Risale-i NurKalimat Kesepuluh

Hakikat Kesepuluh:

Kalimat Kesepuluh · hlm. 46

Pintu hikmah, inayah, rahmat, dan keadilan. Ia adalah manifestasi nama "Hakîm", "Karîm", "'Âdil", dan "Rahîm".

Mungkinkah sama sekali: di lingkup kerajaan Sang Mâlikul-Mulk Dzul-Jalâl — yang di penginapan dunia yang tak kekal ini, di medan ujian yang tak berkesinambungan ini, dan di galeri pameran bumi yang tak bertahan ini memperlihatkan jejak-jejak sebuah hikmah yang sedemikian gemilang, sebuah inayah yang sedemikian nyata, sebuah keadilan yang sedemikian perkasa, dan sebuah rahmat yang sedemikian luas — di alam mulk dan malakût-Nya, tidak terdapat kediaman-kediaman yang kekal, para penghuni yang abadi, kedudukan-kedudukan yang baqa, dan makhluk-makhluk yang bermukim; lalu hakikat-hakikat hikmah, inayah, keadilan, dan rahmat yang tampak ini jatuh menjadi tiada?.. Mungkinkah pula: Sang Dzât Hakîm itu menjadikan manusia — di antara seluruh makhluk — lawan bicara yang menyeluruh bagi diri-Nya dan sebuah cermin yang menghimpun; mencicipkan kepadanya isi seluruh khazanah rahmat-Nya, menimbangkannya baginya, memperkenalkannya kepadanya; memberitahukan diri-Nya kepadanya dengan seluruh asma-Nya; mencintainya dan menjadikan diri-Nya dicintainya.. kemudian tidak mengirim manusia malang itu ke negeri-Nya yang abadi? Tidak mengundangnya ke tempat kebahagiaan yang kekal itu dan tidak membahagiakannya?

Mungkinkah pula masuk akal: Dia membebankan kepada setiap makhluk — bahkan yang sebesar biji — muatan tugas sebanyak sebatang pohon, menaikkan kepadanya hikmah sebanyak bunga-bunganya, menyematkan padanya maslahat sebanyak buah-buahnya; namun bagi seluruh tugas itu, hikmah itu, maslahat itu, Dia hanya memberikan satu tujuan yang menghadap dunia, sebesar sebutir biji! Menjadikan kekekalan duniawinya — yang tak lebih penting dari sebutir biji sawi — sebagai tujuan! Dan tidak menjadikan semua itu benih-benih bagi alam makna dan sebuah ladang bagi alam akhirat — agar semuanya memberikan tujuan-tujuan hakiki yang layak baginya. Dan membiarkan perayaan-perayaan sepenting ini tanpa tujuan, kosong, sia-sia. Tidak memalingkan wajah semuanya kepada alam makna dan alam akhirat — agar memperlihatkan tujuan asli dan buah-buah yang layak bagi mereka? Ya, mungkinkah sama sekali: dengan membuat segala sesuatu berlawanan dengan hakikat seperti itu, Dia menampilkan diri-Nya — hâsyâ tsumma hâsyâ — tersifati dengan lawan-lawan dari sifat-sifat hakiki-Nya sendiri, yaitu Hakîm, Karîm, 'Âdil, Rahîm; mendustakan hakikat seluruh alam yang menunjukkan hikmah dan kemurahan-Nya, keadilan dan rahmat-Nya; menolak kesaksian seluruh makhluk; membatalkan penunjukan seluruh ciptaan?

Mungkinkah pula akal menerima: Dia membebankan kepada kepala manusia dan indra-indra di dalamnya tugas-tugas sebanyak helai rambutnya, namun hanya memberinya upah duniawi seharga sehelai rambut; melakukan pekerjaan tanpa makna yang bertentangan dengan keadilan hakiki-Nya dan berlawanan dengan hikmah hakiki-Nya?

Mungkinkah pula: Dia membuktikan dan memperlihatkan bahwa diri-Nya adalah Sang Hakîm Mutlak — dengan menyematkan pada setiap makhluk hidup, bahkan pada setiap anggota tubuh seperti lidah, bahkan pada setiap ciptaan, hikmah dan maslahat sebanyak hasil dan buah yang disematkan-Nya pada sebatang pohon — kemudian tidak memberikan yang terbesar dari seluruh hikmah, yang terpenting dari seluruh maslahat, yang paling niscaya dari seluruh hasil; yang menjadikan hikmah sebagai hikmah, nikmat sebagai nikmat, rahmat sebagai rahmat; yang menjadi sumber dan tujuan seluruh hikmah, nikmat, rahmat, dan maslahat — yaitu kekekalan, perjumpaan (liqâ'), dan kebahagiaan abadi — lalu meninggalkannya dan menjatuhkan seluruh pekerjaan-Nya ke derajat kesia-siaan mutlak; dan menyerupakan diri-Nya dengan seseorang yang membangun sebuah istana — pada setiap batunya ribuan ukiran, pada setiap sudutnya ribuan perhiasan, pada setiap ruangnya ribuan perkakas dan keperluan rumah yang berharga — namun kemudian tidak membuatkan atapnya, sehingga segalanya membusuk dan rusak sia-sia? Hâsyâ wa kallâ! Dari Sang Khair Mutlak datang kebaikan, dari Sang Jamîl Mutlak datang keindahan, dari Sang Hakîm Mutlak tidak datang sesuatu yang sia-sia. Ya, siapa pun yang secara pikiran menaiki sejarah dan pergi ke arah masa lalu, ia akan melihat — seperti tempat persinggahan dunia, medan cobaan, dan tempat pameran benda-benda yang kita lihat pada masa kini — tempat-tempat persinggahan, medan-medan, tempat-tempat pameran, dan alam-alam yang telah wafat sebanyak bilangan tahun. Meski dari segi bentuk dan sifat berbeda-beda, dari segi keteraturan, keajaiban, dan penunjukan kepada kudrat dan hikmah Shâni'-nya, semuanya saling menyerupai. Ia pun akan melihat: di tempat-tempat persinggahan yang tak bertahan itu, di medan-medan yang tak berkesinambungan itu, di tempat-tempat pameran yang tak kekal itu — keteraturan-keteraturan dari sebuah hikmah yang sedemikian gemilang, isyarat-isyarat dari sebuah inayah yang sedemikian nyata, tanda-tanda dari sebuah keadilan yang sedemikian perkasa, dan buah-buah dari sebuah rahmat yang sedemikian luas. Dengan syarat tidak buta mata hati, ia akan mengetahui dengan yakin: tidak mungkin ada hikmah yang lebih sempurna daripada hikmah itu; tidak mungkin ada inayah yang lebih indah daripada inayah yang jejak-jejaknya tampak itu; tidak ada keadilan yang lebih agung daripada keadilan yang tanda-tandanya tampak itu; dan tidak terbayangkan rahmat yang lebih menyeluruh daripada rahmat yang buah-buahnya tampak itu.

Seandainya — sebagai pengandaian yang mustahil — di lingkup kerajaan Sang Sultan Sarmadi yang memutar segala urusan ini dan mengganti para tamu serta penginapan-penginapan ini, tidak terdapat tempat-tempat persinggahan yang kekal, tempat-tempat yang tinggi, kedudukan-kedudukan yang tetap, kediaman-kediaman yang abadi, penduduk yang bermukim, dan hamba-hamba-Nya yang bahagia; maka haruslah menafikan hakikat-hakikat hikmah, keadilan, inayah, dan rahmat — empat unsur maknawi yang kuat dan menyeluruh laksana cahaya, udara, air, dan tanah — dan haruslah mengingkari wujud mereka yang tampak sebagaimana unsur-unsur lahiriah itu. Sebab telah maklum bahwa dunia yang tak kekal ini beserta segala isinya tidak mampu menjadi tempat penampakan hakikat mereka yang sempurna. Jika di tempat lain pun tidak ada tempat yang akan menjadi penampakan sempurna bagi mereka; maka — dengan kegilaan setingkat mengingkari wujud matahari padahal melihat cahaya yang memenuhi siang — haruslah mengingkari hikmah yang ada pada segala sesuatu di depan mata kita ini, mengingkari inayah yang setiap waktu kita saksikan pada diri kita dan pada kebanyakan benda, mengingkari keadilan yang tanda-tandanya tampak amat kuat itu, {(Hasyiyah): Ya, keadilan itu dua bagian. Yang satu positif, yang lain negatif. Yang positif ialah memberikan kepada pemilik hak akan haknya. Bagian keadilan ini liputannya di dunia ini mencapai derajat keterang-benderangan. Sebab, sebagaimana dibuktikan dalam "Hakikat Ketiga": segala yang diminta segala sesuatu dari Sang Fâthir Dzul-Jalâl dengan lisan istidadnya, dengan lisan kebutuhan fitrinya, dan dengan lisan keterdesakannya, serta seluruh hak yang diperlukan bagi wujud dan hidupnya — Dia berikan, sebagaimana disaksikan, dengan timbangan-timbangan khusus dan ukuran-ukuran tertentu. Berarti bagian keadilan ini ada secara pasti, setingkat kepastian wujud dan kehidupan. Bagian kedua adalah yang negatif: mendidik orang-orang yang tidak berhak. Yakni Dia memberikan hak orang-orang zalim itu dengan siksaan dan hukuman. Bagian ini memang tidak sepenuhnya menampak di dunia ini. Namun terdapat isyarat dan tanda tak terhingga dalam bentuk yang memberikan rasa akan wujud hakikat itu. Di antaranya: tamparan pendidikan dan cambuk siksaan yang menimpa — dari kaum 'Âd dan Tsamûd hingga kaum-kaum membangkang zaman ini — menunjukkan dengan intuisi yang pasti bahwa sebuah keadilan yang amat tinggi tengah berkuasa.} dan mengingkari rahmat yang kita lihat di mana-mana itu; dan haruslah menerima bahwa pemilik pelaksanaan-pelaksanaan penuh hikmah, perbuatan-perbuatan penuh kemurahan, dan karunia-karunia penuh rahmat yang kita lihat di alam ini — hâsyâ tsumma hâsyâ — adalah seorang pemain yang safih, seorang zalim yang bengis; dan ini adalah berbaliknya hakikat yang mustahil tanpa batas. Bahkan kaum Sûfasthâ'iyyah yang pandir — yang mengingkari wujud segala sesuatu dan wujud diri mereka sendiri — pun tidak mudah mendekati bayangan hal ini.

Walhasil:

Karena sama sekali tidak ada kesebandingan antara keadaan-keadaan yang tampak ini — perhimpunan-perhimpunan kehidupan yang luas di dunia dan perpisahan-perpisahan kematian yang cepat, penghimpunan-penghimpunan yang megah dan pembubaran-pembubaran yang lekas, perayaan-perayaan yang agung dan tajalli-tajalli yang besar — dengan buah-buah juz'i yang kita ketahui dalam waktu singkat di dunia fana ini dan tujuan-tujuan sementara yang tak berarti; maka hal itu menyerupai menyematkan pada sebuah batu kecil hikmah dan tujuan sebanyak sebuah gunung besar, atau memberikan kepada sebuah gunung besar satu tujuan juz'i sementara laksana sebuah batu kecil — yang tidak dapat sesuai dengan akal dan hikmah mana pun.

Berarti ketiadaan kesebandingan pada derajat ini antara para makhluk dan urusan-urusan ini dengan tujuan-tujuan mereka yang menghadap dunia, bersaksi secara pasti bahwa: wajah para makhluk ini menghadap ke alam makna; mereka memberikan buah-buah yang sesuai di sana; mata mereka tertuju kepada asma yang kudus; tujuan-tujuan mereka memandang ke alam itu. Inti-intinya berada di bawah tanah dunia, sedangkan tunas-tunasnya mekar di alam mitsal. Manusia, sesuai kadar istidadnya, menanam dan ditanam di sini, lalu memanen hasilnya di akhirat. Ya, jika engkau memandang wajah benda-benda ini yang menghadap asma Ilahi dan alam akhirat, engkau akan melihat: setiap biji — mukjizat kudrat itu — memiliki tujuan sebanyak sebatang pohon. Setiap bunga — kata hikmah itu — {(Hasyiyah): Pertanyaan: Jika dikatakan: mengapa contoh-contoh paling banyak engkau ambil dari bunga, biji, dan buah? Jawaban: Sebab mereka adalah yang paling langka, paling menakjubkan, dan paling lembut-jelita dari mukjizat-mukjizat kudrat. Lagi pula, karena ahli tabiat, ahli kesesatan, dan ahli filsafat tidak mampu membaca garis halus yang dituliskan pena takdir dan kudrat pada mereka, mereka tenggelam di dalamnya dan jatuh ke dalam rawa tabiat.} memiliki makna sebanyak bunga-bunga sebatang pohon. Dan setiap buah — keajaiban seni dan gubahan rahmat itu — memiliki hikmah sebanyak buah-buah sebatang pohon. Adapun menjadi rezeki bagi kita, itu hanyalah satu hikmah dari ribuan hikmahnya: tugasnya selesai, maknanya terungkapkan, ia pun wafat, lalu dikuburkan di lambung kita. Madem benda-benda fana ini memberikan buah-buah kekal di tempat lain, meninggalkan gambar-gambar yang kekal, dan dari sisi lain mengungkapkan makna-makna abadi serta melantunkan tasbih yang sarmadi. Dan manusia menjadi manusia dengan memandang wajah benda-benda itu yang menghadap ke sisi tersebut; ia menemukan jalan menuju yang kekal di dalam yang fana.

Berarti di dalam para makhluk yang bergulir di antara hidup dan mati, yang berhimpun dan berpisah ini, ada maksud yang lain. — Tiada cela dalam tamsil — keadaan-keadaan ini menyerupai keadaan-keadaan yang disusun dan diatur untuk peniruan dan penggambaran. Sebagaimana dengan biaya besar dibuat perhimpunan-perhimpunan dan pembubaran-pembubaran singkat — agar gambar-gambar diambil, dirangkai, dan diperlihatkan terus-menerus di sinema. Demikian pula, salah satu tujuan menjalani kehidupan pribadi dan kehidupan bermasyarakat dalam waktu singkat di dunia ini ialah: agar gambar-gambar diambil dan dirangkai, hasil-hasil amal diambil dan dipelihara. Agar dihisab di suatu tempat berhimpun yang terbesar, diperlihatkan di suatu tempat pameran yang teragung, dan diperlihatkan istidadnya bagi suatu kebahagiaan yang teragung. Maka hadis syarif "Dunia adalah ladang akhirat" mengungkapkan hakikat ini.

Madem dunia ada. Dan di dalam dunia, dengan jejak-jejaknya ini, ada hikmah dan inayah dan rahmat dan keadilan. Tentu, sepasti wujud dunia, akhirat pun ada. Madem segala sesuatu di dunia dari satu sisi memandang ke alam itu. Berarti perjalanan menuju ke sana. Mengingkari akhirat berarti mengingkari dunia dan segala isinya. Berarti, sebagaimana ajal dan kubur menanti manusia, Surga dan Jahannam pun menanti dan mengintainya.