Risale-i NurKalimat Kesepuluh

Hakikat Kelima:

Kalimat Kesepuluh · hlm. 27

Pintu kasih sayang dan ubudiyah Muhammad صلى الله عليه وسلم. Ia adalah manifestasi nama "Mujîb" dan "Rahîm".

Mungkinkah sama sekali: seorang Rabb pemilik kasih sayang dan rahmat tanpa batas — yang melihat kebutuhan paling rendah dari makhluk-Nya yang paling rendah lalu memenuhinya dengan kasih sayang sempurna dari arah yang tak disangka; yang mendengar suara paling tersembunyi dari makhluk-Nya yang paling tersembunyi lalu menolongnya; yang menjawab segala yang diminta dengan lisan hal maupun lisan ucapan — tidak melihat dan tidak menuntaskan, tidak memenuhi, kebutuhan terbesar dari hamba-Nya yang terbesar, {(Hasyiyah): Ya, seorang zat yang memegang kekuasaan selama seribu tiga ratus lima puluh tahun dan kekuasaannya terus berlanjut; yang pada kebanyakan masa memiliki rakyat lebih dari tiga ratus lima puluh juta; yang setiap hari seluruh rakyatnya memperbarui baiat dengannya, bersaksi atas kesempurnaan-kesempurnaannya, dan tunduk kepada perintah-perintahnya dengan ketaatan sempurna; yang separuh bumi dan seperlima umat manusia terwarnai dengan shibghah-nya — yakni terwarnai dengan warna maknawinya; dan yang menjadi kekasih kalbu mereka serta pendidik ruh-ruh mereka — tentulah zat itu adalah hamba terbesar dari Rabb yang mengatur alam ini. Lagi pula, karena kebanyakan jenis alam menyambut gembira tugas dan kepetugasannya dengan masing-masing membawa sebuah buah mukjizatnya, tentulah zat itu adalah makhluk yang paling dicintai oleh Khâliq alam ini. Lagi pula kebutuhan seperti kekekalan, yang diminta seluruh umat manusia dengan segenap istidadnya — kebutuhan itu mengangkat manusia dari asfala sâfilîn menuju a'lâ 'illiyyîn. Tentulah kebutuhan itu adalah kebutuhan terbesar, dan seorang hamba terbesar akan memintanya atas nama semua dari Qâdhil-Hâjât (Pemenuh-kebutuhan).} dari makhluk-Nya yang paling dicintai; tidak mendengar dan tidak mengabulkan doa yang tertinggi? Ya, misalnya kelembutan dan kemudahan yang tampak dalam hal rezeki dan tarbiyah hewan-hewan yang lemah dan anak-anaknya menunjukkan bahwa: Pemilik alam ini menjalankan rububiyah dengan rahmat yang tiada terhingga. Mungkinkah sama sekali kasih sayang yang sedemikian penuh rahmat dalam rububiyah-Nya tidak mengabulkan doa terindah dari makhluk yang paling utama? Hakikat ini telah kujelaskan dalam Kalimat Kesembilan Belas; di sini pun kami terangkan kembali sebagai berikut:

Wahai kawan yang mendengarkanku bersama nafsuku! Dalam hikayat tamsil kami telah berkata: di sebuah pulau ada suatu perhimpunan... Seorang ajudan termulia menyampaikan sebuah pidato. Hakikat yang diisyaratkannya adalah sebagai berikut: Mari! Melepaskan diri dari zaman ini, kita pergi secara pikiran ke Masa Kebahagiaan ('Ashr Sa'âdah) dan secara khayal ke Jazirah Arab. Agar kita melihat Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم di tengah tugasnya dan di dalam ubudiyahnya, lalu menziarahinya. Lihat! Sebagaimana zat itu, dengan risalah dan hidayahnya, adalah sebab terwujudnya kebahagiaan abadi dan perantara sampainya kepadanya. Demikian pula, dengan ubudiyah dan doanya, ia adalah sebab wujud kebahagiaan itu dan perantara penciptaan Surga.

Lihatlah! Zat itu berdoa untuk kebahagiaan abadi di dalam sebuah shalat kubrâ, sebuah ibadah yang tertinggi, yang sedemikian rupa hingga seakan-akan jazirah ini — bahkan seluruh bumi — ikut shalat dengan shalatnya yang agung dan ikut bermunajat. Sebab ubudiyahnya, sebagaimana memuat ubudiyah umat yang mengikutinya, dengan rahasia keselarasan memuat pula rahasia ubudiyah seluruh nabi. Ia pun mendirikan shalat kubrâ itu dan bermunajat di dalam sebuah jamaah yang teragung, yang sedemikian rupa hingga seakan-akan seluruh manusia bercahaya nan sempurna dari anak-anak Adam — sejak Nabi Adam hingga zaman kita, bahkan hingga kiamat — bermakmum kepadanya dengan mengikutinya dan mengucapkan âmîn atas doanya.

{(Hasyiyah): Ya, sejak masa munajat Ahmad صلى الله عليه وسلم hingga kini, seluruh shalat dan seluruh shalawat segenap umat merupakan âmîn yang kekal dan keikutsertaan yang menyeluruh atas doanya. Bahkan setiap shalawat yang dihaturkan kepadanya pun merupakan âmîn atas doanya; dan dihaturkannya shalawat serta salam kepadanya oleh setiap individu umatnya di dalam setiap shalat, serta doa kaum Syafi'i kepadanya setelah iqamat, merupakan âmîn yang amat kuat dan menyeluruh atas doanya perihal kebahagiaan abadi. Maka kekekalan dan kebahagiaan abadi yang diminta seluruh manusia dengan lisan hal fitrah kemanusiaannya, dengan segenap kekuatannya — Dzât Ahmad صلى الله عليه وسلم memintanya atas nama jenis manusia itu, dan golongan manusia yang bercahaya mengucapkan âmîn di belakangnya. Gerangan mungkinkah sama sekali doa ini tidak disertai pengabulan?}

Lihat, ia pun berdoa untuk sebuah kebutuhan umum seperti kekekalan, yang sedemikian rupa hingga bukan hanya penghuni bumi, bahkan penghuni langit, bahkan seluruh makhluk ikut serta dalam munajatnya dan berkata dengan lisan hal: "Oh, ya, wahai Rabb kami! Berilah, kabulkanlah doanya. Kami pun memintanya." Lihat pula! Ia meminta kebahagiaan yang kekal dengan begitu pilu, begitu penuh cinta, begitu penuh rindu, dan begitu penuh perendahan diri, hingga membuat seluruh alam menangis dan menjadikannya ikut serta dalam doanya.

Lihat, ia pun meminta kebahagiaan dan berdoa demi suatu maksud, demi suatu tujuan, yang sedemikian rupa: mengangkat manusia dan seluruh makhluk dari kejatuhan ke dalam kefanaan mutlak yang merupakan asfala sâfilîn, dari ketiadaan nilai, dari ketiadaan manfaat, dan dari kesia-siaan — menuju nilai yang merupakan a'lâ 'illiyyîn, menuju kekekalan, menuju tugas yang luhur, dan menuju derajat menjadi surat-surat Shamadaniyah.

Lihat, ia pun meminta dengan ratapan permohonan-pertolongan yang begitu tinggi dan memohon dengan munajat permohonan-belas-kasih yang begitu manis, hingga seakan-akan ia memperdengarkannya kepada seluruh makhluk, kepada langit, kepada 'Arasy, membawa mereka kepada wajd (luapan-haru), dan membuat mereka mengucapkan atas doanya: "Âmîn, Allâhumma âmîn."

{(Hasyiyah): Ya, meskipun seluruh pengaturan Sang Pengatur alam ini — sebagaimana disaksikan — berlangsung penuh kesadaran, penuh ilmu, dan penuh hikmah, sama sekali tidak mungkin dari sisi mana pun Sang Pengatur itu tidak memiliki kesadaran dan pengetahuan atas gerak-gerik seorang individu paling istimewa di antara ciptaan-ciptaan-Nya. Sama sekali tidak mungkin pula dari sisi mana pun: Sang Pengatur Yang 'Alîm itu, padahal mengetahui gerak-gerik dan doa-doa individu istimewa itu, bersikap acuh terhadapnya dan tidak memberinya perhatian. Sama sekali tidak mungkin pula dari sisi mana pun: Sang Pengatur Yang Qadîr lagi Rahîm itu, padahal tidak acuh terhadap doa-doanya, tidak mengabulkan doa-doa itu. Ya, dengan cahaya Dzât Ahmad صلى الله عليه وسلم bentuk alam berubah. Hakikat sejati manusia dan seluruh alam tersingkap dengan cahaya itu, dengan sinar itu, dan tampaklah bahwa: para makhluk alam ini adalah surat-surat Shamadaniyah yang membacakan asma Ilahi, para petugas yang diberi kewajiban, dan wujud-wujud yang bernilai lagi bermakna yang memperoleh kekekalan. Seandainya cahaya itu tidak ada, para makhluk akan tetap terpidana pada kefanaan mutlak — tanpa nilai, tanpa makna, tanpa manfaat, sia-sia, kacau-balau, menjadi mainan kebetulan — di dalam suatu kegelapan waham. Dari rahasia inilah: sebagaimana manusia mengucapkan âmîn atas doa Dzât Ahmad صلى الله عليه وسلم, seluruh makhluk — 'Arasy dan hamparan bumi, dari tsarâ (tanah) hingga Tsurayya — berbangga dengan cahayanya dan menampakkan keterikatan. Memang ruh ubudiyah Ahmad صلى الله عليه وسلم adalah doa. Bahkan gerak dan khidmah-khidmah alam adalah sejenis doa. Misalnya: gerak sebutir biji adalah sejenis doa kepada Khâliqnya untuk menjadi sebatang pohon.}

Lihat pula! Ia meminta kebahagiaan dan kekekalan dari seorang Qadîr Yang Samî' lagi Karîm, dari seorang 'Alîm Yang Bashîr lagi Rahîm, yang — sebagaimana disaksikan — melihat keinginan paling tersembunyi dari makhluk hidup paling tersembunyi, mendengarnya, mengabulkannya, dan merahmatinya. Meski dengan lisan hal sekalipun, Dia menjawabnya. Dia memberi dan menjawab dengan cara yang begitu penuh hikmah, penuh penglihatan, dan penuh rahmat, hingga tidak menyisakan keraguan: tarbiyah dan pengaturan itu khusus milik Zat Yang Samî' dan Bashîr semacam itu, khusus milik Zat Yang Karîm dan Rahîm semacam itu.

Gerangan apakah yang diminta oleh Kebanggaan Alam (Fakhrul-Kâinât) صلى الله عليه وسلم — kemuliaan jenis manusia dan yang tiada duanya di alam wujud dan zaman — yang berdiri di atas bumi ini dengan membawa seluruh anak Adam di belakangnya, mengangkat tangan menghadap 'Arasy yang teragung, dan berdoa di dalam hakikat ubudiyah Ahmad صلى الله عليه وسلم yang menghimpun intisari ubudiyah umat manusia? Mari kita dengarkan. Lihat, ia meminta kebahagiaan abadi bagi dirinya dan umatnya, meminta kekekalan, meminta Surga. Ia pun memintanya bersama seluruh asma Ilahi yang kudus, yang memperlihatkan keindahan-keindahannya pada cermin-cermin para makhluk. Engkau melihat: ia memohon syafaat dari asma itu. Seandainya tidak ada sebab-sebab yang meniscayakan akhirat dan dalil-dalil wujudnya yang tak terhitung, satu doa dari zat ini saja akan menjadi sebab bagi dibangunnya Surga — yang bagi kudrat Sang Khâliq Yang Rahîm sama ringannya dengan penciptaan musim semi kita.

{(Hasyiyah-1): Ya, memperlihatkan contoh-contoh seni menakjubkan yang tiada terhitung dan tiada terhingga serta misal-misal kebangkitan dan kiamat di muka bumi — yang dibandingkan akhirat berkedudukan sebagai satu halaman yang amat sempit — dan menuliskan serta menyisipkan jenis-jenis ciptaan teratur yang berkedudukan sebagai tiga ratus ribu kitab pada satu halaman itu dengan keteraturan yang sempurna, tentu lebih sulit daripada pembangunan dan penciptaan Surga yang lembut lagi teratur di alam akhirat yang luas. Ya, dapat dikatakan: setinggi apa pun Surga dibanding musim semi, sebesar itu pula penciptaan taman-taman musim semi lebih sulit dan lebih memukau daripada Surga itu.}

Ya, bagaimana mungkin penciptaan Surga menjadi berat bagi Sang Qadîr Mutlak, yang pada musim semi kita menjadikan muka bumi sebuah mahsyar dan menciptakan seratus ribu contoh kebangkitan? Berarti, sebagaimana risalahnya menjadi sebab dibukanya negeri ujian ini dan ia menjadi tempat penampakan rahasia لَوْلاَكَ لَوْلاَكَ لَمَا خَلَقْتُ اْلاَفْلاَكَ. Demikian pula ubudiyahnya menjadi sebab dibukanya negeri kebahagiaan yang satu lagi.

Gerangan mungkinkah sama sekali: keteraturan alam yang membuat seluruh akal terperangah dan, di dalam rahmat yang luas, keelokan seni tanpa cacat serta keindahan rububiyah yang tiada tara — dengan tidak menjawab doa itu — menerima sebuah keburukan semacam ini, sebuah ketiadaan rahmat semacam ini, sebuah ketidakteraturan semacam ini? Yakni: Dia mendengar dengan penuh perhatian keinginan-keinginan dan suara-suara yang paling juz'i dan paling remeh, lalu menunaikan dan memenuhinya. Namun keinginan-keinginan yang paling penting dan paling diperlukan Dia pandang remeh — tidak mendengarnya, tidak memahaminya, tidak melaksanakannya? Hâsyâ wa kallâ, seratus ribu kali hâsyâ! Keindahan semacam ini tidak mungkin menerima keburukan semacam ini lalu menjadi buruk.

{(Hasyiyah-2): Ya, berbaliknya hakikat, menurut kesepakatan, adalah mustahil. Dan di dalam berbaliknya hakikat, yang mustahil di dalam mustahil ialah berbaliknya suatu lawan menjadi lawannya sendiri. Dan di dalam berbaliknya lawan-lawan ini, yang secara amat nyata seribu derajat lebih mustahil ialah: suatu lawan, sambil tetap pada hakikat-dirinya, menjadi persis lawannya sendiri. Misalnya: sebuah keindahan tanpa batas, padahal ia keindahan hakiki, menjadi keburukan hakiki. Maka dalam misal kita ini: sebuah keindahan rububiyah yang tersaksikan dan pasti wujudnya, padahal tetap dalam hakikat keindahan rububiyah, menjadi keburukan itu sendiri. Inilah misal paling mencengangkan di dunia dari misal-misal yang mustahil dan batil.}

Berarti Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم, sebagaimana membuka pintu dunia dengan risalahnya, membuka pula pintu akhirat dengan ubudiyahnya.

عَلَيْهِ صَلَوَاتُ الرَّحْمٰنِ مِلْءَ الدُّنْيَا وَ دَارِ الْجِنَانِ ❊ اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلٰى عَبْدِكَ وَ رَسُولِكَ ذٰلِكَ الْحَب۪يبُ الَّذ۪ى هُوَ سَيِّدُ الْكَوْنَيْنِ وَ فَخْرُ الْعَالَمَيْنِ وَ حَيَاتُ الدَّارَيْنِ وَ وَس۪يلَةُ السَّعَادَتَيْنِ وَ ذُو الْجَنَاحَيْنِ وَ رَسُولُ الثَّقَلَيْنِ وَ عَلٰٓى اٰلِه۪ وَ صَحْبِه۪ اَجْمَعِينَ وَ عَلٰٓى اِخْوَانِهِ مِنَ النَّبِيّ۪ينَ وَ الْمُرْسَل۪ينَ اٰم۪ينَ