Hakikat Keenam:
Al-Kalimat · hlm. 70
Pintu kemegahan dan kesarmadian; ia adalah manifestasi nama "Jalîl" dan "Bâqi".
Mungkinkah sama sekali: sebuah kemegahan rububiyah yang menundukkan dan mengatur seluruh makhluk — dari matahari-matahari dan pepohonan hingga zarah-zarah — laksana prajurit yang patuh perintah, hanya berdiri di atas para fana berantakan yang menjalani hidup sementara di penginapan dunia ini.. dan tidak menciptakan sebuah lingkaran kemegahan yang sarmadi lagi kekal dan sebuah tumpuan rububiyah yang abadi lagi tinggi?
Ya, pelaksanaan-pelaksanaan penuh kemegahan yang tampak di alam ini seperti pergantian musim-musim; gerakan-gerakan penuh keagungan seperti gerak planet-planet laksana pesawat terbang; penundukan-penundukan dahsyat seperti menjadikan bumi buaian bagi manusia dan matahari lampu bagi khalayak; dan perubahan-perubahan luas seperti menghidupkan dan menghiasi bola bumi yang telah mati dan kering — menunjukkan bahwa: di balik tirai ada sebuah rububiyah yang sedemikian agung; ia berkuasa dengan kerajaan yang megah. Kerajaan rububiyah semacam ini menghendaki rakyat yang layak baginya dan tempat penampakan yang pantas. Padahal engkau melihat: rakyat dan hamba-hambanya yang dari segi hakikat-diri paling menghimpun dan paling penting, berhimpun secara sementara dalam keadaan berantakan di penginapan dunia ini. Sedangkan penginapan itu setiap hari terisi dan terkosongkan. Seluruh rakyat pun berada secara sementara di medan ujian ini untuk pengujian khidmah. Sedangkan medan itu setiap saat berganti. Seluruh rakyat itu pun berhenti beberapa menit di galeri pameran ini untuk menyaksikan — dengan pandangan perniagaan — contoh-contoh anugerah Sang Shâni' Dzul-Jalâl yang berharga dan karya-karya seni-Nya yang langka di pameran-pameran pasar alam; kemudian mereka menghilang. Sedangkan tempat pameran itu setiap menit berubah. Yang pergi tidak kembali, yang datang akan pergi. Maka keadaan ini dan kondisi ini menunjukkan secara pasti bahwa: di balik penginapan ini, medan ini, dan tempat-tempat pameran ini terdapat istana-istana kekal yang akan menjadi tumpuan dan tempat penampakan kerajaan sarmadi itu, kediaman-kediaman yang langgeng, serta kebun-kebun dan khazanah-khazanah yang penuh dengan wujud asli — yang paling murni dan paling luhur — dari contoh-contoh dan salinan-salinan yang kita lihat di dunia ini. Berarti jerih payah di sini adalah demi semua itu. Ia mempekerjakan di sini, memberikan upah di sana. Sesuai dengan istidadnya — jika ia tidak menyia-nyiakannya — setiap orang memiliki suatu kebahagiaan di sana. Ya, mustahil kerajaan sarmadi semacam itu hanya berdiri di atas para fana dan orang-orang hina yang akan lenyap ini.
Pandanglah hakikat ini dengan teropong tamsil berikut: Misalnya engkau tengah berjalan di suatu jalan; engkau melihat di jalan itu ada sebuah rumah persinggahan. Seorang zat yang agung telah membangun rumah persinggahan itu bagi para tamu yang datang kepadanya. Demi tamasya dan ibrah para tamunya selama satu malam, ia membelanjakan jutaan keping emas untuk perhiasan rumah persinggahan itu. Para tamu itu pun hanya memandang sedikit sekali dari perhiasan itu dalam waktu yang singkat, mencicipi sedikit sekali dari nikmat-nikmat itu dalam waktu yang amat singkat, lalu pergi tanpa merasa kenyang. Namun setiap tamu, dengan alat potret khusus miliknya, mengambil gambar benda-benda di rumah persinggahan itu. Para pelayan zat agung itu pun mencatat dan merekam dengan amat cermat cara bermuamalah para tamu. Engkau pun melihat: zat itu setiap hari menghancurkan sebagian besar perhiasan berharga itu, lalu menciptakan perhiasan baru bagi tamu-tamu baru yang akan datang. Setelah melihat ini, masihkah tersisa keraguan padamu bahwa: zat yang membangun rumah persinggahan ini di jalan ini memiliki tempat-tempat tinggal kekal yang amat tinggi, khazanah-khazanah tak terkuras yang amat berharga, dan sebuah kedermawanan langgeng yang amat besar? Dengan pemuliaan yang diperlihatkannya di rumah persinggahan ini, ia membuka selera para tamunya kepada apa yang berada di sisinya dan membangkitkan hasrat mereka kepada hadiah-hadiah yang disiapkannya bagi mereka. Persis seperti itu pula, jika engkau memperhatikan keadaan penginapan dunia ini tanpa mabuk, engkau memahami sembilan asas berikut:
Asas Pertama:
Engkau memahami bahwa: sebagaimana rumah persinggahan itu, dunia ini pun bukan untuk dirinya sendiri. Mustahil pula ia mengambil bentuk ini dengan sendirinya. Melainkan ia adalah sebuah penginapan yang dibangun dengan hikmah, yang terisi dan terkosongkan bagi kafilah makhluk untuk datang singgah dan berangkat pergi.
Asas Kedua:
Engkau pun memahami bahwa: orang-orang yang tinggal di dalam rumah persinggahan ini adalah para tamu. Rabb mereka Yang Karîm mengundang mereka ke Dârussalâm.
Asas Ketiga:
Engkau pun memahami bahwa: perhiasan-perhiasan di dunia ini bukan semata untuk kelezatan atau tamasya. Sebab jika ia memberi kelezatan sesaat, dengan perpisahannya ia memberi penderitaan berkepanjangan. Ia mencicipkan kepadamu dan membuka seleramu, namun tidak mengenyangkanmu. Sebab entah umurnya yang pendek, entah umurmu yang pendek. Tidak cukup untuk kenyang. Berarti perhiasan yang tinggi nilainya dan singkat masanya ini adalah untuk ibrah, {(Hasyiyah-1): Ya, madem nilai segala sesuatu dan kehalusan-kehalusan seninya amat tinggi dan indah, sementara masanya singkat dan umurnya sedikit. Berarti benda-benda itu adalah contoh-contoh, berkedudukan sebagai salinan bentuk dari benda-benda yang lain. Dan madem ada keadaan yang seakan-akan mengarahkan pandangan para pembeli kepada wujud-wujud aslinya. Maka tentu dapat dikatakan — dan memang dikatakan — dan memang demikianlah: perhiasan semacam itu di dunia ini adalah contoh-contoh nikmat Surga yang disiapkan oleh Sang Rahmân Rahîm dengan rahmat-Nya bagi hamba-hamba yang dicintai-Nya.} untuk syukur, untuk dorongan kepada wujud-wujud aslinya yang kekal. Untuk tujuan-tujuan lain yang amat luhur.
Asas Keempat:
Engkau pun memahami bahwa: perhiasan-perhiasan di dunia ini {(Hasyiyah-2): Ya, wujud segala sesuatu memiliki tujuan-tujuan yang berbilang dan kehidupannya memiliki hasil-hasil yang berbilang. Tidak terbatas pada tujuan-tujuan yang menghadap dunia dan diri mereka sendiri, sebagaimana disangka dengan waham oleh ahli kesesatan — sehingga dapat jatuh ke dalam kesia-siaan dan ketiadaan hikmah. Melainkan tujuan-tujuan wujud dan hasil-hasil kehidupan segala sesuatu terbagi tiga: