ISYARAT KETIGA
Kelimat · hlm. 585
Perbandingan dalam ungkapan-ungkapan seperti اَحْسَنُ الْخَالِق۪ينَ اَللّٰهُ اَكْبَرُ خَيْرُ الْفَاصِل۪ينَ خَيْرُ الْمُحْسِن۪ينَ bukanlah perbandingan dan pengunggulan sifat serta perbuatan Allah — yang nyata dalam kenyataan — atas pemilik contoh-contoh sifat dan perbuatan itu. Sebab seluruh kesempurnaan pada jin, manusia, dan malaikat di segenap alam raya, dibanding kesempurnaan-Nya, adalah bayangan yang lemah; bagaimana mungkin masuk perbandingan? Melainkan perbandingan itu menurut pandangan manusia, khususnya ahli kelalaian. Misalnya: sebagaimana seorang prajurit menunjukkan ketaatan dan penghormatan sempurna kepada kopralnya, memandang segala kebaikan datang darinya, dan jarang memikirkan raja; kalaupun ia memikirkannya, ia tetap menyerahkan syukurnya kepada kopral. Maka kepada prajurit semacam ini dikatakan: "Hai, raja itu lebih besar daripada kopralmu. Bersyukurlah hanya kepadanya." Nah, ucapan ini bukanlah perbandingan dan pengunggulan antara kepemimpinan hakiki raja yang agung dengan kepemimpinan parsial lagi lahiriah sang kopral — sebab perbandingan dan pengunggulan itu tiada bermakna. Melainkan ia menurut pandangan perhatian dan keterikatan prajurit, yang mengutamakan kopralnya, menyerahkan syukurnya kepadanya, dan hanya mencintainya.
Demikianlah, sebab-sebab lahiriah yang disangka sebagai khâliq dan pemberi nikmat menjadi tabir bagi Sang Pemberi Nikmat Hakiki dalam pandangan ahli kelalaian. Ahli kelalaian bergantung padanya, menganggap nikmat dan karunia berasal darinya, dan menyerahkan pujian kepadanya. Al-Qur'an berkata: "Allah lebih besar, Khâliq yang lebih indah, Muhsin yang lebih baik. Pandanglah Dia, bersyukurlah kepada-Nya."