Risale-i NurKalimat Kesepuluh

Gambaran Keenam:

Kalimat Kesepuluh · hlm. 6

Maka datanglah, lihat: kereta-kereta api yang megah ini, pesawat-pesawat terbang, perlengkapan-perlengkapan, gudang-gudang, pameran-pameran, dan pelaksanaan-pelaksanaan ini menunjukkan bahwa di balik tirai ada sebuah kerajaan yang amat megah {(Hasyiyah): Misalnya: sebagaimana pada zaman ini, di medan manuver, menurut tata cara perang, dengan perintah "Angkat senjata, pasang sangkur!" sebuah pasukan besar dari ujung ke ujung menyerupai rimbunan pohon ek yang berduri; dan sebagaimana pada setiap hari raya, menghadapi perintah "Kenakan seragam kalian dan sematkan bintang-bintang jasa kalian!" untuk parade, perkemahan pasukan menampilkan sebuah taman terhias yang dari ujung ke ujung bunga-bunganya bermekaran warna-warni; demikian pula di medan muka bumi, di antara jenis-jenis pasukan Sang Sultan Azali yang tiada terhingga — seperti malaikat, jin, manusia, dan hewan — golongan tumbuh-tumbuhan yang tak berkesadaran pun, dalam jihad memelihara kehidupan, tatkala menerima perintah Ilahi "Kenakanlah senjata dan perlengkapan kalian untuk pertahanan!" melalui perintah كُنْ فَيَكُونُ — pada saat bumi dari ujung ke ujung, dengan semua pepohonan dan tetumbuhan berduri di atasnya, memasang sangkur-sangkur kecilnya — persis menyerupai sebuah perkemahan pasukan nan megah yang telah memasang sangkur-sangkurnya. Dan karena setiap hari dan setiap pekan musim semi berkedudukan sebagai hari raya bagi masing-masing golongan tumbuhan, maka setiap golongan pun mempersembahkan bintang-bintang jasa bertatah permata — yang disematkan Sultannya kepadanya demi memamerkan hadiah-hadiah indah yang dianugerahkan kepada golongan itu — ke hadapan pandangan penyaksian dan persaksian Sang Sultan Azali dalam bentuk parade; dan karena menampilkan keadaan seperti itu, seluruh tumbuhan dan pepohonan seakan-akan sedang mendengarkan perintah Rabbani: "Kenakanlah permata-permata seni Rabbani dan bintang-bintang jasa fitrah Ilahi yang bernama bunga dan buah; mekarkanlah bunga-bunga!" — sehingga muka bumi pun menampilkan sebuah perkemahan pasukan yang seragam-seragam bersulamnya dan bintang-bintang jasa bertatah permatanya berkilauan, pada suatu hari raya nan megah, dalam parade yang agung. Maka perlengkapan dan perhiasan yang sedemikian penuh hikmah dan teratur ini tentu memperlihatkan kepada orang-orang yang tidak buta bahwa semuanya terjadi dengan perintah seorang sultan yang qadîr tiada terhingga, seorang penguasa yang hakîm pada derajat tertinggi.}; ia tengah memerintah. Kerajaan semacam itu menghendaki rakyat yang layak baginya. Padahal engkau melihat: seluruh rakyat berhimpun di penginapan ini. Sedangkan penginapan itu setiap hari terisi dan terkosongkan. Seluruh rakyat pun berada di medan ujian ini untuk manuver. Sedangkan medan itu setiap saat diganti. Seluruh rakyat pun berhenti beberapa menit di galeri pameran ini untuk menyaksikan di pameran-pameran itu contoh-contoh anugerah raja yang berharga dan karya-karya langka dari seni-seninya yang menakjubkan. Sedangkan tempat pameran itu setiap menit berubah. Yang pergi tidak kembali, yang datang akan pergi. Maka keadaan ini, kondisi ini, menunjukkan secara pasti bahwa: di balik penginapan ini, medan ini, dan tempat-tempat pameran ini terdapat istana-istana yang kekal, kediaman-kediaman yang langgeng, serta kebun-kebun dan khazanah-khazanah yang penuh dengan wujud asli — yang murni lagi luhur — dari contoh-contoh dan salinan-salinan ini.

Berarti jerih payah di sini adalah demi semua itu. Ia mempekerjakan di sini, memberikan upah di sana. Sesuai dengan istidad (bakat) masing-masing, setiap orang memiliki suatu kebahagiaan di sana...