Persoalan ketiga
Kalimat Kesepuluh · hlm. 75
misal bagi pembangunan jasad-jasad secara serentak ialah: dibangunnya secara serentak dan sempurna, dalam beberapa hari di musim semi, seluruh daun segenap pepohonan — yang jumlahnya seribu derajat melebihi segenap umat manusia — persis seperti musim semi sebelumnya; diciptakannya dengan kecepatan laksana kilat seluruh bunga, buah, dan daun segenap pepohonan, seperti hasil musim semi yang lalu; terjaganya, mekarnya, dan hidupnya secara serentak dan bersama-sama benih-benih, biji-biji, dan akar-akar tanpa batas yang menjadi titik-titik awal musim semi itu; memperolehnya jenazah-jenazah seluruh pohon — yang berdiri laksana mayat-mayat dari tulang belaka — "ba'ts ba'dal-maut" (bangkit setelah mati) secara serentak dengan satu perintah, dan penyebaran mereka; dihidupkannya individu-individu tanpa batas dari suku-suku hewan kecil dengan cara yang amat penuh seni; dan khususnya kebangkitan suku-suku lalat — terlebih suku yang ada di depan mataku, yang senantiasa membersihkan wajah, mata, dan sayapnya sehingga mengingatkan kita kepada wudhu dan kebersihan, dan yang membelai wajah kita: individu-individunya yang disebarkan dalam satu tahun lebih banyak daripada segenap individu anak Adam sejak zaman Nabi Adam, padahal mereka dibangun, dihidupkan, dan dibangkitkan bersama suku-suku yang lain dalam beberapa hari pada setiap musim semi — tentu semuanya itu bukan satu misal bagi pembangunan jasad-jasad manusia pada kiamat, melainkan ribuan misal.
Ya, karena dunia adalah negeri hikmah dan akhirat negeri kudrat; maka di dunia — dengan tuntutan banyak nama seperti Hakîm, Murattib, Mudabbir, Murabbi — penciptaan benda-benda berlangsung sedikit berangsur-angsur dan dengan waktu: demikianlah tuntutan hikmah Rabbani. Namun di akhirat, demi penampakan kudrat dan rahmat lebih daripada hikmah, benda-benda dibangun secara serentak, tanpa memerlukan materi, tempo, waktu, dan penantian. Sebagai isyarat bahwa apa yang dikerjakan di sini dalam satu hari dan satu tahun akan dibangun di akhirat dalam satu kejap, satu kilasan, Al-Qur'an Mu'jizul-Bayân berfirman: وَمَٓا اَمْرُ السَّاعَةِ اِلاَّ كَلَمْحِ الْبَصَرِ اَوْ هُوَ اَقْرَبُ
Jika engkau ingin memahami datangnya kebangkitan secara pasti seperti datangnya musim semi yang akan datang; pandanglah dengan cermat Kalimat Kesepuluh dan Kalimat Kedua Puluh Sembilan yang membahas kebangkitan, dan lihatlah. Jika engkau tetap tidak percaya sebagaimana engkau percaya datangnya musim semi, datanglah, tusukkan jarimu ke mataku.