Risale-i NurKalimat Kesepuluh

Hakikat Kedua:

Kalimat Kesepuluh · hlm. 19

Pintu kemurahan dan rahmat; ia adalah manifestasi nama "Karîm" dan "Rahîm".

Mungkinkah sama sekali: Rabb alam ini — yang melalui jejak-jejak yang diperlihatkan-Nya adalah pemilik kemurahan tanpa batas, rahmat tanpa batas, izzah tanpa batas, dan ghirah tanpa batas — tidak memberikan ganjaran yang layak bagi kemurahan dan rahmat-Nya, serta hukuman yang pantas bagi izzah dan ghirah-Nya? Ya, bila jalannya dunia ini diamati, terlihat bahwa: mulai dari yang paling tak berdaya dan paling lemah {(Hasyiyah-1): Dalil pasti bahwa rezeki halal tidak diperoleh dengan kekuatan, melainkan diberikan berdasarkan kefakiran-kebutuhan: kehidupan yang baik pada anak-anak hewan yang tak berdaya dan kesempitan hidup pada binatang-binatang buas yang perkasa; juga kegemukan ikan-ikan yang tak bercerdik dan kelemahan tubuh rubah serta kera yang cerdik lagi penuh tipu daya akibat kepayahan mencari penghidupan. Berarti rezeki berbanding terbalik dengan kekuatan dan ikhtiar. Sejauh mana seseorang bersandar pada kekuatan dan ikhtiarnya, sejauh itu pula ia terjerat dalam kepayahan mencari penghidupan.} hingga yang paling kuat, setiap makhluk hidup diberi rezeki yang layak. Kepada yang paling lemah dan paling tak berdaya diberikan rezeki yang terbaik. Kepada setiap yang menderita disampaikan obat dari arah yang tidak ia sangka. Jamuan-jamuan dan pemuliaan-pemuliaan berlangsung dengan kemurahan yang sedemikian luhur, hingga menunjukkan secara terang-benderang bahwa semuanya bekerja di dalam tangan sebuah kemurahan yang tiada terhingga.

Misalnya: mengenakan kepada seluruh pepohonan pada musim semi pakaian-pakaian laksana sundus, bak bidadari-bidadari surga; menghiasinya dengan permata-permata bunga dan buah; menjadikannya pelayan yang dengan dahan-dahannya — tangan-tangannya yang lembut — mempersembahkan kepada kita buah-buah termanis dan terindah buatannya yang beraneka ragam; kemudian memberi kita makan madu termanis yang penuh kesembuhan melalui tangan seekor serangga berbisa; mengenakan kepada kita pakaian terindah dan terlembut melalui tangan seekor ulat yang tak bertangan; dan menyimpan untuk kita sebuah khazanah rahmat yang besar di dalam sebutir biji yang kecil — dipahami secara terang-benderang betapa semuanya merupakan jejak sebuah kemurahan yang indah dan sebuah rahmat yang lembut. Selain manusia dan sebagian binatang buas, bekerjanya segala sesuatu pada tugasnya dengan kecermatan sempurna — mulai dari matahari, bulan, dan bumi hingga makhluk terkecil — tanpa melampaui batasnya walau sezarah, serta adanya ketaatan umum di bawah suatu wibawa yang agung, menunjukkan bahwa mereka bergerak dengan perintah pemilik jalâl dan izzah yang besar. Demikian pula tarbiyah anak-anak yang tak berdaya dan lemah — dengan kasih sayang penuh rahmat dari seluruh ibu, baik dari tumbuhan, hewan, maupun manusia {(Hasyiyah-2): Ya, seekor singa yang lapar mengutamakan anaknya yang lemah atas dirinya sendiri: daging yang ia peroleh tidak ia makan, melainkan ia berikan kepada anaknya; seekor ayam betina yang penakut menyerang anjing, bahkan singa, demi melindungi anaknya; dan pohon tin memakan lumpur bagi dirinya namun memberikan susu murni kepada buah-buahnya yang merupakan anak-anaknya — semua itu memperlihatkan dengan amat nyata, kepada siapa pun yang tidak buta, bahwa mereka bergerak atas perhitungan sebuah zat Yang Rahîm, Karîm, lagi Syafîq tanpa batas. Ya, dikerjakannya pekerjaan-pekerjaan yang amat penuh kesadaran dan penuh hikmah oleh makhluk-makhluk tak berkesadaran seperti tumbuh-tumbuhan dan hewan-hewan menunjukkan secara niscaya bahwa: ada Zat Yang 'Alîm dan Hakîm pada derajat tertinggi, yang mempekerjakan mereka. Mereka bekerja dengan nama-Nya.}, dan dengan makanan lembut seperti susu — memahamkan secara terang-benderang betapa luas manifestasi rahmat yang tengah bekerja.

Madem Pengatur alam ini memiliki kemurahan tanpa batas seperti ini, rahmat tanpa batas seperti ini, dan jalâl serta izzah tanpa batas seperti itu. Jalâl dan izzah tanpa batas menghendaki dididiknya orang-orang yang tak beradab. Kemurahan tanpa batas menghendaki pemuliaan tanpa batas; rahmat tanpa batas menghendaki karunia yang layak bagi dirinya. Padahal di dunia yang fana ini dan dalam umur yang singkat ini, hanya satu bagian dari jutaan bagian — laksana setetes dari lautan — yang menetap dan bertajali. Berarti akan ada sebuah negeri kebahagiaan yang layak bagi kemurahan itu dan pantas bagi rahmat itu. Jika tidak, haruslah mengingkari wujud rahmat yang tampak ini — seperti mengingkari wujud matahari yang memenuhi siang dengan cahayanya. Sebab kelenyapan tanpa kembali mengubah kasih sayang menjadi musibah, kecintaan menjadi rasa terbakar, nikmat menjadi niqmah (bencana), akal menjadi alat yang celaka, dan kelezatan menjadi penderitaan; sehingga niscayalah padamnya hakikat rahmat. Akan ada pula sebuah negeri hukuman yang sesuai dengan jalâl dan izzah itu. Sebab kebanyakan orang zalim tetap dalam kejayaannya dan orang teraniaya tetap dalam kehinaannya, lalu mereka berpindah pergi dari sini. Berarti perkara itu ditangguhkan kepada sebuah Mahkamah Kubrâ, ditunda. Bukan berarti tidak diperhatikan. Terkadang di dunia pun Dia menjatuhkan hukuman. Azab-azab yang menimpa kaum-kaum durhaka dan membangkang pada kurun-kurun terdahulu menunjukkan bahwa: manusia tidaklah dibiarkan begitu saja; setiap waktu ia terpapar tamparan jalâl dan ghirah.

Ya, mungkinkah sama sekali: manusia memiliki tugas penting dan istidad penting di antara seluruh makhluk, lalu Rabb manusia memperkenalkan diri-Nya kepadanya dengan ciptaan-ciptaan-Nya yang sedemikian teratur, namun manusia tidak mengenal-Nya dengan iman sebagai imbalannya.. Dia menjadikan diri-Nya dicintai dengan buah-buah rahmat-Nya yang sedemikian terhias, namun manusia tidak menjadikan dirinya dicintai-Nya dengan ibadah sebagai imbalannya.. Dia memperlihatkan kecintaan dan rahmat-Nya kepadanya dengan nikmat-nikmat yang sedemikian beraneka, namun manusia tidak menghormati-Nya dengan syukur dan hamd sebagai imbalannya — lalu manusia itu tetap tanpa hukuman, dibiarkan begitu saja, dan Sang Dzât Dzul-Jalâl pemilik izzah dan ghirah itu tidak menyiapkan sebuah negeri hukuman? Dan mungkinkah sama sekali: Sang Rahmân Rahîm itu tidak memberikan sebuah negeri pembalasan dan sebuah kebahagiaan abadi kepada kaum mukmin yang menyambut perkenalan diri-Nya dengan mengenal-Nya melalui iman, menyambut tindakan-Nya menjadikan diri-Nya dicintai dengan mencintai dan menjadikan diri dicintai melalui ibadah, dan menyambut rahmat-Nya dengan penghormatan melalui syukur?