Risale-i NurKalimat Kedua Puluh Tiga

Pembahasan Kedua

Kalimat Kedua Puluh Tiga · hlm. 11

Terdiri dari lima nukte (poin makna yang halus) tentang kebahagiaan dan kesengsaraan manusia.

[Karena manusia diciptakan dalam ahsan taqwim (bentuk sebaik-baiknya) dan diberi sebuah potensi yang sangat lengkap; ia dilemparkan ke sebuah medan ujian di mana ia bisa naik dan bisa jatuh ke maqam, tingkatan, derajat, dan tingkat-tingkat rendah yang terbentang dari asfala safilin (serendah-rendahnya) sampai a'la illiyyin (setinggi-tingginya), dari bumi sampai Arasy, dari atom sampai matahari. Dua jalan yang menuju kejatuhan tak terhingga dan kenaikan tak terhingga terbuka di hadapannya. Ia dikirim ke dunia ini sebagai sebuah mukjizat kekuasaan, sebuah hasil penciptaan, dan sebuah keajaiban seni. Nah, rahasia kenaikan dan kemerosotan manusia yang dahsyat ini akan kami jelaskan dalam "Lima Nukte".]

Nukte Pertama:

Manusia membutuhkan dan berhubungan dengan sebagian besar jenis makhluk di alam semesta. Kebutuhannya tersebar ke setiap penjuru alam, keinginannya menjulur sampai ke keabadian... Seperti ia menginginkan sekuntum bunga, ia juga menginginkan seluruh musim semi. Seperti ia mendambakan sebuah kebun, ia juga mendambakan Surga yang abadi. Seperti ia rindu melihat seorang sahabatnya, ia juga rindu melihat Cemîl-i Zülcelâl (Sang Mahaindah, Pemilik Keagungan). Seperti ia perlu membuka pintu sebuah tempat untuk mengunjungi orang yang dicintainya yang tinggal di tempat lain; begitu juga — untuk mengunjungi sembilan puluh sembilan persen kekasihnya yang sudah pindah ke alam barzakh, dan untuk lepas dari perpisahan abadi — ia perlu berlindung ke hadirat seorang Al-Kadîr-i Mutlak (Yang Mahakuasa secara mutlak) yang akan menutup pintu dunia yang besar ini, membuka pintu akhirat yang merupakan sebuah mahsyar penuh keajaiban, lalu mengangkat dunia dan mendirikan akhirat di tempatnya.

Nah, bagi manusia dalam keadaan seperti ini, yang bisa menjadi Sembahan yang hakiki hanyalah: seorang Al-Kadîr-i Zülcelâl (Yang Mahakuasa, Pemilik Keagungan), seorang Ar-Rahîm-i Zülcemâl (Yang Maha Penyayang, Pemilik Keindahan), seorang Al-Hakîm-i Zülkemâl (Yang Mahabijaksana, Pemilik Kesempurnaan) — yang kendali segala sesuatu ada di tangan-Nya, khazanah segala sesuatu ada di sisi-Nya, yang mengawasi segala sesuatu, hadir di setiap tempat, suci dari tempat, bersih dari kelemahan, kudus dari cacat, dan tinggi dari kekurangan. Sebab yang bisa memenuhi kebutuhan manusia yang tak terhingga hanyalah pemilik kekuasaan yang tak terhingga dan ilmu yang meliputi. Maka, yang layak disembah hanyalah Dia.

Nah, wahai manusia! Kalau kamu menjadi hamba hanya kepada-Nya, kamu meraih sebuah kedudukan di atas semua makhluk. Kalau kamu enggan beribadah, kamu menjadi seorang hamba hina bagi makhluk-makhluk yang lemah. Kalau kamu bersandar pada keakuan dan kekuatanmu, lalu meninggalkan tawakal dan doa, lalu jatuh ke dalam kesombongan dan pengakuan (dakwa); maka dari sisi kebaikan dan penciptaan, kamu menjadi lebih rendah daripada lebah dan semut, lebih lemah daripada laba-laba dan lalat. Dari sisi keburukan dan perusakan; kamu menjadi lebih berat daripada gunung, lebih berbahaya daripada wabah.

Ya, wahai manusia! Padamu ada dua sisi: Yang pertama, sisi penciptaan, keberadaan, kebaikan, yang positif, dan perbuatan. Yang lain; sisi perusakan, ketiadaan, keburukan, penafian, dan kepasifan. Dari sisi yang pertama; kamu lebih rendah daripada lebah dan burung pipit.. lebih lemah daripada lalat dan laba-laba. Dari sisi yang kedua; kamu melampaui gunung, bumi, dan langit. Kamu memikul sebuah beban yang mereka enggan pikul dan mereka tunjukkan kelemahan di hadapannya. Kamu mengambil sebuah lingkaran yang lebih luas dan lebih besar daripada mereka. Sebab ketika kamu berbuat baik dan mencipta, kamu hanya bisa berbuat baik dan mencipta sebatas keluasanmu, sejauh tanganmu sampai, setingkat kekuatanmu mencapai. Tapi kalau kamu berbuat jahat dan merusak, maka kejahatanmu melampaui batas dan perusakanmu menyebar.

Misalnya: Kekufuran adalah sebuah keburukan, sebuah perusakan, sebuah penolakan untuk membenarkan. Tapi satu keburukan tunggal itu mengandung penghinaan terhadap seluruh alam semesta, pelecehan terhadap seluruh nama-nama Ilahi, dan perendahan terhadap seluruh kemanusiaan. Sebab makhluk-makhluk ini punya kedudukan yang tinggi dan tugas yang penting. Karena mereka adalah surat-surat Rabbani, cermin-cermin Subhani, dan pegawai-pegawai Ilahi. Adapun kekufuran; ia menjatuhkan mereka dari kedudukan sebagai cermin, sebagai pengemban tugas, dan sebagai pembawa makna, ke tingkat rendah sebagai mainan kesia-siaan dan kebetulan; dan ke tingkat zat-zat fana yang cepat rusak dan berubah oleh perusakan kelenyapan serta perpisahan; dan ke tingkat ketidakberartian, ketidakberhargaan, serta kehampaan. Sebagaimana pula, ia mengingkari dan melecehkan nama-nama Ilahi — yang ukiran, kilauan, dan keindahannya tampak di seluruh alam semesta dan di cermin-cermin makhluk.

Dan pemilik derajat kekhalifahan bumi — yang, dengan memikul amanah terbesar, mengungguli bumi, langit, dan gunung serta meraih keutamaan atas malaikat; yang merupakan sebuah kasidah hikmah yang tersusun rapi, mengumumkan dengan indah kilauan semua nama suci Ilahi; dan sebuah mukjizat kekuasaan yang cemerlang, laksana sebutir benih yang menghimpun perangkat sebuah pohon yang kekal — kekufuran melemparkan manusia ini ke sebuah tingkat yang lebih hina, lebih lemah, lebih tak berdaya, dan lebih fakir daripada hewan fana yang paling hina dan cepat lenyap. Dan ia menurunkannya ke tingkat sebuah lukisan biasa yang tak bermakna, kusut, dan cepat rusak.

Kesimpulannya:

Nafsu ammarah bisa melakukan kejahatan tak terhingga dari sisi perusakan dan keburukan, tapi kemampuannya dalam mencipta dan berbuat baik sangat sedikit dan kecil. Ya, ia merobohkan sebuah rumah dalam satu hari, tapi tak bisa membangunnya dalam seratus hari. Namun kalau ia meninggalkan keakuan, memohon kebaikan dan keberadaan dari taufik Ilahi, meninggalkan keburukan, perusakan, dan bersandar pada nafsu, lalu beristigfar dan menjadi hamba yang sepenuhnya; maka ia menjadi tempat tampaknya rahasia يُبَدِّلُ اللّٰهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ. Potensi keburukannya yang tak terhingga berubah menjadi potensi kebaikan yang tak terhingga. Ia meraih nilai ahsan taqwim, lalu naik ke a'la illiyyin.

Nah, wahai manusia yang lalai! Lihatlah karunia dan kemurahan Cenâb-ı Hak (Allah جل جلاله Yang Mahatinggi)! Padahal menulis satu keburukan sebagai seribu, dan menulis satu kebaikan sebagai satu — atau tidak menuliskannya sama sekali — itu sudah adil; namun Dia menulis satu keburukan sebagai satu, dan satu kebaikan sebagai sepuluh, kadang tujuh puluh, kadang tujuh ratus, kadang tujuh ribu. Dan pahamilah dari nukte ini bahwa: masuk ke Neraka yang dahsyat itu adalah balasan amal, ia keadilan murni. Tapi masuk ke Surga adalah semata-mata karunia.

Nukte Kedua:

Pada manusia ada dua wajah. Yang pertama, dari sisi keakuan, memandang kehidupan dunia ini. Yang lain, dari sisi ibadah, memandang kehidupan abadi. Dari sisi yang pertama, ia sebuah makhluk malang sedemikian rupa; modalnya hanyalah sebuah kehendak bebas (juz'i ikhtiyari) yang amat kecil bagai sehelai rambut, sebuah usaha (kasab) yang lemah dari sisi kemampuan, sebuah nyala yang cepat padam dari sisi kehidupan, sepenggal waktu yang cepat berlalu dari sisi umur, dan sebuah tubuh kecil yang cepat lapuk dari sisi keberadaan. Bersama keadaan itu, ia hanyalah seorang individu yang lemah dan rapuh di antara individu-individu tak terhitung dari jenis-jenis tak terhingga yang terbentang di lapisan-lapisan alam semesta.

Dari sisi yang kedua, dan terutama dari sisi kelemahan dan kefakiran yang mengarah pada ibadah, ia punya keluasan yang sangat besar dan kepentingan yang sangat besar. Sebab Al-Fâtır-ı Hakîm (Sang Pencipta Yang Mahabijaksana) telah menanamkan sebuah kelemahan yang tak terhingga besarnya dan sebuah kefakiran yang tak terhingga luasnya ke dalam hakikat maknawi manusia. Supaya ia menjadi sebuah cermin luas yang menghimpun tampaknya yang tak terhingga dari sebuah Dzat yang kekuasaan-Nya tak terhingga — Al-Kadîr-i Rahîm (Yang Mahakuasa lagi Maha Penyayang) — dan kekayaan-Nya tak terhingga — Ganiyy-i Kerim (Yang Mahakaya lagi Mahamulia).

Ya, manusia menyerupai sebutir benih. Seperti halnya kepada benih itu diberikan perangkat maknawi yang penting dari kekuasaan, dan sebuah program yang halus dan berharga dari takdir. Supaya ia bekerja di bawah tanah, keluar dari alam yang sempit itu, masuk ke alam udara yang luas, lalu dengan lisan potensinya memohon kepada Khalik-nya agar menjadi sebuah pohon, dan meraih sebuah kesempurnaan yang layak baginya. Kalau benih itu, karena tabiatnya (mizac) yang buruk, menghabiskan perangkat maknawi yang diberikan kepadanya untuk menarik zat-zat berbahaya di bawah tanah; maka di tempat yang sempit itu, dalam waktu yang singkat, ia akan membusuk dan lapuk tanpa guna. Tapi kalau benih itu mematuhi perintah penciptaan فَالِقُ الْحَبِّ وَالنَّوٰى lalu memakai perangkatnya dengan baik; maka ia akan keluar dari alam yang sempit itu, menjadi sebuah pohon besar yang berbuah, dan hakikatnya yang kecil serta ruh maknawinya akan mengambil rupa sebuah hakikat menyeluruh yang besar.

Nah, persis seperti itu; ke dalam hakikat manusia telah dititipkan perangkat penting dari kekuasaan dan program berharga dari takdir. Kalau manusia, di alam bumi yang sempit ini, di bawah tanah kehidupan dunia, menghabiskan perangkat maknawinya untuk hawa nafsu; maka seperti benih yang rusak, demi sebuah kenikmatan kecil, dalam umur yang singkat, di tempat yang sempit, dan dalam keadaan yang menyesakkan, ia akan membusuk dan lapuk, lalu memikulkan tanggung jawab maknawi ke atas ruhnya yang celaka, lalu pergi dari dunia ini.

Tapi kalau ia mendidik benih potensinya dengan air keislaman, dengan cahaya iman, di bawah tanah ibadah, lalu mematuhi perintah-perintah Al-Qur'an dan mengarahkan perangkat maknawinya ke tujuan-tujuannya yang hakiki; maka sudah pasti ia akan berdahan dan beranting di alam misal dan alam barzakh, lalu menjadi sebuah benih berharga yang menghimpun perangkat sebuah pohon kekal dan sebuah hakikat abadi — yang akan menjadi sumber kesempurnaan dan nikmat tak terhingga di alam akhirat dan Surga — sebuah mesin yang cemerlang, dan sebuah buah yang berkah lagi bercahaya dari pohon alam semesta ini.

Ya, kemajuan yang hakiki adalah: hati, sir (rahasia batin), ruh, akal, bahkan khayal dan daya-daya lain yang diberikan kepada manusia, memalingkan wajah mereka ke kehidupan abadi, lalu masing-masing menyibukkan diri dengan sebuah tugas ibadah khusus yang layak baginya. Adapun yang disangka kemajuan oleh ahli kesesatan — yaitu masuk ke semua seluk-beluk kehidupan dunia, mencicipi setiap macam kenikmatannya bahkan yang paling hina, dengan menundukkan semua perangkat halus batinnya, hati, dan akalnya kepada nafsu ammarah sebagai pembantu — itu bukan kemajuan, tapi kejatuhan. Hakikat ini kulihat dalam sebuah kejadian khayali, dalam sebuah perumpamaan begini:

Aku memasuki sebuah kota besar. Kulihat di kota itu ada istana-istana besar. Aku memperhatikan pintu sebagian istana: ada sebuah daya pikat yang sangat ramai dan cemerlang bagai teater, yang menarik perhatian dan menghibur semua orang. Aku perhatikan baik-baik: tuan istana itu datang ke pintu, sedang bermain dengan anjing dan membantunya bermain. Para nyonya sedang mengobrol manis dengan pemuda-pemuda liar. Gadis-gadis yang sudah dewasa pun sedang mengatur permainan anak-anak. Penjaga pintu juga mengambil gaya seorang aktor, seakan memerintah mereka. Saat itu aku paham bahwa bagian dalam istana yang besar itu kosong melompong. Semua tugas halus terbengkalai. Akhlak mereka telah jatuh, sampai-sampai di pintu mereka mengambil rupa seperti ini.

Lalu aku lewat, dan bertemu sebuah istana besar yang lain. Kulihat di pintunya ada seekor anjing setia yang berbaring, seorang penjaga yang kasar, keras, namun tenang, dan sebuah suasana yang redup. Aku penasaran. Kenapa yang itu begitu, dan yang ini begini? Aku masuk ke dalam. Kulihat bagian dalamnya sangat ramai... Lapis demi lapis, para penghuni istana sibuk dengan tugas-tugas halus yang berbeda-beda. Orang-orang di lapisan pertama mengurus pengelolaan dan pengaturan istana. Di lapisan atasnya, para gadis dan anak-anak sedang membaca pelajaran. Lebih atas lagi, para nyonya sibuk dengan seni-seni yang halus dan ukiran-ukiran yang indah. Paling atas, kulihat sang tuan sedang berbicara dengan raja, menyibukkan diri dengan tugas-tugas tinggi yang khusus baginya — demi menjamin ketenangan rakyat dan demi kesempurnaan serta kemajuan dirinya sendiri. Karena aku tak terlihat oleh mereka, mereka tak berkata "Dilarang", jadi aku bisa berkeliling. Lalu aku keluar dan memperhatikan. Di setiap penjuru kota itu ada dua macam istana ini. Aku bertanya, mereka menjawab: "Istana yang pintunya ramai tapi dalamnya kosong itu milik para pembesar orang kafir dan ahli kesesatan; yang lain milik para pembesar muslim yang terhormat." Lalu di sebuah sudut aku bertemu sebuah istana. Di atasnya kulihat nama "Said". Aku penasaran. Kuperhatikan lebih teliti, dan seakan-akan kulihat wajahku sendiri di atasnya. Dari sangat takjubnya aku berteriak, akalku kembali ke kepalaku, aku pun terjaga.

Nah, akan kutafsirkan kejadian khayali itu untukmu. Semoga Allah جل جلاله menjadikannya kebaikan.

Nah, kota itu adalah kehidupan sosial manusia dan kota peradaban insani. Setiap istana itu adalah seorang manusia. Adapun penghuni istana itu adalah perangkat-perangkat halus batin pada manusia seperti mata, telinga, hati, sir, ruh, akal, serta hal-hal seperti nafsu, hawa, daya syahwat, dan daya amarah. Pada setiap manusia, setiap perangkat halus batin punya tugas ibadahnya masing-masing. Masing-masing punya kelezatan dan deritanya sendiri. Nafsu dan hawa, daya syahwat dan amarah, berkedudukan sebagai seorang penjaga pintu dan seekor anjing. Nah, menundukkan perangkat-perangkat halus batin yang tinggi itu kepada nafsu dan hawa, lalu membuatnya melupakan tugas aslinya, sudah pasti sebuah kejatuhan, bukan kemajuan. Sisi-sisi lainnya bisa kamu tafsirkan sendiri.

Nukte Ketiga:

Manusia, dari sisi perbuatan dan amal serta dari sisi usaha jasmani, adalah seekor hewan yang lemah, sebuah makhluk yang tak berdaya. Lingkaran kekuasaan dan kepemilikannya dari sisi itu begitu sempit, sampai-sampai ia hanya bisa menjangkau sejauh tangannya terulur. Bahkan hewan-hewan jinak yang menyerahkan kendalinya ke tangan manusia pun telah mengambil bagian dari kelemahan, ketidakberdayaan, dan kemalasan manusia; sehingga ketika dibandingkan dengan padanannya yang liar, tampak perbedaan yang besar (seperti kambing dan sapi jinak dibanding kambing dan sapi liar). Tapi manusia itu, dari sisi kepasifan, penerimaan, doa, dan permohonan, adalah seorang musafir mulia di penginapan dunia ini. Dan ia menjadi tamu seorang Yang Mahamulia (Zât-ı Kerim) sedemikian rupa, sampai Dia membukakan untuknya khazanah-khazanah rahmat yang tak terhingga. Dan Dia menundukkan untuknya karya-karya menakjubkan yang tak terhitung serta para pelayan-Nya. Dan Dia telah membuka serta menyiapkan untuk tamu itu — untuk rekreasi, tontonan, dan manfaatnya — sebuah lingkaran yang begitu besar, sampai-sampai jari-jari lingkaran itu (yakni dari pusat sampai garis lingkarnya) seluas dan sepanjang yang bisa dijangkau mata, bahkan sejauh yang bisa dicapai khayal.

Nah, kalau manusia bersandar pada keakuannya, menjadikan kehidupan dunia sebagai tujuan angan-angan, lalu bekerja demi sebagian kenikmatan sementara di tengah derita mencari nafkah; maka ia tenggelam dan lenyap di dalam sebuah lingkaran yang sangat sempit. Semua perangkat, alat, dan perangkat halus batin yang diberikan kepadanya akan mengadu tentang dirinya, lalu di Mahsyar akan bersaksi melawannya dan menjadi penuntutnya. Tapi kalau ia tahu dirinya seorang tamu, lalu menghabiskan modal umurnya dalam lingkaran izin Dzat Yang Mahamulia tempatnya bertamu; maka di dalam sebuah lingkaran yang begitu luas ia bekerja dengan indah untuk sebuah kehidupan abadi yang panjang, lalu bernapas dan beristirahat. Sesudah itu ia bisa naik sampai ke a'la illiyyin. Dan semua perangkat serta alat yang diberikan kepada manusia ini pun akan merasa senang dengannya, lalu di akhirat bersaksi untuk keuntungannya.

Ya, semua perangkat menakjubkan yang diberikan kepada manusia bukanlah untuk kehidupan dunia yang tak penting ini; melainkan untuk sebuah kehidupan kekal yang sangat penting. Sebab kalau kita bandingkan manusia dengan hewan, kita melihat bahwa: manusia, dari sisi perangkat dan alat, sangat kaya. Ia seratus derajat lebih banyak daripada hewan. Namun dalam kelezatan kehidupan dunia dan dalam cara hidup hewani, ia jatuh seratus derajat lebih rendah. Sebab pada setiap kelezatan yang ia rasakan, ada bekas sebuah derita. Derita masa lalu, ketakutan masa depan, dan derita lenyapnya setiap kelezatan, merusak kenikmatannya dan meninggalkan bekas pada kelezatannya. Tapi hewan tidak begitu. Ia mengambil kelezatan tanpa derita, menikmati tanpa kesedihan. Derita masa lalu tak menyakitinya, ketakutan masa depan tak menakutinya. Ia hidup dengan tenang, tidur, lalu bersyukur kepada Khalik-nya.

Artinya, manusia yang diciptakan dalam rupa ahsan taqwim, kalau ia memusatkan pikirannya hanya pada kehidupan dunia; padahal ia seratus derajat lebih tinggi daripada hewan dari sisi modal, ia justru jatuh seratus derajat lebih rendah daripada seekor hewan seperti burung pipit. Di tempat lain aku sudah menjelaskan hakikat ini dengan sebuah perumpamaan. Karena ada kesesuaian (munasabah), aku ulangi lagi perumpamaan itu. Begini:

Seseorang memberi seorang pelayannya sepuluh keping emas* dan memerintahkan, "Jahitkan satu setel pakaian dari kain yang khusus ini." Kepada pelayan kedua ia memberi seribu keping emas, lalu menaruh sebuah kertas catatan berisi beberapa hal di saku pelayan itu, dan mengirimnya ke sebuah pasar. Pelayan pertama, dengan sepuluh keping emas, membeli sebuah pakaian yang sempurna dari kain terbaik. Pelayan kedua bertindak bodoh; ia melihat pelayan pertama, lalu tanpa membaca kertas catatan yang ditaruh di sakunya, ia memberi seorang pemilik toko seribu keping emas untuk meminta satu setel pakaian. Pemilik toko yang tak punya rasa keadilan pun memberinya satu setel pakaian dari kain yang paling buruk. Pelayan malang itu datang ke hadapan tuannya, lalu menerima teguran keras dan menanggung azab yang dahsyat. Nah, orang yang punya sedikit saja kesadaran akan paham bahwa seribu keping emas yang diberikan kepada pelayan kedua itu bukan untuk membeli satu setel pakaian; melainkan untuk sebuah perdagangan yang penting.

Persis seperti itu: perangkat maknawi dan kelembutan-kelembutan insani pada manusia, yang masing-masing seratus derajat lebih berkembang dibanding hewan. Misalnya; mata manusia yang membedakan semua tingkat keindahan, indra pengecap lidah manusia yang membedakan semua macam cita rasa makanan yang khas, akal manusia yang menembus semua seluk-beluk hakikat, dan hati manusia yang merindukan semua jenis kesempurnaan — beserta perangkat serta alat lainnya, mana ada padanannya? Di mana alat-alat hewan yang sangat sederhana, yang hanya berkembang satu-dua tingkat? Hanya ada sekian perbedaan bahwa: hewan berkembang lebih dalam pada sebuah amal khusus baginya (sebuah perangkat khusus yang hanya ada pada hewan itu). Tapi perkembangan itu bersifat khusus.

Kekayaan manusia dari sisi perangkat lahir dari rahasia ini: Karena akal dan pikir, indra serta perasaan manusia memperoleh perkembangan dan keluasan yang lebih. Dan karena banyaknya kebutuhan, muncullah bermacam-macam perasaan. Dan kepekaannya menjadi sangat beragam. Dan karena kelengkapan fitrahnya, ia menjadi sumber bagi keinginan yang mengarah pada sangat banyak maksud. Dan karena ia punya sangat banyak tugas fitri, perangkat serta alatnya memperoleh keluasan yang lebih. Dan karena ia diciptakan dalam fitrah yang siap bagi semua jenis ibadah, ia diberi sebuah potensi yang menghimpun benih-benih semua kesempurnaan. Nah, kekayaan perangkat dan besarnya modal seperti ini sudah pasti tidak diberikan untuk memperoleh kehidupan dunia yang tak penting dan sementara ini. Melainkan tugas asli manusia seperti ini adalah: menjalankan tugas-tugasnya yang mengarah pada maksud-maksud tak terhingga, lalu mengumumkan kelemahan, kefakiran, dan kekurangannya dalam bentuk ibadah; dan dengan pandangan menyeluruh menyaksikan tasbih semua makhluk lalu bersaksi atasnya; dan melihat pertolongan Ar-Rahmani di tengah nikmat-nikmat lalu bersyukur; dan menyaksikan mukjizat kekuasaan Rabbani pada karya-karya-Nya lalu bertafakur dengan pandangan penuh ibrah.

Wahai manusia penyembah dunia, yang mencintai kehidupan dunia dan lalai dari rahasia ahsan taqwim! Hakikat kehidupan dunia ini pernah dilihat oleh Said Lama (Eski Said) dalam sebuah kejadian khayali. Dengarkanlah perumpamaan yang telah mengubahnya menjadi Said Baru (Yeni Said) itu:

Kulihat, aku seorang musafir. Aku pergi ke sebuah jalan yang panjang. Yakni, aku sedang dikirim. Sang tuanku memberiku, sedikit demi sedikit, sebagian uang dari enam puluh keping emas yang Dia khususkan untukku. Aku pun membelanjakannya, lalu tiba di sebuah penginapan yang sangat menghibur. Di penginapan itu, dalam satu malam, kuhabiskan sepuluh keping emas untuk judi dan sejenisnya, untuk hiburan, dan untuk jalan mengejar ketenaran. Pagi harinya, tak ada uang tersisa di tanganku. Aku tak melakukan perdagangan apa pun. Aku tak membeli barang untuk tempat yang akan kutuju. Yang tersisa di tanganku dari uang itu hanyalah derita, dosa, serta luka, memar, dan kesedihan yang datang dari hiburan-hiburan itu. Tiba-tiba, ketika aku dalam keadaan sedih itu, muncullah seorang lelaki di sana. Ia berkata kepadaku: "Kamu telah menyia-nyiakan seluruh modalmu. Kamu pun layak menerima tamparan. Kamu akan pergi ke tempat tujuanmu sebagai orang bangkrut dengan tangan kosong. Tapi kalau kamu berakal, pintu tobat terbuka. Setelah ini, dari lima belas keping emas yang tersisa yang akan diberikan kepadamu, setiap kali sebagian sampai ke tanganmu, simpanlah separuhnya sebagai cadangan. Yakni, belilah beberapa hal yang akan kamu perlukan di tempat tujuanmu." Kulihat nafsuku tak mau. "Sepertiganya," katanya. Nafsuku pun tak menaatinya. Lalu "Seperempatnya," katanya. Kulihat nafsuku tak bisa meninggalkan kebiasaan yang membelenggunya. Lelaki itu pun memalingkan wajahnya dengan marah, lalu pergi.

Tiba-tiba keadaan itu berubah. Kulihat, aku berada di dalam sebuah kereta api yang melaju dengan kecepatan seakan terjun di dalam terowongan. Aku panik. Tapi apa daya, tak bisa lari ke mana pun. Anehnya, di kedua sisi kereta api itu tampak bunga-bunga yang sangat memikat dan buah-buah yang lezat. Aku pun, seperti orang awam yang tak berakal, memandangnya lalu mengulurkan tanganku. Aku berusaha memetik bunga-bunga itu dan mengambil buah-buah itu. Tapi bunga dan buah itu berduri; saat kusentuh, ia menusuk tanganku dan membuatnya berdarah. Dengan melajunya kereta, karena perpisahan darinya, ia mencabik-cabik tanganku, dan menjadi sangat mahal bagiku. Tiba-tiba seorang petugas di kereta berkata: "Beri lima kurus, akan kuberi kamu bunga dan buah itu sebanyak kamu mau. Alih-alih lima kurus, kamu malah rugi seratus kurus karena tanganmu tercabik. Lagipula ada hukumannya, kamu tak boleh memetik tanpa izin." Tiba-tiba, karena tak tahan, kujulurkan kepalaku ke depan untuk melihat kapan terowongan berakhir. Kulihat, di tempat pintu terowongan justru tampak banyak lubang. Dari kereta api yang panjang itu, orang-orang dilemparkan ke lubang-lubang itu. Kulihat sebuah lubang tepat di hadapanku. Di kedua sisinya berdiri dua batu nisan. Dengan penasaran aku memperhatikan. Kulihat di batu nisan itu tertulis nama "Said" dengan huruf-huruf besar. Dari sesal dan herannya aku berkata "Aduh!" Tiba-tiba kudengar suara lelaki yang menasihatiku di pintu penginapan tadi. Ia berkata: "Sudah sadarkah akalmu?" Kataku: "Ya, sudah, tapi tak ada kekuatan tersisa, tak ada jalan." Ia berkata: "Bertobatlah, bertawakallah." Kataku: "Sudah kulakukan!" Aku pun terjaga... Said Lama telah lenyap. Kulihat diriku sebagai Said Baru.

Nah, kejadian khayali itu — semoga Allah جل جلاله menjadikannya kebaikan — satu-dua bagiannya akan kutafsirkan, sisi-sisi lainnya tafsirkan sendiri.

Perjalanan itu adalah sebuah perjalanan dari alam arwah, dari rahim ibu, dari masa muda, dari masa tua, dari kubur, dari alam barzakh, dari Mahsyar, melewati jembatan (sirat), menuju sisi keabadian yang kekal. Enam puluh keping emas itu adalah umur enam puluh tahun; sebab ketika aku melihat kejadian ini, aku memperkirakan diriku berusia empat puluh lima tahun. Aku tak punya sanad, tapi seorang murid tulus Al-Qur'an al-Hakîm membimbingku untuk membelanjakan separuh dari lima belas yang tersisa untuk akhirat. Penginapan itu, bagiku, ternyata Istanbul. Kereta api itu adalah zaman. Setiap tahun adalah satu gerbong. Terowongan itu adalah kehidupan dunia. Bunga dan buah berduri itu adalah kelezatan-kelezatan yang tidak halal dan hiburan-hiburan yang haram; yang pada saat perjumpaan, derita dalam bayangan kelenyapannya membuat hati berdarah, dan pada saat perpisahannya mencabik-cabik hati, serta membuat orang menanggung hukuman. Petugas kereta tadi berkata: "Beri lima kurus, akan kuberi kamu sebanyak kamu mau dari bunga dan buah itu." Tafsirnya begini: kesenangan dan kelezatan yang dilihat manusia lewat usaha halalnya dalam lingkaran yang sah sudah cukup bagi keinginannya. Ia tak menyisakan kebutuhan untuk masuk ke yang haram. Bagian-bagian lainnya bisa kamu tafsirkan sendiri...

* keping emas & kurus: satuan mata uang zaman Utsmani (emas = mata uang besar; kurus = pecahan kecilnya).

Nukte Keempat:

Manusia di dalam alam semesta ini menyerupai seorang anak yang sangat halus dan manja. Di dalam kelemahannya ada sebuah kekuatan besar, dan di dalam ketidakberdayaannya ada sebuah kekuasaan besar. Sebab justru dengan kekuatan kelemahan itu dan kekuasaan ketidakberdayaan itulah makhluk-makhluk ini ditundukkan kepadanya. Kalau manusia memahami kelemahannya, lalu berdoa — dengan lisan, dengan keadaan, dengan sikap — dan mengetahui ketidakberdayaannya lalu memohon pertolongan; maka bersama menunaikan syukur atas penundukan itu, ia begitu berhasil meraih tujuannya, dan maksud-maksudnya begitu tunduk kepadanya, sampai-sampai dengan kekuatan dirinya sendiri ia tak akan mampu meraih sepersepuluh dari sepersepuluhnya. Hanya saja, kadang sebuah tujuan yang ia peroleh lewat doa lisan keadaan, keliru ia sandarkan pada kekuatannya sendiri. Misalnya: kekuatan di dalam kelemahan anak ayam membuat induk ayam menyerang singa. Anak singa yang baru lahir menundukkan singa yang buas dan lapar itu kepada dirinya, membuatnya lapar sementara dirinya sendiri kenyang. Nah, inilah yang patut diperhatikan: sebuah kekuatan di dalam kelemahan, dan sebuah kilauan rahmat yang patut ditonton...

Seperti halnya seorang anak manja, dengan tangisnya, atau permintaannya, atau keadaannya yang mengharukan, begitu berhasil meraih maksud-maksudnya, dan orang-orang kuat begitu tunduk kepadanya, sampai-sampai dengan kekuatan kecilnya ia tak akan mampu meraih satu pun dari seribu maksud itu meski dengan seribu kali usahanya. Artinya, karena kelemahan dan ketidakberdayaan membangkitkan kasih serta perlindungan terhadapnya, maka dengan jari mungilnya ia menundukkan para pahlawan kepada dirinya. Nah, kalau anak seperti itu mengingkari kasih itu dan menuduh perlindungan itu, lalu dengan sebuah kesombongan yang bodoh berkata "Aku menundukkan mereka dengan kekuatanku," sudah pasti ia akan menerima sebuah tamparan.

Nah, manusia pun — dengan cara mengingkari rahmat Khalik-nya dan menuduh hikmah-Nya, dalam bentuk kekufuran nikmat, seperti Karun — kalau ia berkata اِنَّمَٓا اُوت۪يتُهُ عَلٰى عِلْمٍ, yakni: "Aku memperolehnya dengan ilmuku sendiri, dengan kemampuanku sendiri," sudah pasti ia menjadikan dirinya layak menerima tamparan azab. Artinya, kerajaan kemanusiaan yang tampak ini, kemajuan manusia, dan kesempurnaan peradaban ini — bukan diraih dengan menarik, bukan dengan menang, bukan dengan bertengkar, melainkan ia ditundukkan untuknya karena kelemahannya, ia ditolong karena ketidakberdayaannya, ia diberi karunia karena kefakirannya, ia diberi ilham karena kejahilannya, ia diberi kemuliaan karena kebutuhannya. Dan sebab kerajaan itu bukanlah kekuatan dan kemampuan ilmiah, melainkan kasih dan lembutnya Rabbani serta rahmat dan hikmah Ilahi yang menundukkan segala sesuatu kepadanya. Ya, manusia yang dikalahkan oleh serangga seperti kalajengking tak bermata dan ular tak berkaki, dipakaikan sutra oleh seekor ulat kecil dan disuapi madu oleh seekor serangga berbisa; itu bukan kemampuannya, melainkan buah dari kelemahannya — sebuah penundukan Rabbani dan pemuliaan Ar-Rahmani.

Wahai manusia! Karena hakikatnya begini; tinggalkan kesombongan dan keakuan. Di hadirat uluhiyah, umumkanlah ketidakberdayaan dan kelemahanmu dengan lisan permohonan pertolongan; kefakiran dan kebutuhanmu dengan lisan kerendahan dan doa; dan tunjukkanlah bahwa kamu seorang hamba. Dan ucapkanlah حَسْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَك۪يلُ, lalu naiklah.

Dan janganlah berkata: "Aku bukan apa-apa; apa pentingnya aku sampai alam semesta ini ditundukkan kepadaku secara sengaja oleh seorang Al-Hakîm-i Mutlak (Yang Mahabijaksana secara mutlak), dan sebuah syukur menyeluruh diminta dariku?"

Sebab kamu, dari sisi nafsu dan rupamu, memang berkedudukan bagai bukan apa-apa. Tapi dari sisi tugas dan derajat, kamu berkedudukan sebagai seorang penonton yang teliti dari alam semesta yang megah ini, seorang lisan penutur yang fasih dari makhluk-makhluk yang penuh hikmah ini, seorang pengkaji yang cerdas dari kitab alam ini, seorang pengamat yang penuh kagum dari makhluk-makhluk yang bertasbih ini, dan seorang kepala pekerja yang terhormat dari karya-karya yang beribadah ini.

Ya, wahai manusia! Kamu, dari sisi jasmani nabatimu dan dari sisi nafsu hewanimu; adalah sebuah bagian yang kecil, sebuah bagian yang hina, sebuah makhluk yang fakir, seekor hewan yang lemah, yang terombang-ambing di antara gelombang seluruh makhluk mengalir yang dahsyat ini. Tapi dengan tarbiah keislaman yang tersempurnakan oleh cahaya iman — yang mengandung sinar cinta Ilahi — dari sisi kemanusiaan, kamu adalah seorang sultan di dalam kehambaan, sebuah yang menyeluruh di dalam kekecilan, sebuah alam di dalam kemungilan; dan di dalam kehinaan, kamu seorang pengawas yang kedudukannya besar dan lingkaran pengawasannya luas, sampai-sampai kamu bisa berkata: "Rabb-ı Rahîm-ku (Rabbku Yang Maha Penyayang) menjadikan dunia sebuah rumah bagiku. Bulan dan matahari, Dia jadikan lampu di rumahku; musim semi, seikat bunga; musim panas, sebuah hidangan nikmat; dan hewan, Dia jadikan pelayanku. Dan tumbuh-tumbuhan, Dia jadikan perlengkapan berhias rumahku."

Kesimpulan pembicaraan: Kalau kamu mendengarkan nafsu dan setan, kamu jatuh ke asfala safilin. Kalau kamu mendengarkan Kebenaran dan Al-Qur'an, kamu naik ke a'la illiyyin, lalu menjadi sebuah kalender indah alam semesta.

Nukte Kelima:

Manusia dikirim ke dunia ini sebagai seorang pegawai dan tamu; potensi yang sangat penting diberikan kepadanya. Dan sesuai potensi itu, tugas-tugas yang penting dititipkan kepadanya. Dan untuk membuat manusia bekerja demi tujuan serta tugas-tugas itu, dilakukanlah dorongan yang kuat dan ancaman yang dahsyat. Dasar-dasar tugas kemanusiaan dan ibadah yang sudah kami jelaskan di tempat lain, di sini akan kami ringkas. Supaya rahasia "ahsan taqwim" dapat dipahami.

Nah, manusia, setelah datang ke alam semesta ini, punya ibadah "dengan dua sisi": Sisi pertama; sebuah ibadah dan tafakur secara gaib (tanpa berhadapan). Yang lain; sebuah ibadah dan munajat dalam bentuk berhadapan, dalam bentuk percakapan langsung.

Sisi pertama begini: membenarkan dengan patuh kerajaan rububiyah yang tampak di alam semesta, lalu menatapnya dengan penuh kagum ke arah kesempurnaan dan keindahan-Nya.

Lalu, menunjukkan karya-karya seni menakjubkan — yang merupakan ukiran nama-nama suci Ilahi — kepada pandangan ibrah satu sama lain; ini semacam menjadi penyeru dan pengumum.

Lalu, menimbang dengan neraca akal permata nama-nama Rabbani — yang masing-masing berkedudukan sebagai sebuah khazanah maknawi tersembunyi — lalu memberinya nilai dengan penuh penghargaan lewat kemampuan hati dalam menilai.

Lalu, mengkaji lembar-lembar makhluk — yang berkedudukan sebagai surat-surat pena kekuasaan — beserta lembaran bumi dan langit, lalu bertafakur dengan penuh kagum.

Lalu, menonton dengan penuh apresiasi hiasan dan karya-karya halus pada makhluk-makhluk ini, lalu mencintai makrifat Al-Fâtır-ı Zülcemâl-nya (Sang Pencipta Pemilik Keindahan); dan sebuah kerinduan untuk keluar ke hadirat As-Sâni'-i Zülkemâl-nya (Sang Seniman Pemilik Kesempurnaan) dan meraih perhatian-Nya.

Sisi Kedua adalah maqam kehadiran dan sapaan; ia berpindah dari karya ke Sang Pembuat karya, lalu melihat bahwa: seorang As-Sâni'-i Zülcelâl (Sang Seniman Pemilik Keagungan) ingin mengenalkan dan memperkenalkan diri-Nya lewat mukjizat-mukjizat seni-Nya. Ia pun menyambutnya dengan iman dan makrifat.

Lalu ia melihat bahwa: seorang Rabb-ı Rahîm (Rabb Yang Maha Penyayang) ingin membuat diri-Nya dicintai lewat buah-buah rahmat-Nya yang indah. Ia pun membuat dirinya dicintai oleh-Nya dengan memusatkan cinta dan mengkhususkan ibadah kepada-Nya.

Lalu ia melihat bahwa: seorang Al-Mün'im-i Kerim (Sang Pemberi Nikmat Yang Mahamulia) memelihara dirinya dengan nikmat-nikmat lezat, lahir maupun batin. Ia pun menyambutnya; dengan perbuatan, dengan keadaan, dengan ucapan, bahkan kalau mampu dengan semua indra serta perangkatnya, ia bersyukur dan memuji.

Lalu ia melihat bahwa: seorang Al-Celil-i Cemil (Yang Mahaagung lagi Mahaindah) menampakkan kebesaran, kesempurnaan, keagungan, dan keindahan-Nya di cermin-cermin makhluk ini, lalu menarik perhatian. Ia pun menyambutnya: dengan berkata "Allahu Akbar, Subhanallah," lalu bersujud di dalam kerendahan diri, dengan kagum dan cinta.

Lalu ia melihat bahwa: seorang Ganiyy-i Mutlak (Yang Mahakaya secara mutlak) menunjukkan kekayaan serta khazanah-khazanah-Nya yang tak terhingga di dalam sebuah kemurahan yang mutlak. Ia pun menyambutnya; di dalam pengagungan dan pujian, dengan penuh rasa butuh, ia memohon dan meminta.

Lalu ia melihat bahwa: Al-Fâtır-ı Zülcelâl (Sang Pencipta Pemilik Keagungan) itu menjadikan muka bumi bagai sebuah pameran. Dia memamerkan semua karya seni antik-Nya di sana. Ia pun menyambutnya: dengan berkata "Mâsyâallah" sebagai penghargaan, "Bârakallah" sebagai pujian, "Subhanallah" sebagai kekaguman, dan "Allahu Akbar" sebagai apresiasi.

Lalu ia melihat bahwa: seorang Al-Vâhid-i Ehad (Yang Maha Esa lagi Mahatunggal) menaruh cap keesaan pada semua makhluk di istana alam semesta ini — dengan segel-segel yang tak bisa ditiru, dengan stempel-stempel yang khas milik-Nya, dengan tanda-tanda yang hanya milik-Nya, dengan titah-titah yang khusus milik-Nya — lalu mengukir ayat-ayat tauhid. Dan Dia menancapkan bendera keesaan di penjuru-penjuru ufuk alam, lalu mengumumkan rububiyah-Nya. Ia pun menyambutnya; dengan pembenaran, dengan iman, dengan tauhid, dengan keyakinan, dengan kesaksian, dan dengan ibadah.

Nah, dengan ibadah dan tafakur semacam inilah manusia menjadi manusia yang hakiki, lalu menunjukkan bahwa ia berada dalam ahsan taqwim. Dengan berkah iman, ia menjadi seorang khalifah bumi yang tepercaya, layak mengemban amanah.

Wahai manusia lalai yang diciptakan dalam ahsan taqwim, namun karena pilihan buruknya pergi ke arah asfala safilin! Dengarkan aku. Aku pun, sepertimu, dahulu dengan mabuk masa muda dalam kelalaian melihat dunia sebagai sesuatu yang indah dan menyenangkan; tapi pada saat aku tersadar dari mabuk masa muda di pagi hari ketuaan, betapa aku melihat wajah dunia — yang dahulu kusangka indah namun tak menghadap ke akhirat — sebagai buruk, dan betapa indahnya wajah hakiki dunia yang menghadap ke akhirat. Lihatlah dua lauhah (lukisan gambaran) hakikat yang tertulis pada Kedudukan Kedua dari Kalimat Ketujuh Belas (Onyedinci Söz), dan kamu pun lihatlah:

Lauhah Pertama: Menggambarkan hakikat dunia ahli kelalaian yang dahulu kulihat lewat tabir kelalaian — seperti ahli kesesatan, namun tanpa mabuk.

Lauhah Kedua: Mengisyaratkan hakikat dunia ahli hidayah dan ahli kehadiran (huzur). Dahulu ditulis dalam bentuk apa, kubiarkan dalam bentuk itu. Menyerupai syair, tapi keduanya bukan syair.

سُبْحَانَكَ لاَ عِلْمَ لَنَٓا اِلاَّ مَا عَلَّمْتَنَٓا اِنَّكَ اَنْتَ الْعَل۪يمُ الْحَك۪يمُ

رَبِّ اشْرَحْ ل۪ى صَدْر۪ى ❊ وَيَسِّرْ ل۪ٓى اَمْر۪ى ❊ وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَان۪ى ❊ يَفْقَهُوا قَوْل۪ى

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى الذَّاتِ الْمُحَمَّدِيَّةِ اللَّط۪يفَةِ اْلاَحَدِيَّةِ شَمْسِ سَمَٓاءِ اْلاَسْرَارِ وَ مَظْهَرِ اْلاَنْوَارِ وَ مَرْكَزِ مَدَارِ الْجَلاَلِ وَ قُطْبِ فَلَكِ الْجَمَالِ اَللّٰهُمَّ بِسِرِّه۪ لَدَيْكَ وَ بِسَيْرِه۪ٓ اِلَيْكَ اٰمِنْ خَوْف۪ى وَ اَقِلْ عُثْرَت۪ى وَ اَذْهِبْ حُزْن۪ى وَ حِرْص۪ى وَ كُنْ ل۪ى وَ خُذْن۪ٓى اِلَيْكَ مِنّ۪ى وَ ارْزُقْنِى الْفَنَٓاءَ عَنّ۪ى وَ لاَ تَجْعَلْن۪ى مَفْتُونًا بِنَفْس۪ى مَحْجُوبًا بِحِسّ۪ى وَاكْشِفْ ل۪ى عَنْ كُلِّ سِرٍّ مَكْتُومٍ يَا حَىُّ يَا قَيُّومُ يَا حَىُّ يَا قَيُّومُ يَا حَىُّ يَا قَيُّومُ ❊ وَ ارْحَمْن۪ى وَارْحَمْ رُفَقَٓائ۪ى وَ ارْحَمْ اَهْلِ اْلا۪يمَانِ وَ الْقُرْاٰنِ اٰم۪ينَ يَٓا اَرْحَمَ الرَّاحِم۪ينَ وَ يَٓا اَكْرَمَ اْلاَكْرَم۪ينَ ❊

وَ اٰخِرُ دَعْوٰيهُمْ اَنِ الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَم۪ينَ