Kalimat Ketujuh (Yedinci Söz)
Kata-Kata Kecil · hlm. 20
Yang membuka tılsım (rahasia tersembunyi) alam semesta ini yang amat rumit, اٰمَنْتُ بِاللّٰهِ وَ بِالْيَوْمِ الْاٰخِرِ dan yang membuka pintu kebahagiaan bagi ruh manusia — betapa keduanya adalah dua tılsım berharga yang menyingkap kesulitan; dan bahwa bersabar seraya bertawakal serta berlindung kepada Khalik, dan bersyukur seraya meminta dan berdoa kepada Ar-Rezzak — betapa keduanya adalah dua obat yang bermanfaat bagaikan penawar; dan bahwa mendengarkan Al-Qur'an, tunduk pada hukumnya, mengerjakan salat, meninggalkan dosa-dosa besar — betapa semuanya adalah sebuah tiket yang penting, berharga, lagi semarak; sebuah bekal akhirat dan sebuah cahaya kubur di dalam perjalanan menuju keabadian yang tak berkesudahan; kalau kamu ingin memahami semua ini, lihat dan dengarkanlah kisah perumpamaan kecil ini:
Suatu masa, seorang prajurit, di medan perang dan ujian, di dalam perputaran untung dan rugi, jatuh ke dalam sebuah keadaan yang amat mengerikan. Begini:
Ia terluka oleh dua luka yang dalam lagi mengerikan di sisi kanan dan kirinya; dan di belakangnya seekor singa raksasa berdiri seakan menunggu untuk menerkamnya. Dan di depan matanya sebuah tiang gantungan telah ditegakkan — ia menggantung dan membinasakan semua orang yang ia cintai, dan sedang menunggu dirinya pula. Bersama keadaan ini, ia pun punya sebuah perjalanan panjang: ia sedang diasingkan. Ketika si malang itu berpikir penuh putus asa di dalam kengerian ini; di sisi kanannya muncul sesosok penuh cahaya yang menghendaki kebaikan, bagaikan Nabi Khidir. Ia berkata kepadanya: "Janganlah berputus asa. Aku akan memberimu dua tılsım lalu mengajarkannya kepadamu. Kalau kamu memakainya dengan baik, singa itu menjadi seekor kuda jinak bagimu. Dan tiang gantungan itu berubah menjadi sebuah ayunan yang menyenangkan untuk kesenangan dan hiburanmu. Dan aku akan memberimu dua obat. Kalau kamu memakainya dengan baik; kedua lukamu yang bernanah itu berubah menjadi sebuah bunga lembut yang harum, yang disebut Bunga Muhammadi (Aleyhissalâtü Vesselâm). Dan aku akan memberimu sebuah tiket. Dengannya, sebuah perjalanan setahun kamu tempuh dalam sehari, seakan terbang. Nah, kalau kamu tidak percaya, cobalah sedikit. Supaya kamu memahami bahwa ini benar." Ia pun benar-benar mencobanya sedikit. Ia membenarkan bahwa itu benar. Ya, aku — yakni Said yang malang ini pun — membenarkannya. Sebab aku telah mencobanya sedikit, dan kudapati sangat benar.
Setelah itu, tiba-tiba ia melihat: dari sisi kirinya datang seorang lelaki penipu, pemabuk, lagi penyesat bagaikan setan, dengan membawa banyak perhiasan, rupa-rupa yang berhias, fantasi, dan minuman-minuman keras. Ia berdiri di hadapannya, lalu berkata kepadanya:
— Hai kawan! Ayo, ayo, mari kita minum-minum dan bersenang-senang bersama. Mari kita pandangi rupa gadis-gadis cantik itu. Mari kita dengarkan lagu-lagu merdu itu. Mari kita santap makanan-makanan lezat itu.
Pertanyaan: Ha, ha, apa itu yang kamu baca diam-diam di mulutmu?
Jawaban: Sebuah tılsım.
— Tinggalkan urusan yang tak jelas itu. Jangan sampai kita merusak kesenangan yang ada.
T— Ha, apa itu yang ada di tanganmu?
J— Sebuah obat.
— Buang itu. Kamu sehat. Apa yang kurang padamu? Ini saatnya bertepuk tangan.
T— Ha, apa itu kertas bertanda lima itu?
J— Sebuah tiket. Sebuah surat jatah makanan.
— Robek semua itu. Di musim semi yang indah ini, apa perlunya perjalanan bagi kita! katanya. Dengan setiap tipu daya ia berusaha meyakinkannya. Bahkan si malang itu sedikit condong kepadanya. Ya, manusia bisa tertipu. Aku pun pernah tertipu oleh penipu semacam itu.
Tiba-tiba dari sisi kanannya datang sebuah suara bagaikan guruh. Ia berkata: "Sekali-kali jangan tertipu. Dan katakanlah kepada si penipu itu: Kalau padamu ada sebuah jalan untuk membunuh singa di belakangku, menyingkirkan tiang gantungan di depanku, melenyapkan luka di kanan-kiriku, dan mencegah perjalanan di belakangku — kalau kamu menemukannya; ayo lakukan, perlihatkan, mari kita lihat. Baru setelah itu katakan: Ayo bersenang-senang. Kalau tidak, diamlah, hai tolol! — biarlah sosok samawi bagaikan Khidir ini mengatakan apa yang hendak ia katakan."
Nah, wahai diriku yang di masa mudanya tertawa, kini menangisi apa yang ia tertawakan! Ketahuilah: prajurit malang itu adalah kamu, dan adalah manusia. Singa itu adalah ajal. Tiang gantungan itu adalah kematian, kelenyapan, dan perpisahan — yang dalam pergantian siang dan malam, setiap sahabat mengucap selamat tinggal lalu menghilang. Kedua luka itu: yang satu, ketidakberdayaan manusia yang mengganggu lagi tak berhingga; yang lain, kefakiran insani yang pedih lagi tak berujung. Adapun pengasingan dan perjalanan itu adalah sebuah safar ujian yang panjang: ia melewati alam ruh, rahim ibu, masa kanak-kanak, masa tua, dunia, kubur, barzakh, kebangkitan, lalu Sirat. Dan kedua tılsım itu adalah iman kepada Cenab-ı Hak (Allah جل جلاله Yang Mahatinggi) dan iman kepada akhirat.
Ya, dengan tılsım yang kudus ini, kematian mengambil rupa seekor kuda jinak dan burak yang membawa manusia mukmin dari penjara dunia ke kebun surga, ke hadirat Ar-Rahman. Karena itulah manusia-manusia sempurna yang melihat hakikat kematian justru mencintai kematian. Mereka ingin mati sebelum ajal datang. Dan berlalunya waktu — yakni kelenyapan, perpisahan, kematian, wafat, dan tiang gantungan itu — dengan tılsım iman ini, mengambil rupa sebuah sarana untuk menonton dan menyaksikan, dengan kelezatan yang sempurna, ukiran-ukiran mukjizat As-Sâni'-i Zülcelal (Sang Pencipta, Pemilik Keagungan) yang senantiasa baru, warna-warni, lagi beraneka ragam, keajaiban-keajaiban kudrat-Nya, dan tajalli rahmat-Nya. Ya, berubah dan diperbaruinya cermin-cermin yang memperlihatkan warna-warna dalam cahaya matahari, dan bergantinya layar-layar sinema, justru membentuk pemandangan-pemandangan yang lebih menyenangkan lagi lebih indah. Adapun kedua obat itu: yang satu adalah sabar seraya tawakal — yakni bersandar pada kudrat Khalik, dan percaya pada hikmah-Nya.
Begitukah? Ya, apa yang bisa ditakuti oleh seorang yang bersandar — dengan surat ketidakberdayaannya — kepada As-Sultan-ı Cihan (Sang Penguasa Semesta) yang memiliki perintah كُنْ فَيَكُونُ ("Jadilah, maka jadilah ia")? Sebab, di hadapan musibah yang paling mengerikan, ia berkata
اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّٓا اِلَيْهِ رَاجِعُونَ
lalu dengan ketenteraman kalbu ia percaya kepada Rabb-i Rahîm-nya. Ya, arif billah (orang yang mengenal Allah جل جلاله) justru merasakan kelezatan dari ketidakberdayaannya dan dari rasa takutnya kepada Allah جل جلاله. Ya, di dalam rasa takut itu ada kelezatan. Kalau seorang anak berumur satu tahun punya akal, lalu ia ditanya: "Keadaan apa yang paling lezat dan paling manis bagimu?" — mungkin ia akan berkata: "Keadaan ketika aku menyadari ketidakberdayaan dan kelemahanku, lalu — karena takut pada tamparan lembut ibuku — aku kembali berlindung ke dada ibuku yang penuh kasih sayang." Padahal seluruh kasih sayang para ibu hanyalah secercah pantulan tajalli rahmat. Karena itulah manusia-manusia sempurna menemukan sebuah kelezatan di dalam ketidakberdayaan dan rasa takut kepada Allah جل جلاله, sampai-sampai mereka dengan keras berlepas diri dari daya dan kekuatan mereka sendiri, lalu berlindung kepada Allah جل جلاله dengan ketidakberdayaan. Mereka menjadikan ketidakberdayaan dan rasa takut itu sebagai pemberi syafaat bagi mereka.
Adapun obat yang satunya adalah meminta, berdoa, seraya bersyukur dan merasa cukup, serta percaya pada rahmat Ar-Rezzak-ı Rahîm. Begitukah? Ya, bagaimana kefakiran dan kebutuhan bisa terasa pedih lagi berat bagi tamu seorang Cevvâd-ı Kerim (Yang Mahapemurah lagi Mahamulia) yang menjadikan seluruh muka bumi sebuah hidangan nikmat, menjadikan musim semi seikat rangkaian bunga, meletakkannya di samping hidangan itu, lalu menaburkannya di atasnya? Bahkan kefakiran dan kebutuhan itu mengambil rupa sebuah selera yang menyenangkan. Seperti selera makan, ia justru berusaha menambah kefakirannya. Karena itulah manusia-manusia sempurna berbangga dengan kefakiran. Awas, jangan salah paham! Maksudnya adalah menyadari kefakiranmu di hadapan Allah جل جلاله lalu memohon. Bukan memperlihatkan kefakiranmu kepada manusia lalu mengambil sikap mengemis. Adapun tiket, surat bukti itu adalah — terutama salat — menunaikan kewajiban-kewajiban fardu dan meninggalkan dosa-dosa besar. Begitukah? Ya, dengan kesepakatan semua ahli serta penyaksi, dan semua ehl-i zevk (mereka yang telah mengecap hakikat) dan ehl-i keşf (mereka yang tersingkap mata batinnya); di jalan menuju keabadian yang panjang lagi gelap itu, bekal dan perbekalan, cahaya dan burak, hanya bisa diperoleh dengan menjalankan perintah-perintah Al-Qur'an dan menjauhi larangan-larangannya. Sedangkan sains dan filsafat, seni dan hikmah, di jalan itu tak berharga sepeser pun. Cahaya-cahaya mereka hanya sampai ke pintu kubur.
Nah, wahai diriku yang malas!
Mengerjakan salat lima waktu, meninggalkan tujuh dosa besar; betapa sedikit, nyaman, lagi ringannya itu. Kalau akalmu ada dan belum rusak, kamu akan memahami betapa penting lagi besarnya hasil, buah, dan manfaatnya. Dan kepada setan serta orang yang mendorongmu ke kefasikan dan foya-foya itu, kamu berkata: Kalau ada sebuah jalan untuk membunuh kematian, melenyapkan kelenyapan dari dunia, mengangkat ketidakberdayaan dan kefakiran dari manusia, lalu menutup pintu kubur, katakanlah — mari kita dengar. Kalau tidak, diamlah. Di dalam masjid besar alam semesta, Al-Qur'an sedang membacakan alam semesta! Mari kita dengarkan ia. Mari kita bercahaya dengan cahaya itu, mari kita beramal dengan hidayahnya, dan mari kita jadikan ia zikir lisan kita. Ya, perkataan itulah perkataan yang sebenarnya, dan hanya kepadanya layak disebut perkataan. Yang hak, yang datang dari Yang Hak, yang mengatakan yang hak, yang memperlihatkan hakikat, dan yang menyebarkan hikmah yang bercahaya — hanyalah ia.
اَللّٰهُمَّ نَوِّرْ قُلُوبَنَا بِنُورِ الْا۪يمَانِ وَ الْقُرْاٰنِ اَللّٰهُمَّ اَغْنِنَا بِالْاِفْتِقَارِ اِلَيْكَ وَ لَا تَفْقُرْنَا بِالْاِسْتِغْنَٓاءِ عَنْكَ تَبَرَّاْنَا اِلَيْكَ مِنْ حَوْلِنَا وَ قُوَّتِنَا وَ الْتَجَئْنَٓا اِلٰى حَوْلِكَ وَ قُوَّتِكَ فَاجْعَلْنَا مِنَ الْمُتَوَكِّل۪ينَ عَلَيْكَ وَ لَاتَكِلْنَٓا اِلٰٓى اَنْفُسِنَا وَاحْفَظْنَا بِحِفْظِكَ وَارْحَمْنَا وَ ارْحَمِ الْمُؤْمِن۪ينَ وَ الْمُؤْمِنَاتِ وَ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَ نَبِيِّكَ وَ صَفِيِّكَ وَ خَل۪يلِكَ وَ جَمَالِ مُلْكِكَ وَ مَل۪يكِ صُنْعِكَ وَ عَيْنِ عِنَايَتِكَ وَ شَمْسِ هِدَايَتِكَ وَ لِسَانِ حُجَّتِكَ وَ مِثَالِ رَحْمَتِكَ وَ نُورِ خَلْقِكَ وَ شَرَفِ مَوْجُودَاتِكَ وَ سِرَاجِ وَحْدَتِكَ ف۪ى كَثْرَةِ مَخْلُوقَاتِكَ وَ كَاشِفِ طِلْسِمِ كَٓائِنَاتِكَ وَ دَلَّالِ سَلْطَنَةِ رُبُوبِيَّتِكَ وَ مُبَلِّغِ مَرْضِيَّاتِكَ وَ مُعَرِّفِ كُنُوزِ اَسْمَٓائِكَ وَ مُعَلِّمِ عِبَادِكَ وَ تَرْجُمَانِ اٰيَاتِكَ وَمِرْاٰتِ جَمَالِ رُبُوبِيَّتِكَ وَ مَدَارِ شُهُودِكَ وَ اِشْهَادِكَ وَ حَب۪يبِكَ وَ رَسُولِكَ الَّذ۪ٓى اَرْسَلْتَهُ رَحْمَةً لِلْعَالَم۪ينَ وَ عَلٰٓى اٰلِه۪ وَ صَحْبِه۪ٓ اَجْمَع۪ينَ وَ عَلٰٓى اِخْوَانِه۪ مِنَ النَّبِيّ۪نَ وَ الْمُرْسَل۪ينَ وَ عَلٰى مَلٰٓئِكَتِكَ الْمُقَرَّب۪ينَ وَ عَلٰى عِبَادِكَ الصَّالِح۪ينَ اٰم۪ين