Risale-i NurAl-Kalimat

Gambaran Kesebelas:

Al-Kalimat · hlm. 48

Mari, wahai kawan yang keras kepala! Mari kita naik sebuah pesawat terbang, atau sebuah kereta api yang pergi ke timur ataupun ke barat — yakni ke masa lalu dan masa depan. Mari kita lihat mukjizat-mukjizat macam apa yang diperlihatkan zat pembuat mukjizat itu di tempat-tempat lain. Lihatlah: keajaiban-keajaiban seperti tempat persinggahan, medan, dan tempat pameran yang telah kita lihat itu terdapat di segala penjuru. Akan tetapi, dari segi seni dan bentuk, semuanya berbeda satu sama lain. Namun perhatikanlah hal ini baik-baik: di tempat-tempat persinggahan yang tak bertahan itu, di medan-medan yang tak berkesinambungan itu, di tempat-tempat pameran yang tak kekal itu — tampak keteraturan-keteraturan dari sebuah hikmah yang betapa gemilang, isyarat-isyarat dari sebuah inayah yang betapa nyata, tanda-tanda dari sebuah keadilan yang betapa tinggi, dan buah-buah dari sebuah rahmat yang betapa luas. Setiap orang yang tidak buta mata hatinya memahami dengan yakin bahwa: tidak mungkin ada dan tidak mungkin terbayangkan sebuah hikmah yang lebih sempurna daripada hikmahnya, sebuah inayah yang lebih indah daripada inayahnya, sebuah rahmat yang lebih menyeluruh daripada rahmatnya, dan sebuah keadilan yang lebih agung daripada keadilannya.

Seandainya — sebagaimana yang engkau sangka dengan waham — di dalam lingkup kerajaannya tidak terdapat tempat-tempat persinggahan yang kekal, tempat-tempat yang tinggi, kedudukan-kedudukan yang tetap, kediaman-kediaman yang abadi, penduduk yang bermukim, dan rakyat yang bahagia; maka telah maklum bahwa negeri yang tak kekal ini tidak mampu menjadi tempat penampakan hakikat-hakikat hikmah, inayah, rahmat, dan keadilan ini; dan seandainya tempat lain yang akan menjadi tempat penampakannya juga tidak ada; maka pada saat itu — dengan suatu kedunguan setingkat mengingkari matahari padahal kita melihat cahayanya di tengah siang — haruslah mengingkari hikmah yang ada di depan mata kita ini, dan mengingkari inayah yang kita saksikan ini, dan mengingkari rahmat yang kita lihat ini, dan mengingkari keadilan yang tanda-tanda serta isyarat-isyaratnya tampak amat kuat ini. Dan haruslah pula menerima bahwa pemilik pelaksanaan-pelaksanaan penuh hikmah, perbuatan-perbuatan penuh kemurahan, dan karunia-karunia penuh rahmat yang kita lihat ini — hâsyâ tsumma hâsyâ! — adalah seorang pemain yang safih (bodoh), seorang zalim yang bengis. Padahal ini berarti berbaliknya hakikat-hakikat menjadi lawan-lawannya. Sedangkan berbaliknya hakikat, menurut kesepakatan seluruh ahli akal, adalah mustahil, tidak mungkin. Kecuali orang-orang pandir kaum Sûfasthâ'iyyah (sofis) yang mengingkari wujud segala sesuatu.

Berarti ada suatu negeri lain selain negeri ini. Di sana ada sebuah Mahkamah Kubrâ, sebuah majelis keadilan yang tertinggi, dan sebuah sumber kemurahan yang teragung; agar rahmat dan hikmah dan inayah dan keadilan ini terzahirkan secara sempurna...