-sebab engkau adalah milikku." Maka matahari, atas nama haq dan hakikat serta dengan bahasa ubudiyah, berkata: "Aku hanya bisa menjadi milik Dzat yang sanggup menciptakan seluruh bintang tinggi yang serupa denganku, menempatkannya di langit-Nya dengan hikmah sempurna, memutarnya dengan keagungan sempurna, dan menghiasinya dengan keindahan sempurna."

Kemudian pendakwa itu berkata dalam kalbunya: "Bintang-bintang amat banyak. Lagi pula mereka tampak berserak dan campur aduk. Barangkali di antara mereka aku memperoleh sesuatu atas nama para pihak yang kuwakili." Ia pun masuk ke tengah mereka. Kepada mereka, atas nama sebab-sebab, atas perhitungan para sekutu, dan dengan bahasa filsafat yang telah durhaka, sebagaimana ucapan kaum Sabi'in penyembah bintang, ia berkata: "Kalian amat berserak, maka kalian berada di bawah kekuasaan penguasa-penguasa yang berbeda-beda." Maka sebuah bintang berkata atas nama seluruh bintang: "Alangkah dungu, tak berakal, tolol, lagi butanya engkau! Engkau tak melihat dan tak memahami cap kesatuan serta tera keesaan pada wajah kami. Engkau tak mengetahui tatanan luhur dan hukum-hukum ubudiyah kami. Engkau menyangka kami tanpa keteraturan. Kami adalah seni dan pelayan Dzat yang menggenggam dalam kuasa-Nya langit yang menjadi lautan kami, alam raya yang menjadi pohon kami, dan angkasa alam tak terhingga yang menjadi taman kelana kami — yakni Wâhid Ahad. Kami laksana lampu-lampu listrik pada perayaan, saksi-saksi bercahaya yang menunjukkan kesempurnaan rububiyah-Nya, dan bukti-bukti bersinar yang mengumumkan kerajaan rububiyah-Nya. Setiap golongan kami adalah pelayan bercahaya yang, dalam kedudukan tinggi maupun rendah, duniawi, barzakh, maupun ukhrawi di lingkaran kerajaan-Nya, menampakkan keagungan kerajaan-Nya dan memancarkan sinar.

Ya, masing-masing kami adalah mukjizat kudrat Wâhid Ahad, buah teratur dari pohon penciptaan, bukti bercahaya bagi keesaan, tempat kedudukan, wahana, dan masjid bagi para malaikat, lampu dan matahari bagi alam-alam yang tinggi, saksi bagi kerajaan rububiyah, hiasan, istana, dan bunga bagi angkasa alam, ikan bercahaya di lautan langit, dan mata indah di wajah langit {(Catatan kaki): Kami adalah isyarat-isyarat yang memandang dan menatap keajaiban ciptaan Allah, serta membuat lain memandangnya. Yakni: langit seakan-akan memandang keajaiban seni Ilahi di bumi dengan mata yang tak terhingga. Laksana para malaikat langit, bintang-bintang pun memandang bumi yang menjadi tempat berhimpunnya keajaiban dan keanehan, serta membuat makhluk-makhluk berkesadaran memandangnya dengan saksama.} — sebagaimana pula pada keseluruhan kami terdapat kesenyapan di dalam ketenangan, gerak di dalam hikmah, hiasan di dalam keagungan, keindahan penciptaan di dalam keteraturan, dan kesempurnaan seni di dalam keseimbangan; sehingga dengan lisan yang tak terhingga kami mengumumkan kepada seluruh alam kesatuan, keesaan, dan Shamadiyah Sang Pembuat Dzul-Jalâl kami, serta sifat-sifat keindahan, kebesaran, dan kesempurnaan-Nya. Padahal engkau menuduh pelayan yang teramat bersih, suci, taat, lagi tunduk seperti kami dengan tuduhan kekacauan, ketidakteraturan, ketiadaan tugas, bahkan ketiadaan tuan — maka engkau pantas ditampar." Maka sebuah bintang menampar wajah pendakwa itu laksana rajam terhadap setan, sebuah tamparan yang melemparkannya dari bintang-bintang hingga ke dasar neraka. Dan tabiat yang menyertainya

{(Catatan kaki): Namun setelah kejatuhan itu, tabiat bertobat. Ia memahami bahwa tugas hakikinya bukanlah pengaruh dan perbuatan, melainkan penerimaan dan keterpengaruhan. Dan ia mengetahui bahwa dirinya adalah semacam catatan takdir Ilahi — namun catatan yang dapat berganti dan berubah — dan semacam rancangan kudrat rabbâni, semacam syariat fitri Sang Qadîr Dzul-Jalâl, serta semacam himpunan hukum-hukum-Nya. Dengan puncak kelemahan dan ketundukan, ia mengenakan tugas ubudiyah, lalu mengambil nama fitrah Ilahi dan seni rabbâni.}

dilemparkannya ke lembah-lembah waham, ke sumur ketiadaan bagi kebetulan, ke kegelapan kemustahilan bagi para sekutu, dan filsafat yang memusuhi agama ke dasar serendah-rendah kerendahan. Bersama seluruh bintang, bintang itu membaca firman suci لَوْ كَانَ ف۪يهِمَٓا اٰلِهَةٌ اِلاَّ اللّٰهُ لَفَسَدَتَا. Dan mereka mengumumkan: "Dari sayap lalat hingga pelita langit, tiada tempat bagi sekutu sebesar sayap lalat pun untuk menyisipkan jari."

سُبْحَانَكَ لاَ عِلْمَ لَنَٓا اِلاَّ مَا عَلَّمْتَنَٓا اِنَّكَ اَنْتَ الْعَل۪يمُ الْحَك۪يمُاَللّٰهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سِرَاجِ وَحْدَتِكَ ف۪ى كَثْرَةِ مَخْلُوقَاتِكَ وَ دَلاَّلِ وَحْدَانِيَّتِكَ ف۪ى مَشْهَرِ كَٓائِنَاتِكَ وَ عَلٰٓى اٰلِه۪ وَ صَحْبِه۪ٓ اَجْمَع۪ينَ

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِفَانْظُرْ اِلٰٓى اٰثَارِ رَحْمَتِ اللّٰهِ كَيْفَ يُحْيِى اْلاَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا, adalah petikan-petikan berbahasa Arab yang mengisyaratkan sekuntum bunga dari taman azali ayat tersebut.

حَتّٰى كَاَنَّ الشَّجَرَ الْمُزَهَّرَةَ ❊ قَص۪يدَةٌ مَنْظُومَةٌ مُحَرَّرَةٌوَ تُنْشِدُ لِلْفَاطِرِ الْمَدَائِحَ الْمُبَهَّرَةَ ❊ اَوْ فَتَحَتْ بِكَثْرَةٍ عُيُونُهَا الْمُبَصَّرَةَلِتُنْظِرَ للِصَّانِعِ الْعَجَائِبَ الْمُنَشَّرَةَ ❊ اَوْ زَيَّنَتْ لِع۪يدِهَا اَعْضَائَهَا الْمُخَضَّرَةَلِيَشْهَدَ سُلْطَانُهَا اٰثَارَهُ الْمُنَوَّرَةَ ❊ وَ تُشْهِرَ فِى الْمَحْضَرَةِ مُرَصَّعَاتِ الْجَوْهَرِوَ تُعْلِنَ لِلْبَشَرِ حِكْمَةَ خَلْقِ الشَّجَرِ ❊ بِكَنْزِهَا الْمُدَخَّرِ مِنْ جُودِ رَبِّ الثَّمَرِسُبْحَانَهُ مَا اَحْسَنَ اِحْسَانَهُ ❊ مَا اَزْيَنَ بُرْهَانَهُ مَا اَبْيَنَ تِبْيَانَهُ

خَيَالْ ب۪ينَدْ اَز۪ينْ اَشْجَارْ مَلاَئِكْ رَا جَسَدْ آمَدْ سَمَاو۪ى بَا هَزَارَانْ نَىْ اَز۪ينْ نَيْهَا شُن۪يدَتْ هُوشْ سِتَايِشْهَاىِ ذَاتِ حَىْ وَرَقْهَارَا زَبَانْ دَارَنْدْ هَمَه هُو هُو ذِكْرْ آرَنْدْ بَدَرْ مَعْنَاىِ حَىُّ حَىْچُو لآَ اِلٰهَ اِلاَّ هُو بَرَابَرْ م۪يزَنَدْ هَرْشَىْ دَمَا دَمْ جُويَدَنْدْ يَا حَقْ سَرَاسَرْ گُويَدَنْدْ يَا حَىْ بَرَابَرْ م۪يزَنَنْدْ اَللّٰهْ وَ نَزَّلْنَا مِنَ السَّمَٓاءِ مَٓاءً مُبَارَكًا

Terjemahan petikan Arab

Yakni: Seakan-akan setiap pohon yang berbunga adalah sebuah kasidah tersusun yang tertulis indah, yang melantunkan pujian-pujian cemerlang bagi Sang Fâthir Dzul-Jalâl dengan bahasa keadaan yang puitis. Atau setiap pohon yang berbunga itu telah membuka ribuan matanya yang memandang dan membuat memandang, agar ia menatap keajaiban seni Sang Pembuat Dzul-Jalâl yang disebar dan dipertontonkan — bukan dengan satu-dua mata, melainkan dengan ribuan mata — dan agar ia membuat ahli perhatian memandang demikian. Atau setiap pohon yang berbunga itu telah menghiasi anggota-anggotanya yang menghijau dengan hiasan yang paling indah, pada perayaan khususnya di dalam perayaan umum musim semi, dalam sekejap laksana parade; agar Sang Sultan Dzul-Jalâl-nya menyaksikan hadiah, kelembutan, dan jejak-jejak bercahaya yang Ia karuniakan kepadanya. Dan agar di muka bumi yang menjadi galeri seni Ilahi, di musim semi, ia mempertontonkan permata-permata rahmat-Nya kepada pandangan makhluk. Dan agar ia mengumumkan hikmah penciptaan pohon kepada manusia. Dengan menunjukkan betapa banyak khazanah penting tersimpan pada ranting-rantingnya yang lembut, dan betapa besar simpanan berharga terkandung dalam buah-buah karunia Rahmâni-Nya, ia menampakkan kesempurnaan kudrat Ilahi.

SEBUAH LAMPIRAN KECIL BAGI MAUQIF PERTAMA

فَاسْتَمِعْ اٰيَةَ

اَفَلَمْ يَنْظُرُٓوا اِلَى السَّمَٓاءِ فَوْقَهُمْ كَيْفَ بَنَيْنَاهَا وَ زَيَّنَّاهَا الخ ثُمَّ انْظُرْ اِلٰى وَجْهِ السَّمَٓاءِ كَيْفَ تَرٰى سُكُوتًا ف۪ى سُكُونَةٍ حَرَكَةً ف۪ى حِكْمَةٍ تَلَئْـُلأً ف۪ى حِشْمَةٍ تَبَسُّمًا ف۪ى ز۪ينَةٍ مَعَ اِنْتِظَامِ الْخِلْقَةِ مَعَ اِتِّزَانِ الصَّنْعَةِ تَشَعْشُعُ سِرَاجِهَا تَهَلْهُلُ مِصْبَاحِهَا تَلَئْلُؤُ نُجُومِهَا تُعْلِنُ ِلاَهْلِ النُّهٰى سَلْطَنَةً بِلآَ اِنْتِهَٓاءٍاَفَلَمْ يَنْظُرُٓوا اِلَى السَّمَٓاءِ فَوْقَهُمْ كَيْفَ بَنَيْنَاهَا وَ زَيَّنَّاهَا الخ

Ini adalah terjemahan dari ثُمَّ انْظُرْ اِلٰى وَجْهِ السَّمَٓاءِ كَيْفَ تَرٰى سُكُوتًا ف۪ى سُكُونَةٍ, yang merupakan semacam terjemahan ayat tersebut. Yakni: ayat yang mulia mengalihkan perhatian kepada wajah langit yang berhias lagi indah. Agar dengan pandangan yang saksama, seseorang melihat kesenyapan di dalam ketenangan yang luar biasa pada wajah langit, lalu memahami bahwa ia mengambil keadaan itu dengan perintah dan penundukan Sang Qadîr Mutlak. Sebab sekiranya benda-benda langit itu dibiarkan tanpa kendali, niscaya benda-benda angkasa yang tak terhingga, bola-bola yang teramat besar, dengan gerakannya yang teramat cepat dan saling berpapasan itu, pastilah menimbulkan gemuruh yang akan memekakkan telinga alam. Dan pastilah terjadi kekacauan dalam gempa huru-hara yang akan mencerai-beraikan alam. Telah maklum betapa gemuruh kekacauan yang ditimbulkan bila dua puluh ekor kerbau bergerak berdesakan. Padahal ilmu falak menuturkan bahwa di antara bintang-bintang ada yang seribu kali lebih besar dari bola bumi dan bergerak tujuh puluh kali lebih cepat dari peluru meriam. Maka dari kesenyapan benda-benda langit di dalam ketenangan itu, pahamilah derajat kudrat dan penundukan Sang Pembuat Dzul-Jalâl lagi Sang Qadîr Dzul-Kamâl, serta derajat kepatuhan dan ketaatan bintang-bintang kepada-Nya.

حَرَكَةً ف۪ى حِكْمَةٍ Ayat pun memerintahkan untuk melihat gerak di dalam hikmah pada wajah langit. Ya, gerakan-gerakan yang teramat ajaib dan agung itu berada di dalam hikmah yang teramat halus dan luas. Sebagaimana seorang perajin yang memutar roda-roda dan poros-poros sebuah pabrik dengan hikmah, menunjukkan derajat seni dan kepiawaiannya sekadar kebesaran dan keteraturan pabrik itu; demikian pula derajat kudrat dan hikmah Sang Qadîr Dzul-Jalâl — yang memberikan kepada matahari yang agung, beserta planet-planetnya, kedudukan sebuah pabrik, lalu memutar bola-bola raksasa yang dahsyat itu di sekelilingnya laksana batu umban dan roda pabrik — akan tampak kepada pandangan sekadar itu pula.

تَلَئْـُلأً ف۪ى حِشْمَةٍ تَبَسُّمًا ف۪ى ز۪ينَةٍ Yakni: Pada wajah langit ada kilauan di dalam keagungan dan senyuman di dalam hiasan, yang menunjukkan betapa agung kerajaan dan betapa indah seni Sang Pembuat Dzul-Jalâl. Sebagaimana lampu-lampu listrik yang banyak pada hari-hari perayaan menunjukkan derajat keagungan sultan dan derajat kesempurnaannya dalam kemajuan peradaban; demikian pula langit yang agung, dengan bintang-bintangnya yang megah lagi berhias, menampakkan kesempurnaan kerajaan dan keindahan seni Sang Pembuat Dzul-Jalâl kepada pandangan yang saksama.

مَعَ اِنْتِظَامِ الْخِلْقَةِ مَعَ اِتِّزَانِ الصَّنْعَةِ Ia juga berkata: Lihatlah keteraturan makhluk di wajah langit, dan keseimbangan ciptaan di dalam timbangan-timbangan yang halus; lalu pahamilah betapa Mahakuasa lagi Mahabijaksana Pembuat mereka. Ya, sebagaimana pihak yang memutar benda-benda kecil yang beragam atau hewan-hewan, dan menggerakkannya untuk suatu tugas, lalu menggiring masing-masing pada jalan tertentu dengan timbangan khusus, menunjukkan derajat kuasa dan hikmahnya serta derajat ketaatan dan ketundukan benda-benda yang bergerak itu kepadanya; demikian pula langit yang agung, dengan kebesarannya yang dahsyat dan bintang-bintangnya yang tak terhingga — dan bintang-bintang itu, dengan kebesarannya yang dahsyat serta gerakannya yang teramat kencang — tidak melampaui batasnya sebesar zarah atau sedetik pun, dan tidak tertinggal dari tugasnya sekejap pun; ini menampakkan kepada pandangan yang saksama betapa halus timbangan khusus yang dengannya Sang Pembuat Dzul-Jalâl mereka menjalankan rububiyah-Nya. Sebagaimana pula, seperti diisyaratkan oleh ayat ini dan oleh penundukan matahari, bulan, dan bintang yang diterangkan dalam Surah 'Amma serta ayat-ayat lain:

تَشَعْشُعُ سِرَاجِهَا تَهَلْهُلُ مِصْبَاحِهَا تَلَئْلُؤُ نُجُومِهَا تُعْلِنُ ِلاَهْلِ النُّهٰى سَلْطَنَةً بِلآَ اِنْتِهَٓاءٍ

Yakni: Menyematkan pada langit-langit langit yang berhias sebuah pelita pemberi cahaya dan penghangat seperti matahari; menjadikannya laksana wadah tinta cahaya untuk menuliskan surat-surat Shamadâni pada garis-garis siang dan malam, pada lembar-lembar musim dingin dan musim panas; menjadikan bulan di kubah langit laksana jarum jam besar pada menara-menara tinggi, sebagai jarum bagi jam raksasa zaman; menampakkannya dalam rupa banyak sabit yang berbeda-beda, seakan-akan meninggalkan sabit tersendiri bagi setiap malam, lalu kembali menghimpunnya kepada dirinya, menggerakkannya di tempat-tempat peredarannya dengan timbangan sempurna dan perhitungan yang halus; serta menyepuh wajah langit yang indah dengan bintang-bintang yang berkilau dan tersenyum di kubah langit — sungguh semua itu adalah syiar kerajaan rububiyah yang tak terhingga. Ia adalah isyarat-isyarat sebuah uluhiyah agung yang memberitahukannya kepada makhluk berkesadaran. Ia menyeru ahli pikir kepada iman dan tauhid.

Pandanglah halaman berwarna kitab alam raya —

Lihat, apa yang telah dilukiskan Pena keemasan kudrat.

Tiada tersisa satu titik gelap pun bagi mata kalbu para ahlinya;

Seakan-akan Allah telah menuliskan ayat-ayat-Nya dengan cahaya.

Lihatlah, betapa mukjizat hikmah yang memikat akal alam raya;

Lihatlah, betapa tinggi tontonan angkasa alam raya.

Simaklah bintang-bintang, khutbah manis ini;

Lihat, apa yang telah disampaikan surat cahaya hikmah.

Serentak mereka fasih berucap, dengan bahasa haq mereka berkata:

"Bagi keagungan kerajaan Sang Qadîr Dzul-Jalâl,

Kamilah bukti-bukti pemancar cahaya, saksi bagi wujud wajib Sang Pembuat, bagi keesaan, dan bagi kudrat.

Mukjizat rupawan yang menyepuh wajah bumi ini, bak taman jelajah para malaikat —

Kamilah ribuan mata cermat langit ini yang memandang bumi dan menatap surga.

Dari pohon Tûbâ penciptaan ke arah langit, pada dahan-dahan bima sakti —

Kamilah ribuan buah indah yang disematkan oleh tangan hikmah Sang Jamîl Dzul-Jalâl.

Bagi penghuni langit, kamilah masjid-masjid berkelana, rumah-rumah berputar, sarang-sarang yang tinggi,

pelita-pelita bercahaya, bahtera-bahtera perkasa, wahana-wahana terbang.

Kamilah mukjizat kudrat, keajaiban seni Sang Pencipta, keunikan hikmah, keluarbiasaan penciptaan, dan alam cahaya — dari Sang Qadîr Dzul-Kamâl, Sang Hakîm Dzul-Jalâl.

Dengan ratusan ribu lisan kami menampakkan ratusan ribu bukti, kami perdengarkan kepada manusia yang sungguh manusia.

Mata si buta yang tak beragama tak lagi melihat wajah kami, dan tak mendengar ucapan kami.

Kamilah ayat-ayat yang menuturkan haq.

Cap kami satu, tera kami satu; kepada Rabb kami kami tunduk, kami bertasbih sebagai hamba.

Kamilah para pemabuk cinta yang tergabung dalam lingkaran besar bima sakti, senantiasa berzikir…

Mauqif Kedua

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِ قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌ ❊ اَللّٰهُ الصَّمَدُ Mauqif ini memiliki tiga maksud:

MAKSUD PERTAMA

(Wakil ahli syirik dan kesesatan, yang terjatuh ke bumi oleh tamparan sebuah bintang, karena tak menemukan tempat bagi syirik sebesar zarah pun di mana pun — dari zarah hingga bintang — telah melepaskan dakwaan semacam itu. Namun, laksana setan, ia hendak menimbulkan keraguan seputar keesaan; maka dengan tiga pertanyaan penting ia hendak melancarkan bisikan kepada ahli tauhid mengenai ahadiyah dan kesatuan.)

PERTANYAAN PERTAMA

Dengan bahasa zindik ia berkata: "Wahai ahli tauhid! Aku, atas nama para pihak yang kuwakili, tak menemukan apa pun; tak dapat mengeluarkan satu bagian pun dari segenap wujud; tak dapat membuktikan mazhabku. Namun dengan apa kalian membuktikan adanya Wâhid Ahad yang memiliki kudrat tak terhingga? Mengapa kalian memandang mustahil bercampurnya tangan-tangan lain bersama kudrat-Nya?"

JAWABAN

Di dalam Kelimat Kedua Puluh Dua telah dibuktikan secara pasti bahwa segenap wujud, seluruh zarah, dan segala bintang, masing-masing adalah bukti bercahaya bagi wujud wajib Wâjib al-Wujûd dan Sang Qadîr Mutlak. Setiap rangkaian dalam seluruh alam raya adalah dalil pasti bagi keesaan-Nya. Sebagaimana Al-Qur'an Yang Mahabijaksana membuktikannya dengan bukti-bukti yang tak terhingga, ia lebih banyak menyebut bukti-bukti yang paling jelas bagi pandangan umum. Di antaranya:

وَلَئِنْ سَاَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمٰوَاتِ وَاْلاَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللّٰهُ ❊ وَمِنْ اٰيَاتِه۪ خَلْقُ السَّمٰوَاتِ وَاْلاَرْضِ وَاخْتِلاَفُ اَلْسِنَتِكُمْ وَ اَلْوَانِكُمْ — dengan sekian banyak ayat semisal ini, Al-Qur'an Yang Mahabijaksana menunjukkan penciptaan bumi dan langit sebagai bukti keesaan yang mencapai derajat kepastian, sehingga mau tak mau setiap orang yang berkesadaran terpaksa membenarkan Sang Khâliq Dzul-Jalâl-nya dalam penciptaan bumi dan langit, sehingga ia berkata لَيَقُولُنَّ اللّٰهُ.

Di Mauqif Pertama, sebagaimana kita memulai dari sebuah zarah dan menunjukkan cap tauhid hingga ke bintang-bintang dan langit; Al-Qur'an Yang Mahabijaksana, dengan ayat-ayat semacam ini, mengusir syirik dari bintang-bintang dan langit hingga ke zarah-zarah. Ia berisyarat demikian dan secara maknawi berkata:

Sang Qadîr Mutlak yang menciptakan langit dan bumi sedemikian teratur, sudah pasti tata surya — yang termasuk lingkaran ciptaan-Nya — berada dalam genggaman kuasa-Nya. Selama Sang Qadîr Mutlak menggenggam matahari beserta planet-planetnya dalam kuasa-Nya, menata, menundukkan, dan memutarnya, maka sudah pasti bola bumi — yang menjadi bagian dari tata surya itu dan terikat dengan matahari — pun berada dalam genggaman kuasa serta pengaturan-Nya. Selama bola bumi berada dalam genggaman kuasa dan pengaturan-Nya, maka sudah jelas ciptaan yang dituliskan dan diadakan di wajah bumi — yang menjadi buah dan tujuan bumi — pun berada dalam genggaman rububiyah serta pemeliharaan-Nya. Selama seluruh ciptaan yang dihamparkan dan disebar di muka bumi, yang menyepuh dan menghias wajahnya, yang senantiasa diperbarui, yang datang dan pergi silih berganti hingga bumi terisi dan terkosongkan olehnya, berada dalam genggaman kudrat dan ilmu-Nya serta ditimbang dan ditata dengan timbangan keadilan dan hikmah-Nya; selama seluruh jenis berada dalam genggaman kudrat-Nya, maka sudah pasti individu-individu setiap jenis yang teratur lagi sempurna — yang menjadi miniatur alam, neraca jenis-jenis alam raya, dan indeks kecil kitab dunia — pun berada dalam genggaman rububiyah, penciptaan, pengaturan, dan pemeliharaan-Nya. Selama setiap makhluk hidup berada dalam genggaman pengaturan dan pemeliharaan-Nya, maka sudah pasti sel-sel, butir-butir darah, anggota, dan saraf yang menyusun wujud makhluk hidup itu berada dalam genggaman ilmu dan kudrat-Nya. Selama setiap sel dan setiap butir darah berada di bawah perintah-Nya, dalam lingkaran kuasa-Nya, dan bergerak dengan hukum-Nya, maka sudah pasti zat asasi seluruhnya, serta zarah-zarah yang laksana torak dan pegas bagi ukiran seni dan tenunan ukiran pada semuanya, secara niscaya berada dalam genggaman kudrat dan lingkaran ilmu-Nya, lalu dengan perintah, izin, dan kekuatan-Nya melakukan gerakan yang teratur serta menjalankan tugas yang sempurna. Selama gerak dan tugas setiap zarah berlangsung dengan hukum, izin, dan perintah-Nya, maka sudah pasti pengkhususan wajah — adanya tanda pembeda pada wajah setiap orang yang membedakannya dari yang lain, serta adanya perbedaan pada suara dan lidah sebagaimana pada wajah — semuanya berlangsung dengan ilmu dan hikmah-Nya.

Maka lihatlah ayat yang mengisyaratkan rangkaian ini dengan menyebut awal dan akhirnya:

وَمِنْ اٰيَاتِه۪ خَلْقُ السَّمٰوَاتِ وَاْلاَرْضِ وَاخْتِلاَفُ اَلْسِنَتِكُمْ وَ اَلْوَانِكُمْ اِنَّ ف۪ى ذٰلِكَ َلاٰيَاتٍ لِلْعَالِم۪ينَ

Kini kami berkata: Wahai wakil ahli syirik! Inilah bukti-bukti yang sekuat rangkaian alam raya, yang membuktikan jalan tauhid dan menunjukkan Sang Qadîr Mutlak. Selama penciptaan langit dan bumi menunjukkan Sang Pembuat Yang Mahakuasa, menunjukkan kudrat-Nya yang tak terhingga, dan menunjukkan bahwa kudrat yang tak terhingga itu berada pada puncak kesempurnaan — maka sudah pasti ada kemandirian mutlak dari para sekutu. Yakni, tiada kebutuhan sedikit pun kepada sekutu. Padahal tiada kebutuhan, mengapa kalian menempuh jalan yang gelap ini? Apa yang memaksa kalian masuk ke sana? Dan karena sama sekali tiada kebutuhan kepada para sekutu, serta alam raya sepenuhnya mandiri dari mereka, maka sebagaimana sekutu dalam uluhiyah, sekutu dalam rububiyah dan penciptaan pun mustahil, dan wujud mereka muhal. Sebab telah kita buktikan bahwa kudrat pada Pembuat langit dan bumi berada pada puncak kesempurnaan sekaligus tak terhingga. Sekiranya ada sekutu, niscaya sebuah kudrat lain yang terbatas harus mengalahkan kudrat yang tak terhingga dan sempurna itu, merampas sebagian tempat, membatasinya, secara maknawi melemahkannya, serta membatasi yang tak terbatas itu — dan tanpa suatu keterpaksaan pun, sesuatu yang terbatas harus membatasi dan menjadikan terbatas sesuatu yang tak terhingga pada saat ia tak terhingga; padahal ini adalah kemustahilan yang paling tak masuk akal dan kemuhalan yang paling berlipat.

Sebagaimana para sekutu itu "tidak diperlukan" dan "mustahil pada dirinya" — yakni sebagaimana tiada kebutuhan kepada mereka, demikian pula wujud mereka muhal — maka mendakwakan mereka semata-mata sewenang-wenang. Yakni, karena tiada sebab yang secara akal, logika, dan pikiran mendorong dakwaan itu, ia laksana ucapan tanpa makna. Dalam Ilmu Ushul ini disebut "sewenang-wenang" (tahakkumî). Yakni dakwaan hampa tanpa makna. Termasuk kaidah Ilmu Kalam dan Ilmu Ushul, dikatakan: لاَ عِبْرَةَ لِْلاِحْتِمَالِ الْغَيْرِ النَّاشِى عَنْ دَلِيلٍ ❊ وَ لاَ يُنَافِى اْلاِمْكَانُ الذَّاتِىُّ الْيَق۪ينَ الْعِلْمِىَّ

Yakni: "Sebuah kemungkinan yang tidak lahir dari suatu dalil atau tanda, tiadalah artinya. Ia tidak menyisipkan keraguan pada ilmu yang pasti. Ia tidak menggoyahkan keyakinan hukum." Misalnya: pada dirinya, mungkin dan berpeluang bahwa laut Barla (yakni Danau Egirdir) menjadi manisan, atau berubah menjadi minyak. Namun selama kemungkinan itu tidak lahir dari suatu tanda, ia tidak memengaruhi ilmu pasti kita akan wujudnya dan keadaannya sebagai air, serta tidak menimbulkan keraguan dan bisikan.

Demikianlah, kita telah bertanya dari setiap sisi wujud dan setiap sudut alam raya: sebagaimana ditunjukkan di Mauqif Pertama, dari zarah hingga bintang, dan sebagaimana terlihat di Mauqif Kedua, dari penciptaan langit dan bumi hingga pengkhususan pada wajah-wajah — apa pun yang ditanya, ia bersaksi atas keesaan dengan bahasa keadaan dan menunjukkan cap tauhid. Engkau pun telah menyaksikannya… Maka, pada wujud-wujud alam raya tiada satu tanda pun yang di atasnya dapat dibangun kemungkinan syirik. Berarti dakwaan syirik semata sewenang-wenang, ucapan tanpa makna, lagi dakwaan hampa; maka mengaku syirik adalah kebodohan yang murni dan ketololan yang nyata.

Terhadap ini, wakil ahli kesesatan tak lagi memiliki jawaban. Ia hanya berkata: "Tanda bagi syirik adalah tersusunnya sebab-sebab di dalam alam raya, dan terikatnya segala sesuatu dengan suatu sebab. Berarti sebab-sebab memiliki pengaruh hakiki. Jika mereka berpengaruh, bukankah mereka bisa menjadi sekutu?"

Jawaban

Dengan tuntutan kehendak dan hikmah Ilahi, serta karena banyak asma hendak menampakkan diri, maka akibat-akibat dikaitkan dengan sebab-sebab. Setiap sesuatu diikat dengan suatu sebab. Namun di banyak tempat dan dalam beberapa Kalimat telah kami buktikan secara pasti bahwa "pada sebab-sebab tiada pengaruh penciptaan yang hakiki." Kini kami katakan sekadar ini: Di antara sebab-sebab, yang paling mulia, paling luas ikhtiarnya, dan paling luas kuasanya, sudah pasti adalah manusia. Dan di antara perbuatan ikhtiar manusia yang paling nyata adalah makan, berbicara, dan berpikir. Padahal makan, berbicara, dan berpikir adalah rangkaian yang teramat teratur, ajaib, lagi penuh hikmah. Dari seratus bagian rangkaian itu, yang diserahkan ke tangan ikhtiar manusia hanyalah satu bagian. Misalnya: di dalam rangkaian perbuatan mulai dari makan, dari pemberian gizi bagi sel-sel tubuh, hingga terbentuknya buah-buahan — yang diserahkan ke tangan ikhtiar manusia hanyalah menggerakkan kilangan gigi di mulut dan mengunyah. Dan dari rangkaian berbicara, hanyalah memasukkan dan mengeluarkan udara ke dalam cetakan makhraj huruf. Padahal satu kata di mulut, meski laksana sebutir benih, adalah bagaikan sebatang pohon. Di dalam udara ia membuahkan jutaan buah yang serupa dengan kata itu, dan masuk ke telinga jutaan pendengar. Bulir majasi ini hanya dapat dijangkau oleh tangan khayal manusia. Bagaimana mungkin tangan ikhtiar yang pendek dapat menjangkaunya? Selama manusia — yang paling mulia dan paling luas ikhtiarnya di antara sebab-sebab — tangannya terikat dari penciptaan hakiki, maka bagaimana mungkin benda mati, hewan, unsur, dan tabiat lainnya dapat menjadi pengatur hakiki?

Sebab-sebab itu hanyalah wadah, sarung bagi ciptaan-ciptaan rabbâni, dan pengantar bagi hadiah-hadiah Rahmâni. Sudah pasti wadah hadiah seorang raja, atau sapu tangan yang membungkus hadiah, atau prajurit yang membawakan hadiah ke tangan, tak dapat menjadi sekutu bagi kerajaan raja itu. Dan orang yang menyangka mereka sekutu, telah mengigau dengan igauan yang hampa. Demikian pula sebab-sebab lahiriah dan perantara-perantara semu, tiada memiliki bagian sedikit pun dalam rububiyah Ilahi. Mereka tiada memperoleh apa pun selain khidmah ubudiyah.

MAKSUD KEDUA

Wakil ahli syirik, karena sama sekali tak dapat membuktikan mazhab syirik dan berputus asa dari pembuktiannya, hendak meruntuhkan mazhab ahli tauhid dengan keraguan dan bisikan-bisikannya; maka ia mengajukan pertanyaan kedua, katanya:

"Wahai ahli tauhid! Kalian berkata: قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌ ❊ اَللّٰهُ الصَّمَدُ Khâliq alam adalah satu; Ahad, Shamad. Dan Dialah Khâliq segala sesuatu. Beserta keesaan Dzat-Nya, secara langsung kendali segala sesuatu berada di tangan-Nya; kunci segala sesuatu dalam genggaman-Nya; Ia memegang ubun-ubun segala sesuatu; satu urusan tak menghalangi urusan lain. Ia dapat berkuasa atas segala sesuatu, dengan segala keadaannya, dalam sekejap." Bagaimana mungkin dipercayai hakikat yang seajaib ini? Mungkinkah satu Dzat yang khusus mengerjakan urusan tak terhingga di tempat tak terhingga tanpa kesulitan?

JAWABAN

Pertanyaan ini dijawab dengan penjelasan sebuah rahasia Ahadiyah dan Shamadiyah yang teramat dalam, halus, tinggi, lagi luas. Adapun pikiran manusia hanya dapat memandang rahasia itu melalui teropong perumpamaan dan teleskop misal. Pada Dzat dan sifat Allah tiada tandingan dan misal. Namun melalui misal dan perumpamaan, keadaan-Nya (syu'ûnât) dapat dipandang hingga suatu derajat. Maka kami pun akan mengisyaratkan rahasia itu dengan perumpamaan-perumpamaan yang bersifat lahiri.

Perumpamaan Pertama

Demikian: Sebagaimana dibuktikan di Kelimat Keenam Belas, satu Dzat khusus memperoleh sifat menyeluruh melalui berbagai cermin. Meski pada hakikatnya bersifat parsial, ia beralih menjadi menyeluruh yang memiliki keadaan yang banyak. Ya, sebagaimana bagi benda-benda jasmani, zat seperti kaca dan air menjadi cermin, sehingga satu benda jasmani memperoleh keluasan pada cermin-cermin itu. Demikian pula bagi benda-benda bercahaya dan ruhani, udara, eter, dan sebagian wujud alam misal menjadi laksana cermin, dan beralih menjadi wahana perjalanan secepat kilat dan khayal; sehingga yang bercahaya dan yang ruhani itu berkelana di cermin-cermin bersih dan tempat-tempat halus itu secepat khayal, dan dalam sekejap masuk ke ribuan tempat. Karena mereka bercahaya, dan pantulannya sama dengan aslinya serta memiliki sifat aslinya, maka — berbeda dari benda jasmani — mereka berlaku seakan-akan hadir sendiri di setiap tempat. Adapun pantulan dan bayangan benda jasmani yang pekat, bukanlah asli benda itu, tak memiliki sifatnya, dan terhitung mati. Misalnya: matahari, meski satu individu khusus, beralih menjadi menyeluruh melalui benda-benda berkilau. Ia memberikan pantulannya, sebuah matahari misal, kepada seluruh benda berkilau di muka bumi — bahkan kepada setiap tetes air dan setiap serpih kaca — sesuai kemampuannya. Panas dan cahaya matahari, tujuh warna dalam cahayanya, serta semacam misal dari zatnya, terdapat pada setiap benda berkilau. Andaikan matahari memiliki ilmu dan kesadaran, niscaya setiap cermin menjadi semacam kedudukan, singgasana, dan kursinya; ia akan bersentuhan langsung dengan segala sesuatu, dan dapat berkomunikasi dengan setiap yang berkesadaran melalui cermin-cermin, bahkan melalui biji matanya, laksana telepon. Satu urusan tak menghalangi urusan lain. Satu komunikasi tak menghambat komunikasi lain. Meski hadir di setiap tempat, ia tak berada di tempat mana pun.

Gerangan, matahari — yang hanya menjadi cermin material, parsial, lagi beku bagi satu nama saja, yakni nama Nûr (Cahaya), dari seribu satu nama sebuah Dzat — jika beserta kekhususannya ia dapat menampakkan diri dalam urusan menyeluruh di tempat menyeluruh; maka mungkinkah Dzat Dzul-Jalâl itu, beserta keesaan Dzat-Nya, tak dapat mengerjakan urusan tak terhingga dalam sekejap?

Perumpamaan Kedua

Karena alam raya laksana sebatang pohon, maka setiap pohon dapat menjadi misal bagi hakikat-hakikat alam raya. Maka kami pun akan menjadikan pohon cinar yang megah lagi agung di depan kamar kami ini sebagai miniatur alam raya, lalu dengannya menunjukkan kilau ahadiyah di alam raya. Demikian:

Pohon ini memiliki sekurang-kurangnya sepuluh ribu buah. Setiap buah memiliki sekurang-kurangnya seratus biji bersayap. Seluruh sepuluh ribu buah dan satu juta biji itu, dalam sekejap dan bersama-sama, menampakkan sebuah seni dan penciptaan. Padahal pada benih asal, akar, dan batang pohon itu, dengan sebuah kilau kehendak Ilahi dan inti perintah rabbâni yang parsial, khusus, lagi disebut simpul kehidupan, pusat hukum pembentukan pohon itu berada di ujung setiap dahan, di dalam setiap buah, dan di samping setiap biji; sehingga dengannya semua dikerjakan tanpa meninggalkan kekurangan sedikit pun pada masing-masing, dan tanpa saling menghalangi. Dan satu kilau kehendak serta hukum perintah itu tidaklah tersebar dan pergi ke setiap tempat laksana cahaya, panas, dan udara. Sebab pada jarak-jarak panjang di tengah tempat yang dilaluinya dan pada ciptaan-ciptaan yang beragam, ia tak meninggalkan jejak sedikit pun, tak tampak bekasnya. Sekiranya ia melalui penyebaran, niscaya jejak dan bekasnya akan tampak. Bahkan ia hadir sendiri di samping masing-masing tanpa terbagi dan tersebar. Urusan menyeluruh itu tidak berlawanan dengan keesaan dan kepribadian-Nya. Bahkan dapat dikatakan: kilau kehendak, hukum perintah, dan simpul kehidupan itu hadir di samping masing-masing, sekaligus tak berada di tempat mana pun. Seakan-akan pada pohon megah ini, sebanyak bilangan buah dan biji, hukum perintah itu memiliki mata dan telinganya. Bahkan setiap bagian pohon laksana pusat indra dari hukum perintah itu; sehingga perantara-perantara yang panjang bukanlah tabir yang membentuk penghalang, melainkan laksana kawat telepon, sarana yang memudahkan dan mendekatkan. Yang terjauh laksana yang terdekat.

Selama, dengan mata kepala, satu kilau parsial dari sebuah sifat seperti kehendak Dzat Yang Ahad lagi Shamad menjadi — dengan mata kepala — perantara tanpa alat bagi jutaan urusan di jutaan tempat; maka sudah pasti wajib diyakini hingga derajat penyaksian bahwa Dzat Dzul-Jalâl, dengan manifestasi kudrat dan kehendak-Nya, dapat berkuasa atas pohon penciptaan beserta seluruh bagian dan zarahnya.

Sebagaimana dibuktikan dan dijelaskan di Kelimat Keenam Belas, kami berkata: Selama makhluk yang lemah lagi tunduk seperti matahari, ciptaan setengah-bercahaya yang terikat materi seperti ruhani, serta simpul kehidupan yang laksana cahaya dan ruh maknawi pohon cinar ini — hukum-hukum perintah dan kilau-kilau kehendak yang menjadi pusat kuasanya — dengan rahasia kebercahayaan, meski berada di satu tempat dan meski satu individu khusus, dengan mata kepala dapat berada di banyak tempat dan dalam banyak urusan; dan meski satu individu yang terikat materi, mereka mengambil hukum menyeluruh yang mutlak; dan dalam sekejap, dengan satu ikhtiar parsial, dengan mata kepala mereka menampakkan banyak urusan yang beragam — engkau pun melihatnya dan tak dapat mengingkarinya.

Gerangan, sebuah Dzat Yang Mahasuci — yang tersucikan dan tertinggikan dari materi, terbebas dan tersucikan dari batasan ikatan dan kegelapan kepekatan; yang seluruh cahaya ini dan segala yang bercahaya hanyalah bayangan pekat dari cahaya-cahaya suci asma-Nya; yang seluruh wujud, segala kehidupan, alam ruh, alam barzakh, dan alam misal hanyalah cermin setengah-bening bagi keindahan-Nya; yang sifat-Nya meliputi dan keadaan-Nya menyeluruh — dari perhatian keesaan-Nya yang tampak dalam manifestasi sifat dan kilau perbuatan-Nya melalui kehendak menyeluruh, kudrat mutlak, dan ilmu yang meliputi, apakah gerangan sesuatu dapat bersembunyi? Urusan mana yang berat bagi-Nya? Tempat mana yang tersembunyi dari-Nya? Individu mana yang jauh dari-Nya? Pribadi mana yang dapat mendekat kepada-Nya tanpa memperoleh keluasan? Mungkinkah sesuatu tersembunyi dari-Nya? Mungkinkah satu urusan menghalangi urusan lain? Mungkinkah suatu tempat kosong dari kehadiran-Nya? Sebagaimana ucapan Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu: bukankah bagi setiap wujud ada penglihatan maknawi yang memandang dan pendengaran maknawi yang mendengar? Bukankah rangkaian segala sesuatu menjadi laksana kawat dan urat bagi berlakunya perintah dan hukum-Nya dengan cepat? Bukankah penghalang dan rintangan justru menjadi sarana dan perantara bagi kuasa-Nya? Bukankah sebab-sebab dan perantara hanyalah tabir lahiriah semata? Bukankah meski tak berada di tempat mana pun, Ia hadir di setiap tempat? Mungkinkah Ia membutuhkan ruang dan tempat? Mungkinkah tabir jauh dan kecil serta lapisan-lapisan wujud dapat menghalangi kedekatan, kuasa, dan penyaksian-Nya? Dan mungkinkah perkara-perkara khusus yang menjadi keharusan materi dan kemungkinan — seperti perubahan, pergantian, kebutuhan ruang, dan keterbagian, yang merupakan ciri khas benda material, mungkin, pekat, banyak, terikat, lagi terbatas — melekat pada Dzat Yang Mahasuci yang tersucikan dari materi, Wâjib al-Wujûd, Nûr al-Anwâr, Wâhid Ahad, tersucikan dari ikatan, terbebas dari batas, mahasuci dari cacat, lagi tertinggikan dari kekurangan? Mungkinkah kelemahan pantas bagi-Nya? Mungkinkah cacat mendekati ujung kemuliaan-Nya?

PENUTUP MAKSUD KEDUA

Suatu ketika, tatkala aku sedang bertafakur tentang ahadiyah, aku memandang buah-buah pohon cinar di samping kamarku: sebuah rangkaian tafakur berbahasa Arab hadir ke dalam kalbu. Sebagaimana ia hadir, kutuliskan dalam bahasa Arab, lalu kusampaikan maknanya secara ringkas. Inilah:

نَعَمْ فَاْلاَثْمَارُ وَالْبُذُورُ مُعْجِزَاتُ الْحِكْمَةِ خَوَارِقُ الصَّنْعَةِ هَدَايَاءُ الرَّحْمَةِ بَرَاه۪ينُ الْوَحْدَةِ بَشَائِرُ لُطْفِهِ فِى دَارِ اْلاٰخِرَةِ شَوَاهِدُ صَادِقَةٌ بِاَنَّ خَلاَّقَهَا لِكُلِّ شَيْءٍ قَد۪يرٌ بِكُلِّ شَيْءٍ عَل۪يمٌ كُلُّ اْلاَثْمَارِ وَالْبُذُورِ مَرَايَاءُ الْوَحْدَةِ فِى اَطْرَافِ الْكَثْرَةِ اِشَارَاتُ الْقَدَرِ رُمُوزَاتُ الْقُدْرَةِ بِاَنَّ تَاكَ الْكَثْرَةَ مِنْ مَنْبَعِ الْوَحْدَةِ تَصْدُرُ شَاهِدَةً لِوَحْدَةِ الْفَاطِرِ فِى الصُّنْعِ وَالتَّصْو۪يرِ ثُمَّ اِلَى الْوَحْدَةِ تَنْتَه۪ى ذَاكِرَةً لِحِكْمَةِ الْقَادِرِ فِى الْخَلْقِ وَالتَّدْب۪يرِ وَكَذَاهُنَّ تَلْو۪يحَاتُ الْحِكْمَةِ بِاَنَّ صَانِعَ الْكُلِّ بِكُلِّيَّةِ النَّظَرِ اِلَى الْجُزْئِىِّ يَنْظُرُ ثُمَّ اِلٰى جُزْئِهِ اِذْ اِنْ كَانَ ثَمَرًا فَهُوَ الْمَقْصُودُ اْلاَظْهَرُ مِنْ خَلْقِ هٰذَا الشَّجَرِ فَالْبَشَرُ ثَمَرٌ لِهٰذِهِ الْكَائِنَاتِ فَهُوَ الْمَطْلُوبُ اْلاَظْهَرُ لِخَالِقِ الْمَوْجُودَاتِ وَالْقَلْبُ كَالنَّوَاةِ فَهُوَ الْمِرْاٰةُ اْلاَنْوَرُ لِصَانِعِ الْكَائِنَاتِ مِنْ هٰذِهِ الْحِكْمَةِ صَارَ اْلاِنْسَانُ اْلاَصْغَرُ ف۪ى هٰذِهِ الْمَخْلُوقَاتِ هُوَ الْمَدَارُ اْلاَظْهَرُ لِلنَّشْرِ وَالْمَحْشَرِ فِى هٰذِهِ الْمَوْجُودَاتِ وَالتَّخْر۪يبِ وَالتَّبْد۪يلِ لِهٰذِهِ الْكَائِنَاتِ

Awal dari petikan Arab ini adalah: فَسُبْحَانَ مَنْ جَعَلَ حَد۪يقَةَ اَرْضِهِ مَشْهَرَ صَنْعَتِهِ مَحْشَرَ حِكْمَتِهِ مَظْهَرَ قُدْرَتِهِ مَزْهَرَ رَحْمَتِهِ مَزْرَعَ جَنَّتِهِ مَمَرَّ الْمَخْلُوقَاتِ مَس۪يلَ الْمَوْجُودَاتِ مَك۪يلَ الْمَصْنُوعَاتِ فَمُزَيَّنُ الْحَيْوَانَاتِ مُنَقَّشُ الطُّيُورَاتِ مُثَمَّرُ الشَّجَرَاتِ مُزَهَّرُ النَّبَاتَاتِ مُعْجِزَاتُ عِلْمِهِ خَوَارِقُ صُنْعِهِ هَدَايَاءُ جُودِهِ بَشَائِرُ لُطْفِهِ تَبَسُّمُ اْلاَزْهَارِ مِنْ زِينَةِ اْلاَثْمَارِ تَسَجُّعُ اْلاَطْيَارِ فِى نَسْمَةِ اْلاَسْحَارِ تَهَزُّجُ اْلاَمْطَارِ عَلٰى خُدُودِ اْلاَزْهَارِ تَرَحُّمُ الْوَالِدَاتِ عَلَى اْلاَطْفَالِ الصِّغَارِ تَعَرُّفُ وَدُودٍ تَوَدُّدُ رَحْمٰنٍ تَرَحُّمُ حَنَّانٍ تَحَنُّنُ مَنَّانٍ لِلْجِنِّ وَ اْلاِنْسَانِ وَ الرُّوحِ وَ الْحَيْوَانِ وَ الْمَلَكِ وَ الْجَانِّ

Adapun makna ringkas dari tafakur Arab ini ialah:

Seluruh buah dan biji-biji kecil di dalamnya adalah mukjizat hikmah rabbâni, keajaiban seni Ilahi, hadiah rahmat Ilahi, bukti material keesaan Ilahi, dan kabar gembira karunia Ilahi di akhirat; serta saksi jujur atas keluasan kudrat dan cakupan ilmu-Nya. Demikian pula, ia adalah cermin keesaan di segala penjuru alam kemajemukan dan di sekeliling sejenis alam yang bercabang laksana pohon ini. Ia mengalihkan pandangan dari kemajemukan kepada kesatuan. Dengan bahasa keadaan, masing-masing berkata: "Jangan tercerai-berai dan tenggelam di tengah pohon raksasa bercabang ini; seluruh pohon itu ada pada kami. Kemajemukannya tercakup dalam kesatuan kami." Bahkan setiap biji — yang laksana kalbu setiap buah — sebagaimana ia adalah cermin material keesaan, dengan zikir kalbu yang tersembunyi ia berzikir dan membaca seluruh asma yang dibaca pohon raksasa dengan zikir lantang. Dan buah-buah serta biji-biji itu, sebagaimana menjadi cermin keesaan, adalah isyarat takdir yang tampak dan simbol kudrat yang berwujud; takdir berisyarat dengannya, dan kudrat dengan kata-kata itu secara simbolis berkata: Sebagaimana dahan dan cabang pohon ini yang banyak berasal dari satu benih, dan menunjukkan keesaan senimannya dalam penciptaan dan pembentukan; kemudian pohon ini, setelah bercabang dan menyebar, menghimpun seluruh hakikatnya dalam satu buah, dan memasukkan seluruh maknanya ke dalam satu biji, lalu dengannya menunjukkan hikmah Sang Khâliq Dzul-Jalâl-nya dalam penciptaan dan pengaturan.

Demikian pula: pohon alam raya ini memperoleh wujud dan pemeliharaan dari satu sumber kesatuan. Dan manusia — buah alam raya itu — sebagaimana ia menunjukkan kesatuan di tengah kemajemukan wujud, kalbunya pun dengan mata iman melihat rahasia kesatuan di tengah kemajemukan.

Dan buah-buah serta biji-biji itu adalah isyarat hikmah rabbâni. Hikmah dengannya berkata kepada ahli kesadaran, katanya: "Sebagaimana pandangan menyeluruh dan pengaturan menyeluruh yang menghadap pohon ini, dengan segala kemenyeluruhannya, memandang satu buah. Sebab buah itu adalah miniatur pohon itu, dan tujuan dari pohon itu adalah ia. Dan pandangan menyeluruh serta pengaturan umum itu memandang pula setiap biji di dalam sebuah buah. Sebab biji mengandung makna dan indeks seluruh pohon. Berarti, Dzat yang mengatur pohon itu — dengan seluruh asma-Nya yang berkaitan dengan pengaturan itu — menghadap setiap buah yang menjadi tujuan wujud pohon dan sasaran penciptaannya. Dan pohon raksasa ini, demi buah-buah kecil itu, kadang dipangkas, dipotong, dan sebagian sisinya dirusak untuk pembaruan. Ia dicangkok agar memberikan buah yang lebih indah lagi kekal.

Demikian pula: manusia — buah pohon alam raya — dari wujud dan penciptaan alam raya, tujuannya adalah ia, dan tujuan penciptaan segenap wujud pun adalah ia. Dan kalbu manusia — biji buah itu — adalah cermin Sang Pembuat Semesta yang paling bercahaya dan paling menyeluruh. Maka dari hikmah inilah, manusia yang kecil ini menjadi sebab bagi perubahan agung seperti penyebaran dan kebangkitan (hasyr). Ia menjadi sebab kehancuran dan pergantian alam raya. Demi pengadilannya, pintu dunia ditutup dan pintu akhirat dibuka.

Selama pembahasan kebangkitan telah tiba, tibalah kesesuaian untuk menerangkan sebuah nuktah hakikat yang menunjukkan kefasihan penuturan dan kekuatan ungkapan Al-Qur'an yang mukjizat penuturannya dalam membuktikan kebangkitan. Demikian:

Hasil tafakur ini menunjukkan bahwa demi pengadilan manusia dan perolehan kebahagiaan abadi, jika diperlukan, seluruh alam raya akan dirusak; dan tampaklah — bahkan ada — sebuah kudrat yang mampu merusak dan menggantinya. Namun kebangkitan memiliki tingkatan. Sebagian wajib diimani, dan pengetahuannya diperlukan. Sebagian lain tampak sesuai derajat kemajuan ruhani dan pemikiran, dan ilmu serta pengetahuannya diperlukan. Al-Qur'an Yang Mahabijaksana, demi membuktikan tingkat yang paling sederhana dan mudah secara pasti lagi kuat, menunjukkan sebuah kudrat yang mampu membuka lingkaran kebangkitan yang paling luas dan paling besar.

Adapun tingkat kebangkitan yang wajib diimani oleh semua ialah: setelah manusia mati, ruhnya pergi ke kedudukan lain. Jasadnya membusuk. Namun sebuah bagian kecil dari jasad manusia — yang disebut "'ajbudz-dzanab", yang laksana benih atau bibit — tetap kekal; lalu Allah menciptakan jasad manusia di atasnya pada kebangkitan, dan mengirimkan ruhnya kepadanya.

Tingkat ini demikian mudah, sehingga di setiap musim semi terlihat jutaan misalnya. Kadang, demi membuktikan tingkat ini, ayat-ayat Al-Qur'an menunjukkan sebuah lingkaran yang menampakkan pengaturan sebuah kudrat yang menghimpun dan menyebarkan seluruh zarah. Kadang pula menampakkan jejak sebuah kudrat dan hikmah yang mengirim seluruh makhluk kepada kefanaan lalu mendatangkannya kembali. Kadang menampakkan pengaturan dan jejak sebuah kudrat dan hikmah yang mampu mencerai-beraikan bintang dan membelah langit. Kadang menampakkan pengaturan dan manifestasi sebuah kudrat dan hikmah yang mematikan seluruh makhluk hidup lalu menghidupkannya kembali secara serentak dengan satu pekik. Kadang menampakkan manifestasi sebuah kudrat dan hikmah yang menghimpun dan menyebarkan setiap makhluk hidup di muka bumi secara terpisah-pisah. Kadang menampakkan jejak sebuah kudrat dan hikmah yang akan mencerai-beraikan bola bumi sepenuhnya, menerbangkan gunung-gunung, lalu meratakannya dan mengubahnya ke rupa yang lebih indah. Berarti, selain kebangkitan yang wajib diimani dan diketahui oleh setiap orang, banyak tingkat kebangkitan lain pun dapat Ia lakukan dengan kudrat dan hikmah itu. Jika hikmah rabbâni menuntutnya, sudah pasti Ia akan melakukan pula semua itu bersama kebangkitan manusia, atau melakukan sebagian yang penting.

SEBUAH PERTANYAAN

Kalian berkata: "Engkau banyak menggunakan qiyas perumpamaan di dalam Kumpulan Kelimat (Sözler). Padahal menurut Ilmu Mantik, qiyas perumpamaan tidak menghasilkan keyakinan. Dalam persoalan yakini diperlukan bukti mantiki. Qiyas perumpamaan digunakan oleh ulama Ushul Fikih dalam persoalan yang cukup dengan dugaan kuat. Lagi pula engkau menyebutkan perumpamaan dalam bentuk sebagian hikayat. Hikayat itu khayali, tidak hakiki, dan menyalahi kenyataan?"

JAWABAN

Menurut Ilmu Mantik memang dikatakan "qiyas perumpamaan tidak menghasilkan keyakinan pasti." Namun ada satu macam qiyas perumpamaan yang jauh lebih kuat daripada bukti yakini mantik, dan lebih yakini daripada bentuk pertama darb pertama mantik. Macam itu ialah: melalui sebuah perumpamaan parsial, ditunjukkan ujung sebuah hakikat menyeluruh, lalu hukum dibangun di atas hakikat itu. Hukum hakikat itu ditunjukkan pada suatu materi khusus, agar hakikat agung itu diketahui, dan materi-materi parsial dikembalikan kepadanya. Misalnya: dengan perumpamaan "matahari, melalui kebercahayaan, meski satu Dzat, hadir di samping setiap benda berkilau," ditunjukkan sebuah hukum hakikat bahwa bagi cahaya dan yang bercahaya tiada batasan. Jauh dan dekat menjadi sama. Sedikit dan banyak menjadi setara. Ruang tak dapat menggenggamnya.

Dan misalnya: "terbentuk dan terlukisnya buah dan daun pohon dalam sekejap, dengan satu cara, dengan mudah lagi sempurna, di satu pusat, dengan sebuah hukum perintah" adalah sebuah perumpamaan yang menunjukkan ujung sebuah hakikat agung dan hukum menyeluruh. Ia membuktikan secara sangat pasti hakikat itu dan hukumnya, bahwa alam raya yang agung pun, laksana pohon ini, adalah tempat manifestasi hukum hakikat dan rahasia ahadiyah itu, medan peredarannya.

Maka seluruh qiyas perumpamaan di dalam Kumpulan Kalimat adalah jenis ini, yang lebih kuat dan lebih yakini daripada bukti pasti mantiki.

JAWABAN BAGI PERTANYAAN KEDUA

Telah maklum bahwa dalam Ilmu Balaghah, jika makna hakiki suatu lafal atau ucapan hanya menjadi alat pemikiran bagi makna lain yang dimaksud, ia disebut "lafal kinayah". Dan makna asal sebuah ucapan yang disebut "kinayah" bukanlah tempat kebenaran dan kedustaan. Melainkan makna kinayahnyalah yang menjadi tempat kebenaran dan kedustaan. Jika makna kinayah itu benar, maka ucapan itu benar. Meski makna asalnya dusta, itu tak merusak kebenarannya. Jika makna kinayahnya tidak benar, meski makna asalnya benar, maka ucapan itu dusta. Misalnya, di antara contoh kinayah: dikatakan "Fulân itu panjang sarung pedangnya." Ucapan ini adalah kinayah bagi tingginya perawakan orang itu. Jika orang itu tinggi, meski ia tak memiliki pedang, sarung, dan tali sarung, ucapan ini tetap benar. Jika orang itu tak tinggi, meski ia memiliki pedang, sarung, dan tali yang panjang, ucapan ini tetap dusta. Sebab makna asalnya bukanlah yang dimaksud.

Maka, sebagaimana hikayat Kelimat Kesepuluh dan Kelimat Kedua Puluh Dua, hikayat-hikayat Kalimat lainnya termasuk bagian kinayah; hakikat-hakikat di akhir hikayat yang teramat benar, jujur, lagi sesuai kenyataan itu adalah makna kinayah dari hikayat-hikayat tersebut. Makna asalnya adalah sebuah perumpamaan teropong. Bagaimanapun ia, tiada merugikan kebenaran dan kesahihannya. Dan hikayat-hikayat itu adalah perumpamaan. Hanya demi memahamkan kepada umum, bahasa keadaan ditampilkan dalam rupa bahasa lisan, dan pribadi maknawi dalam bentuk pribadi material.

MAKSUD KETIGA

Wakil seluruh ahli kesesatan, setelah menerima jawaban yang pasti, meyakinkan, lagi memaksa atas Pertanyaan Keduanya, {(Catatan kaki): Yang dimaksud ialah pertanyaan di awal Maksud Kedua. Bukan pertanyaan kecil di akhir penutup ini.} mengajukan pertanyaan ketiga, katanya: Di dalam Al-Qur'an, kata-kata seperti اَحْسَنُ الْخَالِق۪ينَ اَرْحَمُ الرَّاحِم۪ينَ memberi kesan adanya khâliq-khâliq dan râhim-râhim lain. Kalian juga berkata: "Khâliq Alam memiliki kesempurnaan yang tak terhingga. Ia menghimpun tingkat tertinggi dari seluruh macam kesempurnaan." Padahal kesempurnaan segala sesuatu diketahui melalui lawannya; jika tiada derita, kelezatan bukanlah kesempurnaan; jika tiada gelap, cahaya tak terwujud; jika tiada perpisahan, pertemuan tak memberi kelezatan, dan seterusnya?

Jawaban