Hakikat Kesembilan:
Al-Kalimat · hlm. 80
Pintu penghidupan dan pematian. Ia adalah manifestasi nama "Hayy" dan "Qayyûm", "Muhyî" dan "Mumît".
Mungkinkah sama sekali: seorang Qadîr Yang Rahîm, seorang 'Alîm Yang Hakîm — yang menghidupkan bumi besar yang telah mati dan kering; yang di dalam penghidupan itu menghimpun dan menyebarkan lebih dari tiga ratus ribu jenis makhluk, masing-masingnya menakjubkan laksana kebangkitan manusia, dan dengan itu memperlihatkan kudrat-Nya; yang di dalam penghimpunan dan penyebaran itu, di tengah kekacauan dan percampuran pada derajat tertinggi, memperlihatkan liputan ilmu-Nya dengan pembedaan dan pemisahan pada derajat tertinggi; yang dengan seluruh firman samawi-Nya menjanjikan kebangkitan manusia dan mengarahkan pandangan seluruh hamba-Nya kepada kebahagiaan abadi; yang memperlihatkan keagungan rububiyah-Nya dengan menjadikan seluruh makhluk saling membantu dan saling ditundukkan — kepala bertemu kepala, bahu-membahu, bergandengan tangan — berputar di dalam lingkaran perintah dan iradah-Nya; dan yang memperlihatkan betapa pentingnya manusia bagi-Nya dengan menciptakannya sebagai buah pohon alam yang paling menghimpun, paling halus, paling lembut-jelita, paling dimanjakan, dan paling penuh permohonan, lalu menjadikannya lawan bicara bagi diri-Nya dan menundukkan segala sesuatu baginya — tidak mendatangkan kiamat? Tidak melakukan kebangkitan dan tidak mampu melakukannya? Tidak menghidupkan manusia atau tidak mampu menghidupkannya? Tidak mampu membuka Mahkamah Kubrâ? Tidak mampu menciptakan Surga dan Jahannam? Hâsyâ wa kallâ!..
Ya, Sang Pengatur alam ini Yang Mulia, pada setiap abad, setiap tahun, setiap hari, menciptakan di muka bumi yang sempit dan sementara ini banyak sekali padanan, contoh, dan isyarat kebangkitan terbesar dan medan kiamat. Di antaranya:
Pada kebangkitan musim semi kita melihat: dalam lima-enam hari, Dia menghimpun dan menyebarkan lebih dari tiga ratus ribu jenis dari hewan-hewan dan tumbuh-tumbuhan, kecil maupun besar. Akar-akar seluruh pohon dan rerumputan serta sebagian hewan Dia hidupkan dan kembalikan secara persis sama. Yang lainnya Dia ciptakan dalam bentuk keserupaan yang mendekati derajat kesamaan. Padahal benih-benih yang secara materi nyaris tak berbeda itu telah sedemikian bercampur; namun semuanya dihidupkan dengan pembedaan dan pengenalan yang sempurna, dalam kecepatan, keluasan, dan kemudahan yang sedemikian rupa, dengan keteraturan dan timbangan yang sempurna, dalam enam hari atau enam pekan. Mungkinkah sama sekali ada sesuatu yang berat bagi Zat yang melakukan pekerjaan-pekerjaan ini — hingga Dia tak mampu menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, tak mampu membangkitkan manusia dengan satu pekikan? Hâsyâ!
Gerangan, seandainya ada seorang penulis pembuat keajaiban yang dalam satu jam menuliskan pada satu halaman — tanpa tercampur, tanpa galat, tanpa silap, tanpa kurang, semuanya sekaligus, dalam bentuk yang amat indah — tiga ratus ribu kitab yang huruf-hurufnya telah rusak atau musnah; lalu seseorang berkata kepadamu: "Penulis ini akan menuliskan kembali dari ingatannya, dalam satu menit, kitabmu yang jatuh ke air — kitab yang dahulu ia sendiri karang." Dapatkah engkau berkata: "Ia tak mampu, dan aku tak percaya"?
Atau seorang sultan pembuat mukjizat, demi memperlihatkan kekuasaannya atau demi ibrah dan tamasya, dengan satu isyarat mengangkat gunung-gunung, mengganti negeri-negeri, mengubah laut menjadi daratan — dan engkau menyaksikannya. Kemudian engkau melihat sebuah batu besar menggelinding ke lembah, memutus jalan para tamu yang ia undang ke jamuannya; mereka tak dapat lewat. Seseorang berkata kepadamu: "Zat itu, dengan satu isyarat, akan mengangkat atau menghancurkan batu itu, sebesar apa pun. Ia tidak akan membiarkan tamu-tamunya tertahan di jalan." Lalu engkau berkata: "Ia tidak akan mengangkatnya, atau tak mampu mengangkatnya"?
Atau seseorang yang dalam satu hari membentuk kembali sebuah pasukan besar; lalu dikatakan: "Zat itu, dengan satu suara terompet, akan mengumpulkan batalyon-batalyon yang prajurit-prajuritnya telah bubar untuk beristirahat. Batalyon-batalyon itu kembali masuk ke dalam tatanannya." Lalu engkau berkata: "Aku tak percaya!" — engkau pun memahami betapa gilanya tindakanmu...
Jika engkau telah memahami ketiga tamsil ini, lihatlah: Sang Pengukir Azali, di depan mata kita, membalik halaman putih musim dingin, membuka lembar hijau musim semi dan musim panas, lalu menuliskan lebih dari tiga ratus ribu jenis makhluk pada halaman muka bumi dengan pena kudrat dan takdir dalam bentuk yang paling indah. Satu tidak bercampur dengan yang lain; Dia menulis semuanya bersama-sama, tanpa saling menghalangi. Dari segi pembentukan dan bentuk, satu berbeda dari yang lain; Dia sama sekali tidak keliru, tidak salah menulis. Ya, dapatkah dikatakan: Sang Dzât Hakîm Hafîzh — yang menyisipkan dan menjaga program ruh pohon terbesar di dalam biji terkecil laksana sebuah titik — bagaimana mungkin menjaga ruh-ruh orang yang wafat? Dapatkah dikatakan: Sang Dzât Qadîr — yang memutar bola bumi laksana batu umban — bagaimana mungkin mengangkat atau menyingkirkan bumi ini dari jalan para tamu-Nya yang menuju akhirat? Dapatkah dikatakan: Sang Dzât Dzul-Jalâl — yang dari ketiadaan, secara baru, mendaftarkan dan menempatkan zarah-zarah dengan keteraturan sempurna melalui perintah كُنْ فَيَكُونُ ke dalam batalyon-batalyon seluruh jasad makhluk hidup, dan menciptakan pasukan-pasukan — bagaimana mungkin mengumpulkan dengan satu pekikan zarah-zarah dasar dan bagian-bagian asli yang telah saling mengenal karena pernah masuk ke dalam tatanan jasad yang laksana batalyon itu?
Lagi pula, engkau melihat dengan matamu sendiri betapa banyak ukiran yang menjadi contoh, misal, dan tanda kebangkitan — yang menyerupai kebangkitan musim semi ini — Dia buat pada setiap kurun dunia, pada setiap abadnya, bahkan pada pergantian malam dan siang, bahkan pada penciptaan dan peniadaan awan-awan di angkasa. Bahkan jika secara khayal engkau andaikan dirimu berada seribu tahun yang lalu, lalu engkau perhadapkan kedua sayap zaman — masa lalu dan masa depan — satu sama lain; engkau akan melihat misal-misal kebangkitan dan contoh-contoh kiamat sebanyak abad-abad, sebanyak hari-hari. Kemudian, jika setelah menyaksikan contoh dan misal sebanyak ini engkau masih memandang kebangkitan jasmani jauh dari akal dan mengingkarinya dengan istib'âd; engkau sendiri pun memahami betapa besar kegilaan itu. Lihatlah apa yang dikatakan Firman Teragung tentang hakikat yang kita bicarakan ini:
فَانْظُرْ اِلٰٓى اٰثَارِ رَحْمَتِ اللّٰهِ كَيْفَ يُحْيِى اْلاَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا اِنَّ ذٰلِكَ لَمُحْيِى الْمَوْتٰى وَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَد۪يرٌ
Walhasil:
Tidak ada satu pun penghalang bagi kebangkitan. Sedangkan yang menghendakinya adalah segala sesuatu. Ya, Zat yang mematikan dan menghidupkan bumi besar — mahsyar keajaiban-keajaiban ini — laksana seekor hewan biasa; yang menjadikannya buaian yang nyaman dan kapal yang indah bagi manusia dan hewan; yang menjadikan matahari lampu pemberi cahaya dan penghangat bagi mereka di penginapan ini; yang menjadikan planet-planet pesawat bagi para malaikat-Nya — rububiyah zat itu yang sedemikian megah dan sarmadi serta kekuasaan-Nya yang sedemikian agung dan meliputi, tentu tidak didirikan dan tidak berdiri hanya di atas perkara-perkara dunia yang fana, tak berkesinambungan, tak menentu, tak berarti, terus berubah, tak kekal, cacat, dan tak sempurna. Berarti ada suatu negeri lain yang pantas bagi-Nya: yang kekal, yang mantap, yang tak mengenal kelenyapan, yang megah. Dia memiliki negeri lain yang kekal. Untuk itulah Dia mempekerjakan kita. Ke sanalah Dia mengundang. Dan bahwa Dia akan memindahkan kita ke sana — bersaksi seluruh pemilik ruh-ruh yang bersinar, seluruh kutub kalbu-kalbu yang tercerahkan, seluruh empunya akal-akal yang bercahaya, yang telah melintas dari lahir menuju hakikat dan dimuliakan dengan kedekatan hadirat-Nya. Mereka mengabarkan secara sepakat bahwa Dia telah menyiapkan sebuah ganjaran dan sebuah hukuman, dan mereka menukilkan bahwa Dia berulang kali berjanji dengan amat kuat dan mengancam dengan amat keras.
Mengingkari janji adalah kehinaan sekaligus perendahan diri. Ia sama sekali tidak dapat mendekati keagungan kesucian-Nya. Sedangkan mengingkari ancaman hanya bersumber dari pemaafan atau dari ketidakmampuan. Padahal kekufuran adalah kejahatan mutlak, {(Hasyiyah): Ya, karena kekufuran menjatuhkan nilai para makhluk dan menuduh mereka tanpa makna, ia adalah penghinaan terhadap seluruh alam; karena ia pengingkaran terhadap manifestasi asma pada cermin-cermin para makhluk, ia adalah pelecehan terhadap seluruh asma Ilahi; dan karena ia penolakan terhadap kesaksian para makhluk atas wahdaniyah, ia adalah pendustaan terhadap seluruh makhluk. Karena itu ia merusak istidad manusia sedemikian rupa hingga tak tersisa kelayakannya untuk menerima kebaikan dan kesalehan. Ia juga sebuah kezaliman yang agung besarnya: pelanggaran terhadap hak-hak seluruh makhluk dan seluruh asma Ilahi. Maka terpeliharanya hak-hak ini serta ketidakmampuan diri orang kafir menerima kebaikan meniscayakan tidak dimaafkannya kekufuran. Ayat اِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظ۪يمٌ mengungkapkan makna ini.} tidak mungkin dimaafkan. Sedangkan Sang Qadîr Mutlak tersucikan dan mahakudus dari ketidakmampuan. Para saksi dan para pembawa kabar itu, meski berbeda-beda dalam jalan mereka, dalam perangai mereka, dan dalam mazhab mereka, bersepakat penuh pada asas persoalan ini. Dari segi jumlah, mereka pada derajat mutawatir; dari segi kualitas, mereka berkekuatan ijma'. Dari segi kedudukan, masing-masing adalah sebuah bintang bagi umat manusia, mata bagi suatu golongan, orang mulia bagi suatu bangsa. Dari segi kepentingan, dalam persoalan ini mereka adalah ahli spesialisasi sekaligus ahli pembuktian. Padahal dalam suatu ilmu atau seni, dua orang ahli diunggulkan atas ribuan orang lain; dan dalam pengabaran, dua orang yang menetapkan lebih diutamakan daripada ribuan orang yang menafikan. Misalnya, dua orang yang mengabarkan terbuktinya hilal Ramadhan meruntuhkan pengingkaran ribuan pengingkar.
Walhasil: di dunia tidak mungkin ada kabar yang lebih benar dari ini, dakwaan yang lebih kokoh dari ini, hakikat yang lebih nyata dari ini. Berarti, tanpa keraguan, dunia adalah sebuah ladang tanam. Mahsyar adalah tempat penumpukan panen, tempat pengirikan. Sedangkan Surga dan Jahannam adalah gudang-gudang penyimpanan.