Poin Pertama
Kalimat Kesepuluh · hlm. 60
Bahwa akidah akhirat adalah pondasi paling dasar dari kehidupan sosial dan kehidupan pribadi manusia, serta menjadi dasar bagi kebahagiaan dan kesempurnaannya — akan kami isyaratkan hanya empat dari ratusan dalilnya, sebagai sebuah ukuran.
Pertama: Anak-anak, yang membentuk hampir separuh umat manusia, hanya dengan pikiran tentang Surga, bisa bertahan menghadapi kematian-kematian yang tampak mengerikan dan membuat menangis bagi mereka, bisa menemukan sebuah kekuatan batin di dalam tubuh mereka yang amat lemah dan halus, dan — di dalam tabiat jiwa mereka yang amat rapuh dan cepat menangis untuk segala hal — bisa menemukan sebuah harapan lewat Surga itu lalu hidup dengan gembira. Misalnya, dengan pikiran tentang Surga ia berkata: "Adik kecilku atau temanku sudah meninggal, ia menjadi seekor burung Surga. Ia terbang berkeliling di Surga, ia hidup lebih indah daripada kita." Kalau tidak begitu, kematian anak-anak seusianya dan orang-orang dewasa yang setiap saat terjadi di sekitarnya — yang terus menubruk pandangan cemas anak-anak malang nan lemah itu — akan memporak-porandakan daya tahan dan kekuatan batin mereka, lalu membuat bukan hanya mata mereka yang menangis, tapi juga seluruh perangkat halus batin mereka seperti ruh, kalbu, dan akal ikut menangis; sehingga mereka akan binasa, atau menjadi seekor hewan celaka yang gila.
Dalil kedua: Orang-orang tua, yang membentuk separuh umat manusia, hanya dengan kehidupan akhirat bisa tahan menghadapi kubur yang sudah dekat dengan mereka. Mereka bisa menemukan sebuah hiburan menghadapi padamnya hidup mereka — yang amat mereka cintai — dalam waktu dekat, dan menghadapi tertutupnya dunia indah mereka; dan di dalam jiwa serta tabiat mereka yang cepat tersentuh bagai anak kecil, hanya dengan harapan akan kehidupan kekal mereka bisa menghadapi keputusasaan yang pedih lagi mengerikan yang muncul dari kematian dan kelenyapan. Kalau tidak begitu, orang-orang terhormat yang layak dikasihi itu, dan para ayah serta ibu yang penuh kecemasan, yang amat membutuhkan ketenangan dan ketenteraman kalbu, akan merasakan sebuah jeritan ruh dan sebuah kegoncangan kalbu sedemikian rupa, sampai-sampai dunia ini akan menjadi sebuah penjara yang gelap bagi mereka, dan hidup pun akan menjadi sebuah azab yang muram.
Dalil ketiga: Para pemuda dan kaum muda, yang menjadi penopang paling kuat bagi kehidupan sosial manusia — yang menahan perasaan mereka yang sedang bergolak hebat serta nafsu dan hawa mereka yang berlebihan, agar tidak melakukan pelanggaran, kezaliman, dan perusakan, dan yang menjamin berjalan baiknya kehidupan sosial — hanyalah pikiran tentang Neraka. Kalau tidak, kalau tidak ada kecemasan akan Neraka, maka dengan kaidah "kekuasaan ada di tangan yang menang (El-hükmü lil-galib)", kaum muda yang mabuk itu, demi mengejar hawa nafsu mereka, akan mengubah dunia menjadi Neraka bagi orang-orang lemah dan tak berdaya yang malang, dan akan mengubah kemanusiaan yang luhur menjadi sebuah kehewanan yang amat hina.
Dalil keempat: Pusat yang paling menghimpun dalam kehidupan dunia umat manusia, pegas yang paling mendasar, dan — bagi kebahagiaan duniawi — sebuah Surga, sebuah tempat berlindung, sebuah benteng perlindungan, adalah kehidupan keluarga. Dan rumah setiap orang adalah sebuah dunia kecil baginya. Dan kehidupan serta kebahagiaan rumah dan keluarga itu hanya bisa terwujud dengan rasa hormat yang tulus, sungguh-sungguh, lagi penuh kesetiaan, serta dengan kasih sayang yang sejati, penuh kelembutan, lagi penuh pengorbanan. Dan rasa hormat sejati dan kasih sayang yang tulus ini hanya bisa terwujud dengan pikiran dan akidah bahwa akan ada persahabatan yang abadi, kebersamaan yang kekal, dan kesertaan yang langgeng — bahwa dalam sebuah masa yang tak terhingga dan kehidupan yang tak berbatas, akan ada hubungan satu sama lain layaknya seorang ayah, layaknya seorang anak, layaknya saudara, dan layaknya sahabat. Misalnya ia berkata: "Istriku ini adalah teman hidupku yang kekal, di sebuah alam yang abadi, di sebuah kehidupan yang abadi. Untuk sekarang, kalaupun ia sudah tua dan tak lagi cantik, itu tidak masalah. Sebab ia punya sebuah keindahan abadi yang akan datang. Dan demi persahabatan yang langgeng semacam itu, aku akan melakukan setiap pengorbanan dan kasih sayang." Dengan mengatakan itu, ia bisa memperlakukan istrinya yang sudah tua itu dengan cinta, kelembutan, dan kasih sayang, bagai seorang bidadari yang cantik. Kalau tidak begitu, persahabatan yang — setelah kebersamaan lahiriah selama satu-dua jam yang amat singkat — berakhir dengan perpisahan dan keterpisahan yang abadi; sudah pasti hanya bisa memberi sebuah kelembutan yang bersifat naluri jenis kelamin semata, seperti pada hewan, dan sebuah kasih sayang yang semu serta rasa hormat yang dibuat-buat — yang amat lahiriah, sementara, dan tanpa dasar. Dan seperti yang terjadi pada hewan-hewan; berbagai kepentingan lain dan perasaan-perasaan lain yang lebih kuat akan mengalahkan rasa hormat dan kasih sayang itu, lalu mengubah surga dunia itu menjadi neraka.
Nah, salah satu dari ratusan buah iman akan kebangkitan berkaitan dengan kehidupan sosial manusia. Dan kalau sisi-sisi serta manfaat lain dari satu buah ini — yang juga ratusan banyaknya — diukur dengan empat dalil yang telah disebut, maka akan dipahami bahwa: terwujud dan terjadinya hakikat kebangkitan itu sama pastinya dengan hakikat luhur kemanusiaan dan kebutuhan menyeluruhnya. Bahkan, kepastiannya lebih nyata daripada bukti dan kesaksian adanya kebutuhan di dalam perut manusia akan adanya makanan; ia memberitahukan keterwujudannya dengan lebih kuat lagi. Dan kalau buah-buah hakikat kebangkitan ini dicabut dari kemanusiaan; maka hal itu membuktikan bahwa hakikat kemanusiaan yang amat penting, luhur, lagi hidup itu akan jatuh menjadi sebuah bangkai yang busuk lagi sarang kuman. Semoga telinga para ahli sosiologi, para politikus, dan para ahli moral — yang amat berkepentingan dengan tata kelola, akhlak, dan kehidupan sosial manusia — berdenging mendengar ini! Silakan mereka datang: dengan apa mereka bisa mengisi kekosongan ini, dan dengan apa mereka bisa mengobati luka-luka yang dalam ini?