Hakikat Kedua Belas:
Al-Kalimat · hlm. 90
Pintu risalah dan tanzîl (penurunan wahyu). Ia adalah manifestasi "Bismillâhirrahmânirrahîm".
Mungkinkah sama sekali: jalan akhirat yang dibuka dan pintu Surga yang dibentangkan — dengan segenap kekuatan dan segenap kepastian — oleh Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم, yang seluruh nabi bersandar pada mukjizat-mukjizat mereka menguatkan perkataannya, seluruh wali bersandar pada kasyf dan karamah mereka membenarkan dakwaannya, dan seluruh ashfiyâ' bersandar pada penelitian-tahqiq mereka bersaksi atas kebenarannya; yang bersandar pada kekuatan seribu mukjizatnya yang telah terbukti; dan oleh Al-Qur'an Al-Hakîm yang menjadi mukjizat dari empat puluh sisi, yang bersandar pada ribuan ayatnya yang pasti — dapat ditutup oleh waham-waham rapuh yang kekuatannya tak sampai sayap seekor lalat? Apalah hak mereka untuk itu!
Dari hakikat-hakikat yang telah lalu dipahami bahwa: persoalan kebangkitan adalah hakikat yang sedemikian kokoh-mengakar, hingga kekuatan yang sanggup mengangkat bola bumi dari tempatnya, memecahkan dan melemparkannya, pun tidak dapat menggoyahkan hakikat itu. Sebab hakikat itu ditetapkan oleh Allah Yang Haq dengan tuntutan seluruh asma dan sifat-Nya, dibenarkan oleh Rasul Termulia dengan seluruh mukjizat dan burhannya, dibuktikan oleh Al-Qur'an Al-Hakîm dengan seluruh hakikat dan ayatnya, dan dipersaksikan oleh alam ini dengan seluruh ayat takwîniyah (ayat penciptaan) dan urusan-urusannya yang penuh hikmah. Gerangan mungkinkah sama sekali: dalam persoalan kebangkitan, Wâjibul-Wujûd telah bersepakat dengan seluruh makhluk — kecuali orang-orang kafir — lalu keraguan-keraguan yang kekuatannya tak sampai sehelai rambut dan waswas-waswas setani menggoyahkan hakikat tinggi yang kokoh-mengakar laksana gunung itu dan mengangkatnya dari tempatnya? Hâsyâ wa kallâ!
Janganlah sekali-kali engkau menyangka bahwa dalil-dalil kebangkitan terbatas pada dua belas hakikat yang kita bicarakan ini. Tidak; bahkan, sebagaimana Al-Qur'an Al-Hakîm mengajarkan kepada kita dua belas hakikat yang telah lalu ini, ia pun mengisyaratkan ribuan sisi lain, dan setiap sisi adalah tanda yang kuat bahwa: Khâliq kita akan memindahkan kita dari negeri fana ini ke sebuah negeri yang kekal.
Jangan pula engkau menyangka bahwa asma Ilahi yang meniscayakan kebangkitan terbatas pada nama Hakîm, Karîm, Rahîm, 'Âdil, dan Hafîzh yang telah kita bicarakan. Tidak; bahkan seluruh asma Ilahi yang bertajali dalam pengaturan alam meniscayakan akhirat, bahkan mengharuskannya.
Jangan pula menyangka bahwa ayat-ayat takwîniyah alam yang menunjukkan kebangkitan terbatas pada yang telah kita bicarakan. Tidak; bahkan pada kebanyakan makhluk terdapat sisi-sisi dan keadaan-keadaan laksana tirai-tirai yang terbuka ke kanan dan ke kiri: satu sisinya bersaksi bagi Shâni', sisi yang lain mengisyaratkan kebangkitan. Misalnya: keelokan penciptaan manusia dalam ahsani taqwîm memperlihatkan Shâni'-nya; sedangkan lenyapnya ia dalam waktu singkat, padahal memiliki kecakapan menghimpun dalam ahsani taqwîm itu, memperlihatkan kebangkitan. Terkadang, jika satu sisi dipandang dengan dua pandangan, ia memperlihatkan Shâni' sekaligus kebangkitan. Misalnya: penataan hikmah, penghiasan inayah, penyeimbangan keadilan, dan pemuliaan rahmat yang tampak pada kebanyakan benda — jika dipandang hakikat-dirinya, memperlihatkan bahwa semuanya keluar dari tangan kudrat seorang Shâni' Yang Hakîm, Karîm, 'Âdil, Rahîm. Demikian pula, jika dipandang kekuatan dan ketidakterhinggaan semuanya itu berbanding singkat dan tak berartinya hidup para makhluk fana yang menjadi tempat penampakannya — tampaklah akhirat. Berarti segala sesuatu, dengan lisan hal, membaca dan membacakan: "Âmantu billâhi wa bil-yaumil-âkhir."
Hâtime
Dua belas hakikat yang telah lalu saling menguatkan, saling menyempurnakan, saling memberi kekuatan. Semuanya bersatu padu memperlihatkan hasilnya. Waham mana yang memiliki hak untuk dapat menembus dua belas benteng kokoh yang laksana besi — bahkan laksana intan — ini, hingga menggoyahkan iman kepada kebangkitan yang berada di dalam benteng nan teguh itu!
Ayat mulia
مَا خَلْقُكُمْ وَلاَ بَعْثُكُمْ اِلاَّ كَنَفْسٍ وَاحِدَةٍ
mengungkapkan bahwa: penciptaan dan pembangkitan seluruh manusia, bagi kudrat Ilahi, semudah penciptaan dan pembangkitan satu orang manusia. Ya, memang demikian. Dalam sebuah risalah bernama "Nokta" (Titik), pada pembahasan kebangkitan, hakikat yang diungkapkan ayat ini telah kutulis secara terperinci. Di sini kami hanya akan mengisyaratkan ringkasannya dengan sebagian tamsilnya. Jika engkau mau, rujuklah "Nokta" itu.
Misalnya: وَ لِلّٰهِ الْمَثَلُ اْلاَعْلٰى — tiada cela dalam tamsil — sebagaimana dengan rahasia "nûrâniyah": manifestasi matahari — meski dengan ikhtiarnya sendiri sekalipun — memberikan kepada zarah-zarah tanpa batas yang bening, dengan kemudahan yang sama seperti ia memberikannya kepada sebutir zarah.
Dengan rahasia "kebeningan": pupil kecil sebutir zarah yang bening, dalam menerima pantulan matahari, setara dengan permukaan laut yang luas.
Dengan rahasia "keteraturan": sebagaimana seorang anak memutar mainan berbentuk kapalnya dengan jarinya, ia pun dapat memutar sebuah kapal tempur raksasa (dreadnought).
Dengan rahasia "kepatuhan": sebagaimana seorang komandan menggerakkan satu orang prajurit dengan satu perintah "Maju!", dengan kata yang sama ia menggerakkan pula sebuah pasukan besar.
Dengan rahasia "keseimbangan": andaikan sebuah neraca di angkasa raya yang sedemikian peka dan sedemikian besar: bila dua butir kenari diletakkan di kedua piringnya, ia merasakannya; dan ia pun sanggup memuat dan menimbang dua matahari. Kekuatan yang sama, yang menaikkan salah satu dari dua kenari di kedua piringnya ke langit dan menurunkan yang lain ke bumi — bila yang berada di kedua piringnya dua matahari, akan menaikkan satunya ke 'Arasy dan menurunkan satunya ke hamparan bumi.
Madem pada makhluk-mumkin yang biasa, kurang, dan fana ini, dengan rahasia nûrâniyah, kebeningan, keteraturan, kepatuhan, dan keseimbangan, benda terbesar menjadi setara dengan benda terkecil; benda-benda tak terhitung dan tak terhingga tampak setara dengan satu benda. Tentulah, dengan rahasia tajalli bercahaya dari kudrat Sang Qadîr Mutlak yang zati, tanpa batas, dan berada pada puncak kesempurnaan; dengan kebeningan sisi malakût benda-benda; dengan keteraturan-keteraturan hikmah dan takdir; dengan kepatuhan sempurna benda-benda kepada perintah-perintah takwîniyah-Nya; dan dengan keseimbangan dalam kemungkinan para makhluk-mumkin — yang berupa kesetaraan antara wujud dan ketiadaan mereka — sedikit dan banyak, besar dan kecil menjadi setara bagi-Nya; dan Dia dapat membangkitkan seluruh manusia dengan satu pekikan, laksana satu orang manusia. Lagi pula, bertingkat-tingkatnya kekuatan dan kelemahan pada sesuatu adalah karena campur tangan lawannya ke dalam sesuatu itu. Misalnya: derajat-derajat panas adalah karena campur tangan dingin; tingkat-tingkat keindahan adalah karena campur tangan keburukan; lapisan-lapisan cahaya adalah karena campur tangan kegelapan. Namun jika sesuatu bersifat zati, bukan aridhi (datang kemudian), lawannya tidak dapat mencampurinya. Sebab akan meniscayakan berhimpunnya dua hal yang berlawanan. Dan ini mustahil. Berarti pada sesuatu yang asli dan zati tidak ada tingkatan. Madem kudrat Sang Qadîr Mutlak bersifat zati, tidak aridhi seperti para makhluk-mumkin, dan berada pada kesempurnaan mutlak. Maka mustahil lawannya — yaitu ketidakmampuan — mencampurinya. Berarti menciptakan satu musim semi, bagi Sang Dzât Dzul-Jalâl-Nya, sama ringannya dengan sekuntum bunga. Jika disandarkan kepada sebab-sebab, sekuntum bunga menjadi seberat satu musim semi. Dan menghidupkan serta membangkitkan seluruh manusia semudah menghidupkan satu jiwa.
Penjelasan kami tentang bentuk-bentuk tamsil dan hakikat-hakikat persoalan kebangkitan, dari awal hingga di sini, adalah dari limpahan (faidh) Al-Qur'an Al-Hakîm. Ia hanyalah persiapan agar nafsu berserah dan kalbu menerima. Perkataan yang sesungguhnya adalah milik Al-Qur'an. Sebab perkataan sejati ialah ia, dan perkataan itu miliknya. Mari kita dengarkan:
فَلِلّٰهِ الْحُجَّةُ الْبَالِغَةُ ❊ فَانْظُرْ اِلٰٓى اٰثَارِ رَحْمَتِ اللّٰهِ كَيْفَ يُحْيِى اْلاَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا اِنَّ ذٰلِكَ لَمُحْيِى الْمَوْتٰى وَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَد۪يرٌ ❊ قَالَ مَنْ يُحْيِى الْعِظَامَ وَهِىَ رَم۪يمٌ ❊ قُلْ يُحْي۪يهَا الَّذ۪ٓى اَنْشَاَهَٓا اَوَّلَ مَرَّةٍ وَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَل۪يمٌ ❊ يَٓا اَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ اِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظ۪يمٌ ❊ يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّٓا اَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكَارٰى وَمَا هُمْ بِسُكَارٰى وَلٰكِنَّ عَذَابَ اللّٰهِ شَد۪يدٌ ❊ اَللّٰهُ لآَ اِلٰهَ اِلاَّ هُوَ لَيَجْمَعَنَّكُمْ اِلٰى يَوْمِ الْقِيَامَةِ لاَ رَيْبَ ف۪يهِ وَمَنْ اَصْدَقُ مِنَ اللّٰهِ حَد۪يثًا ❊ اِنَّ اْلاَبْرَارَ لَف۪ى نَع۪يمٍ ❊ وَاِنَّ الْفُجَّارَ لَف۪ى جَح۪يمٍ ❊ اِذَا زُلْزِلَتِ اْلاَرْضُ زِلْزَالَهَا ❊ وَاَخْرَجَتِ اْلاَرْضُ اَثْقَالَهَا ❊ وَ قَالَ اْلاِنْسَانُ مَالَهَا ❊ يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ اَخْبَارَهَا ❊ بِاَنَّ رَبَّكَ اَوْحٰى لَهَا ❊ يَوْمَئِذٍ يَصْدُرُ النَّاسُ اَشْتَاتًا لِيُرَوْا اَعْمَالَهُمْ ❊ فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ ❊ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ ❊ اَلْقَارِعَةُ ❊ مَا الْقَارِعَةُ ❊ وَمَٓا اَدْرٰيكَ مَا الْقَارِعَةُ ❊ يَوْمَ يَكُونُ النَّاسُ كَالْفَرَاشِ الْمَبْثُوثِ ❊ وَ تَكُونُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِ الْمَنْفُوشِ ❊ فَاَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَاز۪ينُهُ ❊ فَهُوَ ف۪ى ع۪يشَةٍ رَاضِيَةٍ ❊ وَ اَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَاز۪ينُهُ فَاُمُّهُ هَاوِيَةٌ ❊ وَمَٓا اَدْرٰيكَ مَاهِيَهْ ❊ نَارٌ حَامِيَةٌ ❊ وَ لِلّٰهِ غَيْبُ السَّمٰوَاتِ وَاْلاَرْضِ وَمَٓا اَمْرُ السَّاعَةِ اِلاَّ كَلَمْحِ الْبَصَرِ اَوْ هُوَ اَقْرَبُ اِنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَد۪يرٌ
Mari kita dengarkan ayat-ayat Al-Qur'an yang terang-benderang seperti ini, lalu kita ucapkan: "Âmannâ wa shaddaqnâ."
اٰمَنْتُ بِاللّٰهِ وَ مَلٰٓئِكَتِه۪ وَ كُتُبِه۪ وَ رُسُلِه۪ وَ الْيَوْمِ اْلاٰخِرِ وَ بِالْقَدَرِ خَيْرِه۪ وَ شَرِّه۪ مِنَ اللّٰهِ تَعَالٰى وَ الْبَعْثُ بَعْدَ الْمَوْتِ حَقٌّ وَ اَنَّ الْجَنَّةَ حَقٌّ وَ النَّارَ حَقٌّ وَ اَنَّ الشَّفَاعَةَ حَقٌّ وَ اَنَّ مُنْكَرًا وَ نَك۪يرًا حَقٌّ وَ اَنَّ اللّٰهَ يَبْعَثُ مَنْ فِى الْقُبُورِ اَشْهَدُ اَنْ لآَ اِلٰهَ اِلاَّ اللّٰهُ وَ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللّٰهِ
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰٓى اَلْطَفِ وَ اَشْرَفِ وَ اَكْمَلِ وَ اَجْمَلِ ثَمَرَاتِ طُوبَٓاءِ رَحْمَتِكَ الَّذ۪ٓى اَرْسَلْتَهُ رَحْمَةً لِلْعَالَم۪ينَ وَ وَس۪يلَةً لِوُصُولِنَٓا اِلٰٓى اَزْيَنِ وَ اَحْسَنِ وَ اَجْلٰى وَ اَعْلٰى ثَمَرَاتِ تِلْكَ الطُّوبَٓاءِ الْمُتَدَلِّيَةِ عَلٰى دَارِ اْلاٰخِرَةِ اَىِ الْجَنَّةِ ❊ اَللّٰهُمَّ اَجِرْنَا وَ اَجِرْ وَالِدَيْنَا مِنَ النَّارِ وَ اَدْخِلْنَا وَ اَدْخِلْ وَالِدَيْنَا الْجَنَّةَ مَعَ اْلاَبْرَارِ بِجَاهِ نَبِيِّكَ الْمُخْتَارِ اٰم۪ينَ
Wahai saudara yang menelaah risalah ini dengan penuh keadilan! Janganlah berkata: "Mengapa aku tidak dapat memahami 'Kalimat Kesepuluh' ini seketika dengan sempurna," dan janganlah bersempit hati karena belum memahaminya secara sempurna! Sebab seorang jenius hikmah seperti Ibnu Sina berkata: اَلْحَشْرُ لَيْسَ عَلٰى مَقَاي۪يسَ عَقْلِيَّةٍ — "Kami beriman, tetapi akal tidak dapat berjalan di jalan ini," demikian ia memutuskan. Lagi pula seluruh ulama Islam secara sepakat memutuskan: "Kebangkitan adalah persoalan naqli; dalilnya adalah naql. Ia tidak dapat dicapai dengan akal semata." Tentu jalan yang sedemikian dalam dan secara maknawi amat tinggi itu tidak dapat seketika berubah menjadi sebuah jalan raya akliah yang umum. Kita wajib bersyukur seribu kali bahwa dengan limpahan Al-Qur'an Al-Hakîm dan rahmat Sang Khâliq Yang Rahîm, pada abad ini — ketika taklid telah patah dan sikap berserah telah rusak — jalan yang dalam dan tinggi itu dianugerahkan hingga derajat ini. Sebab ia cukup untuk menyelamatkan iman kita. Hendaknya kita berpuas hati dengan kadar yang kita pahami, dan berusaha menambahnya dengan penelaahan berulang.
Salah satu rahasia mengapa kebangkitan tidak dapat dicapai dengan akal ialah: karena Kebangkitan Teragung terjadi dengan tajalli Ismul-A'zham, maka dengan melihat dan memperlihatkan perbuatan-perbuatan agung yang tampak melalui tajalli Ismul-A'zham Allah Yang Haq dan tajalli martabat teragung dari setiap nama-Nya — kebangkitan teragung dapat dibuktikan semudah musim semi, diyakini dengan kepastian penuh, dan diimani secara tahqiqi. Dalam Kalimat Kesepuluh ini, dengan limpahan Al-Qur'an, demikianlah ia dilihat dan diperlihatkan. Jika tidak, akal — bila tinggal sendirian dengan kaidah-kaidahnya yang sempit dan kecil — menjadi tak berdaya, terpaksa bertaklid.
ZAIL (SUPLEMEN) PENTING KALIMAT KESEPULUH DAN BAGIAN PERTAMA LAMPIRANNYA
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِ
فَسُبْحَانَ اللّٰهِ ح۪ينَ تُمْسُونَ وَح۪ينَ تُصْبِحُونَ ❊ وَلَهُ الْحَمْدُ فِى السَّمٰوَاتِ وَاْلاَرْضِ وَعَشِيًّا وَح۪ينَ تُظْهِرُونَ ❊ يُخْرِجُ الْحَىَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَىِّ وَيُحْيِى اْلاَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَكَذٰلِكَ تُخْرَجُونَ ❊ وَمِنْ اٰيَاتِه۪ٓ اَنْ خَلَقَكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ اِذَا اَنْتُمْ بَشَرٌ تَنْتَشِرُونَ ❊ وَ مِنْ اٰيَاتِهِ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِتَسْكُنُٓوا اِلَيْهَا وَ جَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَ رَحْمَةً اِنَّ ف۪ى ذٰلِكَ َلاٰيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ ❊ وَمِنْ اٰيَاتِه۪ خَلْقُ السَّمٰوَاتِ وَاْلاَرْضِ وَاخْتِلاَفُ اَلْسِنَتِكُمْ وَ اَلْوَانِكُمْ اِنَّ ف۪ى ذٰلِكَ َلاٰيَاتٍ لِلْعَالِم۪ينَ ❊ وَ مِنْ اٰيَاتِه۪ مَنَامُكُمْ بِالَّيْلِ وَ النَّهَارِ وَابْتِغَٓاؤُ۬كُمْ مِنْ فَضْلِه۪ اِنَّ ف۪ى ذٰلِكَ َلاٰيَاتٍ لِقَوْمٍ يَسْمَعُونَ ❊ وَ مِنْ اٰيَاتِه۪ يُر۪يكُمُ الْبَرْقَ خَوْفًا وَ طَمَعًا وَ يُنَزِّلُ مِنَ السَّمَٓاءِ مَٓاءً فَيُحْي۪ى بِهِ اْلاَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا اِنَّ ف۪ى ذٰلِكَ َلاٰيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ ❊ وَمِنْ اٰيَاتِه۪ٓ اَنْ تَقُومَ السَّمَٓاءُ وَاْلاَرْضُ بِاَمْرِه۪ ثُمَّ اِذَا دَعَاكُمْ دَعْوَةً مِنَ اْلاَرْضِ اِذَٓا اَنْتُمْ تَخْرُجُونَ ❊ وَ لَهُ مَنْ فِى السَّمٰوَاتِ وَ اْلاَرْضِ كُلٌّ لَهُ قَانِتُونَ ❊ وَ هُوَ الَّذ۪ى يَبْدَؤُا الْخَلْقَ ثُمَّ يُع۪يدُهُ وَ هُوَ اَهْوَنُ عَلَيْهِ وَلَهُ الْمَثَلُ اْلاَعْلٰى فِى السَّمٰوَاتِ وَاْلاَرْضِ وَهُوَ الْعَز۪يزُ الْحَك۪يمُ ❊
Sebuah nuktah terbesar dan sebuah hujjah teragung dari ayat-ayat kubrâ samawi ini — yang memperlihatkan salah satu kutub iman — dan dari burhan-burhan agung nan kudus yang membuktikan kebangkitan ini, akan diterangkan dalam "Sinar Kesembilan" (Syu'â Kesembilan) ini.
Sebuah inayah Rabbani yang lembut: tiga puluh tahun yang lalu, Said Lama, di penghujung karyanya yang bernama "Muhakemat" — mukadimah tafsir yang ditulisnya — berkata: "Maksud Kedua: dua ayat yang mengisyaratkan kebangkitan di dalam Al-Qur'an akan ditafsirkan dan diterangkan. نَخُو بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِ" — lalu ia berhenti. Ia tak sanggup menulis lebih jauh. Syukur dan hamd sebanyak dalil-dalil dan tanda-tanda kebangkitan bagi Sang Khâliq Yang Rahîm-ku, yang tiga puluh tahun kemudian menganugerahkan taufik. Ya, sembilan-sepuluh tahun yang lalu, Dia menganugerahkan Kalimat Kesepuluh dan Kalimat Kedua Puluh Sembilan — dua hujjah yang cemerlang dan amat kuat serta dua tafsir bagi ayat pertama dari kedua ayat itu, yaitu firman Ilahi: فَانْظُرْ اِلٰٓى اٰثَارِ رَحْمَتِ اللّٰهِ كَيْفَ يُحْيِى اْلاَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا اِنَّ ذٰلِكَ لَمُحْيِى الْمَوْتٰى وَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَد۪يرٌ. Ia membungkam para pengingkar. Kemudian, sembilan dan sepuluh tahun setelah dua benteng kokoh iman kebangkitan yang tak terserang itu, Dia menganugerahkan dengan risalah ini tafsir ayat kedua, yaitu ayat-ayat terbesar yang disebut di awal. Maka "Sinar Kesembilan" ini terdiri atas sembilan maqam yang tinggi — yang diisyaratkan ayat-ayat tersebut — dan satu mukadimah yang penting.