Bagian ketiga
Kalimat Kesepuluh · hlm. 35
dari tujuan wujud dan hasil kehidupan menghadap kepada diri benda itu sendiri: yaitu hasil-hasil juz'i seperti merasakan kelezatan, bertamasya, dan hidup dengan kekekalan dan ketenangan. Misalnya: tujuan seorang pelayan yang memegang kemudi di sebuah kapal kerajaan yang agung — dari segi kapal, hanya seperseratus milik dirinya, yaitu upah kecilnya; sembilan puluh sembilannya milik sang sultan. Demikian pula, jika tujuan segala sesuatu yang menghadap dirinya sendiri dan dunia adalah satu, maka yang menghadap Shâni'-nya adalah sembilan puluh sembilan. Dari berbilangnya tujuan-tujuan inilah rahasia keselarasan antara hikmah dan penghematan dengan jûd dan kedermawanan — khususnya kedermawanan tanpa batas — yang tampak saling bertentangan dan berlawanan: pada sudut pandang satu tujuan, jûd dan kedermawanan berkuasa, nama Jawwâd bertajali. Buah-buahan dan biji-bijian, pada sudut pandang satu tujuan itu, tanpa hitungan; menunjukkan jûd tanpa batas. Namun pada sudut pandang keseluruhan tujuan: hikmah berkuasa, nama Hakîm bertajali. Sebanyak apa pun buah sebatang pohon, bahkan setiap buah memiliki tujuan sebanyak itu, yang terbagi ke dalam tiga bagian yang telah kami terangkan. Keseluruhan tujuan ini menunjukkan sebuah hikmah dan penghematan tanpa batas. Hikmah tanpa batas yang tampak berlawanan itu berhimpun dengan jûd dan kedermawanan tanpa batas. Misalnya: salah satu tujuan pasukan tentara ialah menjamin ketenteraman. Menurut tujuan ini, tentara yang ada sebanyak apa pun yang engkau kehendaki, bahkan berlebih. Namun untuk tugas-tugas lain seperti menjaga perbatasan dan berjihad melawan musuh, yang ada ini hanya sekadar cukup. Ia berada dalam keseimbangan dengan hikmah yang sempurna. Maka hikmah pemerintahan berhimpun dengan kemegahan. Ketika itu dapat dikatakan: tidak ada kelebihan dalam ketentaraan itu.} berkedudukan sebagai contoh-contoh dan salinan-salinan dari nikmat-nikmat yang disimpan dengan rahmat Sang Rahmân bagi ahli iman di Surga.
Asas Kelima:
Engkau pun memahami bahwa: ciptaan-ciptaan fana ini tidak diciptakan untuk kefanaan, untuk tampak sesaat lalu musnah. Melainkan untuk berhimpun sebentar di dalam wujud dan mengambil keadaan yang dikehendaki; agar gambar-gambarnya diambil, salinan-salinan citranya direkam, makna-maknanya diketahui, dan hasil-hasilnya dibukukan. Misalnya, agar ditenun pemandangan-pemandangan kekal bagi ahli keabadian. Dan agar menjadi tumpuan bagi tujuan-tujuan lain di alam keabadian.
Bahwa segala sesuatu diciptakan untuk kekekalan, bukan untuk kefanaan — bahkan kefanaan lahiriahnya adalah penyempurnaan tugas dan pembebastugasan — dipahami dari hal ini: sesuatu yang fana pergi menuju kefanaan dari satu sisi, namun tetap kekal dari banyak sisi. Misalnya, lihatlah bunga ini, salah satu kata kudrat: dalam waktu singkat bunga itu tersenyum memandang kita, lalu segera bersembunyi di balik tirai kefanaan. Namun, seperti kata yang keluar dari mulutmu: ia pergi, tetapi menitipkan ribuan misalnya ke telinga-telinga. Sebanyak akal yang mendengar, ia mengekalkan makna-maknanya di dalam akal-akal itu. Sebab setelah tugasnya — pengungkapan makna — selesai, ia sendiri pergi; namun ia pergi dengan meninggalkan bentuk lahiriahnya di dalam ingatan segala yang melihatnya dan hakikat maknawinya di dalam setiap benihnya. Seakan-akan setiap ingatan dan setiap benih adalah sebuah alat potret bagi terpeliharanya perhiasannya dan sebuah tempat tinggal bagi kelangsungan kekekalannya. Jika ciptaan yang berada pada tingkat kehidupan paling sederhana saja demikian, dapat dipahami betapa terikatnya manusia — yang berada pada lapisan kehidupan tertinggi dan memiliki ruh yang kekal — dengan kekekalan. Dari terpeliharanya dan dikekalkannya undang-undang pembentukan dan salinan citra tumbuh-tumbuhan besar yang berbunga dan berbuah — yang masing-masingnya sedikit menyerupai ruh — di dalam benih-benih sekecil zarah, dengan keteraturan sempurna, di tengah pergolakan-pergolakan yang bergejolak; dapat dipahami betapa terhubung dan terikatnya ruh manusia dengan kekekalan — ruh yang merupakan sebuah undang-undang perintah yang bercahaya lagi berkesadaran, yang memiliki hakikat amat menghimpun lagi tinggi, dan yang telah dikenakan kepadanya wujud lahiriah.
Asas Keenam:
Engkau pun memahami bahwa: manusia tidaklah dibiarkan begitu saja — dengan tali terlilit di lehernya — untuk merumput di mana pun ia suka; melainkan gambar-gambar seluruh amalnya diambil dan dituliskan, dan hasil-hasil seluruh perbuatannya dibukukan untuk hisab.
Asas Ketujuh:
Engkau pun memahami bahwa: kehancuran makhluk-makhluk indah alam musim panas dan musim semi pada musim gugur bukanlah pemusnahan. Melainkan pembebastugasan setelah sempurnanya tugas-tugas mereka. {(Hasyiyah): Ya, buah-buah, bunga-bunga, dan daun-daun di ujung-ujung dan di kepala dahan-dahan sebatang pohon — salah satu khazanah rezeki rahmat — menjadi tua dan, dengan berakhirnya tugas mereka, harus pergi. Agar pintu tidak tertutup bagi yang mengalir datang di belakang mereka. Jika tidak, terbentanglah penghalang bagi keluasan rahmat dan bagi khidmah saudara-saudara mereka yang lain. Lagi pula mereka sendiri, dengan lenyapnya kemudaan, menjadi hina dan berantakan. Maka musim semi pun adalah sebatang pohon berbuah yang menampakkan mahsyar. Alam manusia pada setiap abad adalah sebatang pohon yang penuh ibrah. Bumi pun adalah sebatang pohon kudrat yang menjadi mahsyar keajaiban-keajaiban. Bahkan dunia pun adalah sebatang pohon memukau yang buah-buahnya dikirim ke pasar akhirat.} Ia juga pengosongan untuk melapangkan tempat bagi makhluk-makhluk yang akan datang pada musim semi baru, dan persiapan yang menyiapkan tempat bagi datangnya para petugas baru dan makhluk-makhluk bertugas yang akan singgah. Ia juga peringatan-peringatan dari Yang Mahasuci bagi makhluk berkesadaran, dari kelalaian yang melupakan tugas dan dari kemabukan yang melupakan syukur.
Asas Kedelapan:
Engkau pun memahami bahwa: Shâni' yang sarmadi dari alam fana ini memiliki alam lain yang kekal; Dia menggiring hamba-hamba-Nya ke sana dan mendorong mereka kepadanya.
Asas Kesembilan:
Engkau pun memahami bahwa: Sang Rahmân semacam itu, di alam semacam itu, akan menganugerahkan kepada hamba-hamba khusus-Nya pemuliaan-pemuliaan sedemikian rupa: yang tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar telinga, dan tidak pernah terlintas di kalbu manusia. Âmannâ...