Risale-i NurKalimat Kedua Puluh Tiga

Poin Pertama:

Kalimat Kedua Puluh Tiga · hlm. 1

Manusia, dengan cahaya iman, naik ke setinggi-tinggi tempat (a'la illiyyin); ia memperoleh sebuah nilai yang layak bagi surga. Dan dengan kegelapan kekufuran, ia jatuh ke serendah-rendah tempat (asfala safilin); ia masuk ke sebuah keadaan yang menjadikannya pantas bagi neraka. Sebab iman menisbatkan manusia kepada Sang Maha Pencipta Yang Mahaagung; iman adalah sebuah pertautan (intisab). Kalau begitu, manusia — lewat iman — memperoleh sebuah nilai dari sisi seni Ilahi dan ukiran nama-nama Tuhan yang tampak pada dirinya. Kekufuran memutus pertautan itu. Dari pemutusan itu, seni Tuhan tersembunyi. Maka nilainya pun hanya tinggal dari sisi materi belaka. Sedangkan materi — karena ia fana, sirna, lagi cuma sebuah kehidupan kebinatangan yang sementara — nilainya laksana nol.

Rahasia ini akan kami jelaskan dengan sebuah perumpamaan. Misalnya: di dalam karya-karya seni manusia, seperti halnya nilai materi dan nilai seni itu berbeda-beda. Kadang setara, kadang materinya lebih berharga, dan kadang terjadi: pada sebuah materi seperti besi seharga lima kurus terdapat seni senilai lima lira.* Bahkan kadang, sebuah karya seni antik bernilai sejuta, padahal materinya tidak seharga lima kurus pun. Nah, kalau karya antik semacam itu dibawa ke pasar para penjual barang antik, lalu dipamerkan dengan menisbatkannya kepada senimannya yang ahli-ajaib lagi sangat tua-mahir serta dengan mengenang sang seniman itu — ia akan terjual seharga sejuta. Tapi kalau dibawa ke pasar pandai besi yang kasar, ia bisa dibeli cuma seharga besi lima kurus.

Nah, manusia adalah sebuah karya seni antik milik Allah جل جلاله Yang Mahaagung semacam itu, dan sebuah mukjizat kekuasaan yang paling halus lagi paling lembut; Dia menciptakan manusia sebagai tempat tampaknya kilau seluruh nama-Nya, sebagai penopang ukiran-ukiran-Nya, dan dalam rupa sebuah miniatur (salinan mungil) dari alam semesta. Kalau cahaya iman masuk ke dalamnya, semua ukiran yang sarat makna di atasnya bisa dibaca dengan cahaya itu. Orang beriman itu membacanya dengan penuh kesadaran, dan lewat pertautan itu ia membuat orang lain membacanya pula. Yakni, lewat makna-makna seperti "Aku adalah ciptaan Sang Maha Pencipta Yang Mahaagung, aku makhluk-Nya, aku tempat tampaknya rahmat dan kemurahan-Nya" — seni Tuhan pada manusia pun menjadi tampak. Artinya, iman — yang tidak lain adalah pertautan kepada Sang Penciptanya — menampakkan seluruh jejak seni pada manusia. Nilai manusia ditentukan sesuai dengan seni Tuhan itu, dan dari sisi bahwa ia adalah cermin bagi Yang Mahatunggal tempat bergantung (As-Samad). Kalau begitu, manusia yang tampak tak berarti ini, dari sisi ini, menjadi lawan bicara Ilahi di atas seluruh makhluk dan seorang tamu Tuhan yang layak bagi surga.

Kalau kekufuran — yang tidak lain adalah pemutusan pertautan — masuk ke dalam manusia; maka semua ukiran nama-nama Ilahi yang sarat makna itu jatuh ke kegelapan, tak terbaca. Sebab kalau Sang Pencipta dilupakan, sisi-sisi maknawi yang menghadap kepada-Nya pun tak terpahami. Ia hampir-hampir jatuh terbalik kepalanya ke bawah. Sebagian besar dari seni-seni tinggi yang sarat makna dan ukiran-ukiran maknawi yang tinggi itu tersembunyi. Sedangkan bagian yang tersisa dan terlihat oleh mata, disandarkan kepada sebab-sebab yang rendah, kepada alam, dan kepada kebetulan, lalu akhirnya merosot. Yang tadinya tiap-tiapnya berlian yang berkilau, kini menjadi pecahan kaca yang suram. Pentingnya pun hanya memandang ke materi kebinatangan. Sedangkan tujuan dan buah materi itu — seperti yang telah kami katakan — adalah cuma menjalani sebuah kehidupan yang remeh dalam umur yang amat singkat, dalam keadaan sebagai hewan yang paling tak berdaya, paling membutuhkan, lagi paling penuh duka. Lalu ia membusuk dan pergi. Nah, kekufuran meruntuhkan hakikat manusia semacam ini, mengubahnya dari berlian menjadi arang.