Mukadimah
Kata-Kata Kecil · hlm. 40
Yang menjadikan hukum-hukum akidah dan iman kuat, kokoh, lalu berubah menjadi malakah (watak yang mendarah daging) hanyalah ibadah. Ya, kalau hukum-hukum iman yang bersifat nurani dan akli tidak dididik dan dikuatkan dengan ibadah — yang tidak lain adalah mengerjakan perintah-perintah Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dan menjauhi larangan-larangan-Nya — maka jejak dan pengaruhnya akan tetap lemah. Keadaan dunia Islam saat ini menjadi saksi atas hal ini. Dan lagi, sebagaimana ibadah menjadi sarana bagi kebahagiaan dunia dan akhirat,ia juga menjadi sebab bagi tertatanya ma'asy dan ma'ad — yakni urusan dunia dan akhirat — menjadi perantara bagi kesempurnaan pribadi dan jenis manusia, serta menjadi sebuah hubungan yang amat tinggi dan pertalian yang mulia antara Sang Khalik dan hamba.
Sisi-sisi yang menjelaskan bahwa ibadah menjadi sarana bagi kebahagiaan dunia:
Pertama: Manusia diciptakan dengan sebuah tabiat (mizac) yang menakjubkan lagi halus, terbedakan dan terkecualikan dari semua hewan. Karena tabiat itu, muncullah aneka ragam kecenderungan dan keinginan dalam diri manusia. Misalnya: manusia menginginkan hal-hal yang paling terpilih, condong kepada hal-hal yang paling indah, menginginkan hal-hal yang berhias, dan ingin hidup dengan sebuah penghidupan serta kehormatan yang layak bagi kemanusiaan. Atas tuntutan kecenderungan-kecenderungan ini, dalam menyiapkan makanan, pakaian, dan kebutuhan-kebutuhan lainnya dengan cara yang indah sesuai keinginannya, ia membutuhkan banyak keterampilan. Karena ia tidak menguasai keterampilan-keterampilan itu, ia terpaksa bekerja sama dengan sesama jenisnya — supaya masing-masing membantu kawannya dengan cara menukar hasil usahanya, dan dengan cara ini mereka bisa memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka.
Tapi karena daya syahwat, daya amarah, dan daya akal dalam diri manusia tidak dibatasi oleh Sang Pencipta — dan karena daya-daya ini dibiarkan bebas untuk menjamin kemajuan manusia lewat kehendak bebasnya yang amat kecil (cüz'-i ihtiyarî) — maka terjadilah kezaliman dan pelanggaran dalam pergaulan. Untuk mencegah pelanggaran-pelanggaran ini, masyarakat manusia membutuhkan keadilan dalam menukar hasil-hasil kerja mereka. Akan tetapi, karena akal setiap individu tak berdaya memahami keadilan itu, dibutuhkanlah sebuah akal yang menyeluruh, agar para individu mengambil manfaat dari akal menyeluruh itu. Akal menyeluruh semacam itu hanya bisa berupa sebuah undang-undang. Undang-undang semacam itu hanyalah syariat.
Kemudian, dibutuhkan sebuah rujukan dan seorang pemilik yang akan menjamin pengaruh, pelaksanaan, dan penerapan syariat itu. Rujukan dan pemilik itu hanyalah seorang nabi.Sosok yang menjadi nabi itu tidak hanya membutuhkan sebuah ketinggian serta keistimewaan — lahir dan batin — untuk melanggengkan kekuasaannya atas manusia secara lahir dan batin, tetapi juga membutuhkan sebuah bukti untuk memperlihatkan derajat hubungan dan pertaliannya dengan Sang Khalik. . Bukti semacam itu hanyalah mukjizat.
Kemudian, untuk menegakkan dan menjamin ketaatan serta kepatuhan pada perintah dan larangan Cenab-ı Hak (Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى Yang Mahatinggi), dibutuhkan penetapan keagungan Sang Pencipta di dalam benak. Penetapan ini hanya bisa terjadi dengan akidah, yakni dengan tampaknya hukum-hukum iman. Dan penguatan serta penyingkapan hukum-hukum iman hanya bisa terjadi dengan ibadah yang diperbarui lewat pengulangan.
Kedua: Ibadah adalah untuk memalingkan pikiran kepada Sâni'-i Hakîm (Sang Pencipta Yang Mahabijaksana). Menghadapnya seorang hamba kepada Sâni'-i Hakîm membuahkan ketaatan dan kepatuhannya. Adapun ketaatan dan kepatuhan memasukkan hamba ke dalam sebuah keteraturan yang paling sempurna. Dengan masuknya hamba ke dalam keteraturan dan dengan ia mengikuti aturan, terwujudlah rahasia hikmah. Adapun hikmah tampak menonjol lewat ukiran-ukiran seni yang berkilau di lembar-lembar alam semesta.
Ketiga: Manusia, laksana sebuah sentral, adalah sebuah pusat bagi semua aturan penciptaan, hukum-hukum fitrah, dan pancaran hukum-hukum Ilahi di alam semesta. Oleh karena itu, manusia perlu menautkan dan mengaitkan diri pada hukum-hukum itu, dan berpegang teguh pada ujung-ujung aturan itu, supaya ia menjamin aliran yang umum. Dan supaya ia — dengan menyalahi gerak roda-roda yang berputar di tingkatan-tingkatan alam — tidak tergilas di bawah gerigi roda-roda itu. Ini pun hanya bisa terjadi dengan ibadah, yang tidak lain adalah perintah dan larangan.
Keempat: Berkat menjalankan perintah dan menjauhi larangan, seorang individu memperoleh pertalian dan keterkaitan dengan banyak tingkatan di dalam masyarakat. Terutama dalam urusan hukum-hukum agama dan maslahat umum, seorang individu naik ke kedudukan sebuah jenis. Yakni, banyak sekali tugas — seperti hak-hak, kehormatan-kehormatan, bimbingan, pengajaran, dan perbaikan — dipikulkan kepada satu orang. Kalau bukan orang yang menjalankan perintah dan menjauhi larangan itu, tugas-tugas itu akan terinjak-injak sama sekali.
Kelima: Berkat Islam, dengan dorongan ibadah, manusia memperoleh sebuah hubungan yang kokoh dengan semua Muslim, serta meraih sebuah pertalian dan keterikatan yang kuat. Semua ini menjadi sebab bagi sebuah ukhuwah yang tak tergoyahkan dan sebuah cinta yang sejati. Memang, tangga pertama dan paling utama bagi kesempurnaan dan kemajuan masyarakat adalah ukhuwah dan cinta.
Penjelasan bahwa ibadah menjadi sebab bagi kesempurnaan pribadi:
Manusia, meskipun secara jasmani kecil, lemah, lagi tak berdaya, dan meskipun digolongkan sebagai hewan, ia mengusung sebuah ruh yang amat tinggi dan memiliki sebuah kapasitas bawaan (istidad) yang amat besar; ia memiliki kecenderungan-kecenderungan yang tak terbatas, angan-angan yang tak berhingga, pikiran-pikiran yang tak terhitung, dan daya-daya seperti syahwat serta amarah yang tak terbatas; dan ia memiliki sebuah penciptaan yang begitu menakjubkan, seakan-akan ia diciptakan sebagai indeks bagi semua jenis makhluk dan semua alam.
Nah, yang mengembangkan ruh yang tinggi dari manusia semacam ini adalah ibadah; yang menyingkapkan kapasitas-kapasitas bawaannya adalah ibadah; yang memilah dan menyucikan kecenderungan-kecenderungannya adalah ibadah; yang mewujudkan angan-angannya adalah ibadah; yang meluaskan pikiran-pikirannya dan memasukkannya ke dalam keteraturan adalah ibadah; yang menaruh daya syahwat serta amarah di bawah batas adalah ibadah; yang melenyapkan karat-karat tabiat yang mengotori anggota-anggota lahir serta batin dan perasaan-perasaannya adalah ibadah; yang menyampaikan manusia kepada kesempurnaan yang telah ditakdirkan baginya adalah ibadah;dan hubungan yang paling tinggi lagi paling halus antara hamba dan Ma'bud (Dzat yang disembah) hanyalah ibadah. . Ya, kesempurnaan manusia yang paling tinggi adalah hubungan dan pertalian ini.
Ihtar (Peringatan): Ruh ibadah adalah ikhlas. Adapun ikhlas adalah mengerjakan ibadah semata-mata karena ia diperintahkan. Kalau sebuah hikmah atau sebuah manfaat lain dijadikan alasan (illat) bagi ibadah, maka ibadah itu batil. Manfaat-manfaat dan hikmah-hikmah hanya bisa menjadi penguat pilihan (murajjih), tidak bisa menjadi alasan (illat).